Sunday, 23 June 2013

Wawancara Nenek "Re-Post"

-->
Tugas sejarah Wawancara
Description: Macintosh HD:Users:HarisSaleh:Downloads:DSC_0269.jpgNama : Saminah Saleh
Kelamin : Wanita
Umur : 70
Jasa untuk Negara di orde lama : Guru Agama Dari Departemen Agama
Wawancara dilakukan pada tanggal 30 May 2013 di jl.bintaro jaya sector 9, kebayoran residence.

Saya mengambil nara sumber dari nenek saya yang bernama  Saminah Saleh.beliau berkelahiran di makasar pada tahun 1943.beliau merupakan tante dari ayah saya dan adik dari kakek saya.beliau mempunyai 4 saudara.1 laki – laki dan sisanya perempuan.Beliau adalah guru agama yang berasal dari perguruan agama yang di dirikan oleh departemen agama pada orde lama dan sekolah tersebut di bangun bertujuan sebagai guru agama di sekolah agama yang di bangun oleh pemerintah agama.Nenek saya ditugaskan di makasar sebagai guru agama oleh pemerintah sekaligus kuliah mengambil jurusan bahasa arab yang dibiayai oleh pemerintah.beliau sempat diangkat menjadi ibu asramah di asrama puteri di makasar.awal mula nenek saya berhubungan dengan departemen agama karena dahulu saat dia ingin masuk sekolah dasar,nenek meminta kepada nenek buyut untuk dimasukan ke sekolah madrasah agama.kebetulan sekolah tersebut milik pemerintah dan sekolah tersebut bertujuan untuk menjadikan siswa-siswi yang berkerja di sekolah tersebut menjadi guru.sekolah tersebut tidak hanya untuk sekolah dasar saja.ada sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.akan tetapi nenek saya ingin melanjutkan kuliah bahasa arab karena dia ingin memantapkan bahasa arab dan ilmu fiqih yang nenek miliki.akan tetapi tiba – tiba datanglah Surat Kerja dari pemerintah pendidikan agama.Tugas Kerja tersebut menunjukkan bahwa nenek saya diperintahkan untuk menjadi guru agama di sekolah madrasah di makasar.karena tugas kerja dari pemerintah maka nenek saya menerima dengan ikhlas.awal dia mengajarpun pada umur 18 tahun karea saat itu iya baru lulus sekolah menengah atas pada umur 17 tahun.beliau mengajar sekaligus kuliah untuk memenuhi kebutuhan dan menambah ilmu fiqihnya.awal nenek saya tidak tegang ataupun merasa canggung karena dia sudah di latih menjadi guru.nenek saya menjadi guru di nakasar sampai tahun 1960-an.nenek saya pindah ke Jakarta karena kakaknya nenek saya yang laki – laki ingin berkerja di Jakarta karena dia juga salah satu pegawai negri negara yang sekarang sudah tiada.nenek saya melanjutkan mengajarnya di Jakarta di cawang daerah polonia yang juga di berikan tugas kerja oleh pemerintah pendidikan agama.nenek ditugaskan di madrasah polonia oleh departemen pendidikan agama karena tempat tersebut lebih dekat dari rumah nenek saya dan kebetulan tempat tersebut juga milik pemerintah pendidikan agama.nenek saya juga menjadi ibu asramah di daerah Jakarta untuk wanita.om – om dan kakak saya juga dahulu pada saat taman kanak – kanak dan sekolah dasar diajarkan oleh nenek saya.karena kakaknya nenek saya ingin satu keluarga satu sekolah biar gampang.akan tetapi mereka semua berakhiran berbeda sekolah pada saat memasuki sekolah menengah pertama.neneksaya juga menjadi guru untuk om – om dan ayah saya.nenek saya juga sempat di beri penghargaan oleh pemerintah departemen pendidikan agama sebagai wanita yang menjadi guru terbaik di madrasah Jakarta dan makasar karena dia rajin dan giat menjadi guru agama dan juga giat mencari ilmu untuk menambah ilmu fiqih yang dimilikinya dengan bantuan pemerintah.nenek saya di beri tunjangan hidup oleh pemerintah  departemen pendidikan agama saat ini karena telah berjasa demi negara.

Pada saat nenek saya baru diberi tugas surat kerja sebagai guru agama di madrasah di makasar,mentri departemen pendidikan agama tersebut adalah alam syah.nenek saya tahu sebagian auto biografi tentang alamsjah.

Pangkat kemiliteran terakhir alamsjah sebelum menjadi anggota kabinet sebagai Sekretaris Negara adalah Letnan Jenderal. Alamsyah juga pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Belanda pada tahun 1972-1974. Setelah itu Alamsyah diangkat menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Pada tahun 1989-1991 karena menderita penyakit jantung koroner, Alamsyah berangkat ke Singapura untuk menjalani operasi .diselenggarakannya KTT Non-Blok di Indonesia pada tahun 1992, Alamsyah diangkat menjadi Duta Besar Keliling Non-Blok untuk urusan Timur Tengah (1992-1995). Setelah pensiun dari pemerintahan, Alamsyah memimpin perusahan yang bernama Perwira Penanggan Ratu.

Pada saat itu nenek saya ditugaskan oleh beliau untuk mengajar.dan beliau juga ternyata mengenal kakak dari nenek saya.kata nenek saya dahulu kakak dari nenek saya pernah membantu beliau dalam bidang kerjanya.sayangnya nenek saya lupa apa yang telah di bantu oleh kakak dari nenek saya.akan tetapi beliau sangat mengingat jasa kakak dari nenek saya sampai – sampai beliau juga sempat membantu biaya penyekolahan  dasar ayah saya.

Nenek juga bercerita tentang kakaknya yang juga sebagai pegawai negri negara kantoran.sebenarnya kakak dari nenek saya itu adalah ayah kandung dari ayah saya.jadi dia adalah kakek kandung saya.kakek saya dahulu juga pernah ditugaskan di luar negri karena mendapatkan Tugas Surat Kerja untuk tugas ke luar kota.beliau di tugaskan ke kota bandung untuk pelatihan selama 1 bulan.

Pada saat kepresidenan soeharto , nenek saya sedang pindah rumah sendirian di pondok pucung karena nenek saya ingin mempunyai rumah sendiri dengan usaha yang dia kerjakan sendiri dan merasa lebih nyaman.nenek saya punya tetangga yang tidak terlalu dekat dengannya bahkan hanya tahu muka saja karena nenek saya lupa siaoa nama pria tetangga tersebut.duatu hari tetangga nenek saya tidak pernah kelihatan,nenek saya tidak terlalu memperhatikan.suatu hari nenek saya mendengar kabar bahwa tetangganya nenek saya menghilang secara misterius.ya nenek saya hanya waspada dan dia berbicara dengan teman – temannya yang juga guru yang ditugaskan oleh mentri pendidikan agama.nenek saya bertanya – Tanya apakah ini akan membahayakan nenek saya juga?kabar baiknya adalah nenek saya selamat – selamat saja.


Tugas 2 - Biografi Dwiki Syahbana XI IPA 3


"Mahili Gaffar, Pembebasan Tanah AU-Surabaya"
            Penundaan adalah akar dari segala kemiskinan. "Janganlah lagi Anda mencari-cari alasan untuk menjadikan penundaan dan keraguan Anda seperti sesuatu yang benar. Tidak ada hidup yang bisa menjadi benar, jika diisi dengan penundaan dari tindakan yang benar. Buktikanlah kasih sayang Anda kepada diri sendiri dan kepada mereka yang menyandarkan harapan baiknya kepada baiknya keputusan Anda. Jadilah pribadi yang ringan dan mudah untuk melakukan yang diketahuinya harus dilakukannya. Jadilah pribadi yang membanggakan." Besar sekali hikmah yang dapat saya petik dari tugas yang diberikan saat ini. Ketidak disipilanan adalah sosok yang tidak diharapkan dalam kehidupan. Pengahambat segala kemajuan, dan merendahkan segala sisi pandangan. Khusus terhadap penulis. Besar harap penulis mohon maaf atas kendala dalam penulisan artikel ini, terimakasih.
            BIOGRAFI
             Mahili Gaffar lahir di Bukit Tinggi pada hari senin,  1 Mei 1931. Memiliki 4 karunia anak dan seorang istri alm. Nur Asni yang beliau sayangi. Beliau adalah sarjana pada Institut Agama Islam Negeri(IAIN) yang sekarang biasa kita kenal dengan Universitas Islam Negeri(UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat itu beliau belajar  pada ilmu Perbandingan Agama yang terfokus pada Ilmu Dakwah. Kakek adalah seorang yang dulu terbilang pujaan wanita. Juga Nenek yang pada saat itupun bisa dibilang pujaman laki-laki pada sebayanya. Nenek adalah sosok  luar biasa dalam keluarganya, sebgai istri maupun sebagai ibu rumah tangga. Ia adalah wanita yang selalu memberikan semangat dan perhatian penuh kepada kakek. Sampai kakek menyelut dalam ceritanya kepada saya,  "semut tarinjak patah tigo, alu tatarung andak mati", itu adalah  sosok nenek jika gambarkan dalam bahasa.
            Kisah cinta, serta kenangan beliau bermula dari pendidikannya di IAIN Yogyakarta. Merupakan keinginan kakek sendiri dalam perndidikan di IAIN.  Namun, dengan begitu ia memantapkan diri untuk meminang istri sembari ia menyelesaikan skripsinya. setelah Beliau kembali ke Bukit Tinggi untuk melamar, ia memantapkan diri untuk kembali ke Yogyakarta dalam menjalin cintanya dengan nenek.
Bersama kakek Mahili Gaffar(tengah), nenek, dan keluarga
            Setelah menikah kakek melanjutkan skripsi yang tertunda saati itu. Selesainya skripsi yang ia buat di IAIN, ia mencba melamar kerja di ABRI-AU (angkatan bersenjata Republik Indonesia). Tidak terfokus pada medan pertempuran, melainkan kakek ditugaskan sebagai perwira kerohanian dengan latar ilmu permbandingan agamanya yang baru ia dapatkan.
            Setelah 2 periode, kurang lebih sekitar 10 tahun ia menjadi perwira. Kakek ditugaskan untuk masuk ranah DPR di Magetan, Jawa Timur. Selama 2 periode, kurang lebih 10 tahun ia menjabat, ia dipindah tugaskan ke MAKODIK (Markas Komando Pendidikan AU) Surabaya, juga merangkap berperan di LANUD (Pangkalan Angkatan Udara) Surabaya.
            Di tempat ini ia mendapat pengalaman yang tidak terlalu besar namun cukup terkenang dalam ceritanya. Masih penjadi PAROH(Perwira Rohani) ia di MAKODIK, namun dalam markas pendidikan ini beliau juga mengambil peran dalam pengujian mental perwira baru yang masuk. Di LANUD sendiri, ia ditugaskan menjadi pengrus persertifikatan TNI-AU.

            PERAN
            Kisah besar kakek bermula pada tugas yang diembannya di LANUD Surabaya. Singkat cerita,Terdapat sengketa tanah milik TNI-AU saat itu yang hingga sekian lama tidak dapat diselesaikan. Tanah TNI-AU sendiri terbilang sangat luas besarnya, namun belum legal karena setiap hastanya tidak diseertifikasi menjadi hak milik negara agar bisa digunakan.
            Dalam kepengurusan TNI sendiri, terdapat badan yang yang disebut perwira hukum yang memutus setiap perselihan hukum TNI. Namun dalam kasus perselisihan tanah negara ini, mereka tidak bisa menyelesaikannya setelah bertahun-tahun. Tidak jelas apa kendala mereka, dan mengapa. Namun kemudian, kakek yang berbeda tugas dengan perwira hukum, atas dasar pengalaman kake di DPR  ia ditugaskan untuk menyelesaikan perkara yang telah sekian lamanya tidak diselesaikan. Melalui perwira hukum, komandan besar pangkalan yang saat itu Bpk. Suhiyar, meminta tolong kepada kakek untuk segera menyelesaikan sengketa ini. Dengan komitmen kakek bersedia, maka saat itu juga ia berangkat kelapangan dan menyelesaikan tugasnya.
            Dengan segera kakek menyelesaikannya. Dengan cekatan kakek mengumpulkan data-data, menjalin hubungan dengan pertanahan nasional, membuat sertifakat, memutus perkara. Dan dengan dibantu oleh orang dari Pertanahan Nasional dalam beberapa waktu setelah bertugas, kakek dapat menyelesaikan 90% lebih jumlah tanah yang disertifikasi. Berkisar ratusan hektar yang telah ia bebaskan kepemelikannya menjadi tanah negara. Di sebutnya sekitaran, Surabaya, Sidoarjo, Modjokerto, Jombang, Madura, dll. Suatu kebanggaan dalam ingatan kakek walau tidak cukup besar jika disebut setarakan dengan perjuangan nasional.
Namun walau ia tidak terjun langsung dalam medan perang dan memiliki bekas kepahlawanan negara, ia dapat membebaskan tanah  yang begitu luasnya untuk sekarang dijadikan tempat pendidikan TNI-AU, landasan helicopter, juga perumahan.
     Di balik kehidupannya sebagai seorang perwira, kakek Mahili juga memiliki jiwa agamis yang tinggi. Karena tidak ingin sia-sia ilmu yang telah ia dapat di IAIN Salah satunya ia wujudkan dalam dakwah yang selama ini kumandangkan.
     Demikian cerita singkat tentang perjalanan hidup Kakek Mahili Gaffar yang bisa didapatkan dari wawancara saya. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, sekian terimakasih.  

Tugas 2 - Biografi Ridhoutomo Putra.S XI IPS 2

Kontribusi seorang mahasiswa kedokteran dalam revolusi Indonesia



Pembukaan

Pada kesempatan kali ini, saya ditugaskan untuk mencari orang yang memiliki kontribusi dalam sejarah revolusi nasional. Untuk memenuhi kriteria tersebut saya memilih Dr.Djoefri Hasyim yang kebetulan adalah kakek saya sendiri yang merupakan ayah dari ibu saya Ermayanti Dewi Mustikanindyah. Sekarang kakek saya berusia 84 tahun, hidup tenang di daerah Solo. Berikut ini saya akan mengupas sedikit tentang biografi beliau yang merupakan seorang tentara di medan perang yang selanjutnya menjadi dokter spesialis bedah di RS Umum Sardjito Yogyakarta.


Biografi

Djoefri Hasyim lahir pada tanggal 05 bulan Agustus tahun 1929. Beliau lahir di Yogyakarta. Ayah Dr.Djoefri Hasyim bernama Hasyim Mochtar yang berkelahiran di Madiun yang berprofesi sebagai dokter dan mempunyai seorang ibu bernama Rukmini yang berkelahiran di Magelang. Beliau adalah anak kedua dari tiga bersaudara, Anak pertama dari keluarga Dr.Hasyim adalah Dr.Hasyim Rowawi yang berprofesi sebagai KOPASSUS pada jamannya dan mengabdi di PETA pada waktu itu, kemudian Dr.Djoefri Hasyim, dan Dr.Priyono Hasyim yang berprofesi sebagai dokter sampai sekarang yang tinggal di Jakarta.  Dr.Djoefri Hasyim menghabiskan masa kecilnya sampai anak ketiganya lahir di Kadipaten Kulon, Yogyakarta dan masuk kedalam SD daerah itu(sudah lupa), SMP Belanda(sudah lupa), dan SMA 3 Jogja. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada dan mengambil Jurusan Kedokteran yang memang sudah menjadi profesi mendarah daging dalam keluarga.

Kemudian saat perang kemerdekaan, beliau mengikuti beberapa pemberontakan bersama kakaknya seperti di Bantul, Kebumen, dan Purworejo. Beliau awalnya ingin meninggalkan profesi sebagai seorang dokter dan mengikuti jejak kakaknya yang masuk kedalam perjuangan secara sepenuhnya dan mengikuti jalan militer dalam hidupnya. Akan tetapi, pada setelah beliau mengikuti perjuangan di Bantul yang beliau bertugas sebagai asisten dokter lapangan(tetapi memegang senjata juga), beliau mengubah pikirannya karena saran dari dokter yang dia bantu di saat perjuangan tersebut, karena kata dokter tersebut, akan lebih baik bila melanjutkan hidupnya sebagai dokter membantu orang yang susah, lebih aman dan terjamin masa depannya. Beliau akhirnya pun mengikuti sarannya dan balik ke Jogjakarta melanjutkan studinya, menyelesaikan S1nya dan mengambil jurusan spesialis dokter bedah mengikuti ayahnya Dr.Hasyim Mochtar. Kemudian beliau praktek di Rumah Sakit Umum Dr.Sardjito di Yogyakarta dan masuk kedalam IDI(Ikatan Dokter Indonesia). Beliau juga merupakan salah satu mantan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Beliau merupakan salah satu dari tiga dokter bedah yang bertempatan di Yogyakarta, sehingga beliau pun mulai membudidayakan spesialis bedah di Universitas Gajah Mada tersebut.

Pada masa beliau bekerja, beliau berkenalan dengan Ermien Widayati dan menjadi istrinya yang menikah pada tanggal 20 bulan Mei tahun 2013, Beliau bersama istrinya tetep tinggal di Kadipaten Kulon, mereka melahirkan anak yang bernama Dr. Fridayati Dewi Mustikawati, Sp. B yang berprofesi sebagai dokter bedah internasional, kemudian Ermayanti Dewi Mustikaningdyah yang merupakan ibu saya sendiri yang bekerja sebagai manajer perusahaan batik Kusuma Putri, kemudian Roosnawati Dewi Mustikaningrum yang bekerja sebagai EO(Event Organiser) di Jogja, dan terakhir adalah Listyawati Dewi Mustikasari, SE. Pada tahun 197x(sudah lupa), Beliau beserta keluarganya pindah menuju Taman Siswo di Jogjakarta yang didapat dari hasil prakteknya di rumah sakit tersebut. Hidup beliau terjalankan dengan damai sampai tahun 2002 beliau mengalami penurunan kondisi kesehatannya dan mengakibatkan beliau harus medical check-up yang konstan. Pada tahun 2006, beliau beserta istrinya pindah ke Solo menempati rumah baru karena gempa bumi yang terjadi di Yogya menelan rumahnya sehingga kondisi rumah tersebut tidak dapat direnovasi. Di Solo, Beliau tinggal di Komplek Fajar Indah. Pada tahun 2013 Beliau beserta Istrinya membangun Mesjid dekat rumah mereka untuk menyalurkan amal mereka.


Keluarga Eyang di Taman Siswo pada tahun 1978
Perjuangan

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Beliau ikut berpartisipasi dalam bertarung melawan kekuatan kolonial Belanda yang berada di Jawa khususnya di Bantul, Purworejo, dan Kebumen. Beliau ikut memegang senjata api seperti Sten buatan Inggris dan . Beliau saat berpatisipasi di Purworejo, beliau menjadi tentara gerilyawan  yang berperang melawan Belanda di medan perang, disana beliau memakai ilmu perang  yang didapatnya dari wajib militer. Disana dia mendampangi kakaknya yang sebeneranya membawa dia pertama kali untuk bergabung dalam pertempuran  di lokasi  tersebut. Disana beliau pertama kali merasakan betapa pentingnya hidup manusia dan “kekukuhan” mereka untuk mewujudkan apa yang mereka mau. Beliau mengaku bahwa dia sangat beruntung kalau dia tidak terluka dalam pertempuran yang dia alami tersebut. Saat beliau berda di Bantul, beliau dipilih menjadi salah satu anggota dadakan untuk menjadi seorang asisten dokter PMI yang bekerja untuk para gerilyawan yang bertarung di Bantul. Disana dia membantu sang dokter(nama memang tidak dimuat) dalam berbagai hal mulai dari mempersiapkan peralatan yang diperlukan sampai membantu dalam operasi. Dari sang dokter tersebut, beliau belajar banyak darinya tentang kebaikan dan ketulusan dalam berkehidupan yang berdampak pada saat beliau dikemudian hari. Setelah beberapa waktu berlalu beliau bekerja di Bantul, sang dokter menyarankan beliau untuk balik ke Universitas Gajah Mada untuk melanjutkan studinya dibanding menjadi tentara karena memiliki peluang dimasa depan yang lebih terjamin dan aman. 

Awalnya beliau menolak karena ia ingin mengikuti jejak kakaknya yang menjadi anggota Kesko TT(nama Kopassus di masa lalu), tapi lambat laun beliau menurut kepada dokter tersebut dan balik menuju Jogja untuk melanjutkan studi Fakultas Kedokterannya di Universitas Gajah Mada. Setelah ia mendapatkan gelarnya dan spesialis bedah, beliau melakukan pengobatan – pengobatan gratis di banyak tempat mengikuti dalam pergerakan bersama teman seorganisasinya(kalau tidak salah IDI katanya). Pengobatan gratis tersebut didasari dengan pelajaran yang dia dapat saat dia menjadi asisten dokter di Bantul, melakukan penolongan tanpa pamrih dan hanya berdoa untuk yang terbaik dari perbuatannya tersebut. Setelah perang revolusi mereda dan keadaan Indonesia menjadi stabil, beliau tetap kukuh terhadap pendiriannya yang mengutamakan kesembuhan terlebih dahulu tanpa biaya, kesaksian ini terlihat dari anak – anaknya yang tinggal di rumah dan ajaran yang diajarkan kepada mereka untuk diturunkan dan diterapkan dalam kehidupan mereka.


Penutup


Walaupun kakek saya tidak dikenal dan mungkin tidak berkontribusi besar terhadap bangsa Indonesia ini tetapi saya sebagai cucunya sangat bangga atas jasa dan perjuangan yang dia lakukan untuk bangsa ini agar menjadi bangsa yang merdeka dan bebas. Mungkin hasil dari wawancara ini tidak dapat memuaskan dengan banyak akan tetapi hal tersebut dapat membuat saya lebih bangga dan senang atas mengetahui kenyataan sebenarnya atas kakek saya yang sangat tertutup atas masa lalunya.

tugas 2 mulok Nadhiv Arifata Rahman XI IPA 2

link video http://m.youtube.com/watch?v=Tlf_ZRcVx31

tugas 1 Nadhiv Arifata Rahman XI IPA 2


saya Nadhiv Arifata Rahman akan mewawancarai seorang  nenek yang bernama  Isnaini Suharpeni berhubung dengan orang yang saya wawancarai ini adalah nenek saya sendiri jadi saya akan memanggilnya dengan sebutan Uti. Beliau ini adalah anak dari Buyut saya, Beliau baru bisa mengingat dengan pasti pada saat beliau beumur 7 tahun. Pada saat umur 7 tahu Beliau sekolah di TK Sedar, Sekolah ini adalah sekolah umum yang dimana Beliau bersekolah dengan anak belanda.Beliau tinggal dengan Orang tua Beliau ya itu buyut saya sendiri di Surabaya yang beketepatan di jalan Sulung. Pada saat Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 42 Beliau masih kecil, Penyerangan jepang ini dilakukan dengan pesawat tempur yang di buat ber-tim, Satu tim berpasukan 9 pesawat tempur. Penyerangan ini sangat dasyat, Rumah-rumah di bom, pabrik yang terdapat di surabya yaitu pabrik lindora, dan Pasar turi di bom pada saat itu Beliau di jemput oleh orang tua beliau ke Bojonegoro menggunakan kereta api. Pada saat itu warga indonesia takut akan pesawat-pesawat jepang yang lewat di atas kerata api. Karena sangat takut sampai warga indonesia tuun dari kerata dan bersembunyi di samping- samping kerata, Walaupun kata Beliau itu tetap akan kelihatan dari pesawat tetapi tetap saja di lakukan oleh warga indonesia. Sesampainya di Bojonegoro jepang Belia mendengar kabar bahwa Jepang sudah menduduki Surabaya. Jepang mengambil semua harta warga indonesia contohnya ayam, kambing. Pada saat Jepang sudah menduduki wilayah tersebut saking kejamnya jika ada orang Jepang lewat kita harus menundukkan kepala. Pada saat itu warga indonesia di suruh secara paksa kerja ROMUSHA sampai warga indonesia kurus-kurus dan jika warga Indonesia ingin makan harus antri untuk nasi dan minyak, Jika mau dengan cara yang gampang yaitu dengan cara barter yaitu menukar ayam dengan nasi untuk makanatau barang berharga lainnya.
Jepang membentuk Laskar-laskar yang berisikan warga Indonesia dan dilatih oleh Jepang itu sendiri . Jika bukan karena pelatihan-pelatihan Jepang warga indonesia tidak akan terampil dalam banyak hal. Tetapi banyak warga Indonesia yang memliki ilmu atau pintar banyak di ambil dan di bunuh.Raja-raja banyak di bunuh di daerah Makam Mandor. Pada waktu kota Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh Amerika Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan.tetapi pada waktu itu Indonesia belum seutuhnya 100% merdeka. Masih banyak warga Indonesia yang susah mencari makanan yang layak, warga Indonesia masih banyak yang makan Bulgur (Bulgur adalah makanan hewan Kuda), Singkong di parut. Hal ini terjadi karena masih susahnya di dapatkan beras untuk makanan keseharian. Beliau mengetahui bahwa Soekarno memproklamasikan Indonesia melalui pengumuman-pengumuman yang di umumkan dari radio, Radio pada saat itu masih mahal dan hanya orang-orang kaya saja yang memiliki radio jadi Beliau edengarkannya dari luar rumah saja.
Pada saat Jepang membom surabaya banyak orang yang mati terkena bom di daerah pasar turi dan jembatan merah karena banyak orang yang mati mulai dari ibu-ibu sampai prajurit-prajurit terkena mortir dan karena banyak yang meninggal sampai-sampai darah menggenang di daerah terebut setinggi mata kaki. Peristawa ini di sebut banjir darah yang terjadi pada saat Jepang msk ke Surabaya pada tahun 42. Sebenarnya prajurit-prajurit Indonesia bejuang bukanlah dengan senjata yang canggih tetapi melalui semangat, kemauan merdeka yang tinggi dan Pidato-pidato para pemimpin. Kekalahan Jepang membuat banyak orang Jepang yang di tangkap oleh prajurit-prajurit indonesia dan Laskar-laskar, dan di tahan atu di kurung di kandang-kandang sapi dan kandang-kandang babi. NIKA masuk ke Indonesia dan ingin berpura-pura ingin membantu Indonesia. NIKA masuk ke indonesia menggunakan tentara bayaran yang di namai tentara-tentara gurga. Karana takut oleh prajurit Indonesia tentara-tentara tersebut jika ingin menembak teriak-teriak muslimin-muslimin.
Pada tahun 48 Indonesia mulai tertata dan mulai banyak partai-partai yang berdiri seperti Kahar Mujaka dan lain-lain.Pada tahun sekitar 50-an PKI Muso pecah perang.PKI ini berbasis di madiun.Karena kekejaman tentara PKI ini masyarakat takut untuk tidur di dalam rumah dan akhirnya tidur di teras-teras karena takut akan tentara PKI datang. Akhirnya PKI Muso habis di basmi oleh tentara indonesia tetapi tidak benar-benar habis dan banyak korban di Madiun. Karena belum benar-benar habis, pecah perang lagi G30SPKI, pada saat itu kondisi Soekarno sedang sakit keras dan karena pada saat itu PKI menjadi komunis mereka di bantu oleh Cina yang juga komunis, jadi mereka berkerjasama untuk membunuh Soekarno. Karena pada saat itu Soekarno sedang sakit keras PKI berpura-pura baik dengan cara mengirim tabib dari Cina dan ingin membantu menyembuhkan Soekarno, tetapi Cina dengan diam-diam memberi racun kepada Soekarno dan sakit Soekarno tidak kunjung sembuh. Karena dianggap negara masih rawan dan PKI mengadakan GUDETA yaitu penangkapan jendral-jendral dan di bunuh, maka dari itu Soekarno di gantikan oleh Soeharto. Pada saat itu PKI di pimpin oleh D.N. Aidit. Setelah beralihnya kepemimpinan ke Soeharto PKI di bantai oleh Soeharto, Di Kalimantan Barat Cina-cina yang masuk PKI di tangkap dan banyak orang dalam yang secara diam-diam membantu atau berpihak ke PKI banyak yang di tangkap dan Soeharto menghapus NASAKOM dan semua orang  yang pernah membela atau bergabung dengan PKI atau orang yang berpaham komunis seluruh keturunanya tidak di perbolehkan bersekolah di indonesia



Saturday, 22 June 2013

TUGAS 2 (MULOK) - DWIKI SYAHBANA

 Penjara Bawah Tanah Fatahillah

Atas dasar tugas yang diberikan oleh guru sejarah.  Pada tanggal 26 Mei 2013 yang lalu, saya bersama 4 teman saya lainnya menyempatkan untuk berkunjung ke museum Fatahillah yang dikenal Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Tugas tersebut ialah, mendokumentasikan kunjungan siswa ke museum dan mempresentasikan hasil kunjungan dalam bentuk video yang diunggah dalam media sosial.
                 Museum Jakarta  ini terletak di jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat. Museum Fatahillah ini merupakan museum yang diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974, oleh gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin.
                Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota kedua pada tahun 1626 (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649.
                Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda
Saya mendapatkan tugas mulok untuk semester ini, yaitu untuk menirukan seorang tour guide (berperan sebagai tour guide) kepada pengunjung di museum dan menjelaskan sejarah dan keterangan dari sebuah benda bersejarah yang ada di museum tersebut. Pada hari itu saya berkesempatan untuk menjelaskan benda bersejarah kepada bapak Revi yang merupakan salah satu pengunjung dari daerah Jakarta Selatan. Berikut ini video untuk tugas ini
                Detilnya, saya mendapatkan tugas mulok pada semester ini, yaitu menirukan seorang tour guide yang dimana berperan dalam menjelaskan sejarah singkat dan keterangan dari sebuah benda sejarah yang ada di museum tersebut. Maka pada hari itu saya memilih, penjara bawah tanah pada kota tua sebagai tempat sejarah yang akan saya jelaskan. Berhubung suasana tempat yang gelap dan kurangnya sumber cahaya serta ruang gerak yang minim, maka saya memilih untuk langsung menjelaskan pada kamera agar suasana tidak begitu gaduh dalam penjara bawah tanah itu. Berikut rekaman yang saya ambil bersama teman saya.
                Mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan saya dalam pengumpulan tugas ini.  Besar harapan, semoga kesalahan seperti ini tidak akan terulang lagi kepada saya di tugas-tugas selanjutnya . Tanpa banyak alasan saya ucapkan terimakasih dan selamat menyaksikan http://www.youtube.com/watch?v=klCth6W8-Eg&list=UUPljRBHfaYk3AoQzv5fGebw

TUGAS 2 (MULOK) - LUQMAN TAUFIQURRAHMAN

2 ARCA KERAJAAN TARUMANEGARA
                Pada tanggal 26 Mei 2013 saya bersama teman-teman saya mengadakan suatu kunjungan ke museum Fatahilah untuk membuat sebuah doumenter tentang museum tersenut.Setiap orang dari kita berlima masing-masing menjelaskan satu objek pada museum tersebut.Kita memfokuskan pada objek-objek yang berasal dari kerajaan Tarumanegara.Walau objek-objek yang ada di museum ini rata-rata merupakan duplikat dari objek yang aslinya mereka cukup meyakinkan penulis bahwa mereka adalah benda aslinya.
Berkas:Gedung Museum Fatahilah.JPG
                Museum Fatahilah (yang dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia) ini aslinya merupakan gedung balaikota kedua yang dibangun oleh Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1626. Gedung ini terletak di Jalan Taman Fatahillah no.2, Jakarta Barat.Bangunan ini aslinya hanya memiliki satu tingkat, tingkat keduanya merupakan tambahan yang dibangun setelahnya.5 buah sel penjara yang berada di bawah gedung ini dibangun pada tahun 1649 dan digunakan untuk memenjarakan para pemberontak.Walau begitu pada akhirnya gedung ini telah diubah fungsinya menjadi sebuah museum dan diresmikan sebagai Museum Fatahillah pada tanggal 30 Maret 1974.Museum ini sekarang cukup sering dikunjungi oleh pelajar-pelajar, turis-turis, dan berbagai macam orang dari berbagai macam latar belakang berbondong-bondong mengunjungi daerah yang bersejarah.

                Berikut adalah video saya ketika sedang menjelaskan 2 buah artefak yang terpajang di dalam Museum Fatahilah tersebut :http://www.youtube.com/watch?v=Y1l7mlyMlAY&feature=c4-overview&list=UUPljRBHfaYk3AoQzv5fGebw

                Akhir kata saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan pengumpulan tugas ini.Hal ini dikarenakan kesalahan komunikasi antara pengupload video dengan diri saya sendiri. Kesalahan seperti ini tidak akan terulang lagi di masa yang akan datang.