Friday, 31 May 2013

Tugas Mulok Sekar Saras Ayu Hasanah XI IPA 4

Museum Fatahillah, Ruang Sidang Dewan Kotapraja


Sabtu, 18 Mei 2013. Saya dan ketiga teman saya Tikka, Rani dan Ninis mengunjungi Museum Fatahillah yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No.2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Kebetulan sekali di hari itu sedang diadakan acara Museum Day 2013, yang membuat daerah kota tua menjadi ramai oleh turis, baik dari dalam negri maupun mancanegara.
            Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan Van Hoorn. Bangunan fatahillah menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri dari dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang digunakan sebagai penjara.
            Gedung ini diresmikan sebagai museum pada tanggal 30 Maret 1974.
            Gedung Museum Fatahillah mempunyai dua lantai. Lantai pertama terdiri dari ruang administrasi. Sedangkan  pada lantai dua terdiri dari ruangan Dewan Pengadilan yang terdapat di ruang sidang militer dan ruang rapat pejabat, disini juga terdapat beberapa lukisan Ratu Elizabeth (1973-1974), labmbang VOC, lambing Jayakarta yang berubah menjadi Batavia, lambang proklamasi/monas. Tangganya terbuat dari kayu jati dan rotan , gaya kursi yang terdapat pada lantai dua ini merupakan gaya “Louis XIV” pada abad 18 digunakan untuk sidang anggota dewan hindia, terdapat dewa kebenaran dan dewa keadilan , serta lambang 14 negara bagian Belanda. Bangku Panjang yang berada pada lantai ini terbuat dari kayu jati bergaya “Renaissance” pada abad 17. Kursi anak bergaya “Raffles” terbuat dari kayu sono , ciri khasnya berupa silang di sandaran belakang yang digemari sejak masa Sir. Thomas Stanford.
            Di lantai dua juga terdapat sebuah ruangan dengan satu perangkat meja dan kursi serta beberapa mebel lainnya. Sebuah kaca besar juga nampak pada dinding sebelah barat. Ruangan ini ternyata merupakan ruangan yang dulunya digunakan sebagai ruang sidang Dewan Kotapraja.
            Dulunya, ruangan yang berukuran cukup besar ini digunakan untuk menggelar sidang oleh Dewan Kotapraja Batavia selama tiga kali seminggu. Sejak dibentuk pada tahun 1620, Dewan Kotapraja terdiri dari lima warga kota yang diangkat oleh pemerintah ditambah empat
pejabat kompeni.
            Pada zaman itu, tidak ada yang namanya demokrasi. Dan keputusan Dewan Kotapraja selalu bisa dirubah oleh Gubernur Jendral dan penasehatnya di dalam Benteng Batavia yang letaknya tidak jauh dari bangunan yang kini menjadi Museum Fatahillah ini.
            Wewenang Dewan Kotapraja sendiri , mencakup semua perkara pidana dan perdata antara warga-warga kota, persoalan hutang, semua urusan kesejahteraan warga kota seperti surat izin usaha dan izin bangunan, pemeliharaan jalan dan jembatan serta kanal.
            Tak hanya itu, mereka juga memutuskan penarikan pajak, pengawasan lembaga umum dan standar timbangan dan takaran, urusan pasar dan penetapan harga barang tertentu, pengesahan perjanjian dan pinjaman untuk memberikan kebebasan kepada budak belian dan sebagainya.



Berikut ini adalah link menuju video penjelasan saya tentang ruang sidang Dewan Kotapraja: 

https://vimeo.com/67409103
              

Tugas 2 - Biografi - Lavenia Quinta Saraswati


dr. ABUDARDO LUKMONO HADI 
 
Seorang yang kini menjadi salah satu pahlawan dan dikenang masyarakat sekitarnya, lahir pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia yaitu kota Temanggung dengan nama Abudardo Lukmono Hadi atau yang biasa dikenal dr.Lukmono Hadi. Saat dimana masyarakat masih menggeluti dan masih sibuk memperebutkan kemerdekaan tanah air, Lukmono telah tamat sekolah dan sudah memantapkan hatinya untuk membantu perempuan-perempuan tanah air dan kalangan anak-anak sehingga Ia bisa mendapat gelar Dokter pada zamannya. Ia menyelesaikan kuliah kedokterannya di STOVIA atau pada zaman sekarang dikenal RSPN (Rumah Sakit Puat Nasional) Cipto Mangunkusumo. Beliau adalah anak sulung, yang lahir dari sepasang suami istri yaitu Bapak dan Ibu Mochammad Hadi. Beliau adalah satu dari enam bersaudara, yaitu yang pertama dokter Lukmono Hadi sendiri, anak kedua yang bernama Armio Hadi, yang ketiga bernama Auris Hadi, anak yang keempat yaitu Arjahra Hadi, anak kelima Abdul Madjid Hadi, dan yang paling bungsu masih aktif dalam pekerjaanya yang sama dengan Lukmono yaitu dokter, anak bungsu dari keluarga pak Hadi ini seorang perempuan dan bernama Asdikiyatun Hadi seorang dokter gigi speasialis ortodonti di Rumah Sakit Prikasih, Cilandak Jakarta Selatan. Bapak Mochammad Hadi adalah seorang penghulu landrat, ialah kepala agama dikota Temanggung, sedangkan istrinya adalah seorang anak bupati garis keturunan Hamengkubuwono VII.
Karena pada zaman perjuangan Indonesia jumlah dokter masih sangat sedikit sehingga pasien yang ditangani dokter Lukmono harus mengantri sepanjang rumah sakit. Kegiatan beliau selain menolong dan mengobati Ia juga mengelola rumah sakit yang dimana rumah sakit merupakan salah satu sarana yang penting untuk menunjang kesehatan. Karena masyarakat Indonesia yang masih tebelakang ia juga harus mengajar dan membimbing sumber daya manusia yang bekerja pada rumah sakit- rumah sakit Indonesia agar menghasilkan pelayanan yang baik dan maksimal. 
Karena masih dalam masa perjuangan kemerdekaan, dokter Lukmono sendiri disibukkan oleh banyaknya pasien yang hendak ingin ditolong dan diobati beliau. Hingga saat dimana bertemunya dokter Lukmono dengan istrinya tercinta. Kisah berawalnya sebuah keluarga  seorang dokter yang berbudi luhur ini bermula saat disela-sela dokter Lukmono mengobati khususnya pasien wanita dan anak-anak Ia bertemu oleh pasangan hidup beliau yang hingga akhir hayat setia selalu mengemban amanat dari dokter Lukmono tersebut. Istri seorang dokter Lukmono ini merupakan seorang bidan yang aktif bergerak dalam Palang Merah Indonesia. Yang meciptakan keduanya tidak luput dari peran pengabdian pada bangsa dan Negara pada zamannya khususnya pada bidang kesehatan. Pekerjaan mereka yang mempunyai relasi sangat dekat tersebut membuat dokter Lukmono dan Hj Siti Sadjiah (istri dokter Lukmono) bertemu dan mempunyai hubungan yang erat satu sama lain, sehingga kehidupan rumah tangga antara dr. Lukmono Hadi dan Hj Siti Sadjiah pun menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Setelah dikaruniai enam orang anak yaitu yang pertama seorang laki-laki yang bernama Ibnul Fatah Lukmono Hadi, yang kedua yaitu Astuti Lukmono Hadi, ketiga yaitu Ishadi Lukmono Hadi, yang keempat yaitu Irson Lukmono Hadi, dan yang kelima Iskandi Latifah Lukmono Hadi, dan yang terakhir dokter Lukmono Hadi dikaruniai seorang putri yang bernama Itje Lukmono Hadi. Keenam orang anak beliau tersebut menjadi saksi hidup peranan kedua orangtua mereka dr. Lukmono Hadi dan istri tercinta siti Sadjiah menolong dan mengobati masyarakat tanah air yang dimana sebagian besar berfokus pada pasien perempuan dan anak-anak. Setelah meninggalnya dokter Lukmono Hadi, Istri dan keenam anak beliau harus mengungsi demi kesalamatan Ibu Sadjiah dan masa depan anak-anak mereka, hingga akhirnya Istri dan anak-anak Lukmono pun menetap dikota Jawa Barat yaitu Bandung.
Selain mengobati atau menolong orang-orang disekitarnya, membimbing dan memotivasi sumber daya manusia pada bidang kesehatan untuk memajukan rumah sakit di tanah air, juga mengelola management rumah sakit, dokter Lukmono kian campur tangan dan berperan aktif dalam organisasi politik di Jawa Tengah tepatnya Kudus, dan kian tahun sosok beliau semakin kuat dalam menekuni bidang politik. Dokter Lukmono mulai berpartisipasi dalam organisasi politik pada saat pemerintahan orde lama yaitu sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soekarno di Indonesia yang berlangsung dari tahun 1945 hingga 1968. Pada masa orde lama, pancasila dipahami berdasarkan paradigma yang berkembang pada situasi dunia, yang diliputi oleh tajamnya konflik-konflik ideologi. Pada saat itu kondisi politik dan keamanan dalam negeri dikelilingi oleh kekacauan dan kondisi sosial budaya yang genting, karena penempatan masyarakat yang masih terbiasa dalam suasana transisional dari masyarakat terjajah atau inlander menjadi masyarakat merdeka. Yang menyebabkan masa-masa ini adalah masa pencarian bentuk iplementasi Pancasila terutama dalam sistem kenegaraan. Pancasila diimplementasikan dalam bentuk yang berbeda-beda pada masa orde lama, yaitu periode yang pertama tahun 1945-1950, periode kedua tahun 1950-1959, periode ktigas tahun 1959-1966. Dalam jangka waktu tersebut, Indonesia menggunakan bergantian sistem ekonomi liberal dan sitem ekonomi komando. Di saat menggunakan sistem ekonomi liberal, Indonesia menggunakan sistem pemerintahan parlementer, dan dimana Presiden Soekarno dijatuhkan sewaktu Indonesia menggunakan sistem ekonomi komando. Maraknya pergolakan politis pada saat itu membuat dokter Lukmono berperan aktif sebagai salah satu masyarakat intelek Indonesia, yaitu beliau merupakan salah satu anggota PNI daerah di Kudus atau Partai Nasional Indonesia yang didirikan oleh para tokoh-tokoh nasional.
Pada saat-saat pergolakan politis masa Orde Lama yaitu pada periode pertama 1945-1950, implementasi Pancasila bukan menjadi masalah saja, tetapi faktanya lebih dari itu, yang dimana adanya upaya-upaya untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dengan faham komunis oleh PKI melalui pemberontakan di Madiun tahun 1948 dan oleh DI/TII yang akan mendirikan negara dengan dasar agama islam. Pada periode tersebut nilai persatuan dan kesatuan tanah air masih tinggi ketika Indonesia menghadapi Belanda dan saat mempertahankan penjajahannya di bumi pertiwi ini. Namun setelah para penjajah dapat diusir, persatuan mulai mendapat tantangan. Dalam kehidupan politik, sila keempat yang mengutamakan musyawarah dan mufakat tidak dapat dilaksanakan, sebab demokrasi yang diterapkan adalah demokrasi parlementer, dimana presiden hanya berfungsi sebagai kepala negara, sedang kepala pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri. Sistem ini menyebabkan tidak adanya stabilitas pemerintahan. Kesimpulannya dari periode pertama Orde Lama yaitu 1945-1950 walaupun konstitusi yang digunakan adalah Pancasila dan UUD 1945 yaitu presidensiil, namun dalam praktek kenegaraan sistem presidensiil tak dapat terwujudkan. 
Ditengah-tengah maraknya pergolakan pada masa Orde Lama seperti yang telah disinggung pada paragraf atas Lukmono Hadi juga salah satu tokoh partai yang didirikan di Bandung yaitu PNI (Partai Nasional Indonesia) yang merupakan partai politik tertua di Indonesia yang didirikan pada tahun 1927 tepatnya tanggal 4 Juli oleh para tokoh nasional seperti Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo, dan Mr Sunaryo. Selain itu para pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club yang diketuai oleh Ir. Soekarno turut pula bergabung dengan partai ini. Pada tahun 1928 PNI berganti nama dari Perserikatan Nasional Indonesia menjadi Partai Nasional Indonesia. Pada tahun berikutnya yaitu tahun 1929 PNI dianggap membahayakan Belanda, karena telah menyebarkan ajaran-ajaran pergerakan kemerdekaan sehingga Pemeintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan pada tanggal 24 Desember 1929. Penangkapan baru dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 terhadap tokoh-tokoh PNI di Yogyakarta seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata, dan Maskun Sumadiredja. Pada tahun 1930 pengadilan para tokoh yang ditangkap ini dilakukan tanggal 18 Agustus 1930. Setelah diadili di pengadilan Belanda maka para tokoh ini dimasukkan dalam penjara Sukamiskin, Bandung. Dalam masa pengadilan ini Ir. Soekarno menulis pidatonya yang berjudul “Indonesia Menggugat” dan membacanya didepan pengadilan sebagai bentuk gugatannya. Pada tahun 1931 pimpinan PNI, Ir.Soekarno diganti oleh Mr. Sartono kemudian membubarkan PNI dan membentuk Partindo pada tanggal 25 April 1931. Moh Hatta yang tidak setuju atas pembentukan Partindo akhirnya membentuk PNI baru, sedangkan Ir. Soekarno bergabung dengan Partindo.
Ditengah-tengah gemelut Partai Nasional Indonesia, PNI khusus daerah sering memanggil dr. Lukmono untuk memimpin rapat-rapat keseharian PNI. Setelah kian lama bergabung dengan PNI, suatu ketika dr. Lukmono dipanggil oleh PKI yang merupakan partai yang didasari ideologi komunis dan terkenal dengan peristiwa G30S/PKI atau peristiwa dimana PKI dituduh membunuh 6 jenderal TNI AD di Jakarta pada tanggal 30 September 1965. Dan ditambah lagi pada saat itu terjadi pemberontakan diseluruh Jawa Tengah hingga Jawa Timur termasuk kota Pati, Rembang, Jepara, dan Kudus. Panggilan PKI ini membuat Lukmono harus memilih antara dirinya sendiri atau keluarga tercinta, karena jika ia menolak panggilan tersebut maka keluarga dr. Lukmono akan terancam bahkan nyawa istri dan anak-anak yang menjadi taruhannya. Karena beliau mempunyai firasat buruk, ia berpikir untuk mensegerakan keluarganya mengungsi ke Sumedang. Akhirnya Lukmono pun memutuskan pilihannya dengan mendatangi panggilan PKI itu dan meminta syarat untuk diperkenankannya keluarga Lukmono pergi ke Sumedang.
Lukmono pun pergi memenuhi panggilan PKI dan diungsikannya keluarga Lukmono ke Sumedang. Keluarga Lukmono menunggu kedatangan beliau tetapi tak kunjung ada kabar. Setelah berminggu-minggu menunggu akhirnya keluarga Lukmono mendapat kabar bahwa ditemukannya jasad Lukmono di gunung Kapur oleh tentara Siliwangi. Peristiwa kematian Lukmono yang dibunuh oleh PKI ini terjadi di Kudus, Jawa Tengah pada tahun 1948. 
Lukmono dianggap sebagai pahlawan di Kudus, Jawa Tengah. Karena itu, untuk mengenang jasa-jasa Lukmono yang telah banyak memberikan pertolongan dan membantu untuk menyembuhkan orang yang membutuhkan pertolongan, maka nama beliau dijadikan nama Rumah Sakit Umum Daerah Kudus, Dokter Lukmono Hadi dan nama jalan di Kudus yaitu Jl. dr. Lukmono Hadi, Rumah Sakit Umum Daerah Kudus tersebut terletak di Jl. dr. Lukmono Hadi no.19 Kudus, Jawa Tengah. Beliaupun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Krapyak (Kudus).




Mama dengan Makam Buyut Lukmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah.
 





 Jl. dr. Lukmono Hadi, sumber; (https://blu172.mail.live.com/m/messages.m/openurl/? 31T12:40:48.863Z&rt=true&link=http%3a%2f%2fsatlantaspolreskudus.com%2fberita-216-kegiatan-pengawalan-trabas-wisata-di-jl-lukmono-hadi-kab-kudus.html)





RSUD Kudus