Friday, 31 May 2013


H. SM Amin Nasution


Pada tugas sejarah kali ini saya akan menuliskan kisah hidup termasuk jasa jasa kakek buyut saya untuk Indonesia. Untuk menuliskan biografi dan jasa jasa buyut saya, saya akan mewawancarai anak kedua dari buyut saya yaitu nenek saya sendiri yang bernama Sofiani Iskandarsyah.
Sebelumnya saya akan menuliskan biografi singkat nenek saya Nenek saya lahir pada tahun 1938 tepatnya 7 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Nenek saya lahir di aceh, masa kecilnya ia dididik dengan baik oleh buyut saya, nenek saya sekolah di aceh mulai sd kelas 1 sampai sd kelas 1 smp .  Mereka sekeluarga pindah ke Jakarta pada tahun 1951 Lalu melanjutkan ke kelas 2 smp di Jakarta. Nenek saya melanjutkan SMA nya di SMAN 3 Setiabudi Jaksel. Setelah lulus dari SMAN 3 setiabudi Jaksel nenek saya melanjutkan jenjang pendidikan Sarjana 1 I Fakultah Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Di jenjang kuliah lah yang mempertemukan nenek saya dengan kakek saya walaupun mereka berbeda universitas karena kakek saya berkuliah di Fakultas Teknik Industri Institut Teknik Bandung (FTIITB) tepatnya di Bandung. Nenek saya nikah pada tahun 1965 Dan di karuniai 5 orang anak dan anak pertamanya adalah ibu saya sendiri. Nenek saya pertama kali melahirkan ibu saya pada tahun 1967 yaitu setelah selesai kuliah di Universitas Indonesia. Nenek saya adalah orang yang ulet dan gigih dalam mencari uang, ia mampu memutarkan uang gaji kakek saya untuk bisnis property sampai sekarang.
Kakek saya pensiun pada tahun 1998 dan nenek saya berhasil dalam usaha propertinya sehingga kakek saya sudah siap dalam menyiapkannya dana hidup seteah pensiun. Nenek saya mempunyai riwayat jantung namun Alhamdulillah sampai saat ini masih sehat walaupun harus meminum setidaknya 6 tablet atau kapsul setiap harinya. Nenek saya juga berhasil dalam mendidik anak anaknya sehingga semua anaknya sekarang sudah menyelesaikan pendidikan sarjana dan semuanya sudah menikah dan sudah mempunyai cucu dari setiap anaknya.




Demikian biografi singkat nenek saya, dan saya akan masuk ke biografi buyut saya.
Saya sendiri menyebut buyut saya ompung buyut. Ompung buyut meninggal pada tahun 1993 tepatnya pada 16 April yaitu 4 hari sebelum kakak saya lahir. Ia meninggal pada hari jumat setelah solat zuhur dipandu dengan istrinya yang sampai sekarang masih ada.


Berikut adalah hasil wawancara saya dengan nenek saya yang saya rangkum menjadi sebuah artikel atau rangkuman biografi beserta jasa jasanya terhadap Indonesia.



Biografi:

SM Amin Nasution mempunyai 5 orang anak , dan nenek saya adalah anak ke-dua dari 5 orang bersaudara . Buyut saya lahir pada tahun  1904 Ia terlahir sebagai anak ke-3 dari 11 orang bersaudara. H SM Nasution yang saya sebut Almarhum ompung buyut menjalani lahir di Banda Aceh. Ia dididik dengan tegas oleh kedua orang tuanya sehingga menjadikan dirinya orang yang jujur dan berprinsip. Ompung buyut menjalani pendidikan pertama kali yaitu sekolah dasar di sekitar banda aceh pada tahun 1910 dan menyelesaikan pendidikan sarjananya di - - - - -
Setelah lulus jenjang pendidikan buyut saya memutuskan untuk bekerja di salah satu perguruan tinggi.
Ompung Buyut saya berperan sebagai salah satu tokoh yang bersumpah pada sumpah pemuda khususnya di wilayah Sumatra utara.
Ada sejumlah pemuda yang menjadi tokoh penting di balik peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Salah satunya adalah Kroeng Raba Nasution atau lebih dikenal dengan nama Mr SM Amin Nasution

Dia adalah anggota Komite 9 bersama Muhammad Yamin. Di masa setelah kemerdekaan, dia adalah gubernur pertama Sumut, Aceh dan Riau
sepanjang hidupnya SM Amin telah memperlihatkan nilai kejuangan, patrotisme, pemikiran, dan kepribadian yang luar biasa untuk memperjuangkan Indonesia yang bersatu dan berdaulat.

SM Amin merupakan tokoh besar yang, jika mengacu ke konsep pahlawan nasional pemerintah Indonesia, layak diusulkan menjadi pahlawan nasional. Bahkan SM Amin tidak hanya tokoh yang penting untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional, tapi yang lebih penting lagi, bagaimana tokoh besar ini dapat dipelajari sehingga bisa menjadi bagian dari memori yang hidup bagi masyarakat Sumatera Utara, Aceh dan Riau. Ini mengingat di tiga provinsi inilah beliau pernah berkiprah sebagai gubernur di masa-masa awal berdirinya Republik Indonesia.

Sejak menjadi mahasiswa, SM Amin Nasution aktif dalam kegiatan perjuangan berdirinya negara Indonesia. Dia juga ikut dalam komite gerakan Indonesia Muda yang berhasil melebur organisasi-organisasi pemuda kedaerahan/kesukuan menjadi perhimpunan yang mengutamakan keindonesiaan, hingga lahir Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Setamat kuliah sebagai sarjana hukum (Mr./ Meester in de Rechten), S M Amin tidak bersedia menjadi pegawai negeri yang mengabdi pada kepentingan pemerintah Belanda, walau dengan gelar itu sangat terbuka untuk menjadi kaya secara finansial dan sangat dibutuhkan memperkuat instrumen pemerintah Belanda. "Sebaliknya, dia berprofesi sebagai pengacara untuk menegakkan keadilan dan tinggal di daerah yang penuh gejolak di Kutaradja (Banda Aceh). Sebuah sikap keteladanan yang dapat dicitrakan sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim kolonialisme.

Pada masa pendudukan Jepang, SM Amin bekerja sebagai Direktur Sekolah Menengah di Kutaradja (Banda Aceh) yang berhasil merangsang tumbuhnya kader-kader berjiwa nasional.

Setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, dalam kedudukannya sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara, S M Amin terus melakukan perlawanan kepada Belanda, baik pada agresi militer Belanda I maupun II. Akibat keberaniannya melawan Belanda, dia pun ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.

SM Amin juga ikut berjuang tegaknya negara dalam jalur diplomatik dimana beliau dilibatkan dalam perundingan Linggarjati antara Republik Indonesia dan pemerintah Belanda.

SM Amin juga merupakan tokoh integrasi. Semasa menjadi Gubernur Sumatera Utara, dia ditugaskan untuk menyelesaikan konflik serta perlawanan daerah Aceh terhadap pemerintah pusat. Dia dianggap mempunyai kemampuan dan dianggap sangat berjasa karena berhasil menyelesaikan ancaman desintegrasi bangsa di Aceh melalui pendekatan perundingan dan negosiasi.

Hal lain yang juga tidak boleh dilupakan S M Amin juga menghasilkan karya pemikiran di bidang hukum dan politik yang pada zamannya menjadi sumber inspirasi tetap tegaknya negara Indonesia. Sampai saat ini karya-karya pemikirannya yang tertuang dalam berbagai pidato, tulisan di surat kabar, majalah dan lebih 12 buah buku merupakan bukti jasanya dibidang pemikiran yang luar biasa, yang jika dipelajari sangat bermanfaat untuk mengatasi berbagai krisis ideologis, hukum dan politik di Indonesia saat ini maupun di masa depan.

Gubernur Pertama di Tiga Provinsi
Diawal kemerdekaan, SM Amin pernah menjabat gubernur pertama di tiga provinsi yang berbeda. Yakni Sumatera Utara, Aceh dan Riau. SM Amin satu-satunya gubernur di Indonesia yang dilantik oleh Presiden Soekarno. Peristiwa “bersejarah” ini terjadi di Sumatera Utara. Pada 19 Juni 1948, Presiden Soekarno melantik SM Amin sebagai Gubernur Sumatera Utara definitif dalam suatu upacara yang dilangsungkan di Pendopo Keresidenan Aceh Provinsi Sumatera Utara.

Upacara ini dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri Sukiman Wiryosandjoyo serta rombongan presiden lainnya. Pembesar daerah yang hadir antara lain Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo Residen Aceh - T. TM.Daudsyah, Sultan Siak Syarif Kasim dan lain-lain. Kemudian, ketika dilantik sebagai Gubernur Riau pada 5 Maret 1958 tempat pelantikannya sama dengan menantunya Ismeth Abdullah ketika dilantik sebagai Gubernur Kepri pertama pada 21 Nopember 2005 di Gedung Daerah Tanjungpinang. “Tempat pelantikan saya sebagai Gubernur Kepri sama persis dengan orang tuanya Ibu Aida ketika dilantik jadi Gubernur Riau yakni di teras Gedung Daerah,” kenang Ismeth Abdullah.

Tercatat juga dalam sejarah, mertua dan menantu ini sebagai gubernur pertama dalam lintas perjalanan republik ini. Jika sang mertua (SM Amin, red) adalah gubernur pertama Riau, menantunya (Ismeth Abdullah, red) adalah gubernur pertama di Kepri yang merupakan pecahan dari Provinsi Riau . “Ini karunia yang tak terhingga dari-Nya,” ujar Ismeth Abdullah.

Dalam lintas sejarah perjalanan panjang republik ini “memori” generasi muda di tiga provinsi (Sumatera Utara, Aceh dan Riau) terhadap SM Amin sudah berkurang bahkan mulai hilang ditelan arus globalisasi. Hal itu disebabkan, sejarah masa lalu itu sekarang mulai dilupakan. Semboyan Proklamator Bung Karno dengan “jas merah atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” sudah ditinggalkan oleh generasi muda.

Kemudian semboyan Bung Karno lainnya, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” hanya gaungnya sudah mulai hilang. “Saat ini banyak generasi muda lebih kenal bintang film, artis sinetron, dan pemain sepakbola ketimbang nama pahlawan nasional yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa ini.”

Tolak Tawaran Bung Karno
KENDATI seorang “pejabat penting” pada masanya, namun SM Amin tidak pernah memanfaatkan jabatannya itu untuk kepentingan pribadi apalagi untuk anak-anaknya. “Sepulang kerja dari kantor mobil dinas ayah kami sudah di parkir di garasi rumah. Kami tidak boleh memakainya untuk kepentingan lain. Waktu kecil kami ke mana-mana jalan kaki, naik sepeda atau angkot jika mau jalan-jalan. Kalau naik mobil dinas, bisa dihitung dengan jari.” Kata Nenek saya

Sekarang? Kita bisa melihat sediri ada oknum pejabat yang enggan mengembalikan mobil dinas ketika sudah lengser dari jabatannya. Mobil dinas pun sekarang lebih banyak dipakai untuk kepentingan pribadi daripada kepentingan dinas. Jika hari libur, di tempat-tempat rekreasi atau di mal-mal, mobil “berplat merah” itu parkir seenaknya. “Beda dulu dengan sekarang. Dulu pejabat malu memakai mobil dinas di luar jam dinasnya. Sekarang malah sebaliknya. Kita bisa melihatnya, inilah realitas, bukan mengada-ngada.

Dan, sebagai manusia, SM Amin bukanlah tipe manusia yang ambisius dan haus kekuasaan. Pernah suatu ketika dia ditawari rumah dinas oleh Bung Karno. Namun, tawaran tersebut ditolaknya dengan alasan dirinya sudah memiliki rumah pribadi. Kemudian, suatu ketika Bung Karno lagi-lagi menawari jabatan menteri dalam kebinetnya. Lagi-lagi ditolaknya dengan alasan tak baik memegang jabatan terlalu lama.

Memang Waktu Bung Karno menawari jabatan sebagai menteri kepadanya, SM Amin memang sudah malang melintang memegang berbagai jabatan penting di Indonesia ini. Di hari tuanya dia ingin pensiun dan berkumpul bersama keluarga dan anak-anaknya . Bung Karno akhirinya memaklumi dan menghormati penolakan SM Amin.

Selain itu SM Amin teguh memegang prinsip. Dia tidak segan-segan dan berani menolak perintah atasan jika tidak sesuai dengan pikirannya. Namun penolakan itu disampaikannya dengan santun sehingga atasannya paham dan mengerti. Kesan asal bapak senang dan cari muka seperti kebanyakan pejabat saat ini sangat jauh dari SM Amin Nasution. Beliau orang yang santun, tapi tegas dalam menyampaikan kebenaran.


Demikian Adalah Hasil wawancara saya dan banyak saya kutip dari buku tentang beliau.


Untuk Bukti bukti ijazah gubernur dan piagam sumpah pemuda akan saya lampirkan secepatnya

No comments:

Post a Comment