Thursday, 30 May 2013

Biografi - Fakhry Aufar S.A XI IPS 2



Pendahuluan
Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita
Karya: Husei Mutahar
Lirik lagu di atas tentu sudah tidak asing lagi bagi seluruh rakyat Indonesia dari penjuru Sabang sampai penjuru Merauke, namun dewasa ini akibat globalisasi yang makin hari makin meningkat, kita kurang dapat meresapi dengan segenap hati makna dari lagu ‘Hari Kemerdekaan’ di atas. Kemungkinan besar karena saat kita terlahir ke tanah Indonesia ini, kita sudah langsung menikmati kemerdekaan tanpa memperjuangkannya mati-matian seperti yang nenek moyang kita lakukan terdahulu, akibatnya kita menganggap bahwa kemerdekaan merupakan sesuatu yang ‘ringan’. Itulah salah satu dari kegunaan mempelajari sejarah Indonesia, yaitu untuk memupukkan rasa nasionalisme yang lebih mendalam. Disertai dengan rasa keingin tahuan mengenai kondisi Indonesia saat zaman lampau khususnya saat masa penjajahan, saya menemui nenek saya bukan hanya sekedar untuk mewawancarai saja tetapi sekaligus bertukar cerita, dalam konteks ini nenek saya menjadi median yang menceritakan tentang kehidupan Alm. Kakek saya yang sudah berpulang ke rahmat Allah SWT beberapa tahun yang lalu dan peran yang beliau bisa lakukan sebagai kontribusi menuju kemerdekaan dan setelah kemerdekaan Indonesia. Saya mendapat kesempatan untuk mewawancarai nenek saya pada minggu-minggu akhir bulan Mei ini dikarenakan kesibukan beliau di luar kota meskipun umur beliau sudah tergolong tua beliau tetap memiliki ketahanan fisik yang mengagumkan. Saya mewawancarai beliau di rumahnya yang berlokasi di Kompleks Joglo Baru (dulu disebut kompleks bakin). Nenek saya dan Alm. Kakek saya sudah mengenal satu sama lain sejak usia remaja, maka dari itulah saya mewawancarai nenek saya meskipun ingatan beliau sudah sedikit kabur tentang masa kemerdekaan tetapi beliau berusaha sekeras mungkin untuk mengingat-ingat kembali dan beliau bercerita dengan penuh ambisi dan semangat yang tidak pernah padam dari dirinya. Beliau menikah dengan Alm. Kakek saya pada tahun 1956 dimana Alm. Kakek saya masih menjadi pelajar.
Biografi
            Alm. Kakek saya bernama Soekarno bin Karjo Oetomo lahir di Wonogiri pada tanggal 1 September 1931 merupakan anak keempat dari enam bersaudara, didikan yang keras dari kedua orangtuanya menjadikan dirinya seorang individu yang kuat dan tangguh sejak kecil. Dalam masa hidupnya beliau berkali-kali berpindah tempat tinggal dikarenakan cita-citanya untuk dapat meraih pendidikan setinggi-tingginya. Alm. Kakek saya bersekolah di sekolah rakyat yang sangatlah sederhana dimana kapur masih digunakan itupun juga seadanya dan yang paling beliau ingat adalah lidi batangan yang digunakan oleh gurunya untuk belajar matematika. Lalu beliau melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah pertama berlokasi di wonogiri kota menurut perkataan nenek saya, lalu paman Alm. Kakek saya yang bekerja sebagai polisi membawanya pindah ke Jogja dan menetap di tangsi polisi Patoek sampai ia kuliah. Untuk SMA beliau  melanjutkan pendidikanya di SMA A2 di Gondokusuman dan akhirnya berkuliah di Universitas Gajah Mada dan mengambil jurusan ilmu pemerintahan namun setelah selang beberapa waktu beliau pindah jurusan dan mengambil Hubungan Internasional. Setelah mendapat gelar Sarjana Muda beliau menjadi relawan IKPTM atau yang disebut sebagai Ikatan Pengerahan Tenaga Mahasiswa pada tahun 1958 hingga 1960 di Aceh, misi beliau disana adalah mengajar murid-murid yang berpendidikan setara dengan SMA dikarenakan jumlah sekolah di luar Pulau Jawa masih tergolong sangat sedikit dan kakek saya yang awalnya tidak mau akhirnya menjadi mau berkat dorongan dari nenek saya. Namun perjalanan menuju Acehnya saja tidaklah mudah dikarenakan dahulu belum ada kapal yang bisa langsung merapat ke Aceh dari Jawa, akhirnya Alm. Kakek saya, nenek saya, beserta anak pertama mereka yaitu budhe saya turun di Medan dan meneruskan perjalanan menaiki bus, namun menurut perkataan dari nenek saya supir bus itu tidak berani melanjutkan perjalanan setelah di atas pukul empat sore sampai matahari terbit dikarenakan menghindarai penyergapan yang dilakukan oleh gerakan yang disebut Darul Islam, sayangnya meskipun demikian bus yang dinaiki Alm. Kakek saya sempat dihentikan oleh gerakan tersebut dan seluruh penumpang bus tersebut digeledah satu per satu, namun untungnya Alm. Kakek saya memiliki surat izin atau surat jalan yang bertuliskan bahwa beliau adalah seorang pengajar dan bukanlah seorang tentara, akhirnya beliau beserta nenek dan bude saya tidak disandera dan diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Setelah mengajar di Aceh beliau kembali ke Jogja beserta tambahan 1 puteranya yang akrab saya panggil Pakde Tunggul untuk kembali melanjutkan pendidikan S1nya di Universitas Gajah Mada dan dibiayai oleh pemerintah karena perannya di IKPTM tersebut. Usai mendapat gelar S1nya beliau ingin sekali bekerja di kepolisian karena mengikuti pamannya yang awalnya membawanya ke Jogja untuk mengenyam pendidikan, namun karena wajib militer dan beliau sudah berkeluarga dan pihak dari kepolisian tidak dapat memberikan perumahan makan beliau bekerja di bagian penerangan Angkatan Udara Republik Indonesia, sayangnya nenek saya dan bude saya tidak dapat memberikan keterangan jelas mengenai pekerjaan Alm.Kakek saya, nenek saya bercerita bahwa pihak dari Angkatan Udara Republik Indonesia menyediakan mess untuk tempat tinggal Alm. Kakek saya beserta keluarganya namun setelah 2 tahun bekerja Angkatan Udara Republik Indonesia ingin mengurangi biaya sehingga pegawai-pegawainya diberikan uang modal untuk mengontrak namaun Alm. Kakek dan nenek saya memilih menggunakan uang modal tersebut untuk membeli sebuah rumah kecil seharga Rp 190.000,00 yang di kemudian hari terjual dengan harga Rp 190.000.000,00 dikarenakan lokasinya yang strategis yaitu di daerah Tomang.
Selanjutnya beliau diperbantukan oleh Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) karena ilmu Hubungan Internasional yang telah beliau pelajari saatu bekuliah di Universitas Gajah Mada silam dan beliau ditugaskan ke luar negeri tepatnya di Berlin, Jerman pada tahun 1986-1990 menurut nenek saya sebagai konsul kepala perwakilan, namun sekali lagi saat saya ingin mengetahui rincian pekerjaan Alm. Kakek saya, nenek dan Bude saya tidak dapat menjelaskan lebih lanjut lagi karena Alm. Kakek saya jarang bercerita tentang pekerjaannya karena untuk beliau pekerjaan dan keluarga sangatlah berbeda dan beliau memili untuk tidak mengikut sertakan urusan pekerjaan kedalam keluarganya.
Selanjutnya beliau kembali ke Indonesia dan sempat bekerja di Bakin selama 3 tahun lagi dan akhirnya pensiun tetapi ia melanjutkan bekerja dengan orang Korea di Gading Serpong selama 5 tahun lalu ia pensiun dan sampai akhir hayatnya ia menjadi guru privat bahasa Inggris dan Jerman di kediamannya sendiri, beliau wafat saat hari raya Idul Fitri tahun 2008 silam.
Peranan
            Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang Alm. Kakek saya masih berusia remaja sehingga tidak begitu memberikan kontribusi pada kemerdekaan namun beliau menjadi saksi yang merasakan bagaimana keadaan saat sebelum dan setelah Indonesia merdeka dari para penjajah. Nenek saya menceritakan bahwa setiap hari di sekolah diadakan senam ala Jepang karena saat masa pendudukan Jepang, Jepang melakukan doktrinasi budaya Jepang terhadap orang Indonesia sendiri, hal yang membuat saya tercengang adalah bahwa nenek saya ketika masih kecil dan saat itu masih masa penjajahan Belanda sempat mempunyai teman bermain orang keturunan langsung Belanda, namun dikarenakan terdapatnya lapisan-lapisan social masyarakat mereka tidak diperkenankan bermain dengan bebas. Diceritakan pula bahwa saat Bung Karno membacakan naskah proklamasi pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 dan disiarkan melalu Radio Republik Indonesia, Alm. Kakek saya dan nenek saya sendiri merasa bagaikan Bung Karno berteriak di dalam telingan mereka dengan suara yang berkobar seperti api meskipun mereka berda ratusan kilometer dari Jakarta, saat itu mereka berada di Jogja dan ketika Bung Karno menyerukan “Merdeka!” para pendengar di Jogja juga berteriak “MERDEKA!!” seraya berpelukan dan berlarian, mereka tidak bias melupakan momen berharga itu. Seperti yang sudah saya sebutkan pada biografi Alm. Kakek saya di atas, beliau memberikan kontribusi setelah kemerdekaan Indonesia yaitu pada tahun 1958-1960 sebagai tenaga pengajar di Aceh yang masih belum memiliki sekolah seperti sekolah yang berada di Pulau Jawa. Belum sempat saya cantumkan di atas dikarenakan kekurang tahuan informasi yang disampaikan oleh nenek saya dan belakangan ini saya ketahui dari rekan alm. Kakek saya yang secara tidak sengaja bertemu lalu berbincang sedikit bahwa Alm. Kakek saya saat masih bekerja di Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) dipekerjakan di Berlin yang tepatnya di Jerman Barat karena  saat masa itu Jerman masih terpecah menjadi dua yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur, dan Bakin selalu mendapatkan posisi di Jerman Barat untuk mengawasi Jerman Timur yang beraliran komunis kaena pada saat itu Jerman Timur masih masuk ke dalam sekutu Rusia yang juga beraliran komunis. Beliau juga pernah dikirim ke Korea Utara sebagai Duta Tenis Meja karena Korea Utara sangat terkenal akan tenis meja nya, dan itu ternyata hanya sebagai kedok atau undercover dari Bakin untuk mengawasi keadaan di Korea Utara yang juga beraliran komunis. Kegiatan yang kakek saya lakukan saat masih di bakin ini terjadi saat pemerintahan dipegang oleh bapak Suharto yang selalu memasang mata pada gerakan komunis.
Setelah saya maknai lebih dalam mungkin saat sebelum Bung Karno membacakan proklamasi pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 kakek saya hanya bisa menjadi saksi mata saja dan tidak bias memberikan kontribusi yang lebih luas seperti Bung Karno sendiri, atau mungkin Kapitan Pattimura, Mohammad Yamin, dan tokoh-tokoh pejuang kebangsaan yang berperang untuk kemerdekaan Indonesia. Tetapi sosok-sosok tokoh pejuang itulah yang menginspirasi banyak orang Indonesia salah satunya Alm.Kakek saya sendiri untuk berusaha menjadi lebih baik. Saat beliau masih ada di dunia ini beliau pernah berkata kepada saya bahwa baginya arti dari ‘Merdeka’ itu adalah bebas, namun bebas dari penjajah saja tidaklah cukup. Bebas yang dimaksud oleh Alm. Kakek saya yaitu bebas dari segala masalah-masalah yang dapat membahayakan Negara Indonesia sendiri, dan menurut pendapat kakek saya keadaan Indonesia saat beliau masih hidup pun belum bias dibilang sudah ‘Merdeka’. Mengapa? Karena Indonesia masih belum bebas dari masalah mulai dari masalah perekonomian, politik, apalagi kependudukan. Dan mengutip dari perkataan nenek saya bahwa apapun yang sedang kita lakukan sekarang lakukanlah dengan semaksimal mungkin dan saat saya melontarkan pertanyaan “Peran apa saja dan bagaimana keadaan saat menuju kemerdekaan dahulu kala?” beliau tersenyum dan menjawab “Kakekmu akan menjawab bahwa kamu juga masih hidup di zaman menuju kemerdekaan nak, kakekmu pasti juga masih merasa Indonesia yang sekarang ini belum mencapai kemerdekaannya dan”. Beliau memang bahagia saat Bung Karno mengumandangkan kemerdekaan Indonesia saat 17 agustus tahun 1945, tetapi beliau masih merasa Indonesia ‘kurang’ merdeka setelah 63 tahun ia merasakan kemerdekaan Indonesia.
Begitulah cerita dari Kakek-Nenek saya semoga dapat bermanfaat bagi yang membaca dan saya menulis ini dengan sumber yang dapat saya temukan dan saya bersikeras menulis tentang Alm. Kakek saya karena saya pribadi sangat mengagumi sosok beliau.

Nenek saya Siti Suryati

No comments:

Post a Comment