Friday, 31 May 2013

Dari Piyungan ke Court of Saint James : Ir. Suhartoyo




Umi Sudiyati (nenek saya) merupakan istri dari Ir. Suhartoyo. Alhamdulillah saya berkesempatan untuk  mewawancari beliau untuk mewakili kakek saya yang telah wafat pada tanggal 20-9-1997. Demi memenuhi tugas sejarah ini, saya menyempatkan diri mewawancari dia untuk mendalami kehidupan Ir. Suhartoyo. Dibantu dengan catatan-catatan kecil Ir. Suhartoyo yang masih dapat dilihat sebagai bukti otentik kehidupan Ir. Suhartoyo dan biografi untuk membantu saya menggali lebih dalam ke hidup Ir. Suhartoyo.
Semuanya dimulai dari Jalan Tanjung Pakualaman, komplek Ibu pawyatan Taman Siswa, Yogyakarta, 2 September 1926
Suhartoyo adalah anak keempat dari 9 bersaudara, Ibunya pernah menjadi sinden di Kraton Yogya, Ayahnya pernah menjadi tukang binatu. Sehingga Suhartoyo pernah mengatakan “ Saya anak tukang penatu dan lahir di penaton”
Suhartoyo menghabiskan masa kecilnya di Desa Karang Anom, Kecamatan Piyungan, Bantul. Ia kadang diajak ayahnya nonton sekaten di alun-alun Yogya naik sepeda bercelana monyet dan bertelanjang kaki.
Suhartoyo masuk sekolah pada umur 6 tahun, pertama masuk sekolah Kawula Kasultanan di Desa Tegalsari, sekitar tahun 1935-1936 ia pindah ke Sekolah Angka Loro di Brebah.
Kehidupan keluarga Suhartoyo juga sangat jauh dari mewah, Ibunya kadang hanya menanak nasi tanpa sayur dan lauk pauk. Setiap pulang sekolah ia punya kewajiban untuk menggembala kerbau
Pada tahun 1943 Jepang membuka Sekolah Teknik Mataram. Untuk masuk ke sekolah tersebut diadakan ujian berhitung dan bahasa Jepang. Ia sangat menonjol dalam pelajaran berhitung. Tak heran jika ia diterima.
Tahun 1947 ia menyelesaikan pendidikan dii Sekolah Teknik Mataram, lalu Ia melanjutkan pendidikan ke STM (sekolah tinggi menengah).
Masuk ke perguruan tinggi, Suhartoyo diterima di Fakultas Teknik Universitas Negeri Gadjah Mada.  Sebenarnya karena Suhartoyo merupakan lulusan STM, Ia tak memiliki jalur untuk mask ke perguruan tinggi. Tapi ia mendapat surat panggilan yang ditandatangani Sekretaris Fakultas Prof.Ir.Sunaryo. Selama masa perkuliahan, Suhartoyo terpilih menjadi Senat Mahasiswa, namun masa menjabatnya kurang diketahui.
Selama menjadi mahasiswa, hubungan Suhartoyo dengan Umi Sudiyati semakin dekat. Waktu itu Suhartoyo berumur 24 tahun. Maka ketika ada undangan makan malam berdua, Suhartoyo segera memintanya untuk datang menghadiri malam perpisahan.
Sejak malam perpisahan itu, hubungan mereka menjadi “steady”  mereka bertunangan saat Suhartoyo kuliah di tingkat 2.
Dua tahun kemudian, 3 Januari 1954 Suhartoyo dan Umi Sudiyati resmi menikah di Yogyakarta ketika Suhartoyo duduk di tingkat IV Fakultas Teknik UGM.
Setelah menikah, Suhartoyo mengungkapkan bahwa dia merupakan “orang yang paling bahagia di dunia” kenapa? Sang Istri mendampinginya sejak 1954 dalam suka dan duka. Karirnya terus melaju. Reputasinya baik. Dan namanya dikenal sebagai pejabat tinggi negara yang jujur dan bersih.
Pasangan Suhartoyo dan Umi Sudiyati mempunyai lima anak. Yuwono Narotomo, Endang Prabsari, Ireng Ambarsari, Heningtyas Titisari, dan Bimo Ambarseno.
Kembali ke masa kemerdekaan, di masa ini Suhartoyo hanya tercatat sebagai siswa STM, pada jaman itu pelajar harus turun tangan demi mempertahankan kemerdekaan.
“Di Sekolah Teknik, saya berhenti hanya sampai kelas 3. Sewaktu Jepang menyerah tahun 1945, saya terseret dalam arus perjuangan. Para pemuda dan rakyat bangkit maju ke medan juang”  Tulisnya dalam catatan pribadi Suhartoyo yang disimpan baik oleh Istrinya sekarang.
Tentara Genie Pelajar Brigade XVII
Pasukan ini didirikan atas dasar keinginan pasukan pelajar untuk mempertahankan identitas mereka sebagai pelajar teknik. Suhartoyo dan pelajar-pelajar sekolah teknik lainnya menggabungkan diri pada TP Batalyon 300.  Tugasnya untuk menghancurkan objek-objek vital, menghambat serangan musuh dengan cara menghancurkan sarana-sarana komunikasi yang ada dan menghadang gerakan musuh.
Menghadapi agresi militer Belanda 1, Suhartoyo dan seluruh anggota TGP Yogyakarta membantu Batalyon 300 TP di Kedu Utara.
Karir
Suhartoyo sudah mengenal dunia kerja sejak 1947, ketika ia aktif sebagai onderopzichter/werkbaas di Jawatan Pengairan, lalu menjadi asisten mahasiswa, asisten ahli dan asisten di Fakultas Teknik UGM.
Setelah  mengantongi gelar  insinyur sipil, terbukalah lapangan kerja yang luas. Kemudian ia memilih berkerja di PT Madu Baru yang akan mendirikan pabrik gula Madukismo. Suhartoyo ditunjuk menjadi direktur teknik.
Suhartoyo pindah ke Jakarta pada bulan April 1958 untuk menempati PT Sabang Merauke. Di perusahaan ini Suhartoyo diangkat menjadi direktur utama.  Sejak tugas ke Jakarta, Suhartoyo mendapat fasilitas rumah dinas di Jalan Lengkeng 9-A, Jakarta Pusat. Rumah ini ditempati sampai April 1964.
“Sebagai direktur PT Sabang Merauke, pada tahun 1959 saya mendapat tantangan yang kedua sesudah pembangunan pabrik gula Madukismo. Saya diserahi tugas untuk membangun jembatan gantung dengan bentang bebas 120 meter....................”
Lalu yang tidak mungkin dilupakan oleh Eyang saya, bahwa Suhartoyo pada tahun 1960/1961 bertugas sebagai pemborong untuk memasang seluruh konstruksi baja untuk Istana Olah raga, termasuk atas dan atapnya. Istora akan dipakai untuk pertandingan bulu tangkis (Piala Thomas Cup)
Sukses dengan pembangunan Istora, Suhartoyo kemudian diberi tugas yang lebih berat lagi. Ia dipercaya untuk menyelesaikan pekerjaan atap Stadion Utama Senayan.
Jejak-Jejak dan sentuhan Suhartoyo di linkungan kompleks olahraga Senayan itu sampai kini masih tegak berdiri dan masihbisa dinikmati. Tak cuma oleh bangsa Indonesia, tapi juga masyarakat Internasional. Hampir semua event penting nasional, olahraga, kesenian, hingga politik diselenggarakan di Stadion Utama Senayan dan Istora Senayan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kedua tempat itu adalah Gelanggang Olahraga Terbesar di Asia Tenggara.
Situasi politik di tanah air periode oktober hingga akhir 1966 masih belum menentu. Tanpa diduga, awal Agustus 1966, Ir. Suhartoyo diangkat menjadi Direktur Jendral Industri Dasar, Departemen Perindustrian. Menteri perindustrian pada saat itu dijabat oleh Letjen Yusuf.
Februari 1981, setelah selama 14,5 tahunmenjadi dirjen (Dirjen Industri Dasar, Dirjen Industri Logam dan Mesin, dan Dirjen Industri Logam Dasar) Ia diangkat menjadi Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) Pertama-tama yang dilakukan adalah membuat perencanaan investasi oleh swasta secara transparant, dihubungkan dengan perencanaan inestasi oleh pemerintah yang diurus oleh Bappenas.
Duta Besar RI Untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia
Hari jumat, 30 November 1984. Suhartoyo mendapat telefon dari  ajudan Presiden. Suhartoyo diminta untuk menghadap presiden. Ternyata pada hari Sabtunya, Suhartoyo ditawari Presiden untuk menjabat sebagai duta besar.
Tawaran itu tidak langsung diterima, banyak pertimbangan yang harus dia pertimbangkan. Diantaranya masalah pendidikan anak-anak. Namun, akhirnya ia bersedia ditempatkan dimana pun.
“Saya katakan bahwa masih ada tiga anak saya yang masih sekolah. Masing-masing di kelas 3 SMA, kelas 3 SMP dan kelas 1 SMP. Saya mengusulkan kalau memang harus tugas di luar negeri mohon ditempatkan di negara berbahasa Inggris.”
Usai menghadap Presiden, Suhartoyo tidak langsung mengatakan pada pers tentang apa yang baru saja dibicarakan. Ia khawatir renacan itu akan gagal atau menimbulkan berbagai komentar. Ia memilih diam setelah keluar dari ruangan tempat bertemu dengan Presiden.
Setelah menunggu sekian lama, surat dari kepala Biro Umum Departemen Luar Negeri akhirnya datang juga. Surat itu menyebutkan agar Suhartoyo mengirim curriculum vitae untuk keperluan pengusulan sebagai duta besar.  Syarat itu pun segera dipenuhi
Sabtu malam jam 22.00 tanggal 24 Agustus 1985, Suhartoyo menerima surat dari Sekjen Deplu. Surat itu isinya tentang presiden menyetujui pencalonan Suhartoyo sebgai Duta Besar Luar Biasa yang Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia.
Suhartoyo dilantik oleh Presiden di Istana Negara menjadi Duta Besar Luar Biasa yang Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia pada hari Selasa, 10 Desember 1985.
10 Januari 1986, Suhartoyo dan rombongan berangkat dari Jakarta menuju Zurich dengan pesawat Garuda.
Bukan hanya di Keraton, di Inggris pun ada upacara adat kerajaan yang terpelihara dengan baik. Upacara penerimaan surat kepercayaan duta besar dari negara asing harus tetap mengikuti tata cara kerajaan. Hal ini juga terjadi saat menyerahkan LOC atau Letter of Credence kepada Ratu Elizabeth, tanggal 13 Februari 1986.
Selama menjabat, untuk mempererat hubungan dengan negara bersangkutan, duta besar umumnya melakukan pendekatan poitik atau ekonomi. Namun Suhartoyo melakukan pendekatan dengan cara budaya. Sebagai penggemar wayang dan pedalangan, ia yakin, melalui kebudayaan ikatan manusia antar negara bisa semakin dekat.
Selama 3,5 tahun bertugas di Inggris, Suhartoyo telah menyulap KBRI sebagai sanggar seni dan dipenuhi hiasan yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Ya, KBRI London telah dengan sukses diubah menjadi Indonesia mini. Itulah puncak karir dari kehidupan Ir. Suhartoyo.

Alm. Ir. Suhartoyo telah meninggalkan lebih dari sekedar harta pada keluarga besarnya. Perjuangan, dedikasi tinggi pada negara, dan kejujuran hanyalah beberapa dari sifat-sifat mulianya yang dapat diteladani oleh anak cucunya untuk masa depan mereka.

No comments:

Post a Comment