Friday, 31 May 2013

eyang sumardillah - bertahan hidup saat belanda dan jepang datang menjajah


Generasi sekarang yang hidup di masa modern ini pasti tidak mengetahui rasa takutnya saat penjajahan terjadi di Indonesia. Kita dapat menikmati hidup tanpa mengkhawatirkan akan dibunuh oleh belanda atau jepang. Berbeda dengan kakek nenek kita yang hidup di medan perang. Perjuangan dan petumpahan darah terjadi dimana-mana, susah nya bertahan hidup karena nyawa menjadi taruhannya. Aneh rasanya mendengar kisah mereka mengenai perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan.

Karena itu, kesempatan untuk mewawancarai orang-orang yang mengalami kejadian tersebut menjadi sangat menarik. Mereka mengalami pengalaman yang sangat berbeda dari generasi sekarang.
saya pun berkesempatan untuk mewawancarai eyang sumardillah, yang mengalami rasanya dijajah oleh jepang dan belanda.

BIOGRAFI

Eyang Sumardillah lahir di Yogyakarta pada tahun 1940. Eyang sumardillah adalah nenek dari teman saya, sinta ramani. Beliau merupakan anak ke 3 dari 5 bersaudara. Eyang sumardillah merupakan orang Yogyakarta sampai suatu hari ia harus pindah ke Jakarta akibat pekerjaan suami nya. Beliau aktif di bidang fotografi. Beliau pernah memenangkan kejuaraan fotografi dan mendapat hadiah berupa kamera. Awal beliau pindah ke Jakarta ia membantu petugas pembuat kartu tanda penduduk untuk memotret penduduk karena mereka kekurangan orang.

Eyang sumardillah menceritakan bahwa perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajahan sangatlah berat. Nyawa dari rakyat Indonesia menjadi taruhan. Dimana-mana terjadi penembakan dan pengeboman. Dinding-dinding rumah bolong akibat peluru yang ditembakkan penjajah. Kekayaan Indonesia diangkut oleh penjajah.

Penjajahan belanda

Saat belanda menjajah, terjadi pertumpahan darah dan perjuangan bangsa Indonesia dimana-mana.
Eyang sumardillah bercerita kepada saya bahwa saat belanda menjajah, terjadi penembakan dimana-mana. Darah dapat ditemukan di jalan. Banyak remaja laki-laki yang dibunuh oleh belanda, karena mereka dicurigai sebagai tentara. Beliau bercerita bahwa banyak anak laki-laki bujangan yang merupakan tetangga beliau, mati tertembak oleh belanda. ada beberapa lelaki bujangan yang usil dan berani, secara gerilya menembakkan bunyi pistol yang membuat belanda menggeledah rumah-rumah untuk mencari anak laki-laki bujangan. Rakyat Indonesia berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang aman. Mereka pergi mengungsi melintasi hutan, pantai, bahkan sampai pergi ke gunung. Eyang sumardillah yang saat itu masih sangat kecil ikut mengungsi bersama orang tua dan ke 4 saudara kandung nya. Menurut beliau, saat itu darah dapat ditemukan di jalan-jalan.

Suatu hari, sukapjo, yang merupakan kepala kepolisian di Yogyakarta, ditembak oleh belanda. berita tersebut sampai ke telinga para pengungsi yang sedang bersembunyi dari belanda. salah satu keluarga pengungsi adalah keluarga eyang sumardillah. Ternyata sukapjo adalah om eyang sumardillah sendiri. Ibu eyang sumardillah, yang merupakan kakak dari sukapjo, terkejut atas berita tersebut. Namun beliau dan keluarga beliau tidak dapat datang ke pemakaman, karena mereka sedang mengungsi dari belanda, dan sampai sekarang beliau dan keluarga beliau tidak mengetahui dimana makam sukapjo dan siapa yang telah menguburkannya.

Eyang sumardillah menceritakan betapa hebatnya perjuangan bangsa Indonesia. Rakyat mengebom jembatan agar belanda tidak dapat lewat, gerilyawan yang berani untuk menembak belanda, soekarno yang dengan gagah berani berjuang untuk Indonesia meskipun sudah berkali-kali tertangkap dan dibuang oleh belanda.

Eyang sumardillah bercerita bahwa anak remaja wanita juga membantu memperjuangkan tanah air yang mereka cintai. Meskipun mereka tidak mempertaruhkan nyawa untuk berperang melawan belanda, menurut saya mereka cukup membantu. Para wanita ini membantu mengumpulkan informasi. anak remaja wanita ini pergi ke kota untuk berjualan sambil mencari informasi tentang belanda (tentang keberadaannya dan apa yang sedang mereka lakukan). Setelah mendapat cukup informasi, mereka kembali ke pengungsian dan membeberkan kepada para pengungsi.

Anak laki-laki bujangan tidak berani berkeliaran di kota, karena mereka biasa dicurigai oleh belanda sebagai tentara. Dan jika belanda menemukan anak lelaki bujangan, biasanya belanda akan membunuh mereka.

Pada saat penjajahan belanda, rakyat Indonesia dijadikan pekerja paksa. Ternyata saat kerja paksa, rakyat Indonesia tidak hanya disuruh membuat jalan dari anyer sampai panarukan. Rakyat Indonesia juga disuruh untuk menanam rempah-rempah, juga membuat rel kereta api. Banyak pekerja yang meninggal akibat kurangnya asupan gizi dan terjangkit penyakit malaria.

Pada penjajahan belanda, banyak sekolah yang tutup karena mereka takut pada belanda. bangsa Indonesia pun melanjutkan pendidikannya secara mandiri.

Penjajahan jepang

Saat eyang sumardillah bercerita tentang bagaimana jepang menjajah, eyang sumardillah mengatakan bahwa jepang menjajah dengan kejam. Bahkan lebih kejam dari penjajahan belanda. Rakyat Indonesia tidak diberi pakaian. Rakyat Indonesia yang ingin menutupi badannya memakai karung goni dan kain apapun sebagai baju. Kutu ditemukan di mana-mana. Bukan hanya di rambut rakyat. Di kursi atau sofa juga terdapat kutu. Bahkan di karung goni yang rakyat Indonesia gunakan sebagai baju pun merupakan tempat bagi kutu-kutu untuk menyimpan telur-telur nya. Untuk makan bangsa Indonesia, mereka diberikan singkong, atau serangga-serangga.

Eyang sumardillah juga bercerita saat jepang menjajah, anak-anak remaja wajib hafal lagu kebangsaan jepang. Yaitu kimigayo, Sebenarnya teks dalam lagu kimigayo ini merupakan sebuah puisi kuno dan iramanya diciptakan oleh Yoshiisa Oku dan Akimori Hayashi. Lirik lagu ini pertama kali muncul dalam sebuah antologi puisi bernama Kokin Wakashu, sebagai sebuah puisi yang anonim. Beliau pun menyanyikan lirik lagu kimigayo :

“ki mi ga – yo – wa ebi yo ni - - ya ebi yo ni – - ya chi yo ni sa za re I shi no I wa o to na ri te ko ke no mu – su – ma - - de”

selain kimigayo, saat menjajah, jepang biasa memberikan olah raga pagi untuk anak-anak yang bernama taiso. Jepang juga menanamkan kebiasaan untuk menghormat ke matahari terbit. saat jepang menjajah memang tidak terjadi penembakan, namun jepang menguasai kekayaan Indonesia tercinta. Jepang menyuruh rakyat Indonesia untuk membuat lobang. Mereka menyuruh rakyat Indonesia untuk bersembunyi di dalam lobang tersebut jika jepang membunyikan sirine. Mereka berkata bahwa sirine tersebut adalah serangan dadakan. Bangsa Indonesia yang saat itu rata-rata masih kurang berpendidikan hanya dapat mengikuti kata-kata yang diikuti oleh jepang. Mereka tidak tahu bahwa setiap mereka membunyikan sirine dan menyuruh bangsa Indonesia untuk bersembunyi di dalam lobang, bangsa jepang mengangkut kekayaan rakyat Indonesia. Seperti besi, mereka mengangkuti semua besi yang dapat ditemukan, seperti besi-besi yang dibuat sebagai pagar rumah, dan lain-lain.

Hampir semua kekayaan dan bahan mentah di Indonesia diangkut demi kepentingan negeri Jepang yang menghadapi perang melawan sekutu. Bahkan jepang secara langsung telah memaksa tenaga tenaga Indonesia untuk menghadapi perang tersebut. Dipaksalah para pemuda untuk bergabung dalam barisan barisan semi niiliter yang dinamakan Keibodan dan Heiho. Ketiganya adalah organisasi pemuda yang bertugas membantu Jepang dalam bidang Pertahanan dan Keamanan.

Penindasan dan perampasan kekayaan bangsa Indonesia dilakukan tidak kepalang tanggung, Jepang tidak segan segan menindas penduduk untuk menyerahkan segala hak miliknya seperti padi, beras, ayam sampai kepada anak gadis dan janda muda. Banyak rakyat menjadi stres akibat intimidasi yang keterlaluan ini, banyak juga yang sakit dan kematianpun terjadi di mana mana.

Eyang sumardillah juga menceritakan rentang “romusha”, Romusha adalah panggilan bagi orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyakan romusha adalah petani, romusha tidak diketahui pasti - perkiraan yang ada bervariasi dari 4 hingga 10 juta. Selama berada ditempat kerja sampai pulang ke kampong halamannya, ternyata romusha mendapat fasilitas sangat minim dan banyak yang tidak diberi upah, tetapi tidak dapat menuntut karena memang tidak ada perjanjian kerja tertulis.

Banyak romusha yang meninggal karena kekurangan makan, kelelahan, malaria dan terjangkit penyakit. Selain itu juga karena kerasnya pengawasan dan siksaan Jepang yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan. Dibarak-barak romusha tidak tersedia perawatan dan tenaga kesehatan.

Para tenaga kerja yang disebut romusha atau jepang menyebutnya prajutit pekerja, diperlukan untuk membangun prasarana perang seperti kubu-kubu pertahanan, gudang senjata, jalan raya dan lapangan udara. Selain itu, mereka diperkejakan di pabrik-pabrik seperti pabrik garam dan pabrik kayu di Surabaya dan di Sumatera Selatan, mereka diperkejakan di pabrik pembuatan dinamit atau dipertambangan batu bara serta penyulingan minyak. Mereka diperkejakan pula dipelabuhan- pelabuhan antara lain memuat dan membongkar barang-barang dari kapal-kapal. Bahkan di desa Gendeng, dekat Badug, Yohyakarta misalnya romusha menanam sayuran dan palawija guna memenuhi kebutuhan makan Jepang dan romusha itu sendiri.

Selain romusha, eyang sumardillah juga bercerita mengenai “jugun ianfu” (comfort women). “jugun ianfu” (comfort women) merupakan sebutan untuk wanita Indonesia yang menjadi korban budak seks tentara kerajaan jepang untuk memenuhi kebutuhan seks para serdadu nya. Jugun lanfu di rekrut dengan halus, seperti dijanjikan sekolah geratis, dan pekerjaan yang bagus (seperti pelayan atau pekerja rumah tangga). Ada juga yang merekrut jugun lanfu dengan cara kasar dengan menteror dan disertai tindak kekerasan.

Jugun Ianfu yang pertama kali datang ke Indonesia tahun 1942 berasal dari Korea dan Cina. Sehubungan dengan naiknya permintaan untuk Jugun Ianfu dan kurangnya jumlah para wanita dari Korea dan Cina, militer Jepang mulai merekrut perempuan di Indonesia. Kebanyakan dari para perempuan ini diculik dari rumah, di jalan, bahkan di sawah  selagi bekerja. Ada yang dijual oleh kepala desa ke Jepang. Yang termuda berumur 11 tahun, masih anak-anak. Tentara Jepang merekrut anak dan laki-laki dewasa untuk dijadikan romusha atau heiho, sementara para perempuan dipaksa bekerja di bordil militer.
Walaupun inisiatif militer, tetapi pengelola bordil militer berbeda-beda. Ada beberapa bordil yang dikelola langsung di bawah pengawasan departemen militer, ada bordil kepunyaan swasta. Para Jugun Ianfu yang bekerja di bordil militer ini harus menggunakan nama Jepang mereka: Hana, Miko dsb. Para wanita ini bekerja tiap hari dari siang hingga malam. Beberapa dari mereka bekerja tanpa henti. Hari libur mereka dapat jika mereka menstruasi atau untuk tes medis tiap bulan. Hanya sedikit Jugun Ianfu yang hamil. Menurut Giyem (lahir 1930 di Jawa-Tengah) dokter militer memberikan resep obat puyer kepada semua Jugun Ianfu untuk mencegah supaya mereka tidak hamil.
Selama bekerja sebagai Jugun Ianfu beberapa wanita ini mengingat tamu-tamu bordil yang berlaku baik kepada mereka, tetapi mereka juga membenci tamu-tamu yang kasar. Beberapa tamu kasar itu menganiaya Jugun Ianfu. Tanpa ragu mereka mengancam akan menusuk Jugun Ianfu dengan bayonet tajamnya jika hasrat mereka tidak dituruti.
Ada sejumlah Jugun Ianfu yang tidak bekerja di bordil militer. Beberapa dari mereka ditawan di rumah seorang Jepang, sebagian dijemput di rumah mereka tiap sore dan dibawa ke rumah orang Jepang. di mana mereka diperkosa setiap hari 3 tahun lamanya.
 Jugun ianfu diperlakukan dengan buruk. Mereka diperkosa dan di siksa secara kejam. Mereka dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang sebanyak 10 hingga 20 orang siang dan malam serta dibiarkan kelaparan. Kemudian di aborsi secara paksa apabila hamil. Banyak dari mereka yang meninggal dalam Ianjo karena sakit, bunuh diri atau disiksa sampai meninggal.

Demikian hasil wawancara saya dengan eyang sumardillah. Mengenai hasil wawancara tersebut, saya sangat bangga dengan perjuangan bangsa Indonesia yang tidak ada habisnya. Kalau bukan karena para pejuang yang dengan berani melawan para penjajah, kita pasti tidak dapat merasakan enaknya hidup di masa modern ini. Pelajaran yang dapat saya ambil dari wawancara ini adalah : jika kita selalu berusaha, pasti tujuan kita akan tercapai. Sama seperti bangsa Indonesia yang selalu berusaha dan tidak pernah menyerah untuk mempertahankan tanah air tercinta nya.

No comments:

Post a Comment