Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Tara Annisa XI IPA 2


Kisah hidup Jessica Maryam Taslim Rostan di Masa Perjuangan Indonesia

Saya mewawancarai Nenek saya, bernama Jessica Maryam Taslim Rostan. Nenek saya biasa saya panggil ‘Tuo’. Tuo  merupakan anak ke 8 dari 11 bersaudara, dan 8 dari saudara nenek saya adalah perempuan. Tuo lahir pada tanggal 6 Juni 1928 di kotogadang, Sumatra Barat.

Pada usia balita, Tuo harus pindah dari kotogadang ke Bukittinggi karena Tuo harus ikut dengan ayahnya, yang merupakan demang (kepala Distrik) pada zaman kependudukan belanda di Indonesia. Tuo pada awalnya susah untuk beradaptasi pada keadaan berpindah pindah dari padang ke kotogadang. Tapi karena sering maka akhirnya Tuo pun terbiasa.

Setelah beberapa lama, Tuo pindah ke padang panjang. Awalnya Tuo mau tinggal di bukittinggi saja dengan neneknya, tetapi Tuo tidak mau karena neneknya Tuo sangat cerewet dan Tuo tidak betah apabila harus tinggal dengan neneknya. Jadi Tuo rela pergi pagipagi buta dengan kereta dengan cuaca dingin untuk pergi kesekolah dibandingkan bisa bangun lebih siang dan jarak dari rumah ke sekolah lebih pendek tapi harus tinggal dengan neneknya.

Setelah  menyelesaikan pendidikan SD di Padang Panjang, Tuo pun akhirnya melanjutkan pendidikannya di MULO Fort de Kock. Awalnya  Tuo mau melanjutkan sekolahnya di HBS (Hoogere Burgerschool), tetapi sekolah itu belum ada di padang. Belum sempat menyelesaikan pendidikan disana, MULO ditutup karena Jepang masuk ke Indonesia dan Sekolah Sekolah di tutup, apalagi sekolah buatan belanda. Hal ini membuat Tuo putus sekolah dan harus kembali ke kampungnya. Ayah Tuo yang sedang bertugas di padang panjang tetap bekerja di padang panjang. Tuo tidak bisa tinggal dengan ayahnya karena keadaan di padang panjang yang agak rawan dan ayahnya takut kalau Tuo akan diancam bahaya karena Tuo adalah anak bupati.
Menurut Tuo, di Sumatra tidak terlalu kedengaran tentang adanya perang melawan belanda/jepang. Hal yang paling terasa hanya saat belanda kalah dan jepang masuk. Guru guru Tuo yang mengajar di MULO banyak yang di tangkap dan dimasukkan kedalam camp militer, jadi Tuo tidak bisa berhubungan dengan guru gurunya yang lama.

Pada saat jepang masuk ke padang, harga barang dimanapun sangat mahal. Orang orang banyak melakukan barter karena susah untuk membeli barang apapun. Saat banyak orang yang makan nasi campur beras, Tuo Alhamdulillah tetap bisa makan nasi tetapi tidak boleh menambah porsi. Yang boleh nambah hanya adik adik Tuo, yaitu azis dan aluh. Mereka boleh nambah karena saat itu mereka masih kecil dan mereka lakilaki, jadi perlu tenaga ekstra.

Berdiam diri di rumah menyebabkan Tuo merasa bosan dan capek. Tuo ingin bersekolah lagi. Jadi saat ditawarkan oleh ayahnya untuk bersekolah di Sekolah guru Jepang, Tuo langsung mau. Walaupun itu pertama kalinya Tuo tinggal di asrama dan pada akhirnya Tuo harus jadi guru, Tuo tetap bersemangat sekolah.

Barang barang pada zaman jepang termasuk mahal, karena itu Tuo tidak bisa makan nasi tiga kali sehari. Tuo harus makan pagi, siang, dan malam dengan ubi/singkong rebus di asrama itu. Namun, mungkin karena guru guru yang berasal dari jepang itu sangat baik pada Tuo dan pada saat itu yang terpikirkan oleh Tuo hanya bagaimana cara hidup dan mengisi perut saja, Tuo tetap merasa nyaman di sekolah itu. Kurang dari 3 tahun, Tuo dapat menghafal katakana, hiragana, kanji, dan pola kalimat jepang dengan gampang dan lancar. Karena dipelajari dalam waktu singkat, Tuo juga cepat lupa dengan hal hal tersebut dan sekarang Tuo hanya ingat beberapa kalimat seperti “ watashi no namaewa Jessy desu” atau “konichiwa”.

Disekolah ini, Tuo banyak menemukan keahlian baru seperti menggambar. Saat pengawas sekolah yang orang jepang datang, anak anak yang dianggap bisa menggambar disuruh menggambar di sebuah papan besar yang nantinya akan di pajang di sepanjang koridor sekolah. Tuo merasa ia tidak bisa menggambar, tetapi guru Tuo yakin sebenarnya Tuo itu bisa menggambar. Jadi Tuo pun akhirnya mencoba dan ternyata Tuo bisa. Tuo juga belajar bahwa tidak semua orang itu sempurna, pasti ada saja kelebihan dan kekurangan. Tuo dulu iri pada temannya yang jago menggambar, tapi ternyata teman Tuo itu tidak terlalu pintar dalam bidang pelajaran.

Pada saat jepang sedang perang, banyak guru guru tempat Tuo bersekolah dipanggil untuk mempertahankan negaranya. Pada saat itu, Tuo sempat menangis karena Tuo tidak mau ditinggal oleh guru guru jepang yang pada saat itu sangat baik dan perhatian pada muridmuridnya. Tuo takut bahwa ini adalah kali terakhir Tuo bertemu dengan guru gurunya lagi.

Karena banyak guru yang dipanggil, banyak guru guru ‘pribumi’ baru yang datang. Ternyata, guru guru yang baru itu salah satunya adalah kakak Tuo sendiri yang termasuk paling tua, yang dipanggil “ma’ngah”. Walaupun sempat aneh tetapi Tuo merasa senang diajari oleh ma’ngah jadi Tuo dapat belajar dengan lebih enak.

Setelah Tuo lulus dari sekolah guru, Jepang mengalami kekalahan, dan sekolah sekolah jepang ditutup. Pada saat itu, tenaga guru di mana mana itu kurang. Tuo dan temantemannya dipanggil oleh dewan pengawas sekolah. Pengawas sekolah yang menjabat saati itu adalah Ayah dari Hasnan Habib. Tuo diminta untuk mengajar di salah satu sekolah di KotoTuo. Awalnya, Tuo tidak yakin bisa mengajar karena Tuo baru saja lulus dan tidak yakin sudah bisa mengajar dan menghadapi anak anak yang sikapnya berbeda beda. Setelah diyakinkan oleh pengawas sekolah akhirnya Tuo pun mengajar di salah satu sekolah di KotoTuo.
Tuo ditempatkan di salah satu sekolah SD di KotoTuo. Awalnya, Tuo diminta untuk mengajarkan bahasa Indonesia pada murid murid SD. Karena Tuo dari kecil hanya berbicara bahasa belanda / bahasa padang, Tuo merasa tidak mampu jadi Tuo hanya mengajar pelajaran matematika, ilmu bumi dan baca tulis. Tidak lama setelah itu, Tuo mengajar di Kotogadang yang relatif lebih dekat bersama dengan sahabat baiknya, yaitu Sil.

Sebagai guru, Tuo sangat disenangi oleh muridnya. Muridnya pernah mengatakan pada Tuo “ kalau saya diajar encik yes, saya cepat mengerti. Encik yes mengajarnya enak. Kalau encik sil mengajarnya sambil cemberut jadi tidak enak”. Karena itu kali pertama Tuo mengajar, jadi Tuo sangat berusaha untuk menjadi panutan serta pengajar yang baik. Tuo sangat senang ketika mendapat respon baik dari murid muridnya sehingga Tuo sangat senang mengajar.

Saat mengajar di kotogadang, Tuo harus tinggal bersama kakaknya yang ke 6 yang biasa saya panggil Tuo ade dan ibunya. Dan pada masa itu, PKI sedang sering melaksanakan pembantaian di berbagai macam daerah. Nenek Tuo sangat takut karena kotogadang sering didatangi oleh orang orang PKI, karena mereka hanya hidup bertiga dan semuanya perempuan. Pada awal kedatangan PKI, Tuo harus memakai baju kurung dan juga berpurapura menumbuk padi dan memilahmilah gabah padi agar dikira wanita kampong biasa. Tuo juga diminta untuk berbahasa Indonesia atau berbahasa padang saat mengobrol dengan semua orang. Hal ini cukup sulit bagi Tuo karena Tuo dan Tuo adek dari kecil sudah terbiasa berbahasa belanda saat mengobrol, jadi kadang kadang suka keceplosan berbahasa belanda. Untungnya pada saat keceplosan, tidak terdengar oleh orang PKI jadi tetap aman. Orang PKI juga pernah datang ke rumahrumah penduduk. Saat mengunjungi rumah Tuo, Tuo dan Tuo ade tinggal di dalam kamar sehingga tidak bertemu dengan orang orang PKInya. Untungnya, saat mengunjungi kampong kotogadang, Orang orang PKI hanya melihatlihat dan tidak ada kejadian orang yang diculik/dibantai. Mungkin karena orang PKI tahu bahwa kampong Kotogadang merupakan kampong yang sepi, indah, dan tidak berpotensi untuk melakukan hal apapun yang tidak disukai oleh PKI.

Setelah PKI, Presiden Sukarno pernah juga datang ke Kotogadang. Sepupu Tuo, yang merupakan salah satu teman sukarno menyarankan Sukarno untuk berkunjung ke daerah kotogadang saat sukarno sedang berkunjung ke daerah padang. Pada saat itu, Tuo dan salah satu temannya menjadi penerjemah bahasa Indonesia ke bahasa padang, karena banyak orang kampong kotogadang tidak mengerti bahasa Indonesia. Karena reputasi sukarno dengan perempuan, Tuo awalnya sangat takut, jadi dia saat diminta berfoto dengan sukarno agak takut. Setelah dibujuk, Tuo akhirnya mau berfoto sebagai kenang kenangan.



Selain PKI dan Sukarno, kampong kotogadang juga sering didatangi oleh orang asing. Hampir semua wanita di kampong termasuk Tuo takut melihat banyak warga asing di kampungnya. Ibu ibu banyak yang lebih protektif pada anaknya karena takut anaknya dibawa pergi oleh warga asing. Sebenarnya, warga warga asing datang ke kotogadang hanya karena ingin melihat lihat di kampong kotogadang yang terkenal dengan kesenian keseniannya dan juga orang orangnya yang dari kalangan terpelajar walaupun tinggalnya di kampong.

Menurut Tuo, tidak semua orang di daerah padang yang pergi berjuang untuk kemerdekaan. Kebanyakan dari mereka adalah anak anak yang tidak mau sekolah dan lebih mementingkan berperang daripada ilmu dan wawasan. Keluarga inti Tuo tidak ada yang menjadi pejuang karena orang tua Tuo sangat menomorsatukan pendidikan sehingga tidak ada satupun yang sempat untuk ikut perang.
Pada suatu saat, Ibunya Tuo mengajak Tuo ade untuk pindah ke Jakarta. Karena kondisi yg tidak memungkinkan Tuo untuk pergi ke Jakarta, akhirnya Tuo harus ditinggal di kotogadang dan tinggal di rumah hanya dengan pembantunya. Karena pengalaman tinggal di asrama, Tuo tidak terlalu takut dengan keadaan tinggal sendirian. Satu tahun setelah itu, Tuo diminta pindah ke Jakarta juga. Tuo harus sendirian ke padang dengan bis lalu pergi dengan pesawat ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Tuo merasa sangat aneh melihat kota besar seperti Jakarta. Tuo dijemput oleh sepupu Tuo yang bernama was. Tuo merasa seperti debu di kota besar. Setelah itu, Tuo mulai bekerja sebagai sekretaris. Tidak lama setelah Tuo pergi ke Jakarta, Tuo bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Taslim Rostan. Mereka berteman dekat dan pada akhirnya menikah pada pertengahan tahun 1950. Pada tahun 1959, lahirlah juron noviansyah yang merupakan anak pertama Tuo dan inyik tas, dan pada tahun 1963 lahirlah Sita Ramayanti yang merupakan anak terakhir Tuo dan inyik tas.

Inyik Tas meninggal saat anak bungsu Tuo memasuki SMP. Sejak saat itu, Tuo menjadi tulang punggung keluarga. Sekarang Tuo berusia 85 tahun. Tuo sekarang mempunyai 5 cucu yang kebetulan semuanya adalah perempuan. Saat ditanya hal apa didalam sejarah Indonesia yang paling berkesan oleh Tuo, Tuo menjawab bahwa masa masa Tuo sekolah guru adalah masa yang terbaik. Karena pada masa itu, Tuo banyak mempelajari hal baru dan Tuo baru sadar bahwa tidak semua orang itu sempurna, dan kalau ada perang, sebenarnya di kedua pihak itu ada untung dan rugi nya.


Saya saat mewawancarai Tuo di kamar Tuo

No comments:

Post a Comment