Friday, 31 May 2013

Merajut pengalaman Dokter spesialis saraf dan jiwa
oleh
Prof. DR. Suharko

Sejenak menilik Prasasti diri
Pada 28 September, dengan sengkalan Dahana Kawruh Ambedah Jagat (1933), lahirlah sesosok manusia yang pada riwayat hidupnya memberikan sumbangsih yang cukup berarti untuk bangsa ini. Beliau bernama lengkap Anggono Suharko Kasran, seorang pria yang luar biasa, sekaligus menjadi ayah dan kakek yang penuh kebijaksanaan. Lahir di desa kecil bernama Puhrejo, Kota Pare, Jawa Timur, dengan hijaunya Dewi Sri sebagai pagarnya. Beliau adalah anak ke-7 dari 8 bersaudara  dari pasangan Kasran Mohammad Doerjat dan Soepadminah, dua orang yang berprofesi utama sebagai pendidik yang luar biasa pada masanya, serta sangat berpengaruh di lingkungan mereka dan juga sangat disegani orang-orang, bahkan oleh para penjajah.
Harko, begitu panggilan akrabnya, lahir pada hari Kemis Kliwon menurut penanggalan Jawa, dengan dibantu oleh dr. Mahar Mardjono dan ibu bidan Maisena. Satu hal yang unik dari sosok Harko kecil ialah beliau belum dapat bicara sama sekali sampai umur 2 tahun. Menurut beliau, hal tersebut mungkin dikarenakan perhatian orang tuanya yang kurang pada saat itu (bapak dan ibu Kasran adalah orang yang sangat sibuk, terlebih lagi Harko memiliki banyak saudara kandung), sehingga perkembangan masa kecil beliau menjadi tidak maksimal. Harko kecil pertama kali masuk sebuah sekolah pada umur 5 tahun, kira-kira tahun 1938. Beliau masuk ke sekolah setara TK (taman kanak-kanak) yang dulu disebut Vropelschool, dengan diasuh dan didik oleh gurunya yang masih termaksud sanak saudaranya sendiri, bu Sam.
Setelah tamat dari TK, Harko melanjutkan sekolahnya ke ELS (Europese Lagere School) yaitu sekolah belanda yang setara dengan SD pada masa kini. Bersekolah di tempat yang mayoritas orang asing membuat Harko menjadi kelompok minoritas. Selain beliau, hanya ada satu orang tionghoa, sisanya adalah orang asli belanda ataupun indo-belanda. Masih teringat dipikirannya bahwa dulu beliau sering berkelahi dengan teman-teman sekolahnya. Caci-makian sering dialami oleh Harko sehingga seringkali tanpa ragu-ragu beliau menhantam anak-anak belanda tersebut hingga babak belur, sampai akhirnya kedua belah pihak dihukum. Mungkin inilah salah satu hal yang membentuk karakter Harko yang percaya diri sekaligus memiliki hasrat untuk unjuk diri.
Menjelang naik kelas 3, bangsa Jepang pun datang menduduki Indonesia. Orang-orang Belanda yang kalah pun ditangkap satu persatu tanpa terkecuali dan dijadikan internir/ tawanan. Oleh sebeb itu, Harko tidak lama menuntut ilmu di ELS karena beliau langsung dipindahkan ke sekolah HIS (Hollandsch-Inlandsche School), sebuah sekolah campuran yang cukup bergengsi dimana kedua orangtunya bekerja sebagai petinggi sekolah tersebut. Hal itu mungkin karena status orangtuanya yang juga dianggap “berada”.  Tetapi, suatu hal yang mengejutkan terjadi ketika Harko tidak dinaikkan oleh orang tuanya satu jenjang kelas dikarenakan ketidakmampuannya berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Tentu saja Harko tidak menyukai tindakan dan keputusan orangtuanya tersebut. Akhirnya, beliau memutuskan untuk berhenti sekolah beberapa saat hingga dimasukan kembali saat kelas 4.
Saat jenjang-jenjang akhir Harko bersekolah di HIS, terjadi suatu peristiwa yang cukup luar biasa yang terjadi di Kota Pare. Ribuan petani yang berasal dari kota-kota dan desa-desa sekitar pare dengan baju hitam-hitam serta membawa berbagai macam senjata seperti arit, celurit dan tombak berbondong-bondong menyerbu dan menjarah toko-toko dalam kota yang dimiliki oleh orang-orang etnis Tionghoa. Hal tersebut terjadi karena pada zaman pendudukan Belanda, orang-orang Pribumi disamaratakan dengan binatang, sedangkan orang-orang Tionghoa disamakan statusnya seperti orang-orang Eropa lainnya. Terlebih lagi, mereka diberikan previleges dalam melakukan apapun oleh Belanda. Munculah rasa benci dan iri dari orang-orang pribumi terhadap masyarakat Tionghoa. Maka dari itu, setelah Belanda dikalahkan, orang-orang pribumi pun berani untuk bertindak dan memutuskan untuk menjarah penduduk-penduduk Tionghoa yang kebetulan memusat dan banyak berdomisili di Kota Pare.
Peristiwa tersebut terjadi selama beberapa hari lamanya. Kumandang Azan di masjid-masjid pun tidak henti-hentinya diserukan pada saat penjarahan itu terjadi. Riuh-rendah suara para petani melingkupi malam-malam yang menegangkan di Kota Pare, sampai akhirnya penjarahan tersebut berangsur-angsur berhenti. Ada salah-seorang tokoh yang berada dibalik berhentinya penjarahan tersebut. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah suami-istri Kasran, orangtua dari Harko. Pada masa itulah Harko pertama kalinya mengenal kata-kata Ultimatum.
“Berhenti semuanya!!! Kembalikan semua hasil jarahan dalam waktu 3 kali 24 jam!!”
Begitulah kira-kira ultimatum yang dikatakan oleh Kasran kepada para penjarah, ditemani oleh istrinya sambil memegang sebilah keris. Walaupun hanya sebagai kepala sekolah HIS pada waktu itu, Kasran dengan segala wibawanya dapat menghalau mundur orang-orang yang sedang gila-gilanya menjarah Kota Pare.

Waktu pun bergulir, akhirnya Harko melanjutkan jenjang sekolahnya ke sekolah menengah pertama. Beliau masuk ke SMP di kabupaten Kediri saat itu, SMP 1 Baluwerti. Angin berhembus membuat alang-alang menari, keadaan bumi nusantara belum stabil semenjak diproklamasikan kemerdekaanya, bertepatan dengan datangnya Belanda kembali ke Indonesia untuk melancarkan Agresi (Agresi militer II).
Pernah suatu saat, ketika Harko telah sampai di sekolah pada jam 5 pagi, beliau hanya duduk menunggu di depan gerbang sekolah, tidak bergegas masuk (pada halaman sekolah terdapat pohon karet besar, beliau mengaku agak takut). Beberapa saat kemudian, terdengarlah serentetan tembakan-tembakan dari arah timur. Saat itu Harko telah duduk bersama temannya, Gutomo, mereka berdua pun terkejut. Tiba-tiba dari arah timur tersebut muncul serombongan orang-orang yang sedang bergegas sambil menyeret seseorang yang terkulai lemas. Mereka berhenti tepat didepan Harko dan Gutomo, serta merta membantai orang yang mereka seret itu. Dengan takutnya Harko dan Gutomo berlari kembali pulang ke Pare tanpa menaiki kereta karena jalurnya telah dibekukan. Belakangan baru terungkap bahwa pertempuran tersebut ialah antara Brigane Surahmad TNI menghantam PKI Brigade 29.
Akhirnya Harko pun sukses melalui SMP-nya dan melanjut ke SMA 1 Kediri. Pada jenjang pendidikan ini tidak banyak yang dibeberkan karena menurut beliau masa-masa SMA-nya berjalan biasa-biasa saja, tidak terjadi suatu peristiwa yang berarti. Barulah beliau lulus pada tahun 1953 dan melanjut ke Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, surabaya. Dari sana beliau akhirnya menjadi dokter spesialis saraf dan kejiwaan serta selanjutnya berkecimpung di dunia militer dengan pangkat Kolonel (purn) TNI AD.
Beristrikan seorang dokter gigi, Hj. drg. Irawati Djayengsoegiyanto, beliau berdua memiliki 3 orang anak yang bernama Riza Sarasvita (menikah dengan Pramudyo Abdul Aziz dengan anak Indrastiti Pramitasari dan Prabowo Hanifianto), Arief Bimantoro (menikah dengan Hanung Vahriana, dengan anak Sarah Azka Arief) dan yang bungsu ialah Rachman Sampurno (menikah dengan Denny Sukmadewi, dengan anak Radya Daniswara dan Ailsa Anarghia)



Partai Komunis Indonesia
Berikut adalah penjelasan seputar PKI yang masih terekam dalam memori Harko,
“PKI yang sempat dihancurkan pada waktu pemberontakan di Madiun dengan cepat kembali membangun dirinya sendiri karena tidak ada penyelesaian secara hukum. Pada tahun 1950 Dipo Nusantara Aidit mampu membangun kembali PKI yang didukung oleh Bung Karno dengan NASAKOM-nya. Suatu keanehan dan kesembronoan fatal dari Bung Karno. Mimpi bahwa PKI bisa ditekuklututkan kedalam NASAKOM. Komunis ya komunis, Islam ya Islam, susah dipersatukan. Pada tahun 1955 PKI telah menjadi partai terbesar keempat serta partai komunis terbesar seiring dengan partai komunis di China dan Russia.
Menurut apa yang saya rasakan dan hayati mengenai PKI, partai itu memiliki doktrin yang populis mudah dicerna dan ditelan oleh rakyat, tetapi sangat berbahaya karena melandaskan diri pada pengembangan distrust, prejudice, hate, vengeance, vindictive, mental and physical assassination terhadap pemerintah.
Politik terkesan membara, baik karena Bung Karno dengan idealisme Nasakom dan perubahan sikap pandangan yang terkesan kekiri-kirian serta kesan beliau memihak PKI. Semua orang sungkan dan segan terhadap Bung Karno. Saya sendiri terpaksa diam tidak berani berkomentar mengingak bahwa melawan atau berpendapat lain dari tindakan Bung Karno sangat besar resikonya. Beliau sadar atau tidak bahwa PKI telah menguasainya serta keadaan nasional. Idenya mengenai Nasakom sangat dimanfaatkan PKI, terkesan bahwa Bung Karno telah dikuasai oleh PKI itulah yang saya rasakan.
DN Aidit beserta kroni-kroninya lantas menyusun strategi untuk bisa bangkit kembali.salah satu cara ialah dengan menerbitkan koran Bintang Merah pada tahun 1950-an. Menguasai media informasi berarti separuh kemenangan. Koran Bintang Merah yang dipimpin langsung oleh Aidit digunakanya untuk kembali melancarkan propagandanya. Belakangan muncul pula koran-korang perluasan jaringan informasi yang menjadi simpatisan PKI, seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti dan Bintang Timur.
Memasuki September 1965, isu-isu kudeta militer yang dikomandoi ‘Dewan Jenderal’ semakin kentara. Sebagian orang percaya hari ABRI 5 Oktober akan digunakan militer untuk melakukan kup terhadap Presiden Soekarno. Dengan dalih menyelamatkan revolusi serta pemimpin besar revolusi, PKI merencanakan sebuah gerakan yang mereka sebut Gerakan 30 September. Menurut versi rekayasa Letkol Untung, gerakan ini semata-mata gerakan dalam angkatan darat yang ditujukan kepada dewan jenderal yang telah mencemarkan nama angkatan darat, dan ia sebagai anggota Cakrabirawa berkewajiban melindungi keselamatan presiden.
Orang-orang yang ditugaskan untuk menculik para jendral tergabung dalam pasukan Pasopati. Komandannya ialah Lettu Dul Arief. Pasukan disebar ke sasaran masing-masing serentak dan mulai bergerak dari Lubang Buaya pukul 03.00 WIB.
PKI menyerang, memberontak, enam orang jendral dan satu orang perwira pertama menjadi korban keganasannya.
Dalam waktu satu, dua hari suasana sudah dapat dikendalikan oleh Mayjen Soeharto sebagai PangKostrad, dan terjadilah konflik horizontal antara simpatisan PKI dan rakyat yang dilukai PKI, terutama dari umat Islam, dengan korban jiwa yang cukup banyak dari kedua belah pihak. Suatu tragedi bangsa Indonesia yang luar biasa, meninggalkan sisa-sisa kejiwaan yang tidak gampang hilang. TNI sangat didukung oleh rakyat, sedangkan PKI yang membangun kebencian dan keganasan sejak tahun 1945, telah mendapat akibat yang sangat berat, dibenci oleh rakyat. Setelah itu, ribuan simpatisan PKI banyak yang disingkirkan ke Pulau Buru. Secara politik mereka merasa tidak bersalah dan merasa diperlakukan tidak adil, ditahan tanpa tujuan hukum yang tidak jelas. Mereka yakin bahwa PKI suatu saat akan hidup kembali.bahkan ada seorang dokter wanita yang menyatakan bahwa dia bangga sebagai anak PKI.

Saya memberikan saran, jangan melakukan rekonsiliasi dengan orang-orang simpatisan PKI atau yang berjiwa PKI. Kecuali bila pengembangan watak, perilaku, kepribadian, integritas bedasarkan norma, nilai, etika, moral dan akhlakiah nasional sudah diimplementasikan dan telah dilatih serta dibiasakan secara mantap.”

No comments:

Post a Comment