Friday, 31 May 2013

Tugas 2-Biografi Safira Azaria I.

Nenek Ace - Masa muda di masa jajahan


Selasa, 28 Mei 2013, saya melaksanakan wawancara dengan kakak dari nenek saya yang bernama     Aspasia Arifin. Wawancara yang dilakukan melalui telefon ini berlangsung selama kurang lebih 40 menit. Sudah cukup lama kami tidak bersilaturahmi, dengan adanya tugas sejarah ini, saya pun sekaligus mempererat silaturahmi dengan nenek yang akrab saya panggil dengan Ni Ace ini.

Ni Ace


Biografi

Ni Ace adalah adik dari nenek kandung saya, Ariawati Arifin (alm.). Ni Ace adalah anak pertama dari empat bersaudara, 2 adik laki-laki (Alex Sutriawan Arifin dan Tonny Asani Arifin) dan 1 adik perempuan.  Ni Ace lahir di Jakarta, 12 November 1937. Tahun ini Ni akan menginjak usia 76 tahun. Setelah lahir, ayah dari Ni segera membawanya untuk tinggal di Sukabumi. Ni tinggal di Sukabumi dari usia balita hingga menginjak usia Taman kanak-kanak (5 tahun).

 Saat Ni tinggal di Sukabumi, daerah Sukabumi sedang dalam kependedukan Belanda yang akan beralih ke Jepang. Hal ini tidak terlalu berpengaruh pada Ni, mengingat umurnya yang masih kanak-kanak. Namun Ni bercerita pada saat ia bersekolah di taman kanak-kanak, sekolah yang ada hampir seluruhnya merupakan sekolah katolik. Ni pun bersekolah di taman kanak-kanak Katolik.

Selain itu, pengalaman yang Ni ingat adalah, saat Ni masih berusia balita, orang tua Ni dan orang dewasa seumurannya ditugaskan untuk menanam pohon Jarak oleh orang-orang Jepang. Ni yang masih kecil pun sering ikut-ikut membantu menanam  pohon Jarak.

Ni juga bercerita, saat itu orang-orang Belanda sering melakukan penyerangan kecil-kecilan ke rumah warga. Untuk berjaga-jaga, rumah-rumah sekitar  termasuk rumah Ni, harus mewarnai dinding rumah dengan kapur hitam. Hal ini dimaksudkan untuk mengelabui Belanda pada saat malam hari agar rumah penduduk tidak terlihat. Hal ini diketahui oleh warga dengan ajaran dari orang-orang Jepang.

Pada tahun 1942, ketika Indonesia memulai pergerakan kemerdekaan, Ni dan keluarga berpindah menuju kota Bogor. Tepatnya di jalan Cigebeung. Saat Ni tinggal di Bogor, usia Ni sudah memasuki usia anak sekolah. Ni menjalani masa sekolah dasar dan menengah pertamanya di SD dan SMP  Regina Pacis. Ni bercerita, pada tahun itu di Bogor banyak sekolah-sekolah Belanda yang mulai berubah ke sekolah Republik Indonesia. Namun, pada saat Ni bersekolah dahulu, bahasa pengantar di sekolahnya adalah bahasa Belanda, dan sekolah Regina Pacis dahulunya merupakan sekolah khusus perempuan.

Lulus Sekolah Menengah Pertama, Ni melanjutkan pendidikan ke SMA . Saat Ni memasuki SMA, tepatnya tahun 1952, di kota Bogor hanya terdapat satu SMA, yaitu SMAN 1 Bogor. SMA inilah yang menjadi tempat Ni untuk melanjutkan pendidikannya. SMA ini terletak persis di depan Kebun Raya Bogor.

Lulus dari SMA, Ni dan sahabatnya yang bernama  Heni Kusnoto  melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran.Ni masuk ke Universitas Indonesia dengan jalur undangan atau tanpa tes.. Di universitas ini pula Ni bertemu dengan jodohnya, yaitu Aki Didit. Saat itu Aki Didit adalah senior dari Ni yang bertugas untuk mengorientasi Ni.Disinilah Ni mulai berkenalan dengan Aki dan akhirnya memulai berpacaran. Sayangny a, Ni hanya menyandang penddidikan sampai kuliah tingkat 1. Ni belum mencapai gelar sarjananya. Ini dikarenakan permasalahan biaya. Ni dan keluarga lebih mengutamakan adik dan kakak laki-laki Ni untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Namun begitu Ni tetap ikhlas dan bersyukur dengan pendidikan yang cukup tinggi pada jamannya.

Putus kuliah, Ni memutuskan untuk tinggal di Jakarta untuk bekerja. Ni tinggal bersama sepupunya di daerah Kebayoran. Ni bekerja sebagai pegawai bank dengan rekomendasi dari sepupunya. Setelah 2 tahun bekerja, Ni memutuskan untuk menikah dengan Aki Didit. Ni dan Aki masih menikah hingga sekarang. Mereka memiliki 1 anak, dan sekarang telah memiliki 3 orang cucu yang merupakan sepupu saya.

Saya juga berkesempatan untuk mewawancarai Aki Didit. Aki Didit bernama Kadiat Sunarjaatmaja. Aki Didit adalah seorang dokter. Ia sekarang berumur 81 tahun. Aki didit bercerita mengenai kehidupannya mulai saat ia duduk di bangku kelas 4 SD di Jakarta.  Saat itu Indonesia sedang berada di ombang-ambing kependudukan antara Jepang, Belanda dan Indonesia.

 Di usia yang belia yaitu usia sekolah dasar, aki sudah merasakan belajar dengan guru dari berbagai negara. Ia sudah pernah belajar bersama guru belanda dengan bahasa belanda, guru jepang yang mengajarinya huruf jepang tetapi tetap berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, dan guru republik yang mudah dimengerti karena poersamaan bahasa.

Saat Indonesia merdeka, aki dan keluarga sudah berpindah tempat tinggal menuju Jawa. Walaupun sudah merdeka, ternyata masih banyak orang Belanda dan Jepang yang berada di Indonesia. Aki mengatakan orang Belanda yang berada di Indonesia berasal dari berbagai kalangan, baik jenderal, pengusaha atau karyawan. Sementara orang Jepang yang berada di Indonesia kebanyakan adalah serdadu-serdadu yang telah selesai atau akan membantu perang dunia ke 2.

Aki kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan tingkat kuliah. Fakultas yang aki ambil adalah fakultas kedokteran. Aki juga bercerita kalau sebenarnya kuliah pada masanya tidak jauh berbeda dari sekarang, hanya saja berbeda dari sisi pengajarnya. Pengajar dan dosen pada masa itu adalah orang-orang yang berasal dari Belanda, Amerika dan Indonesia.

Peranan

Setelah  aki lulus dari sekolah kedokteran, aki menjadi sarjana kedokteran. Aki menjadi dokter pada tahun 1960. 1 tahun setalah menjadi dokter, terjadi peristiwa perebutan Irian  Barat.  Peristiwa ini berawal saat Indonesia merdeka tahun 1945.

 Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua. Namun demikian, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an. Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda.

Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat), juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat, terjadi  pada 19 Desember 1961.
Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat atau disingkat Trikora, yang isinya sebagai berikut:

  •  Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda.
  •  Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia.
  • Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Pada bulan Februari 1962, Komando Mandala mulai menggerakkan kesatuan-kesatuan laut dan udara ke daratan Irian. Tidak lama kemudian pasukan Indonesia berhasil merebut Teminabuan. Belanda merasa kewalahan menghadapi tentara Indonesia. Hal ini diketahui oleh dunia internasional. Oleh karena itu, seorang diplomat Amerika Serikat, Bunker mengusulkan rencana penyelesaian secara damai mengenai sengketa Irian Barat.

Tak lama menyandang sebagai dokter muda, aki dan teman-teman sarjana kedokterannya diperintahkan untuk membantu Indonesia merebut kembali Irian Barat. Pada umur 29 tahun, aki dan para dokter-dokter muda membantu para tentara di Irian Barat. Aki dikirim ke Irian Barat dengan di promotori oleh pemerintah.

Aki dan para dokter membantu tentara-tentara yang terluka di rumah sakit. Rumah sakit yang sederhana, bukan rumah sakit megah dan berteknoogi canggih seperti sekarang ini.Dengan peralatan seadanya dan obat-obatan terbatas, aki dan sekolompok dokter lainnya tetap membantu para tentara.Terkadang aki juga mengaku bahwa terkadang  peralatan medis saat itu masih sangat kurang, maklum namanya peperangan.
Saat mengobati pasien, terkadang terdengar suara bising-bising pertarungan. Selain membantu sebagai tenaga medis, terkadang apabila dibutuhkan tentara tambahan, para dokter pun ikut membantu. Walaupun tidak langsung terjun ke medan peperangan. Aki yang awalnya hanya dokter muda berpengalaman minim, rela berjuang untuk negaranya.  Di Irian barat, aki membantu tentara angkatan darat.

Aki bercerita bahwa kita harus sangat menghargai peristiwa pembebasan tersebut. Aki sendiri melihat para tentara itu terluka dan aki sendirilah yang membantu penyembuhan para tentara yang terluka. Untuk seukuran dokter dengan pengalaman minim, tentunya aki merasa takut untuk melakukan kesalahan. Namun rasa itu tertutup melihat kegigihan para tentara yang rela berjuang dan terluka pada saat pembebasan.

Pada tahun 1963, akhirnya pembebasan Irian Barat telah selesai dilaksanakan. Setelah melalui berbagai lika-liku pembebasan, Irian Barat kembali jatuh ke tangan Republik Indonesia. Aki pun kembali ke Jakarta dengan selamat. Setelah kembali ke Jakarta, aki melanjutkan perkerjaannya sebagai dokter dan menikah dengan Ni Ace dan memiliki keluarga yang bahagia. Aki berpesan untuk terus melanjutkan perjuangan Indonesia walaupun keadaan sudah damai. Dan aki sedikit kecewa dengan perlakuan pemerintah yang sedikit mengasingkan bagian Papua padahal para pejuang terdahulu telah berusaha keras untuk merebutnya.

Berikut saya lampirkan proses perjuangan pembebasan Irian Barat yang dilakukan oleh Republik Indonesia:

Sebagai tindak lanjut dari Trikora, pemerintah mengambil langkah-langkah berikut.
  • Membentuk Provinsi Irian Barat gaya baru dengan ibukota kota baru.
  • Membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat pada tanggal 13 Januari 1962. Sebagai Panglima Komando Mandala ditunjuk Mayjen Soeharto. Markasnya berada di Makasar.

Berikut ini tugas Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.
  •        Merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi-operasi militer.
  •          Menciptakan daerah bebas secara defacto atau mendudukkan unsur kekuasaan RI di Irian Barat.
Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, maka Panglima Mandala menyusun strategi Panglima Mandala. Berikut ini tahapan-tahapan dalam strategi Panglima Mandala tersebut.

  1.      Sampai tahun 1962, fase infiltrasi dengan memasukkan 10 kompi sekitar sasaran tertentu.
  2.    Awal tahun 1963, fase eksploitasi dengan mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan, dan menduduki semua pos pertahanan musuh.
  3. Awal tahun 1964, fase konsolidasi dengan mendudukkan kekuasaan-kekuasaan RI secara mutlak di seluruh Irian Barat.

Pada tanggal 15 Januari 1962 terjadi peristiwa Laut Aru. Ketiga MTB yaitu MTB RI Macan Tutul, MTB RI Harimau, dan MTB Macan Kumbang diserang oleh Belanda dari laut dan udara. Ketika itu ketiga kapal sedang mengadakan patroli di Laut Aru. Komodor Yos Sudarso segera mengambil alih komando MTB Macan Tutul dan memerintahkan kedua MTB lainnya mundur untuk menyelamatkan diri. Dalam pertempuran tersebut, akhirnya MTB Macan Tutul bersama Kapten Wiratno dan Komodor Yos Sudarso terbakar dan tenggelam.

Dalam rangka konfrontasi, pemerintah mengadakan operasi militer. Operasi militer yang dilaksanakan antara lain Operasi Serigala (di Sorong dan Teminabuan), Operasi Naga (di Merauke), Operasi Banteng Ketaton (di Fak-Fak dan Kaimana), dan Operasi Jaya Wijaya. Operasi yang terakhir dilaksanakan adalah Operasi Wisnumurti. Operasi ini dilaksanakan saat penyerahan Irian Barat kepada RI tanggal 1 Mei 1963. Pada tanggal yang sama Komando Mandala juga secara resmi dibubarkan.




No comments:

Post a Comment