Thursday, 16 May 2013

SAKSI SEJARAH


HASIL WAWANCARA

Berikut penuturan saksi sejarah

Biografi Saksi Sejarah
Sudarsono lahir pekalongan 25/4/1929
“Sesudah tamat dari SMP Muhammadiyah Yogya pada awal tanun 1945. Saya sekolah di SMA yang berada di solo. Lalu saya mengikuti pendidikan perikanan yang tadinya dibogor. Namun pada pertengahan 1945 karena pendidikan diarahkan kepada perikanan laut sehingga sekolah dipindahkan ke Jakarta (di daerah Gunung Sahari) dengan areal praktek disekitar pulau Onrust Kepulauan Seribu. Pengajar dan instruktur kebanyakan merupakan orang jepang.
Selain itu saya juga pernah menjadi ketua pelajar islam kabupaten klaten yang tugasnya membantu pemerintah dibidang sosial. Setelah tahun 1950 saya lulus dari sekolah tinggi pertanian, dan menjadi pegawai negeri di departemen pertanian.”



 Peran Saksi Sejarah
“Pada permulaan Agustus 1945, guru-guru jepang jarang lagi datang kes ekolah. Kedatangannya tidak dapat dipastikan. Dari paman saya yang bekerja dikantor berita, yang sekarang bernama “ANTARA” memberi tahu saya bahwa Jepang sudah menyerah. Dari teman-teman pemuda saya mendapat info bahwa ada gerakan untuk memperjuangkankemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Para pemuda-pemusi kemudian membentuk sebuah organisasi yang diberi nama, Angkatan Pemuda Indonesia (API) dengan maksud membantu mendukung perjuangan gerakan kemedekaan.
Pada tanggal 17 Agustus terlambat mengikutu upacara proklamasi dikarenakan terlambat mengetahui informasi diadakannya upacara proklamasi. Pada akhir bulan agustus 1945, kami mendapat seruan untuk mengikuti sebuah Rapat raksasa untuk mendengarkaan arahan Bung Karno. Kami secara berrombongan datang ke rapat tersebut dangan membawa senjata bambu runcing. Sewaktu kita datang di tempat rapat itu yaitu di lapangan IKADA (sehingga pada saat ini rapat raksasa tersebut disebut “rapat IKADA”)  yang sekatang bernama lapangan Banteng sudah hampir dipenuhi manusia-manusia. rombongan kami berfikir, demi kemanan lebih baik kami mengambil posisi dipinggir lapangan. Akan tetapi saat sampai di tepi lapangan, tentara jepang telah memagari rapat itu dengan tank-tank dan tentara-tentaranya yang begitu banyak dengan memegang senjata laras panjang yang dilengkapi dengan sangkur terhunus. Kami ngeri, dan lansung berbalik ketengah lapangan.
Kemudian Bung Karno dan Bung Hatta datang dengan kendaraan. Seluruh sisi kendaraannya di lindungi oleh pemuda-pemuda untuk menjaga segala kemungkinan penyerangan Jepang. Situasi saat itu sangat tegang, rupanya pihak jepang melarang pelaksanaan “rapat raksasa” ini. Rupanya situasi ini telah di pahami oleh Bung Karno bahwa jika rapat ini tetap dilanjutkan, akan terjadi bentrokan antara rakyat dengan pihak jepang yang tentunya tidak seimbang. Dikarenakan rakyat hanya bersenjatakan bambu runcing dan pihak jepang bersenjatakan laras panjang dan tank-tank yang begitu besar. Sungguh sangat bijak sana Bung Karno saat berbicara di mimbar pada saat itu. Dia berkata bahwa jika masyarakat masih menganggapnya sebagai pemimpin, beliau berharap masyarakat harap segera membubarkan diri dengan tertib. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi pertumpahan darah. Setelah itu rombongan Bung Karno segera meninggalkan lapangan dan rakyat mulai membubarkan diri dengan tertib. Tetapi selanjutnya tidak berjalan lancar, karena pihak jepang memaksa rakyat indonesia meninggalkan lapangan melewati barisan tentara jepang yang mengharuskan rakyat indonesia menyerahkan senjata yang dibawanya (bambu runcing dan golok.
Melihat ini, saya dari jauh telah membuang bambu runcing milik saya demi keselamatan saya. Sewaktu saya ada diujung luar barisan jepang, saya melihat orang yang masih membawa golok. Saat goloknya ingin diambil oleh jepang, ida melakukan perlawanan dengan menebaskan golok miliknya ke salah satu prrajurit jepang. Saya tidak mengetahui kejadian selanjutnya karena saya terlalu takut melihatnya dan langsung lari menjauh. Dan baru ingat setelah terduduk di kantor pos kota baru. Karena pada saat itu Jakarta sedang tidak aman. Saya pulang ke kampung halaman saya di Klaten.
Pada awal tahun 1946 saya terpilih menjadi pasukan untuk membantu pasukan lain di Ambarawa yang sedang yang sedang di serbu oleh pasukan Belanda. Sesampainya diperbatasan. Kami diberitahu oleh pasukan  yang berada disana, bahwa pasukan Belanda telah meninggalkan Ambarawa dan Balik ke Solo. Setelah kejadian itu saya tetap tinggal di asrama tentara untuk mengikuti berbagai pelatihan militer.
Pada suatu hari, karena saya telah lama tak pulang ke klaten (karena tinggal di asrama tentara) saya dicari oleh bapak saya di sekolah. Tapi dengan terkaget-kaget ayah saya mengetahui dari gru setempat bahwa saya telah tidak masuk sekolah selama sekitar 1 bulan. Setelah mengetahui keberadaan saya, ayah saya langsung menjemput paksa saya di asrama tentara dan segera kembali ke rumah.  Sesampainya dirumah saya di marahi karena sudah lama tidak masuk sekolah dan tidak pernah memberitahu  orangtua saya tentang kegiatan saya selama 1 bulan terakhir itu. Akhirnya saya di berikan pilihan oleh ayah saya yaitu: 1.Mau jadi tentara beneran 2. Mau belajar lagi 3. Mau jadi tentara hizbullah yang berarti “tentara Allah”. Akhirnya saya memilih ikut menjadi Hizbullah karena saya malas untuk kembali menjadi pelajar.
Tapi pada saat tahun 1950 saat belanda berhasil dikalahkan, laskar Hizbullah dibubarkan oleh pemerintah, karena semua bentuk perjungan hanya lewat tentara nasional indonesia (TNI). Tapi para petinggi Hizbullah tidak mau membubarkan diri, karena jika masuk ke TNI pangkatnya akan diturunkan karena pendidikannya tidak memenuhi syarat.”


PENUTUP

Kesimpulan
Perjuangan yang dilakukan oleh saksi sejarah merupakan salah satu perjuangan rakyat indonesia pada saat itu untuk mempertahankan kemerdekaan yang masih coba direbut kembali oleh penjajah. Berbagai halang, rintang, tantangan, ketakutan, kemenangan, nasionalisme telah dirasakannya. Sungguh banyak hikmah dan kebaikan dari perjuangan masyarakat pada saat itu. Mulai dari pemimpin, sampai anak-anak semua berjuang mencapai indonesia yang utuh, indonesia yang satu dan bebas dari segala bentuk kolonialisme.

Saran
Kita sebagai generasi penerus harus mempelajari sejarah negara kita. Mulai dari usaha mendapatkan kemerdekaannya dan mempertahankannya. Sekarang tugas kita adalah mengisi kemerdekaan negara kita ini dengan menjadi orang yang bisa memberi sumbangsihnya dalam bidang apapun. Demi tercapainya kesejahteraan dan kemajuan di negeri ini

No comments:

Post a Comment