Thursday, 30 May 2013

“Siti, Berperan Mensejahterakan Masyarakat di Sekitarnya”


Hj. Mulyati binti Abdul Hamid yang akrab dipanggil cucu-cucunya dengan Siti. Siti adalah panggilan untuk nenek di daerah Lampung. Ia adalah sosok wanita yang tangguh dan tegas, nisa dilihat dari cara ia berbicara dan geraknya yang lincah meskipun sudah masuk dalam masa tuanya. Dibalik ketegasannya, ia adalah nenek yang sangat ramah dan sangat disayangi oleh orang-orang disekitarnya. Beliau sangat dekat dan sayang dengan cucu-cucunya.



Pada hari Kamis, 30 Mei 2013. Saya berkesempatan untuk mewawancarai Siti di kediamannya di Jalan Tanah Kusir 3 no 9, Jakarta Selatan. Saya mewawancarai Siti sepulang sekolah masih lengkap dengan seragam batik dan rok abu-abu. 
Setelah adzan maghrib berkumandang, saya tiba di kediaman Siti dan menunggu beliau yang sedang melaksanakan sholat di kamar. Siti yang sedang berjalan menuju umur 63 tahun pada bulan Agustus tahun ini terlihat segar ketika beliau menegur sapa saya dengan ramah.
Saya dan Siti yang awalnya berbincang-bincang dengan ibu saya di teras halaman belakang pada akhirnya pindah mencari ketenangan di meja makan keluarga. Saya mewawancarai Siti mengenai riwayat hidup beliau, peranan beliau terhadap Indonesia, perjuangan apa saja yang telah ia lakukan semasa mudanya dan kesaksian beliau pada masa perjuangan.

Biografi

Siti terlahir pada 15 Agustus 1945 dari orang tua yang bernama Alma. H. Abdul Hamid (ayah beliau) dan Alm. Hj. Mardiyah (ibunda beliau) di Sukadana, Lampung. Sukadana adalah nama kecamatan yang juga merupakan ibukota Kabupaten Lampung Timur.
Ia adalah putri keempat dari enam bersaudara dengan kehidupan masa kecilnya dimana ia hidup tanpa seorang ayah sejak beliau berumur 4 tahun., Alm. Abdul Hamid, adalah seorang tentara perang Republik Indonesia yangsedang bertugas mengantarkan logistic dan menyuplai kebutuhan para militer yang berada di tengah hutan. Beliau meninggal dunia akibat serangan Belanda.
Sebagai putri yang hidup hanya dengan seorang ibu, Siti adalah anak yang sangat berbakti. Kerja keras dan kedisiplinan dari ibunya membuat Siti semagat menjalankan hidupnya. Ibunya, Alm. Hj. Mardiyah adalah seorang ibu yang sangat tangguh, tegas dan tegar dalam menjalani hidupnya sebagai seorang orang tua tunggal. Ia yang bekerja sebagai penjual kain dan batu-batu mulia membuat keenam putra-putrinya dapat melaksanakan sekolah sehingga dapat terdidik dengan baik.
Siti tinggal dan bersekolah di SD Negeri Tanjung karang, lalu melanjutkan ke jenjang selanjutnya di SMP Negeri 2 dan SMA Negeri 1. Siti adalah siswa yang berprestasi semasa kehidupan akademisnya. Ia melanjutkan pendidikannya di Intitut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Biologi. Siti yang merupakan siswi beprestasi, pada waktu itu adalah nilai tertinggi ke-5 se Provinsi Lampung dapat masuk Intitus Teknologi Bandung dengan mudahnya tanpa tes.
Dalam menekuni pendidikannya. Siti sangat prihatin dengan keadaan ibunya yang harus membiayai segala kebutuhan beliau. Dengan uang saku minim dan terbatas, Siti selalu berusaha agar bisa terus bertahan. Dengan modal optimis dan tidak mengeluh,. siti yang selalu sabar, beliau dapat menyelesaikan sarjana 1 pada tahun 1971
Setelah lulus kuliah, beliau yang memiliki hobi berolahraga tennis dan bermain golf ini menikah dengan seorang hakim yang bernama H. Mohammad Taufik, yang merupakan adik dari Hj, Rosniah, yaitu cucung (nenek) saya.
Sewaktu Sidi (kakek Taufik) bertugas menjadi hakim di kota Metro, Lampung, Sidi tidak memperbolehkan Siti untuk bekerja. Sehingga Siti yang selalu bekerja keras dan aktif pada akhirnya mendirikan sebuah perusahaan yang bernama C.V. Mulya. Perusahaan ini ditekuni oleh Siti dengan sungguh-sungguh sebagai direktur Panglong Kayu atau biasa dikenal sebagai tempat jual-beli kayu dan bahan bangunan. Beliau ikut serta dalam penyediaan bahan dan pembuatan jalan raya sepanjang 11 km di Lampung dan juga membangun kediaman Bupati/Walikota Metro. Bisnis ini berhenti hanya sampai tahun 1981, dan diteruskan kepada sodaranya.
Bisnis tersebut terhentu karena beliau harus pindah mengikuti suami sebagai Ketua Pengadilan Kabupaten Bengkalis si Provinsi Riau. Sebagai istri seorang hakim, beliau sangat aktif di organisasi wanita dalam membantu masyarakat sekitar pada masalah kesehatan dan pendidikan.
Pada tahun 1986, Siti dan Sidi pindah ke Jakarta dikarenakan Sidi dinas di Jakarta sebagai Hakim Jakarta Selatan. Kehidupan Siti sebagai seorang istri dari seorang hakim membuat Siti terus-menerus mengikuti jejak Sidi kemanapun Sidi bertugas.
Beliau pindah ke Bangka Pangkal Pinang mengikuti suami yang pada waktu itu menjadi ketua Pengadilan Pangkal Pinang pada tahun 1990. 3 tahun setelahnya, beliau pindah lagi karena Sidi menjabat sebagai ketua Pengadilan Nederi Tanjung Karang, Lampung.
Tahun 1997, Siti pindah ke Bandung karena ikut suami yang menjabat sebagai wakit ketua Pengadilan Negeri Bandung. Selang setahun, beliiau pindah ke Pengadilan Tinggi dan tetap mendampingi dengan setia ketika suami bertugas.
Memasukin awal tahun 2000, beliau pindah ke Bandung seiring dengan Sidi menjabat sebagai hakim tinggi Bandung. 2 tahun kemudian Siti pindah ke pulau Sumatera karena Sidi menjadi wakil ketua hakim Pengadilan Tinggi Jambi. Lalu tahun 2003 beliau pindah ke Sulawesi tengah tepatnya di kota Palu sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Palu. Pada Januari 2004 mereka pindah ke Palembang karena Sidi menjadi Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Selatan.
Terus mendampingi Sidi dan memberikan semangat serta dukungan untuk sang suami, Siti kembali ke Jakarta dengan diangkatnya Sidi sebagai Hakim Agung Republik Indonesia sampai pensiun.
Selama masa Siti dan Sidi berpindah-pindah karena dinas sebagai hakim, beliau meninggalkan kelima anaknya di Jakarta yang bertempat tinggal di Jalan Tanah Kusir 3 no 9 dengan tanggung jawab yang dipegang oleh Om Indra dan Binda (tante) Wiwiek untuk mengurus adik-adiknya.
Beliau memiliki berbagai macam hobi yang sering ia lakukan. Hobi utamanya sudah tentu yang berhubungan dengan biologi. Beliau selalu memiliki resep rahasia obat tradisional sendiri yang ia pelajari ketika kuliah. Ia juga rajin menanam dan merawat berpuluh-[uluh jenis tanaman di sekitar rumahnya. Beliau selalu menyalurkan hobinya di samping kekosongan beliau yang tidak bekerja. Tidak lupa ia juga menulis berbagai artikel di Majalah Dharmayukti Karini Mahkamah Agung RI.

Siti sebagai Wakil Pemimpin Redaksi dan penulis bagian Apotik Hidup

Siti yang selalu menolong saudara-saudara di sekitar dirinya selalu membuat dirinya sangat disegani oleh orang-orang disekitarnya. Beliau yang aktif dalam membantu korban-korban bencana semasa mudanya dan selalu membantu juga menolong orang-orang masih ia lakukan hingga sekarang.
Seperti yang ia ceritakan bahwa beliau telah memberangkatkan banyak orang untuk naik haji. Salah satunya adalah seseorang yang sangat berjasa bagi hidupnya, yaitu tetangganya saat beliau masih kecil yang telah memberikan modal kain-kain terbaik dan batu mulia untuk bisnis yang dilakukan oleh ibunya. Sebagai tanda terima kasih, beliau memberangkatkan tetangganya tersebut naik haji pada tahun 2006.
Itulah riwayat kehidupan Siti Mulyati Taufik yang terus berjuang untuk mencapai kesuksesan. Siti yang selalu berpesan bahwa semasa hidup tidaklah diperbolehkan untuk memiliki rasa iti, dengki, dan harus terus melaksanakan kewajiban agama. Membantu saudara-saudara terdekat dan yang ada di sekitar kita akan selalu membawakan kebahagiaan. Semua hal dapat di laksanakan apabila memiliki hati yang ikhlas.

Peranan

Siti bukanlah seorang pejuang atau tentara yang terlibat langsung dengan kisah-kisak perjuangan atau peperangan yang terjadi pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau yang lahir 2 hari sebelum hari proklamasi Republik Indonesia ini mengatakan bahwa ia tidak tau dan tidak ingat apa yang terjadi pada hari kemerdekaan pada saat kelahiran beliau di wilayah Sukadana, Lampung.
Tetapi beliau ikut terlibat dalam gerakan pengungsian masyarakat akibat serangan Belanda setelah kemerdekaan Republik Indonsia pada tahun 1949. Keluarga Abdul Hamid yang pada waktu itu memiliki 4 orang anak mengungsi dari Sukadana, Lampung Timur ke Gedung Meneun di Kabupaten Tulang Bawang di dekat suatu sungai di sekitar Tulang Bawang.
Siti yang pada waktu itu adalah anak teakhir tidak terlalu dapat mengingat kejadian apa saja yang terjadi, yang tersimpan di benaknya adalah ketika tewasnya seorang pahlawan terhebat bagi hidupnya, yaitu ayahnya, Abdul Hamid.
 Gencatan senjata oleh pasukan Belanda atau yang sering disebut dengan Macan Loreng sangat membuat masyarakat sekitar Lampung cemas.. Beliau yang merupakan tentara yang bertugas untuk mengantarkan logistic dan menyuplai bahan makanan, pakaian juga senjata gugur tertembak oleh pasukan belanda atau yang lebih dikenal dengan Macan Loreng oleh warga Lampung.
Siti juga merupakan seorang wanita yang sangat aktif dan berperan bagi kehidupan masyarakat di sekitar pulau Jawa, Pulau Sumatera dan berbagai tempat yang pernah ia tinggali.
Seringnya beliau berpindah-pindah tempat tinggal untuk mendampingi suaminya bekerja sebagai hakim. Beliau juga aktif di berbagai keorganisasian wanita pada masa itu di setiap tempatnya.
Ketika beliau di Kabupaten bengkalis di Provinsi Riau, Siti mengikuti organisasi Dharma Wanita sebagai ketua 2. Kegiatan-kegiatan yang ia laksanakan adalah seperti penyuluhan kesehatan, pengertian penyakit-penyakit, pemberian materi pendidikan bagi daerah-daerah terpencil sekitar ibukota. Ia juga terus-menerus memberikan penyuluhan program Keluarga Berencana (KB) yang pada waktu itu diprogramkan oleh pemerintah pusat pada masa jabatan Presiden Soeharto.
Siti banyak membangun Posyandu di berbagai kecamatan-kecamatan yang ada di Riau, salah satu halanganya adalah dikarenakan Riau adalah provinsi kepulauan yang membuat penyuluhan harus sering dilaksanakan di Indonesia.
Peran beliau untuk memajukan kesejahteraan dan memajukan ilmu pengetahuan bagi masyarakat Indonesia sangat berarti dan membantu membangun Indonesia kea rah yang lebih baik.

Beliau juga berperan sebagai istri yang selalu setia menemani suaminya kemanapun ia pergi. Dukungan dan kasih sayang dari Siti juga membuat Sidi Taufik dapat berdiri tegak berperan sebagai Hakim Agung Republik Indonesia.

No comments:

Post a Comment