Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi

Tokoh sejarah – pahlawan nasional

Pembuka

Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang salah satu tokoh dalam sejarah Indonesia, kebetulan sekali yang akan saya bahas adalah tentang kakek saya sendiri, yaitu ayah dari ibu saya. Nama beliau adalah Achmad S. Hadian, beliau mempunyai seorang istri dan 8 orang anak, sayangnya salah satu anak nya yang bernawa tegar meninggal sewaktu masih sangat kecil (balita), karena sakit demam yang sangat tinggi. Ibuku anak ke 7 dari 8 bersaudara tersebut, jumlah anak kakek dan nenek dulu sama, sama-sama 4, tetapi sekarang yang laki-laki hanya tinggal 3. Nama nenekku adalah Sri Hartati, kami memanggilnya nek Tati. Nenek Tati sangat ramah, dia selalu mendampingi kakekku yang sifatnya agak emosian dan keras, nenek selalu sabar dan ceria, nenek adalah tipe orang yang suka jalan-jalan, berbincang-bincang, dan hal-hal yang menyenangkan, dan sifat kakek itu mungkin itu bawaan dari orang-orang jaman dahulu. Dia selalu mendidik anak anaknya dengan keras agar mereka teratur, bertanggung jawab, dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh, ditambah lagi karena dia dulu adalah mantan pejuang Republik Indonesia yang otomatis akan merubah sifatnya menjadi keras. Walaupun dia sering marah dan pandangannya tajam tetapi dia sebenarnya sangat baik dan peduli terhadap anak cucunya, lebih tepatnya seluruh keluarganya, tetapi dia bukan tipe orang yang ingin menunjukkan segalanya, atau mungkin dia sebenarnya sedikit pemalu, jadi dia tutupi sifat sayang dan pedulinya itu dengan cara yang mungkin tidak lembut.

Awal Mula

            Sekarang kakekku berumur 84 tahun, dia lahir pada tanggal 10 November tahun 1929 di Garut, Jawa Barat. Kisah awal perjuangannya sudah dimulai sejak kecil, mungkin lebih muda dari anak se angkatan saya sendiri. Kakek ku pernah berhenti melanjutkan sekolah karena saat itu ada wajib militer, dan pasti hampir semua pemuda pada masa itu pun ikut melakukannya karena dorongan dari pemerintah dan kewajibannya sebagai rakyat Indonesia. Tetapi setelah dia ikut berjuang bersama tentara-tentara Indonesia, pada tanggal 17 Maret 1950, dia di bebas tugaskan oleh komandan battalion nya tersebut agar para pemuda pemuda bisa melanjutkan sekolahnya. Di dalam surat bebas tugas tahun 1950 tersebut pun terdapat tulisan “mobilisant (Tentara Peladjar)” “ di Corps Pulisi Militer Djawa Bataljon III” serta cap dan tanda tangan komandannya tersebut. Di divisi Siliwangi.

Cerita

Perjuangan

            Kakek memperjuangankan tanah airnya bukan Cuma sekali, bahkan puluhan kali, selain berdasarkan ceritanya juga dapat di lihat dari sertifikat piagam pejuang Republik Indonesia nya yang berjumlah belasan, mungkin masih ada lagi yang belum di temukan. Di dalam piagam tersebut terdapat tulisan kuno yang isinya ada nama, pangkat, jabatan, persatuan, dan ikut membela dalam peperangan apa. Piagam-piagam kakek hampir semuanya di tanda-tangani oleh menteri pertahanan pada masa itu yaitu bapak Djuanda, tetapi ada satu yang membuat kita bingung, yaitu piagam kakek yang paling tua yang terdapat tanda tangan soekarno mungkin, tetapi kita tidak tahu pasti. Karena kakek tidak ada dasar militer, sehingga pangkat tertingginya berhenti di leutnan II, kakek berada di divisi siliwangi. Menurut info yang saya dapat, kakek ikut dalam dan di anugerahi dalam  “perdjoangan gerilja, Satyalantjana Peristiwa aksi militer kesatu, , Satyalantjana Peristiwa aksi militer kedua, Satyalanjana Gerakan Operasi Militer II,  Satyalanjana Gerakan Operasi Militer V, Satyalantjana Bhakti, Satyalantjana Penegak, dan lain lain”. Piagam-piagam tersebut yang berhasil di temukan hanya piagam dari tahun 1958 sampai tahun 1968 yang berarti kakek sudah lulus dari sekolah lanjutannya.
Kehidupan Setelahnya

Masa Peralihan

            Pada masa setelah itu, Indonesia sedang gempar-gemparnya dengan PKI, karena sedang gempar-gemparnya tersebut, oknum Negara pun mulai mewaspadai adanya gerakan dari anggota PKi, sehingga orang-orang di suruh melapor dan membuktikan mereka bebas dan bersih dari ikatan PKI dengan Surat Keterangan Bersih Diri. Surat Keterangan Bersih Diri kakek dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 18 April 1984, dan di tandatangain oleh colonel Soeparjo.

            Setelah masa-masa sulit bagi Indonesia tersebut, setelah perang-perang pun mulai tidak terjadi, kakek bekerja di Pekerjaan Umum Negara di Djawa Barat.Setelah sebelumnya sekolah dan menekuni pembangunan tersebut hingga akhirnya kakek sangat sukses dengan pekerjaannya, sehingga ia menjadi Kepala J.P.U. Provinsi Jawa Barat. kakek termasuk orang yang serba ada, tanah rumahnya hampir seluas 1 hektar, sangat luas untuk di isi dengan 9 orang di tambah dengan pekerja-pekerja kakek. Sehingga anak anaknya pun betah dan senang bermain di tamannya yang luas, kakek pun sebenarnya suka mengurusi tamannya sendiri, bahkan sampai sekarang pun kakek  lebih memilih rumahnya yang sekarang ada tamannya, sayangnya kakek sudah berumur sehingga susah untuk mengurus tamannya sendiri lagi, sekarang ada bibi dan suster, dan mas-mas yang mengurus semua kebutuhan kakek.

No comments:

Post a Comment