Friday, 31 May 2013

Tugas 1 - Biografi Andi Annisa Zhafira XI IPA 4

Eyang Soekadi, Pahlawan Pendidikan

Suatu sore ketika saya baru memasuki rumah setelah pulang sekolah, saya menemukan kedua kakek-nenek saya yang berkediaman di Surakarta sedang duduk-duduk santai di ruang keluarga rumah. Rupanya mereka berniat untuk mengunjungi ibu saya di Jakarta selama sebulan. Saya berpendapat bahwa kunjungan kakek-nenek saya—yang biasanya saya panggil dengan sebutan eyang putri dan eyang kakung—selalu menyenangkan, karena eyang sering bercerita tentang pengalaman masa lalu mereka dan teman-temannya. Cerita tersebut biasanya menegangkan dan menarik untuk didengar. Selain itu, seringkali cerita eyang memiliki pesan moral dan pelajaran yang dapat saya petik. Karena itu, selama kunjungan eyang saya meminta untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya, yang akan saya biografikan. Berikut adalah biografi eyang kakung saya, serta peranannya dalam memajukan Indonesia.
Biografi
                Eyang kakung saya memiliki nama lengkap Drs. Soekadi Darsowiryono, M.Pd. Eyang kakung saya lahir di Kabangan, Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Maret 1940. Terlahir dari seorang ibu yang bernama Ibu Saudah dan bapak bernama  Bapak Sudharman, eyang kakung saya merupakan anak keempat dari enam bersaudara yang terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan. Beliau tinggal di kecamatan Laweyan, yang merupakan desa pembatik. Karena itu, orangtua eyang kakung saya merupakan pengusaha batik kecil-kecilan.
Pada tahun 1946, eyang kakung saya masuk ke Sekolah Rakyat Mangkuyudan (SR—sekarang disebut Sekolah Dasar atau SD). Namun, karena pada saat itu masih banyak terdapat perang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1948 sekolah rakyat tersebut dibakar dan dibubarkan. Eyang kakung saya pun selama masa kosongnya membantu eyang buyut saya membatik. Akhirnya, setahun kemudian, demi mengenyam pendidikan, eyang saya melanjutkan sekolah di sebuah sekolah darurat yang didirikan penduduk sekitar. Guru-gurunya adalah warga kampung yang peduli. Ketika itu, keadaan di Indonesia masih sangat rawan. Banyak sekali penduduk-penduduk miskin yang masih tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Eyang kakung saya pernah bercerita tentang sahabatnya sewaktu SD itu. Sahabatnya memiliki kehidupan yang sangat sederhana dan pas-pasan. Kemana-mana sahabatnya itu selalu pergi tanpa menggunakan alas kaki, karena ia tidak memiliki biaya untuk itu. Suatu hari, sahabatnya itu memutuskan untuk mengirim surat kepada Ir. Soekarno, presiden RI di kala itu. Tidak disangka-sangka, ternyata presiden Soekarno membalas surat dari sahabat eyang kakung tersebut. Surat tersebut terisi penuh dengan kata-kata motivasi dan mengobarkan semangat. “Wahai pemuda harapan bangsa! Janganlah kemiskinan memutuskan semangatmu untuk terus berjuang. Walau tidak memiliki sepatu, bukan berarti tak bisa maju. Merdeka!” begitulah kira-kira isi surat tersebut, yang dikutip oleh eyang kakung saya. Presiden Soekarno juga menyertakan uang sebesar 20 sen bersama suratnya. Tak terbayangkan senangnya sahabat kakung saya tersebut, ia langsung berjingkrak-jingkrak dan membeli sepasang sepatu pertamanya seharga 19 sen sewaktu itu.
                Tahun 1953, eyang kakung saya lulus dari sekolahnya, dan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah di SMPN 1 Surakarta, yang merupakan sebuah SMP favorit di Surakarta hingga sekarang. Pada masa itu, walaupun baru memasuki sekolah menengah pertama, namun murid-muridnya sudah mengalami penjurusan. Eyang kakung saya yang memang menyukai bidang sosial pun mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP-nya.
 Lulus SMP tahun 1956, eyang kakung saya melanjutkan ke sekolah menengah atas dan memilih penjurusan bidang hukum dan ekonomi. Eyang kakung saya berkata bahwa sejak SD sampai SMA, eyang tidak pernah tinggal kelas dan selalu terpilih menjadi ketua kelas.
                Lulus dari bangku SMA sebagai lulusan terbaik, eyang kakung saya diterima di Universitas Negeri Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Hubungan Internasional. Ketika kenaikan tingkat dari tingkat pertama ke tingkat kedua, eyang kakung saya termasuk salah satu dari enam belas mahasiswa yang berhasil naik ke tingkat kedua, sehingga eyang kakung saya sangat bangga. Namun, ternyata eyang kakung saya menduduki peringkat keenam belas dari enam belas siswa yang ada, serta di surat kenaikan tingkatnya dituliskan bahwa eyang kakung saya ‘lulus dengan sangat berat hati’. Eyang kakung saya merasa mendapatkan pukulan yang sangat besar, sehingga ia berniat untuk tidak akan pernah lalai lagi, bahwa ia akan menjadi mahasiswa terbaik. Karena itulah ia selalu menanamkan kepada saya dan adik saya untuk tidak pernah menyia-nyiakan pendidikan. Ia berkata walaupun sekarang tampaknya pendidikan itu sebuah perkara yang kecil dan tidak begitu penting, namun sesungguhnya itu akan penting dalam beberapa tahun ke depan. Meskipun sulit bagi saya untuk menerapkannya, tapi saya percaya bahwa yang dikatakannya itu merupakan hal yang benar.
                Walaupun begitu, di tengah tingkat kedua eyang kakung, beliau memutuskan untuk berpindah jurusan ke Administrasi Negara karena beberapa alasan tertentu. Namun, semenjak kejadian peringkat keenam belas tersebut, eyang kakung saya selalu mendapatkan peringkat terbaik.
                Di saat eyang kakung saya sedang menjalani kuliahnya di tingkat ketiga, eyang kakung saya mengalami kecelakaan dan mengalami kerusakan di bagian kakinya. Eyang kakung hampir kehilangan kakinya atau dengan kata lain diamputasi, karena cedera yang ditimbulkan sangat parah. Eyang kakung harus belajar berjalan kembali dari awal seperti bayi. Karena kecelakaan tersebut eyang kakung akhirnya tidak melanjutkan kuliahnya selama satu tahun.
                Pada tahun 1965, eyang kakung saya akhirnya lulus dari universitas. Ketika itu, belum banyak orang yang mengenyam pendidikan hingga sarjana, sehingga eyang saya dianggap sebagai seseorang yang berpendidikan. Sehingga pada tahun 1966, eyang kakung saya dinikahkan dengan putri seorang juragan batik ternama di Desa Batik Laweyan, yaitu eyang putri saya yang baru lulus sekolah menengah atas. Pada tahun 1967, selain mendirikan sebuah perusahaan batik bersama eyang putri saya, kakak ibu saya atau bisa dibilang bude saya lahir. Setahun setelahnya, yaitu tahun 1968, lahirlah ibu saya. Pada periode itu, eyang kakung dan eyang putri saya masih menganut kejawen. Kejawen adalah suatu kepercayaan orang-orang Jawa zaman dahulu. Kejawen bukanlah suatu agama seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih menekankan kepada tradisi, kebiasaan, adat, dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (ibadah). Laku bisa berupa pembacaan mantera, penggunaan benda-benda tertentu yang mengalami arti simbolik, dan sebagainya. Benda-benda yang diasosiasikan dengan laku tersebut bisa berupa keris, wayang, dan lain-lain. Kejawen ini sebetulnya sedikit banyak mirip dengan kegiatan perdukunan.
                Pada tahun 1977, eyang kakung ikut merintis pendirian Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, atau yang biasa diakronimkan sebagai UNS. Eyang kakung, yang merasa bahwa panggilan dan hasratnya adalah dalam bidang mengajar dan mendidik pun memutuskan untuk menawarkan diri menjadi pengajar di sana, memercayakan perusahaan batiknya ke tangan eyang putri. Eyang kakung saya pun akhirnya menjadi dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di UNS.
                Eyang kakung saya juga sempat melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang S2, sayang sekali saya luput menanyakan pada tahun berapa ia melanjutkan pendidikan strata duanya itu. Eyang meneruskan S2 nya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta. Setelah itu, eyang sempat mengikuti short course di Indiana University dan Ohio State University di Amerika Serikat. Ketika itu, ibu dan bude saya sudah memasuki universitas.
                Eyang kakung saya akhirnya pensiun pada tahun 2005 dalam usia 65 tahun, dengan pangkat golongan 4D, lektor kepala penata utama.
Peranan
                 Kecelakaan yang menimpa eyang kakung pada tingkat ketiga kuliahnya menghalangi eyang kakung untuk berperan aktif dalam bidang militer Indonesia atau menjadi Tentara Rakyat. Eyang kakung sempat mengikuti program latihan militer, namun karena penyakitnya akhirnya dipulangkan. Walaupun begitu, eyang mencurahkan segala perhatiannya dalam bidang pengembangan pendidikan Indonesia. Eyang kakung berpendapat, bahwa pendidikan itu pantas diraih, bahwa memperoleh pendidikan itu merupakan hak bagi semua orang, bahwa pendidikan merupakan suatu identitas dan jati diri suatu bangsa, dan patut diusahakan sebisa mungkin.  Eyang turut berperan aktif dalam perintisan mendirikan universitas negeri pertama di Surakarta, yang pada akhirnya bernama Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Ketika itu banyak sekali pemuda-pemudi Surakarta yang ingin melanjutkan pendidikan sampai universitas namun mengalami kendala biaya untuk pergi melanjutkan kuliahnya ke kota Yogyakarta.
                Selain dalam bidang pendidikan, eyang kakung saya juga mengalami peranan dalam bidang sosial. Eyang kakung juga aktif berpartisipasi dalam Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PTPI), bekerja sama dengan dokter-dokter dari seluruh Indonesia serta kesultanan Mangkunegaran di Surakarta, bersama Gusti Ratu. Selain itu akhir-akhir ini eyang juga turut aktif dalam Ikatan Sepeda Ontel, sebuah gerakan yang tidak hanya berkembang dalam bidang kesehatan, namun juga bergerak dalam bidang sosial. Ikatan ini telah mendirikan sebuah sekolah dhuafa di daerah Pajang, Jawa Tengah. Eyang yang sangat mencintai kebudayaan Jawa juga turut aktif membantu dan melestarikan adat-adat Jawa dalam pernikahan.

                Begitulah biografi dan peranan eyang kakung saya, memang beliau tidak berperan aktif dalam bidang kemiliteran Indonesia, namun saya yakin semua orang memiliki peranannya sendiri-sendiri dalam memajukan negara Indonesia ini dengan caranya masing-masing. Karena itu, tidaklah berlebihan jika saya berkata bahwa kita juga harus meneruskan perjuangan generasi-generasi sebelum kita dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan memajukan negara Republik Indonesia ini, dengan cara kita sendiri-sendiri.


No comments:

Post a Comment