Thursday, 23 May 2013

Tugas-2 Biografi Ridha Aulia Rahmi XI IPA 4

Sri Moediyati, Wanita 5 Zaman.

Sejarah adalah peristiwa yang terjadi di masa lampau. Sejarah sangat penting dalam kehidupan bangsa karena dengan itu kita dapat mengetahui peristiwa dan kehidupan masyarakat di masa lampau. Hal tersebutlah yang dapat dijadikan sebagai pedoman di masa kini dan masa yang akan datang. Jarang sekali terlintas dipikiran saya untuk menanyakan peristiwa di masa lalu khususnya yang terjadi pada masa penjajahan hingga kemerdekaan. Kakek dan nenek sering bercerita tentang masa lalu mereka tetapi hanya bagaikan angin lalu dan tidak menceritakannya secara lengkap dan runut.  

Saya sendiri mengidolakan kakek dan nenek saya yang berhasil melalui masa penjajahan dan tidak lupa berkontribusi untuk kemerdekaan negaranya sendiri yaitu, Indonesia. Sayangnya sekarang mereka telah tiada, mereka pergi saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ingin sekali rasanya mendengar cerita dari mulut kakek dan nenek saya sendiri yang sudah pasti akan bersedia bercerita panjang lebar, ketimbang mendengarnya dari mulut orang lain.

Untuk menyelesaikan tugas ini akhirnya saya mewawancari nenek dari kakak sepupu saya, Sri Moediyati yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Eyang Sri oleh keluarga saya. Tidak jarang kami bertatap muka satu sama lain, hanya saja apabila bertemu kami hanya sekedar bercakap-cakap ringan. Belum lama ini beliau meluangkan waktu untuk berbincang-bincang seputar kehidupannya pada zaman dahulu. Meskipun Eyang Sri sudah hampir berusia kepala 9 dan mulai lupa apakah ia sudah makan atau sudah mandi, beliau masih ingat betul tentang masa mudanya walaupun harus dibantu oleh tante dan pamanku.

Sebut saja Eyang Sri ini sebagai wanita 5 zaman yang lahir 1 Oktober 1923 di Purbalingga pada  zaman jajahan Belanda, menikah pada zaman pendudukan Jepang merasakan hidup pada masa orde baru serta orde lama dan masih bisa merasakan era reformasi hingga saat ini. Beliau sangat antusias ketika diajak berbicara seputar masa lalunya. Sejauh ini yang saya tahu zaman dulu susah sekali untuk menuntut ilmu, ternyata itu semua salah. Menurut cerita yang disampaikan, dulu siapa saja dapat bersekolah hanya saja biayanya cukup mahal untuk saat itu. Hal tersebut mempersulit warga Indonesia yang kurang beruntung untuk maju. Ya tidak jauh beda dengan saat ini, masih ada saja orang di luar sana yang tidak bersekolah.

Eyang ini berasal dari keluarga yang sanggup membiayai dirinya untuk bersekolah. Tak heran lagi, ayah beliau merupakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum yang mampu bergonta-ganti mobil setiap ada mobil baru yang keluar pada saat itu. Berbeda dengan kakek dan nenek saya yang berasal dari keluarga petani yang hidup di daerah Blitar, Jawa Timur. Eyang Sri duduk di bangku sekolah dasar yang berada di daerah Purbalingga, Jawa Tengah tempat beliau dilahirkan. Sekolah dasar tempat ia menimba ilmu merupakan sekolah yang dikelola oleh orang Belanda yang menguasai Indonesia. “Dulu di sekolah enggak ada pelajaran Bahasa Indonesia, kalo mau belajar Bahasa Indonesia harus kursus”, tuturnya. Kata tanteku itu merupakan salah satu bentuk jajahan Belanda saat itu, dimana bahasa kita sendiri tidak dijadikan bahasa pokok dan tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang kursus itu jika ingin belajar bahasa Sehingga terasa aneh bagiku ketika mengetahui zaman dulu ada kursus Bahasa Indonesia.

Oleh karena itu beliau lebih sering menggunakan Bahasa Belanda ketimbang Bahasa Indonesia baik di rumah maupun di sekolah. Setelah lulus sekolah dasar Eyang Sri melanjutkan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang berada di Yogyakarta. MULO merupakan sekolah menengah pertama milik Belanda. Sayangnya ketika ia ingin meneruskan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, Jepang sudah mulai menduduki Indonesia. Itu sebabnya sekolah-sekolah milik Belanda ditutup karena para pengajar dan staff sekolah yang merupakan orang Belanda harus kembali ke negara asal karena terusir oleh Jepang.

 Untuk bisa belajar sampai tingkat MULO pada zaman dahulu sudah tergolong pintar, apalagi Eyang Sri dapat menguasai 4 bahasa; Bahasa Belanda, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Kesempatan itulah yang tidak didapatkan oleh seluruh warga Indonesia yang hidup pada zaman penjajahan. Kakek saya sendiri hanya bisa bersekolah hingga tingkat sekolah dasar juga tidak terlalu fasih berbahasa asing. Tapi jangan salah beliau justru sangat lihai berbicara dalam Bahasa Jawa dan bertani.

Ingin sekali saya dapat melihat bukti-bukti peninggalan sejarah yang dimiliki oleh Eyang Sri, sangat disayangkan bukti kenagan tersebut tersimpan rapih di Purbalingga. Saat ia ingin kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kedua orang tua beliau melarangnya, dikarenakan letak sekolah menengah atas yang berada jauh dari mereka tepatnya di Jakarta. Kedua orang tuanya khawatir melepas dan tidak rela berada jauh dari salah satu anak perempuan dari tujuh bersaudara ini.

Akhirnya masa muda Eyang diisi dengan mengikuti berbagai macam kursus, mulai dari khusus memasak hingga kursus menjahit. Selain itu beliau juga sempat bergabung dalam PMI (Palang Merah Indonesia) untuk membantu para korban perang yang terluka. . “Coba deh kamu berkaca sama para pahlawan yang pantang menyerah membela Indonesia di medan perang. Kamu tugasnya cuma sekolah lho. Jangan males memajukan Indonesia ini”, begitulah pesan Eyang Sri. Belum lama bergabung dengan PMI, beliau mendapatkan tawaran menarik untuk bekerja di PT. KAI (Kereta Api Indonesia) dari temannya.

Saat itu PT. KAI memerlukan pegawai yang lihai berkomunikasi dengan bahasa asing dan Eyang Sri adalah orangnya. Tanpa mengirim surat lamaran, wawancara dan tanpa melakukan seluruh prosedur yang rumit beliau dapat langsung bekerja di PT. KAI di Semarang dengan gaji 20 rupiah setiap bulannya. “Lulusan SMP zaman dulu sama anak lulusan SMA sekarang kayaknya pinteran anak-anak SMP zaman dulu deh”, candanya. Kereta api merupakan transportasi utama yang digunakan masyarakat di kala itu. Bekerja keras dan hanya digaji sebesar 20 rupiah mungkin tidak ada apa-apanya untuk saat ini. Sekarang 50 rupiah aja sudah jarang ditemukan apalagi 20 rupiah. Tetapi hanya dengan 20 rupiah beliau mampu membeli beras hanya dengan 50 sen, membayar uang sewa tempat tinggal, memiliki sepatu keren untuk pergi ke kantor dan juga membelikan adik-adiknya buah tangan. “Sekarang kalau ingin beli sesuatu angka ‘nol’-nya sudah bertambah banyak”, ucapnya.

Selain itu Eyang Sri juga bercerita seputar kehidupan asmaranya pada saat itu. Pada zaman itu wajarnya perempuan berusia 18 tahun sudah menikah, sedangkan Eyang yang berumur 20 belum memiliki pasangan hidup. Hal tersebut sudah menjadi buah bibir para tetangga dan keluarga besar. Sampai akhirnya ia menikah pada usia 22 tahun dengan seorang teman kakaknya. “Aduh aku tuh enggak kenal yang namanya pacaran terus selalu jalan berdua kemana-mana gitu”, curhatnya.  Yang menentukan apakah lelaki itu cocok atau tidak untuk dijadikan suami adalah orangtuanya, merekalah yang menginterogasi seputar bibit, bebet dan bobotnya. Sehabis menikah orangtua Eyang tidak mengizinkan beliau untuk melanjutkan kerja, kalau sudah menikah tanggung jawab seorang perempuan adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk keluarganya. Hal yang biasa dilakukan oleh para ibu rumah tangga pada saat itu adalah bergabung dengan organisasi-organisasi kewanitaan. Tidak etis apabila mendapati seorang perempuan bersuami menjadi karyawati dikala itu. Sangat berbeda dengan kehidupan kita sekarang ini, dimana banyak wanita yang ingin menjadi wanita karir dan ikut banting tulang untuk kehidupan keluarganya. 

Kejadian yang tidak pernah dilupakan olehnya adalah saat ia sedang mengandung anak pertama, tiba-tiba musuh datang menyerang. Demi keamanan dan keselamatanya beliau harus mengungsi ke pedalaman. Saat itu usia kandungannya baru memasuki bulan ketujuh, tapi karena keadaan sekitar yang membuat beliau harus berlari menyelamatkan diri membuatnya lelah. Bayi yang berada di dalam perutnya terasa seperti menendang dan ingin keluar. Perut beliau terasa sangat sakit, dengan alat seadannya dan pertolongan dari orang-orang yang berada di sekitarnya ia berhasil melahirkan anak pertamanya dengan selamat meskipun dalam keadaan prematur.

Bayi prematur seharusnya berada di dalam inkubator dan medapatkan perawatan intensif dari para ahli. Tetapi mengingat keadaan sedang memanas dan tegang karena adalah perselisihan antara Indonesia dan musuh, anak pertama Eyang diperlakukan seperti layaknya bayi yang lahir dengan normal. Dengan perasaan takut dan cemas Eyang bersama pengungsi lainnya berdoa agar perselisihan dapat segera selesai dan mereka semua dapat kembali ke rumah masing-masing. Akhirnya setelah beberapa hari bersembunyi di persembunyian para pengungsi dapat kembali menjalani hidup-hidup mereka seperti biasa.

Lepas dari kejadian itu keadaan Indonesia sudah mulai stabil meskipun masih tetap ada perselisihan tetapi tidak sampai mengakibatkan perpecahan dan baku tembak yang memakan banyak korban. Menurut Eyang Sri dari perjalanan hidupnya tersebutlah beliau dapat tumbuh sebagai wanita yang mencintai negaranya sendiri. Seperti kata pepatah ”Kalau tak kenal maka tak sayang”, seperti anak muda zaman sekarang yang tidak perduli terhadap sejarah negeri sendiri yang mengakibatkan tidak adanya rasa cinta tanah air yang tertanam di dalam diri masing-masing. Saya sendiri mengakui tidak terlalu tertarik untuk mengetahui sejarah negara sendiri yang penuh dengan keterpurukan dan kesedihan.

Tetapi mulai saat ini setelah saya melihat sendiri semangat, kebahagiaan dan antusiasme yang terpancar dari Eyang Sri saat bercerita membuat saya menjadi sadar bahwa penting sekali untuk mengetahui sejarah berdirinya Indonesia. Bagaimana kehidupan pada saat itu dan belajar dari mereka-mereka para pendahulu. Dengan cara bercerita Eyang Sri yang membuat saya hanyut di dalamnya dan dapat membayangkan secara nyata bagaimana hal-hal yang tidak terduga itu dapat terjadi. Meskipun ada beberapa bagian yang ingin saya tanyakan lebih lanjut tidak terjawab oleh beliau dikarenakan usianya yang tergolong cukup tua membuatnya tidak dapat mengingat bagian tersebut.

Sekian yang dapat saya sampaikan seputar Eyang Sri dan perjalanan hidupnya yang sudah melewati 5 zaman yang berbeda-beda. Meskipun beliau tidak turun secara langsung ke medan perang, di mata saya ia sudah berkontribusi untuk kemerdekaan negara kita dengan membuktikan bahwa tidak semua warga Indonesia tidak berpendidikan dan mudah dibodohi pada masa penjajahan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dengan ini kita dapat lebih mencintai dan menghargai negeri sendiri. Mari kita cintai Indonesia.


Salam dari Eyang Sri!

No comments:

Post a Comment