Friday, 31 May 2013

Tugas 1 - Biografi - Shanty Zelita Hamid Siregar

      dr. Marah Ganti Siregar, SpPA
     


Seorang produser televisi Amerika pernah berkata, “Saya tak peduli seberapa miskin seseorang; jika ia memiliki keluarga, berarti ia masih kaya.”. Bagaimana keluarga dapat mengalahkan arti dari uang, emas, intan, berlian, dan segenap kekayaan dunia lainnya? Tanpa perlu menunggu untuk menjadi cukup dewasa dan mengerti arti pentingnya sebuah keluarga, dan tanpa rasa ragu, saya percaya benar dengan apa yang Thad Mumford katakan, di awal paragraf ini. Segala hal menjadi lebih lengkap dan sempurna ketika anggota keluarga saya, yang tidak begitu banyak jumlahnya, berada di sisi saya. Rasa sunyi, sepi, dan hampa lenyap dalam sekejap ketika saya melihat wajah mereka satu per satu, dengan senyum manis yang menyungging di bibir. Sekalipun harta yang saya melimpah ruah, jika tak ada keluarga yang dapat saya ajak untuk berbagi, harta tersebut menjadi nilai yang tak berarti lagi.

Terlahir dari keluarga yang berasal dari Tapanuli Selatan dengan darah Batak murni, menjadikan saya pribadi yang senang menjalin hubungan kekeluargaan dengan anggota keluarga saya. Sejak kecil, saya sudah diajarkan untuk selalu menjaga hubungan kekeluargaan saya dengan sangat baik dan hati-hati. Segala macam adat, tradisi, hingga tutur kata dan sapa diajarkan dengan sangat terperinci oleh kedua orang tua saya. Hal tersebut dimaksudkan agar saya kelak menjadi seorang yang selalu ingat, menghargai, serta menyayangi keluarga dalam keadaan dan kondisi apapun.

Keluarga saya, yang pada paragraf awal saya jelaskan bahwa jumlahnya tidak begitu banyak, merupakan hasil dari pencampuran dua buah keluarga yang memiliki latar belakang agama serta suku bangsa yang sama, namun berbeda dalam hal “ideologi”. Keluarga ayah saya, adalah keluarga yang cenderung serius dan tertutup. Sedangkan keluarga ibu saya, adalah keluarga yang cenderung ramai dan terbuka. Namun hal tersebut tidak berdampak begitu besar terhadap hubungan keluarga saya, justru malah menjadikan warna tersendiri bagi keluarga yang masih sangat kental ke-“Batak-Batakan”-nya.

Dalam setiap detik hidup saya, tak lupa saya selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa yang karena-Nya, sampai pada umur saya yang sudah menginjak tepat 17 tahun, 1 bulan, dan 14 hari, masih dapat merasakan sebuah keluarga yang benar-benar “utuh”. Dua pasang Kakek dan Nenek saya, yang saya panggil dengan sebutan Ompung, masih dapat bersenda-gurau dengan cucunya, ditambah dengan tiga pasang Oom dan Tante, yang masing-masing saya panggil dengan sebutan Uak, Bou dan Amangboru, serta Tulang dan Nantulang, juga seorang Tante yang masih belum juga menemukan belahan jiwanya yang saya panggil dengan sebutan Bou, beserta 9 Adik Sepupu saya, menjadikan keluarga yang saya miliki menikmati kekayaan yang tiada tandingannya. Ditambah dengan keluarga inti kecil yang terdiri dari kedua orang tua serta adik lelaki saya, yang amat sangat luar biasa saya cintai, gabungan Keluarga Hamid (dari pihak Ayah) dan Keluarga Ganis (dari pihak Ibu) berjumlah total 24 orang. Jumlah yang termasuk sedikit jika saya bandingkan dengan jumlah anggota keluarga teman-teman sepermainan saya yang lain, yang dapat mencapai jumlah 50 orang.

Saya memang dekat dengan seluruh anggota keluarga saya, namun anggota keluarga dari pihak Ibu sayalah yang kedekatannya melebihi kedekatan saya dengan anggota keluarga dari pihak ayah saya. Terutama dengan kedua Ompung saya. Ayah dari Ibu saya yang bernama lengkap Marah Ganti Siregar, yang saya panggil dengan sebutan Ompung Auk dan juga Ibu dari Ibu saya yang bernama lengkap Fatimah Hasibuan, yang saya panggil dengan sebutan Ompung Alo, merupakan dua orang yang namanya selalu saya sebut setelah nama kedua orang tua beserta adik saya dalam setiap doa-doa saya.

Saking dekatnya hubungan saya dengan kedua Ompung saya tersebut, begitu mendapat tugas untuk membuat biografi seseorang yang segenerasi dengan Kakek dan Nenek saya, tanpa ragu saya langsung memutuskan untuk memilih Ompung Auk sebagai Narasumber dari tugas saya. Meskipun Beliau tidak memiliki peran penting apapun ketika masa-masa kemerdekaan Indonesia, tetapi Beliau memiliki peran yang begitu besar bagi keluarga dan lingkungannya.

Terlahir pada tanggal 15 Oktober, 81 tahun silam, dengan nama Marah Ganti Siregar, tidak menjadikan Ompung saya ini menjadi seseorang yang pemarah. Justru nama Marah yang diberikan oleh Mendiang Ompung Buyut saya, Marah Laut Siregar, malah menjadikan Ompung saya dikaruniai dengan sifat yang begitu bertolak belakang dengan namanya. Pribadi dengan sifat penyabar, bijaksana, dan dermawan, menjadikannya lelaki yang begitu bersahaja. Ompung saya ini lahir di Gunung Tua, ibu kota dari Kabupaten Padang Lawas Utara, yang terletak di Sumatera Utara. Beliau merupakan anak ketiga dari 14 orang bersaudara, dan hal tersebutlah yang menjadikannya seseorang yang begitu apa adanya dan hatinya tak pernah luput dari rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ditambah lagi, Mendiang Ayahanda Beliau merupakan seorang Kepala Polisi yang pada jamannya dapat dikatakan cukup miskin, lantaran, menurut cerita Ompung saya ini, Mendiang Ayahanda Beliau tidak pernah sedikitpun mengambil keuntungan dari jabatan yang dimilikinya.

Berbicara mengenai keluarga Beliau, saya tak akan lupa akan jumlah saudara yang dimilikinya, yang menurut saya sangat banyak jika dibandingkan dengan jumlah saudara yang saya miliki. 13 orang saudara yang keluar dari rahim Mendiang Ibunda Beliau, , menjadi pelengkap kehidupan Ompung saya yang sederhana. Dimulai dari anak pertama bernama Parlaungan, dilanjutkan dengan Nur Siti, dan kemudian Ompung saya yang merupakan anak ketiga, selanjutnya Syamsul Bahri yang saya tau dari cerita Ompung saya bahwa dahulu adiknya ini merupakan Ketua Pengadilan di Padang Sidempuan, dan yang kelima adalah Sabeda, dilanjutkan dengan Syamsul Bahri yang dulu merupakan anggota dari Angkatan Laut milik negara Amerika Serikat yaitu Armada Ketujuh, Ishak adalah anak ketujuh, Hasan Basri merupakan anak kedelapan, Abdul Azis yang namanya mengingatkan saya akan teman saya yang bernama Azis Ridwansyah adalah anak kesembilan, Masran yang memang namanya terdengar begitu maskulin namun sebenarnya berjenis kelamin perempuan adalah anak kesepuluh, kemudian Halimah si anak kesebelas, Siti Aisyah merupakan anggota TNI Angkatan Darat dan Ia adalah anak nomor dua belas yang juga merupakan salah satu dari dua saudara Beliau yang dekat dengan saya, yang ketigabelas adalah Sofyan, dan si bungsu yang juga merupakan saudara Beliau yang dekat dengan saya bernama Bembi. Tak lupa kata “Siregar” ditambahkan di akhir nama setiap anak di dalam keluarga Ompung saya tersebut.

Ketika Beliau berusia enam tahun, sekitar tahun 1938, Beliau memulai pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Negeri Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan. Marah Ganti kecil sangat senang menyanyi, sehingga pelajaran seni dan juga matematika menjadi dua pelajaran kegemarannya. Tak heran mengapa Beliau gemar dengan pelajaran seni dan matematika, hingga detik ini pun Beliau masih senang bernyanyi lagu-lagu daerah Tapanuli Selatan dan mengajarkannya kepada saya, adik saya, dan juga kedua adik sepupu saya. Dan untuk pelajaran matematika, Beliau memang jagonya dalam bidang tersebut. Hingga sekarang kemampuan matematikanya itu tidak berkurang sedikitpun, dan hal itu pulalah yang menjadi dasar Beliau mengambil jurusan kedokteran ketika masuk ke jenjang universitas.

Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama Negeri Padang Sidempuan, ya, masih di daerah yang sama. Kepintaran yang dimiliki Beliau sudah sangat terlihat pada masa-masa ini, dari SD hingga beliau lulus SMP, tidak pernah Beliau tidak memegang peringkat pertama di sekolahnya. Dan ternyata ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas, masih di daerah yang sama, Beliau tetap menjadi juara bertahan untuk posisi pertama di sekolahnya. Saya selalu heran dengan kepintaran Beliau yang amat sangat ini, entah makan apa Beliau sehingga bisa menjadi begitu pintar. Yang membuat saya makin heran, Beliau selalu bercerita kalau Beliau sering kekurangan makan lantaran harus berbagi dengan saudara-saudaranya yang Ia katakan cukup rakus. Lalu, dari manakah kepintaran Beliau ini? Rupanya bukan dari makanan yang Beliau makan, melainkan dari sifat rajin yang dimilikinya. Beliau memang merupakan pribadi yang sangat rajin juga tekun, tak heran jika Beliau menjadi seseorang dengan kepintaran jauh di atas rata-tara.

Beliau mulai masuk jenjang pendidikan universitas di tahun 1952. Beliau merupakan mahasiswa di Universitas Sumatera Utara dengan jurusan Kedokteran, Beliau juga merupakan angkatan pertama di jurusan Kedokteran tersebut. Ia selalu ingat akan nomor urut, atau jika disamakan dengan saya adalah Nomor Induk Siswa, nomor urut Beliau adalah 007. Apa yang membuat Beliau begitu ingat dengan nomor urutnya ini? “007 adalah nomornya James Bond.”, ya, itulah yang Beliau katakan dan saya hanya dapat berkata “Oke...”. Banyak cerita lucu terjadi ketika Beliau kuliah, salah satunya yang saya ingat pernah diceritakan Beliau adalah bahwa Beliau dengan temannya pernah sekali waktu kembali ke asrama mahasiswa dalam keadaan mabuk karena habis menegak Johnnie Walker. Dan ketika Beliau dengan temannya itu hendak masuk ke dalam gedung asrama, karena sudah tidak kuat, mereka berdua akhirnya tertidur di depan pintu masuk gedung asrama dan baru terbangun pagi harinya ketika dibangunkan oleh Bapak Asrama dengan raut wajah seperti algojo. Cerita lain datang ketika Ompung saya terlibat perkelahian dengan temannya yang lain, badan Beliau yang memang tidak begitu tinggi untuk ukuran lelaki dianggap remeh oleh temannya ini. Dikira Ia tidak dapat memberikan perlawanan, namun siapa sangka ternyata Ompung saya berhasil mematahkan hidung temannya yang berlagak itu.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Ompung saya sudah diangkat menjadi staf pengajar tetap di jurusan Kedokteran USU. Saya tak heran ketika mengdengar cerita Beliau ini, “Sudah pasti karena kepintarannya...”, itulah yang ada di benak saya. Benar memang alasan tersebutlah yang menjadikannya staf pengajar muda pertama di jurusan Kedokteran USU, namun ternyata ada kisah pilu di balik itu. Sekitar dua minggu sebelum akhirnya Beliau diangkat menjadi staf pengajar, datang surat dari Mendiang Ibunda Beliau yang mengatakan kalau orang tua Beliau tidak mampu lagi membiayai kuliah Ompung saya. Setiap kali Ompung saya bercerita akan hal ini, Beliau selalu menangis. Keinginan besar Beliau untuk menjadi dokter seakan-akan lenyap ditelan bumi ketika membaca surat tersebut, dan Beliau tidka tau harus berbuat apa selain kembali kepada Yang Maha Kuasa. Doa Beliau ternyata didengar oleh Allah, dan menjadi staf pengajar merupakan jawaban dari segala sedih dan pilu yang Beliau adukan kepada Allah. Dengan menjadi staf pengajar, Beliau dapat melanjutkan pendidikan dokter Beliau kembali sampai tamat.

Pendidikan dokter tersebut diselesaikan Beliau dengan seluruh teman satu angkatannya dalam kurun waktu 10 tahun. Yang saya tau memang pendidikan dokter jaman dahulu memang diselesaikan cukup lama.

Dikarenakan umur Beliau yang sudah cukup tua, banyak kejadian di masa mudanya yang tidak begitu Beliau ingat.

Beliau melanjutkan cerita Beliau di masa ketika Beliau menikah dengan Ompung saya, Fatimah Hasibuan. Mereka menikah pada tahun 1962, bagaikan magnet, mereka berdua merupakan pasangan dokter dan perawat. Ya, Ompung saya (Fatimah Hasibuan) merupakan Kepala Perawat pada masa itu. Lulusan Universitas Gadjah Mada ini merupakan Kepala Perawat yang terkenal sangat tegas akan pasien-pasiennya, bahkan sampai detik ini pun ketika Ia berada di samping saya saat saya menulis biografi suaminya, Beliau masih merupakan perempuan yang tegas dan kadar ketegasannya tidak berkurang dari 40 tahun lalu.

Setelah dua tahun pernikahan, kedua Ompung saya akhirnya dikaruniai seorang anak lelaki yang sekarang selalu saya panggil dengan sebutan “Tulang”. Tulang saya itu bernama Fidel Ganis Siregar, Ia lahir pada 30 Mei 1964. Benar sekali, Tulang Fidel baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-49 tahun. Tulang saya ini adalah lelaki yang baik hati, tegas, cerdas, dan tampan. Bayangkan saja, untuk usianya yang sudah cukup tua, Tulang Fidel ini masih saja terlihat seperti anak muda. Selain karena memang tampan, postur tubuhnnya yang atletis membuat usianya yang tahun depan Insya Allah akan menginjak usia 50 tahun seperti tersembunyi begitu saja. Tulang Fidel ini merupakan dokter kandungan, dan gelar yang mengikuti nama depan dan belakangnya sudah begitu banyak hingga saya lupa apa saja.

Kembali di tahun 60-an tersebut, Ompung saya (Fatimah Hasibuan) melahirkan Mama saya pada tahun 1968, empat tahun setelah kelahiran Tulang Fidel. Ada cerita mengharukan pada kelahiran Mama saya, Ompung saya bercerita, “Iya, Mama Shanty ini proses melahirkannya nggak susah. Pas Ompung mau dibawa ke ruang bersalin di atas tempat tidur ber-roda, tiba-tiba Mama Shanty ini sudah keluar dari rahim Opung. Nggak nyusahin, dan Mama Shanty memang anak yang nggak pernah nyusahin Ompung. Selalu membawa rezeki.”. Luar biasa terharunya saya mendengar cerita Ompung saya ini, dan benar memang, Mama saya adalah perempuan yang kehadirannya selalu membawa rezeki bagi sekelilingnya. Bahkan bagi Ayah saya, Mama saya bagaikan malaikat yang Tuhan utus bagi dirinya.

Pada tahun-tahun berikutnya, Ompung saya (Marah Ganti Siregar) banyak berpindah-pindah lokasi kerja sehingga keluarganya pun ikut diboyong kemana Beliau pergi. Hingga akhirnya menetap di Medan, dengan rumah yang berlokasi di Komplek USU.

Di tahun 1984, Ompung saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Australia, di Queen Mary University tepatnya. Namun Beliau tidak dapat membawa serta keluarganya, sehingga Ia hanya tinggal seorang diri di sana. Sambil bersekolah, Beliau bekerja di restoran sebagai sarana untuk menambah uang sakunya.
Pada tahun-tahunnya di Australia inilah, Ompung saya mengalami masa berkabung karena Ayahandanya meninggal dunia.

Setelah 1,5 tahun menyelesaikan kuliahnya, Ompung saya pun kembali lagi ke Medan. Sekembalinya dari Australia, Ompung saya mendapat tugas untuk menjadi dokter di Irian Jaya. Dan Beliau kembali harus meninggalkan keluarganya untuk waktu dua tahun.

Sekembalinya dari Irian Jaya, Ompung saya banyak ditugaskan untuk menjadi dokter di kejuaraan-kejuaraan olahraga. Beliau pernah menjadi dokter untuk tim sepak bola Medan, PSMS, dokter untuk kejuaraan Marah Halim Cup, dan juga dokter untuk KONI. Beliau juga pernah ditugaskan untuk menjadi dokter jamaah Haji seluruh Indonesia pada tahun 80-an.

Setelah membaca biografi singkat Ompung saya ini, mungkin pembaca akan merasa bahwa Ompung saya tidak memiliki peran cukup besar dalam berbagai hal untuk dapat dibuat biografinya dan diperlihatkan ke khalayak ramai. Benar memang, Ompung saya bukanlah pejuang kemerdekaan atau orang besar yang dulunya merupakan sekelas menteri atau direktur. Beliau hanyalah dokter patologi anatomi yang sampai saat ini masih bekerja untuk prakteknya sendiri di daerah Pakam, Sumatera Utara. Namun, untuk menjadi “orang besar” tidaklah harus selalu memiliki gelar atau jabatan besar. Menjadi “orang besar” berarti memiliki peran yang besar bagi keluarga, teman, dan lingkungannya. Dan hal tersebutlah yang saya yakini menjadikan Ompung saya adalah “orang besar” yang tak kalah dari yang lainnya, Beliau memiliki peran yang teramat besar bagi keluarganya, juga teman-temannya, dan lingkungannya.

Bagi saya sendiri, Ompung saya ini merupakan orang yang sangat luar biasa berperannya bagi diri dan kehidupan saya. Beliau adalah orang yang selalu mengajarkan serta mengingatkan saya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan, Beliau juga selalu mengingatkan saya untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan senang membantu orang lain. Hal-hal tersebut selalu Beliau ajarkan kepada saya karena saya tau, Beliau tidak dapat memberikan cucu tertuanya ini apa-apa selain pesan kebaikan yang ditinggalkannya agar saya kelak dapat benar-benar menjadi “orang besar” di hari-hari mendatang.

No comments:

Post a Comment