Friday, 31 May 2013

Tugas 1 Mulok - Ariane Putri Dewanto XI IPA 3


Kali ini, saya akan membahas tentang peristiwa di masa lampau yang dapat dijadikan sejarah bagi kita semua. Sebelum saya akan mengulas tentang biografi kakek saya sendiri saya akan mengemukakan artian sejarah dalam beberapa sudut pandang dan segi pengamatan, sejarah dapat diartikan sebagai bermacam-macam hal.

Sejarah sebagai peristiwa
Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lampau sejarah sebagai peristiwa merupakan sejarah sebagaimana terjadinya (historie realite). Tidak semua peristiwa di masa lalu dianggap sebagai sejarah. Suatu peristiwa dianggap sebagai peristiwa jika peristiwa itu dapat dikaitkan dengan peristiwa yang lain sebagai bagian dari proses atau dinamika dalam suatu konteks historis. Antara peristiwa-peristiwa itu terdapat hubungan sebab akibat. Penyebab merupakan hal yang menyebabkan suatu peristiwa dapat terjadi.

Kesinambungan antara peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain dalam hubungan sebab akibat terdapat dalam konteks waktu, pelaku dan tempat

Sejarah sebagai peristiwa 
Pada dasarnya adalah objektif ojektivitas sejarah sebagai peristiwa pada fakta yg berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yg benar-benar terjadi.

Sejarah sebagai kisah
Ada kemungkinan sejarah sebagai kisah bersifat subjektif. Subjektivitasnya terletak pada bagaimana sejarah tersebut diturunkan atau diceritakan oleh seseorang. Faktor kepentingan terlihat dari cara seseorang menuturkan kisah sejarahnya. Faktor kelompok sosial yg dimiliki si penutur sejarah juga dapat mempengaruhi cara penulisan sejarah.

Sejarah sebagai ilmu
Sejarah sebagai ilmu positif berawal dari anjuran Leopold von Ranke kepada para sejarawan untuk menulis apa yang sesungguhnya terjadi. Dengan menulis apa yg terjadi sejarah akan menjadi objektif.

Sejarah dapat dilihat sebagai ilmu dengan karakteristik tertentu. Sejarah termasuk dalam ilmu manusia yang dalam perjalanan waktu di pecah menjadi ilmu sosial dan ilmu kemanusiaan.

Sejarah termasuk ilmu empiris, karena itu lah sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia.

Karena sejarah berbicara tentang manusia, biasanya sejarah dimasukkan dalam ilmu kemanusiaan. Akan tetapi, sejarah berbeda dengan antropologi dan sosiologi. Sejarah membicarakan manusia dari segi waktu. Ada 4 hal yang perlu diperhatikan yakni perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan perubahan artinya sejarah melihat perkembangan masyarakat dari satu bentuk kebentuk yang lain.

Sejarah juga melihat kesinambungan yg terjadi dalam suatu masyarakat. Sejarah juga melihat pengulangan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Sejarah juga melihat perubahan yang terjadi di dalam masyarakat yg biasanya disebabkan oleh pengaruh dari luar.

Dalam maneliti objeknya, sejarah berpegang dengan teorinya sendiri. Selain mempunyai teori,sejarah juga mempunyai generalisasi seperti ilmu lain, sejarah juga menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Sering kali generalisasi sejarah merupakan koreksi atas kesimpulan-kesimpulan ilmu lain. Untuk itu sejarah juga mempunyai metode sendiri, berbeda dengan hukum ilmu-ilmu sosial yg terlalu bersifat mekanis. Metode sejarah bersifat terbuka dan hanya tunduk pada fakta.

Sejarah juga seperti ilmu-ilmu lain yang membutuhkan riset, penulisan yang baik, penalaran yang teratur dan sistematika yang runtut, serta konsep yang jelas.

Sejarah sebagai seni
Sejarah juga dapat di lihat sebagai seni. Sebagaimana seni, sejarah juga membutuhkan intuisi, emosi  dan gaya bahasa.

Dalam melihat sejarah sebagai seni yang akan memakai intuisi. Sejarawan harus dapat membayangkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa yang terjadi sesudahnya.

Sejarah sebagai seni mempunyai beberapa kekurangan. Pertama, sejarah sebagai seni akan kehilangan ketepatan dan objektivitasnya karena seni merupakan hasil imajinasi, ketepatan dan objektivitas sangat perlu dalam penulisan sejarah. Ketepatan berarti kesesuaian antara fakta dengan tulisan sejarah, objektivitas berarti tidak ada pandangan yang individual. Kedua sejarah akan terbatas.

Sejarah juga memberikan sumbangan terhadap penulisan sejarah seni memberikan karakteristik yg dapat menggambarkan watak orang dalam biografi kolektif.

Dari Winnetou hingga Jembatan Gantung

            Pada minggu kemarin saya berkesempatan untuk mewawancarai kakek saya sendiri di kediamannya di daerah Pondok Aren saat sedang kumpul sanak keluarga.

Ibu dan Bapak di Soekarno Hatta Int'l Airport sebelum berangkat Umrah. 
            Hj. Mursito, itulah nama kakek saya. Beliau adalah bapak dari ibu saya. Tidak seperti orang biasanya memanggil kakek mereka dengan sebutan “kakek”, saya memanggil kakek saya sendiri dengan panggilan “bapak” dan begitu pula kepada nenek saya dengan panggilan “ibu”. Bapak lahir di Cilacap, 30 Juli 1942. Beliau merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Ia bergolongan darah A, memiliki warna favorit biru, ia adalah penyuka sayuran, buah-buahan dan ikan. Film kesukaannya adalah film yang ber-genre action seperti perang tentara Amerika lalu film yang bercerita tentang sejarah karena disitu terdapat nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, membangun tim, saling membantu dan menolong, berempati satu sama lain dan memiliki banyak nilai-nilai kehidupan dalam keadaan yang kacau. Lalu buku kesukaannya adalah buku-buku karangan Karl May yang menceritakan cerita di dalam bukunya yang bertema petualangan, seperti Winnetou, Kara Ben Nemsi, dan Raja Minyak. Buku Karl May yang paling popular adalah Winnetou yang menceritakan tentang orang Eropa yang ingin berpetualang. Tanpa sengaja, ia bertemu Winnetou, seorang kepala suku Indian Apache. Karena kekuatan pukulan tangan orang Eropa tersebut cukup kuat, ia disebut Old Shatterhand. Buku-buku ini berisikan filosofi yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan.

JEMBATAN+BEATRIX+SAROLANGUN+JAMBI+1940..jpg
Jembatan gantung di Jambi.

            Dahulu Bapak tidak masuk ke Taman Kanak-Kanak, sehingga beliau melanjutkan jenjang pendidikannya ke tingkat Sekolah Dasar. Sekolah Dasar nya terletak di daerah Cilacap, Jawa Tengah. Dia selalu juara kelas. Ketika usia 9 tahun, beliau tinggal bersama neneknya di Cilacap sementara kedua orangtuanya pindah ke Brebes sebagai Kepala Pertanahan. Bapak tidak ikut serta untuk pindah ke Brebes karena ingin melanjutkan pendidikan di Cilacap. Habis itu ia melanjutkan SMP dan SMA di daerah Cilacap. Lalu ketika dia duduk di bangku SMA, ia mendapatkan juara umum se-Cilacap sehingga ia menjadi wakil Cilacap untuk bisa masuk ke Universitas Institut Teknologi Bandung atau biasanya disingkat sebagai ITB. Beliau diterima di Fakultas Teknik Sipil ITB. Pada saat itu, Bapak mengikuti salah satu gerakan aktivis pemuda Bandung yang merupakan kumpulan dari beberapa mahasiswa yang ditugaskan untuk menjaga Kantor Pekerjaan Umum Bandung dari kependudukan Belanda, peristiwa itu terjadi sekitar 3 Desember pada tahun 1950an. Setelah setahun, karena terlalu aktif di kemahasiswaan akhirnya kuliahnya sempat berhenti lalu dilanjutkan dengan kuliah di Akademi Teknik Pekerjaan Umum atau biasa disingkat sebagai ATPU di Bandung. Saat beliau kuliah di ATPU, Bapak bertemu dengan Ibu untuk pertama kalinya saat ada acara kemahasiswaan semacam pentas seni. Lalu sejak dari situlah mereka menjadi teman dekat. Akhirnya ketika Bapak lulus ia menikah dengan Ibu dan rumahnya berada di Komplek Dithar di daerah Buah Batu karena Bapak bekerja di Dithar Bina Marga Pekerjaan Umum, kantornya terletak di Bandung.
           
            Sejarah Departemen Pekerjaan Umum di Pemerintahan Pusat, dalam perkembangan waktu dalam tahapan-tahapan; sejak jaman penjajahan pemerintahan Belanda, dimana istilah "Pekerjaan Umum" berasal dari terjemahan istilah bahasa Belanda "Openbare Werken".  Pada zaman Hindia Belanda disebut "Waterstaat swerken". Di lingkungan Pusat Pemerintahan dibina oleh Departement. Van Verkeer & Waterstaat (Dep.V&W).
Ibu sedang membeli es krim Turki.
Ibu sedang berada di Mekkah.
            Pada tahun 1960an, Bapak menikah dengan istrinya. Istrinya bernama Ninon Winarni, beliau merupakan nenek saya yang saya panggil “ibu”. Mereka dianugerahi tiga anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Anak sulungnya adalah Mama saya sendiri, yang bernama Nurwanti. Anak keduanya adalah Om saya, yang bernama Sigit Nurwanto dan yang ketiga adalah Om saya, yang bernama Ibnu Mawardi. Saat ini, cucu dari Bapak dan Ibu ada enam orang.
            Setelah itu keahlian Bapak adalah di bagian sipil bagian jembatan. Beberapa jembatan telah dibangun di beberpa daerah di Indonesia seperti di Jambi. Setelah itu mereka pindah ke Jakarta dan Bapak bekerja di Direktorat Peralatan Jalan Bina Marga Pekerjaan Umum dan tinggal di Kompleks Pekerjaan Umum, Lebak Bulus. Beliau berkarakter disiplin, tanggung jawab, dan selalu memperhatikan kepentingan orang lain. Bapak juga memiliki prinsip hidup yaitu untuk bermanfaat pada orang banyak dan hiduplah dengan penuh kesederhanaan serta selalu melakukan sesuatu diniatkan untuk beribadah kepada Allah. Beliau sangat menyukai kehidupan yang penuh dengan keteraturan seperti bangun pagi, mandi, sholat serta mengaji, olahraga seperti lari pagi, jalan pagi, badminton, futsal dan berupaya untu selalu sholat lima waktu di masjid. Setelah beliau pension sekitar umur 57 tahun, ia meluangkan waktunya untuk cucu-cucunya dengan mendampingin pada saat mereka pergi ke sekolah, ke tempat kursus atau les ataupun belajar dan bermain sewaktu lagi berada di rumah. Lalu beliau juga suka berkebun di halaman rumahnya sambil bermain badminton bersama tetangga-tetangga yang berada di sekitarnya rumahnya. Dengan usia beliau saat ini, beliau mengisi kehidupannya dengan segala kegiatan yang bersifat realigi. Alhamdulillah pada bulan Mei ini, beliau bersama istri bisa pergi umrah untuk mewujudkan bentuk komitmen terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan menjadikan perjalanan ini adalah honeymoon kembali.
            Saya sangat menyayangi kakek saya dan nenek saya, karena mereka telah membimbing saya sejak kecil untuk menjadi anak yang baik dan berbakti kepada kedua orangtua saya. Semoga Bapak dan Ibu akan selalu bahagia dan panjang umur, sehat selalu dan selalu dilindungi oleh Allah dari segala marabahaya. 



Terimakasih sudah membaca.

             

No comments:

Post a Comment