Tuesday, 28 May 2013

Tugas-2 Aqila deviatika XI IPS 3


Bapak Ir. Masduki Sajid – Rela berjuang demi membela negara

         Pada 17 Agustus 1945, Indonesia akhirnya mendapatkan kemerdekaan.  Indonesia terlepas dari jajahan Belanda maupun Jepang.  Kemerdekaan itu bisa diperoleh karena semangat juang para pahlawan kita.  Mereka bersuka rela dan bersusah payah berjuang demi membela negara kita.  Namun, kita sebagai generasi muda hanya bisa mempelajari sejarah perjuangan mereka dari buku-buku serta bukti-bukti sejarah lain.  Kita tidak bisa merasakan bagaimana perasaan rakyat Indonesia terdahulu.  Kita juga tidak bisa menyaksikan bagaimana kah perjuangan para pahlawan tercinta kita.  Tidak banyak  generasi-generasi zaman perang dahulu yang masih hidup sampai saat ini.  Pada awal bulan Mei, saya berkesempatan untuk bertemu dengan salah satu veteran perang yaitu: Bapak Ir. Masduki Sajid dan saya berhasil mewawancarai beliau.  Pesan beliau kepada saya adalah “Hidup memang penuh perjuangan tapi jangan sampai lupa dengan yang diatas (Tuhan)”


Biografi:

        Pada Tanggal 17 agustus di Kalioso, sebelah utara kota Solo lahirlah seorang bayi lelaki yang sehat dan diberi nama Masduki Sajid.  Bapak Masduki Sajid merupakan anak kedelapan dari sembilan bersaudara.  Beliau menghabiskan masa pertumbuhan nya di Solo.  Sebagai seorang laki-laki, Bapak sudah diajarkan untuk mandiri dan menjadi seorang anak yang kuat sejak kecil.  Setiap pagi jika ingin mandi, Bapak harus menimba air terlebih dahulu dan Bapak dibiasakan untuk menucuci pakaian sendiri.  Apalagi Bapak lahir pada masa penjajahan belanda.  Beliau diajarkan untuk tidak mempercayai para penjajah.

       Ketika beranjak besar, waktunya Bapak untuk menimba ilmu di sekolah.  Beliau pun mendaftar di Hollandsch-Inlandsche School atau singkatnya adalah HIS yaitu sekolah pada zaman penjajahan Belanda.  Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis.  Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang.  HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah. 

       Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda.  Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri.  Oleh karena itu, beliau mendapatkan kesulitan untuk dapat masuk ke HIS.  Pada awalnya beliau tidak diterima menjadi murid HIS, maka ia masuk ke Sekolah Ongko Loro terlebih dahulu.  Sekolah Ongko Loro yang dalam bahasa belanda disebut Tweede Inlandsche School atau yang biasa dikenal dengan sebutan Sekolah Kelas Dua merupakan Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar dengan masa pendidikan selama Tiga Tahun dan tersebar di seluruh pelosok desa.
      
        Maksud dari pendidikan ini adalah dalam rangka sekedar memberantas buta huruf dan mampu berhitung. Bahasa pengantar adalah bahasa daerah dengan guru yang juga berasal dari pribumi. Bahasa Belanda merupakan mata pelajaran pengetahuan dan bukan sebagai mata pelajaran pokok sebagai bahasa pengantar. Namun setelah tamat sekolah ini murid masih dapat meneruskan pada Schakel School selama 5 tahun yang tamatannya nantinya akan sederajat dengan Hollandse Indische School (HIS). Berkat bantuan dari Pakde-nya yang kebetulan bekerja di pemerintahan, beliau berhasil melanjutkan ke HIS. Guru yang mengajar pada saat itu adalah guru yang berasal dari belanda.  Karena HIS merupakan sekolah yang didirikan oleh Belanda, maka peraturan-peraturan yang ada sangat lah ketat dan disiplin.  Sebelum masuk kelas, Bapak bersama dengan murid-murid diharuskan berbaris dengan rapih lalu siap diperiksa kebersihan dan kerapihan nya oleh guru.  Sebagai pelajar, tentu nya beliau mempunyai pelajaran favorit yaitu sejarah.

        Tahun 1942 datanglah penjajah Jepang ke Indonesia.  Jepang sangat lah kejam. Banyak sekolah-sekolah yang diberhentikan oleh Jepang, begitu juga dengan Perguruan Tinggi.  Waktu itu beliau sedang duduk di kelas 4 SD.  Datangnya Jepang ke Indonesia sangat mempengaruhi jam belajar siswa.  Sangat disayangkan, pada saat itu jadwal Bapak bersekolah hanya 3 hari dalam seminggu.  Dalam 3 hari itu pun, bapak bersama teman-teman sering tidak belajar, karena dipaksa untuk bekerja rodi memotong kayu jati di sekitar Wonogiri.  Pagi-pagi sekali, Bapak berjalan menempuh jarak yang lumayan jauh ke Wonogiri.  Disamping itu, Bapak mempunyai kenangan menyenangkan selama bersekolah di zaman penjajahan Jepang, yaitu setiap pagi diwajibkan untuk senam seperti kebiasaan murid-murid di Negara Jepang.

       Menginjak usia 15 tahun, Bapak sudah duduk dibangku SMP.  Beliau tidak mempunyai banyak pengalaman didalam sekolah karena banyak waktu ia habiskan untuk menjadi sukarelawan dalam  perang.  Ketika mengikuti Ujian Negara, beliau merasa sangat panik dan takut.  Karena salah satu mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Inggris, sedangkan Bapak tidak menguasai bahasa tersebut.  Bapak hanya bisa Bahasa Indonesia dan Bahasa Belanda, itu pun sedikit demi sedikit.  Soal yang diujikan juga banyak yang asal, tidak seperti yang diharapkan.

        Pada saat yang bersamaan juga, Bapak bergabung dengan tentara pelajar yang ada di Solo.  Tentara pelajar adalah satu kesatuan militer yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dimana anggotanya adalah pelajar-pelajar.  Cikal bakal berdirinya Tentara Pelajar bermula dari para pelajar yang pada awal kemerdekaan tergabung dalam satu-satunya organisasi pelajar yaitu Ikatan Pelajar Indonesia (IPI).  Beliau mengaku bahwa ia bergabung dengan tentara pelajar karena sering mendengar Bung Karno berpidato.  Soekarno Hatta, dimata Bapak adalah seorang figur yang sangat pemberani dan kuat, Bung Karno bisa mendoktrinasi dan memotivasi rakyat dalam berjuang meraih kemerdekaan.  Setiap Bung Karno berpidato pasti semua orang tidak ada yang tidak mendengarkan.  Dengan suara lantang dan tanpa teks pidato, Bung Karno berpidato dengan sangat lancar dan berapi-api.  Biasanya Bapak mendengarkan pidato Bung Karno dari radio atau televisi.
     
       Baru pada tahun 1950, Beliau memutuskan untuk pindah ke Semarang.  Untuk melanjutkan pendidikan disana.  Bapak Masduki Sajid berhasil masuk SMAN Taman Madya.  Sama halnya seperti SD, sekolah menengah atas pun belum banyak dijumpai di Indonesia. SMA baru bisa dijumpai disekitar Semarang, Jogja dan Jakarta saja. Dan yang bisa bersekolah hanya lah anak para pejabat.
      






SMAN Taman Madya











  Universitas Gadjah Mada
       
     Tahun 1953, Bapak secara resmi menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta dengan jurusan Teknik Sipil. Salah satu dosen yang paling berkesan dimata Bapak adalah Prof. Yohanes, Ahli fisika. UGM biasa disebut sekolah tinggi perjuangan. Menghabiskan 5 tahun dalam mengejar gelar sarjana S1, Bapak dipertemukan dengan jodohnya yaitu Ibu Endah Sriwulan yang lahir pada 2 Maret 1937.  Dulu, Ibu bekerja sebagai DPR saat masa Belanda.  Setelah beberapa bulan menjalin cinta akhirnya Bapak mempersunting Ibu.  Mereka menikah pada tahun 1961, sambil menunggu kelulusan Bapak dari kuliah.

     Setelah lulus dengan gelar sarjana teknik atau Insinyur, Bapak bekerja sebagai Kementrian PU (pekerja umum).  Sesuai dengan Peraturan Menteri PU Nomor 08/PRT/M/2010 tentang organisasi dan tata kerja kementerian Pekerja Umum. Kementerian Pekerjaan Umum mempunyai tugas : menyelenggarakan urusan di bidang pekerjaan umum dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.  Setelah beberapa tahun menikah, Bapak ditugaskan untuk ke Kalimantan.  Tepatnya di Palangkaraya.  Bapak ditugaskan untuk membuat jembatan-jembatan. Memasuki hutan belantara, Bapak dibantu oleh sejumlah Polisi untuk mengarahkan jalan didalam hutan serta menemani bapak.  Tragisnya, baru seminggu menghabiskan waktu tinggal di hutan, Palangkaraya, Bapak sempat terserang malaria.  Setelah Palangkaraya, Bapak ditugaskan kembali ke Kintab, masih didaerah Kalimantan. Untuk mengerjakan proyek besi baja, jembatan, dan pabrik kertas tapi proyek itu gagal disebabkan oleh karena daerah yang ditujukan untuk memulai proyek itu tidak memadai dan juga faktor biaya yang tidak mengalir.











 Kenangan Pernikahan Bapak Masduki dengan Ibu
      
       Pada tanggal 1 Desember 1963, lahirlah anak pertama bapak yang berjenis kelamin perempuan diberi nama Manis Palwosari.  Bertahun-tahun bapak menghabiskan waktu di Kalimantan untuk mengerjakan proyek-proyek, akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke Banjarbaru beserta keluarga tercintanya.  Pada awalnya, Ibu dan Putri pertamanya itu mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru di Kalimantan.  Mereka tidak mengenal siapa pun.  Teman-teman Ibu hanya tinggal di Jawa dan Jakarta.  Terpaksa, Ibu menghabiskan waktu sehari-harinya didalam rumah saja.  Dalam mengerjakan proyek yang ada bapak bisa saja berhari-hari tidak pulang kerumah atau beliau pulang ketika sudah sangat larut malam.  Beliau jadi jarang menghabiskan waktu bersama keluarga.

     Menikah dengan Ibu Endah Sriwulan, bapak dikarunia 4 orang anak yang terlahir dengan sehat. Anak-anak dari pasangan suami istri ini adalah Manis palwosari lahir tanggal 1 Desember 1963, Arief tutuko harimurti lahir 20 Maret 1966, Tri Juli Bisowarno lahir 3 Juli 1968, dan Vierawati sari handajani sebagai anak terakhir yang lahir pada 30 Juni 1971.



Peranan: 

      Bapak Ir. Masduki Sajid merupakan salah satu pemuda yang aktif dalam pergerakan-pergerakan nasional untuk melawan penjajah.  Seperti yang sudah saya tuliskan pada biografi beliau, bisa dilihat bahwa bapak dengan sukarela bergabung dengan berbagai organisasi atau pergerakan nasional.  Pada saat yang bersamaan juga, Bapak bergabung dengan tentara pelajar yang ada di Solo.  Tentara pelajar adalah satu kesatuan militer yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dimana anggotanya adalah pelajar-pelajar.  Cikal bakal berdirinya Tentara Pelajar bermula dari para pelajar yang pada awal kemerdekaan tergabung dalam satu-satunya organisasi pelajar yaitu Ikatan Pelajar Indonesia (IPI).  Beliau mengaku bahwa ia bergabung dengan tentara pelajar karena sering mendengar Bung Karno berpidato.  Soekarno Hatta, dimata Bapak adalah seorang figur yang sangat pemberani dan kuat, Bung Karno bisa mendoktrinasi dan memotivasi rakyat dalam berjuang meraih kemerdekaan.  Setiap Bung Karno berpidato pasti semua orang tidak ada yang tidak mendengarkan.  Dengan suara lantang dan tanpa teks pidato, Bung Karno berpidato dengan sangat lancar dan berapi-api.  Biasanya Bapak mendengarkan pidato Bung Karno dari radio atau televisi. 

     Selama masa penjajahan Belanda maupun Jepang, bapak merupakan korban dari adanya kerja rodi. Bapak pernah dikirim ke Purwodadi untuk kerja di Kereta Api dan sewaktu kecil bapak hampir setiap hari disuruh untuk memotong kayu jati didaerah Wonogiri.  Masa remaja bapak juga bergabung dalam BKR yaitu Badan Keamanan Rakyat yang ada di Solo. BKR sekarang lebih dikenal dengan sebutan TNI.  Pada saat itu beliau mendapatkan pelatihan militer di Lapangan terbang panahan, Solo selama 3 bulan lamanya.  Ketika sudah lulus sekolah, Bapak mulai bekerja di PU, Bandung pada tahun 1957.

      Tahun 1983-1985 Bapak Masduki diminta untuk membuat tol menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta oleh Bapak Soeharto yang waktu itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Jalan Tol itu diberi nama Jalan Tol Prof Dr. Sedyatmo. Jalan Tol ini dibangun untuk melengkapi pembangunan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng. Jalan tol sepanjang 14,30 km mulai dioperasikan pada tahun 1987. Keistimewaan Jalan tol ini adalah diterapkannya kontruksi Cakar Ayam sebagai pondasi Jalan. Teknologi ini ditemukan oleh Prof. Dr.Ir. Sedyatmo yang kemudian namanya diabadikan sebagai nama jalan tol ini. 
      
      



       
      









 Bapak Ir. Masduki sajid

     
                                                                                   











Bapak Ir. Masduki Sajid bersama Soeharto saat peresmian jalan tol
    
 
 
   










Piala-piala yang diraih dari jerih payah bapak


No comments:

Post a Comment