Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Autobiografi - Azhar Rhozaq A. XI IPA 1

Cacat Atau Tidak, Bukanlah Ukuran Kemampuan Seseorang

Ketika terdengar ada sebuah tugas sejarah yang bertugas untuk mewancarai seseorang dari generasi kakek atau nenek, seorang yang langsung teringat di benak saya adalah nenek dari ibu saya atau lebih sering saya panggil eyang, adalah seseorang yang menurut saya berjiwa pemimpin dan berjiwa muda, ia adalah seseorang yang memiliki jawa yang kental dan beraura kejawaan. Ia banyak bercerita tentang masa lalu nya jadi ketika saya mendengar ada sebuah tugas sejarah ini, saya langsung teringat eyang yang memang sering bercerita tentang banyak nya pengalaman dan jasa nya pada nasional sehingga saya langsung berniat untuk mewawancarai nya ketika datang kerumah saya, namun karena kurang persiapan dan sedang ada halangan, saya tidak jadi mewawancarai eyang saya ketika datang kerumah, sehingga tugas ini sedikit tertunda sampai tepat pada hari akhir deadline pengumpulan tugas tersebut. Akhirnya saya berniat untuk mewawancarai nya dengan menggunakan telepon yang pada suatu hari saya pada akhirnya mengumpulkan niat untuk menelepon nenek saya, pada hari itu juga saya langsung meminta nomor telepon eyang saya kepada ibu saya, dan langsung saya telepon, awalnya saya sedikit malas untuk menelepon karena masih capai pulang sekolah, namun ketika suara pertama dari eyang saya “halo” saya langsung teringat masa kecil saya di solo di baluwarti tepatnya saat masih tinggal bersama nenek saya, seperti tiupan angin nostalgia melanda suasana kamar saya pada saat itu. Saya langsung kangen berbincang dengan nenek saya, dan di tengah wawancara kadang-kadang kita menyelipkan perbincangan seputar keluarga dan lebaran sehingga tak terasa waktu cepat berputar. Memang terkadang kalau kita berbincang dengan orang yang kita sayang, waktu memang cepat melayang.
Sri Sarwadiati adalah nama dari eyang saya, dia adalah seorang ketua YPAC atau singkatan dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo pada tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tujuh sampai tahun seribu sembilan ratus delapan puluh tujuh,  salah satu kebanggaan yang pertama kali eyang sebuatkan adalah prestasi kemenangan Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo dalam pertandingan POPC atau kepanjangan dari Pekan Olahraga Penderita Cacat, ujar eyang saya katanya Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo memenangkan lima puluh empat medali dari lima puluh enam orang yang diikutkan dalam Pekan Olahraga Penderita Cacat tersebut, hanya dua orang saja yang tidak mendapatkan piala, dan eyang saya dengan bangga menyebutkannya, dan menurut saya itu juga prestasi yang luar biasa karena seorang penderita cacat melakukan olahraga adalah sebuah kemajuan yang luar biasa, berarti tidak hanya Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo berhasil membuat para atlet dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo menang, namun Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo juga termasuk eyang saya berhasil memenangkan hati mereka para penderita cacat untuk berolahraga memutus sebuah keyakinan bahwa orang-orang penderita cacat itu tidak bisa berolahraga, ataupun melakukan apa yang orang biasa lakukan, karena mereka berpikiran mereka beda dengan orang biasa karena mereka cacat. Eyang dan kawan-kawan Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo berhasil meyakinkan mereka bahwa Cacat atau Tidak, Bukanlah Ukuran Kemampuan Seseorang.

DI Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo juga memiliki fasilitas-fasilitas dan program program yang dapat membina para penderita cacat untuk hidup lebih percaya diri dan mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, beberapa di antaranya adalah Sekolah atau pendidikan adalah sebuah kebutuhan dari orang biasa yang wajib di berikan dan merupakan sebuah kebutuhan untuk orang biasa maupun para penderita cacat, dan cacat atau tidak pendidikan tetap wajib tersampaikan kepada anak-anak sehingga di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo juga memberikan fasilitas  pendidikan gratis kepada para penderita cacat di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo. Pendidikan tersebut terdiri dari Taman kanak kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo sudah mencakup pendidikan wajib sembilan tahun dari pemerintah, sehingga anak-anak penderita cacat juga dapat merasakan pendidikan sama seperti orang biasa, dan ini membuat jurang pemisah antara penderita cacat dan orang biasa. Dari segi keterampilan Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo juga berkecimpung dalam seni budaya maupun seni musik, yaitu menari dan gamelan. Juga Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo ikut mengisi acara di Keraton solo, maupun hal-hal yang bersifat musik modern, seperti menggunakan gitar, bass, drum, vokal, dll. Dan yang paling penting disini adalah terapi. Terapi ini bertujuan untuk membuat anak-anak penderita cacat, maupun orang-orang penderita cacat lebih percaya diri, dan lebih mampu beradaptasi dengan orang biasa, dan tidak merasa terdiskriminasi. Di antara hal-hal yang di berikan di terapi ini adalah Kemandirian bahwa Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo memberikan semangat kepada para penderita cacat, anak-anak cacat, dan orang dewasa penderita cacat untuk lebih mandiri bahwa cacat atau tidak kita harus bisa hidup sendiri dan tidak menyusahkan orang lain di sekitar kita, lebih mandiri dalam hal-hal kegiatan-kegiatan normal seperti mandi, makan, ganti baju, dan lain lain. Dalam kegiatan sehari-hari dan keterampilan dasar juga wajib di pelajari oleh para anak-anak penderita cacat, maupun orang-orang penderita cacat untuk bisa melakukan kegiatan selain kegiatan keseharian seperti mandi, makan, ganti baju, dll selain itu juga para anak-anak penderita cacat, maupun orang-orang penderita cacat untuk bisa berilmu matematika, ipa, bahasa indonesia, dll dalam hal pendidikan sama seperti yang telah saya jelaskan di bagian pendidikan di atas, dan yang terpenting dari terapi tersebut adalah kemampuan bersosial, dimana para anak-anak penderita cacat, maupun orang-orang penderita cacat juga di berikan kemampuan untuk berinteraksi dengan para orang-orang biasa yang jelas jelas tidak mengalami kecacatan dalam segi fisik, mereka di bekalkan kemampuan untuk berbaur dengan orang-orang biasa agar tidak minder istilah gaulnya, mereka tidak merasa terdiskriminasi dan bersiap jika ada pelecehan secara verbal dan menahan amarah.

Eyang berperan dalam briefing pada para pengunjung yang ingin mengunjungi Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo dan diberikan pengarahan bahwa mereka para pengunjung tidak boleh menampakkan belas kasihan mereka di depan anak-anak penderita cacat, maupun orang-orang penderita cacat karena itu akan membuat hati mereka sedikit terluka, tapi tunjukkan rasa bagaikan mengulurkan tangan ke anak-anak penderita cacat, maupun orang-orang penderita cacat untuk melangkah bersama mencapai impian dengan suka cita, disini para tamu di ajarkan hal-hal tersebut sehingga suasana lingkungan Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo menjadi lebih asri dan damai, juga lebih tenang dan tentram suasananya, pokoknya kata Eyang harus pandai-pandai bersosialisasi dalam hal menghadapi tamu-tamu yang datang ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo maupun para anak-anak penderita cacat, maupun orang-orang penderita cacat di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo.

Kendala-kendala yang ada di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo adalah dana, karena Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo adalah sebuah lembaga independen dan bukan sebuah lembaga negara, kalau lembaga negara seperti Yayasan Pembinaan Anak Cacat disebut dengan nama RSOP dan RSOP mendapat kucuran dana dari pemerintah sehingga persoalan anggaran biaya dan anggaran dana bukan lagi menjadi masalah untuk mereka. Namun Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo adalah sebuah lembaga independen dan tetap membutuhkan dana untuk tetap mempertahankan fasilitas-fasilitasnya sehingga dana adalah kendala yang sangat penting, kata Eyang yang penting itu harus jago-jago nembak sponsor, jadi ketika ada kesempatan maka jangan di lewatkan atau ketika kesempatan tidak kunjung datang, cari kesempatan itu sendiri dengan sedikit bersusah payah namun memang mau tidak mau itu adalah sebuah kewajiban agar fasilitas-fasilitas di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo tetap ada dan tetap terpertahankan. Namun karena kakak dari Eyang adalah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Semarang sehingga terkadang Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo juga mendapat bantuan subsidi dari pemerintah, tepatnya subsidi dari kementrian sosial yang memberikan sebagian dana nya pada tujuan mulia Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo yaitu untuk membina anak-anak maupun orang-orang cacat. Namun kendala dalam hal sosial yaitu harus pintar-pintar mencari celah dan mencari kalimat maupun perbuatan maupun sikap yang pas di depan anak-anak penderita cacat, maupun dewasa penderita cacat agar tidak menyinggung perasaan mereka,  sehingga mereka harus tetap berjuang untuk menghilangkan kendala-kendala yang ada untuk dapat cepat terselesaikan.

Setelah Eyang turun jabatan sebagai ketua Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo nampaknya eyang masih berkecimpung di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo namun sekarang sudah menjadi seorang pembina sampai sekarang masih menjabat dan sering dimintai usul maupun saran dalam menghadapi masalah-masalah yang ada maupun masalah-masalah keseharian yang mengganggu jalannya Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo sehingga terkadang eyang suka di panggil ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo untuk menjadi pembicara ataupun mediasi dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada, selain menjadi pembina Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo eyang juga menjabat sebagai Dharma Wanita di keraton juga eyang menjadi Wakil Ketua bidang kesejahteraan Universitas Negeri Solo atau biasa sering di panggil Universitas sebelas maret, dan eyang juga berkecimpung di dalam dunia gamelan atau karawitan, yaitu sebagai kendang di karawitan keratonan, dan juga sebagai Penari Jawa di keraton solo sehingga eyang memiliki jawa yang kental sekali di nadi nya, mudah-mudahan eyang selalu tetap berjuang demi bangsa dan negara indonesia terutama dalam mengurus Yayasan Pembinaan Anak Cacat Solo untuk lebih jaya meneruskan cita-cita mulia yaitu membuat derajat anak-anak penderita cacat sama dengan orang biasa dengan menggunakan moto “Cacat Atau Tidak, Bukanlah Ukuran Kemampuan Seseorang”.




No comments:

Post a Comment