Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Autobiografi - Dahlia Ramya Cahyani XI IPA 4

Pahlawan Tiga Zaman, Soedarsono



Drs H.R Soedarsono. Beliau merupakan salah satu pahlawan yang sangat saya hormati. Beliau yang juga berlaku sebagai kakek saya dilahirkan pada tanggal 9 Juli 1925 yang tepatnya jatuh pada hari kamis Paing. Beliau merupakan anak ke 2 dari 9 bersaudara namun 3 saudara lainnya sudah meninggal dunia. Kakek saya merupakan pasangan dari R. Ng Prawiropoespito dengan Mas Ajeng Prawiropoespito yang lebih tepatnya adalah isteri ketiga dari buyut saya. Disebut “Mas Ajeng” dikarenakan nenek buyut saya berasal dari keluarga biasa sedangkan kakek buyut saya ini berasal dari “Abdi Dalem” (pegawai keraton) kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat dan menjabat Demang. 

Beliau menikah dengan Rr. Oemi Sri Soekarti yang juga berlaku sebagai nenek saya, pada hari Rabu Paing tanggal 11 Oktober 1950. Pada tahun 1992, beliau beserta istrinya menunaikan haji untuk yang pertama kali bersama dengan anak kedua mereka yaitu Hj.Rr Nuri Umi Budhiarti. Mereka dianugerahi 8 anak yaitu 6 anak perempuan dan 2 anak laki – laki. Namun anak bungsu mereka yang bernama Rr. Shari Umi Yuwanti yang biasanya saya sebut tante sari telah meniggal dunia pada tanggal 8 Juli 1969 dan dimakamkan di makam Blok P kebayoran lalu dipindahkan ke Kuncen Jogjakarta. Dengan demikian anak dari kakek nenek saya tinggal 7 dan Alhamdulillah semuanya telah menikah dan telah dianugerahi anak – anak yang sholeh dan sholeha.

Pada waktu itu Nenek saya sempat mendapat masa – masa sulit waktu mengasuh anak, yaitu ketika kakek saya ditugaskan belajar di negeri kincir angina tau Nederland Belanda selama satu tahun dari tanggal 30 April 1967 sampai tanggal 7 April 1968. Pada waktu itu nenek saya harus mengurus 11 orang yang tinggal dirumahnya sendiri. 11 orang yang terdiri dari 8 anak, 2 adik kakek saya dan 2 orang pembantu. Selama kakek saya pun banyak hal yang terjadi, dimulai dari ditangkapnya pakde saya (anak pertama dari kakek dan nenek saya) karena karena melanggar peraturan sampai patahnya tangan tante saya (anak ke 4 dari kakek nenek saya) sehingga membuat nenek saya kewalahan. Namun karena kesabaran dan ketekunan nenek saya, beliau pun dapat menyelesaikan semua masalah itu dengan baik. 

Kakek saya yang lahir pada tahun 1925 termasuk dalam “generasi tiga zaman” yaitu zaman penjajahan Belanda, zaman pendudukan tentara Nippon Jepang dan zaman Kemerdekaan Republik Indonesia. Di zaman penjelajahan Belanda, untuk sekolah rendah yang bahasa pengantarnya Jwa dan Melayu disebut “ Vervolg School” yang lamanya 6 tahun sampai kelas 6. Adapula yang disebut “ongko” hanya sampai kelas 3 atau 3 tahun. Sekolah rendah yang memakai bahasa pengantar Belanda disebut HIS atau Hollands Inlandse School. Kakek saya bersekolah di salah satu HIS di Jogjakarta yaitu Sultanaats HIS Kepoetraan yang berlokasi di sebelah selatan Alun alun utara. Juga ada sekolah khusus untuk etnis China yaitu Hollands Chineese School. Disamping HIS ada pendidikan setingkat yaitu dinamakan “Schakel School” yang hanya selama 5 tahun. Selain itu ada juga sekolah khusus anak – anak Belanda yang disebut “Europese Lagere School” disingkat ELS. 

Seperti yang telah disebutkan tadi, kakek saya bersekolah di HIS Kepoetraan selama 8 tahun, dari kelas TK atau Taman Kanak Kanak sampai kelas tujuh yaitu dari tahun 1931 sampai 1939. Dan beliau lulus dengan nilai yang cukup baik sehingga mendapatsurat keterangan dapat masuk di Mulo. Selama beliau bersekolah di HIS Kepotreaan, beliau menge-kost di rumah keluarga Rr. Ng Kartoprawir dikarenakan letak HIS yang berada di pusat kota. 

Setelah lulus dari HIS Kepoetraan, kakek saya melanjutkan pendidikan ke Gouvernements Openbare MULO School yang terletak di Kota baru dan langsung masuk kelas 1. Sewaktu tentara Dai Nippon Jepang menyerbu Indonesia, MULO diliburkan. Sewaktu zaman pendudukan jepang, 6 bulan seteklah itu, sekolah – sekolah di JOgja dibuka kembali, bahasa pengantar yang tadinya bahasa BElanda diganti menjadi Bahasa Indonesia. MULO berubah menjadi Tju Gakko. Kakek saya masuk di Dai Ni Tju Gakko (SMP II) kelas 3. Selanjutnya beliau masuk di Taman Madya (SMA nya Taman Siswa)hanya kira – kira 6 bulan di Taman madya, pada bulan Oktober 1943 kakek saya keluar lalu bekerja di Rikuyu Sokyuku di Surabaya. Pendidikan setingkat SMA ini baru beliau laksanakan dan selesaikan kira – kira 10 tahun lebih setelah beliau mulai bekerja di Rokuyu Sokyuku, sambil bekerja di kepolisian Republik Indonesia. Jadi pendidikan kakek saya diselesaikan pada zaman Kemerdekaan Indonesia. 

Pada masa masuknya tentara Jepang ke Indonesia, sekolah diliburkan dan ditutup. Pada waktu itu suasana lebih tegang, orang – orang Belanda yang laki laki masuk Wajib MIliter/KNIL sedangkan orang pribumi atau orang Indonesia masuk ke pasukan penjaga kota yang disebut “ Stadswacht”. Kakek saya masuk menjadi anggota LBD dan ditugaskan sebagai “ordonans” yang bertugas untuk mengantar surat – surat kilat antara lain perintah – perintah kepada sector- sector penjagaan, pos pos penjagaan dan harus diantar walaupun keadaan genting sekalipun. 

Kakek saya bekerja di Kepolisian Karesidenan Kediri setelah lulus dari sekolah inspektur polisi di SPNRI (sekolah Polisi Negara Republik Indonesia) pada tahun 1949. Setelah 3 bulan di SPNRI para siswa dipraktekkan dikirim ke daerah – daerah yang masih di tangan Republik Indonesia. Kakek saya dengan 2 temannya ditugaskan di kepolisian karesidenan Surabaya. Saat perang kemerdekaan 1, kakek saya ditugaskan di kepolisian DI Yogyakarta dibawah pimpinan bapak AKBP Djen Mohammad, dalam tugas pengamanan ibukota RI, kakek saya ditugaskan dikantor polisi. Perang kemerdekaan 1 ini hanya berlangsung kira – kira 4 bulansetelah penandatanganan persetujuan Linggarjati pada tanggal 25 Maret 1947.
Setelah perang tersebut selesai, kakek saya meninggalkan Yogya dan meneruskan belajar di sekolah inspektur polisi SPNRI Mertoyudan. Ketika sedang aslik – asiknya meneruskan sekolah di sekolah Inspektur Polisi SPNRI Mertoyudan, pechlah peristiwa yang disebut “Madiun Affair” yaitu pechanya pemberontakkan PKI?FDR di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Maka pendidikan sementara digantikan oleh tugas – tugas penting dan operatif di daerah – daerah sekitar antara lain parakan dan Borobudur. Pertama – tama kakek saya mendapat tugas operasi di parakan dalam satu regu, dilengkapi dengan senjata Karabijn. Lalu setelah 2 atau 3 minggu kemudian, ditarik kembali ke SPNRI dan selanjutnya mendapat pembinaan dan penerangan di daerah Borobudur. 

Pada tanggal 18 Desember 1948, telah dikeluarkan Soerat idzin bepergian bagi semua siswa inspektur Polisi Angkata II, karena libur menghadapi ujian penghabisan dari tanggal 19 Desember 1948 sampai pada tanggal 1 Januari 1949. Pagi harinya pada tanggal 19 Desember 1948, kakek saya dan teman teman siswa Inspektur Polisi Mertoyudan berangkat ke Jogjakarta dengan naik kereta api. Tiba tiba terdengar gemuruh mesin klapal terbang dari arah timur. Sewaktu kereta api sampai di stasiun Muntilan, datanglah kabar bahwa Belanda menyerang Yogyakarta dari udara dan darat. Maka kereta api tidak berani terus ke Yogyakarta dan kembali ke Mertoyudan menunggu perintah dari pimpinan SPNRI. 

Setelah mendapat kabar, para siswa akhirnya kembali ke daerah asal masing – masing. Kakek saya dengan 5 orang temannya akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki menuju Jogjakarta melewati desa desa di Blondo, Kalibawang, Sentolo, dan singgah di rumah orangtua beliau di Mayungan. Sebelum bergabung dengan Kesatuan Polri didaerah itu, kakek saya bergabung di Pemerintah Militer Kapenewon Sanden. Saat itu beliau diberi jabatan sebagai kepala bagian Keamanan dan Kepala Det. Polisi Pamong Praja.beberapa bulan setelah itu, beliau diminta supaya dikembalikan kepada instansi Kepolisian, sehingga beliau masuk dalam ajjaran MBB – DKN dan diberi tugas sebagai staf atau ajudan komandan batalyon bersama 2 temannya. 

Pada tanggal 17 Mei 1949 ditandatangani persetujuan Roem Royen. Tentara Belanda ditarik dan meninggalkan kota DI Yogayakarta. Pada tanggal 29 Mei 1949 TNI masuk Yogya. Staf MBB - DKN masuk kota yogya pada tanggal 29 Juni 1949. Setelah masuk kota, kakek saya dipindah tugaskan pada seksi II kepolisian kota Yogyakarta yang waktu itu menempati markas ex tentara di kotabaru Jalan Bogowoto. Setelah beberapa waktu kira – kira 2 bulan bertugas di seksi II kepolisian kota Yogya, pendidikan IP Mertoyudan dimulai lagi. Siswa – siswanya dibagi menjadi 3 kelompok agar dapat belajar secara bergantian. 

Kakek saya sudah resmi menjadi anggota POLRI di kepolisian karesidenan Kediri dengan pangkat AKP (ajun Komisaris Polisi) pada tahun 1954. Lalu dengan mengantongi ijazah SMA, beliau pun lulus dan dapat masuk PTIK pada tahun 1955. Pada tanggal 30 Juni 1969, kakek saya ditunjuk untuk mengikuti Associate Course III pada SESKOAK di Lembang Bandung. Kegiatan ini diberi nama AC III wira Dharma Widya yang siswanya terdiri dari 36 orang yang terdiri dari perwira Polri yang berpangkat KBP dan pegawai tinggi dari Instansi – instansi sipil antara lain departemen pehubungan, direktorat jendral imigrasi, kehuitanan penerangan dan Ditjen Bea cukai. 

Selain pendidikan – pendidikan yang telah saya uraikan diatas, kakek saya juga mengikuti Indoktrinasi Administrasi Umum dari departemen Angkatan Darat pada tanggal 1 Juli sampai 23 Juli 1963 di Lembang bandung. 

Sekitar tahun 1943, kakek saya sempat bekerja di Rikuyu Sokyuku. Waktu itu tepatnya adalah masa – masa oendudukan tentara jepang di Indonesia. Kakek saya bercerita bahwa beliau sempat ikut membantu dan berperan aktif dalam memperjuangkan kebebasan Indonesia. Ketika rakyat Indonesia sedang gencar –gencarnya untuk menyerbu Kentepai Jepang untuk membalas dendam, kakek saya ikut andil dalam peritiwa itu. Beliau bersama – sama dengan rakyat Surabaya menyerbu markas tersebut. Walaupun hanya berbekal sebilah golok, rakyat Indonesia yang semangat juangnya tinggi, tidak mudah menyerah. Walaupun banyak korban berjatuhan, akhirnya Kentepai menyerah kalah. 


Begitulah sekilas cerita singkat dari perjalanan hidup kakek saya. Orang sekaligus pahlawan yang paling saya sayangi dan hormati. Hidupnya di tiga zaman yang berdedikasi tinggi pada Negara sungguh patut di abadikan. Semoga dengan ditulisnya perjalanan hidup kakek saya ini, dapat bermanfaat bagi semua pembaca untuk dijadikan panutan untuk masa depan.

No comments:

Post a Comment