Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Avitya Danastri XI IPA 2



Eyang Moechtiana, sosok perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial

Malang nasibmu, Indonesiaku...
tiga setengah abad engkau di jajah
kucuran keringat dan darah,
harta sekalipun nyawa di korbankan para pejuang.

63 tahun silam engkau bebas dari penjajahan, kata mereka.
malang nasibmu, indonesiaku...
engkau berada di tangan para penjilat harta dan tahta
sang merahputihpun tetap berkibar di sana,
seakan menampar muka para penguasa korup
Burung garudapun tetap bertengger di sana.

Burung garuda berkata "hai penguasa...!
turunkan aku dari sini, kau merongrong indonesiaku"
merekapun diam membisu, di anggapnya patung tiada guna.
malang nasibmu, indonesiaku...
mereka berebut kekuasaan...


Puisi diatas merupakan karangan dari Mawardi, yang berjudul Indonesiaku. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak sejarah. Sejarah merupakan  peristiwa masa lampau yang memiliki makna. Pada zaman dahulu, banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah yang mempunyai arti yang penting khususnya bagi Negara kita sendiri, Indonesia. Indonesia memiliki nilai sejarah yang amat banyak dan beragam. Oleh karena itu, hal ini menjadi salah satu alasan saya untuk mewawancarai eyang saya, yang bernama Eyang Moechtiana. Eyang saya besar disaat negara yang didiami masih dalam keadaan tidak stabil. Saat terjadi perang dunia ke-2 dan perang kemerdekaan, saat itu eyang saya masih menduduki sekolah dasar. Walaupun eyang saya tidak ikut membantu karena faktor umur yang masih kecil, tetapi eyang saya dapat merasakan suasana saat keadaan perang yang menghebohkan dunia itu.

BIOGRAFI

Eyang saya yang bernama Moechtiana, lahir di Demak tanggal 28 Juli 1935. Pada waktu kecil, eyang menghabiskan masa kecilnya di berbagai tempat, karena orang tua dari eyang saya merupakan pegawai negeri. Eyang Moectiana memiliki kakek yang bernama Dr. Angka Prodjosoedirdjo. Beliau merupakan salah satu pendiri organisasi Boedi Utomo, sebuah organisasi pemuda pertama yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Eyang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sebelum Kemerdekaan, ayah eyang ikut membela Indonesia saat Indonesia sedang dijajah Jepang.

Eyang saya mengenyam pendidikan sekolah rakyat (Schalkel School) di Magelang dan Yogyakarta. Schakel School adalah Sekolah Rakyat untuk persamaan dengan murid yang berasal dari Tweede Inlandsche School dan masa pendidikan adalah selama 5 tahun, sehingga lulusannya dipersamakam dengan lulusan HIS. Lalu melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMP dan SGA (Sekolah Guru Atas). Sekolah Guru Atas merupakan sekolah  khusus bagi murid yang ingin menjadi guru. Setelah lulus dari SGA, eyang mengajar di Sekolah Kepandaian Putri di Kebayoran dan Sekolah Dasar Perwari. Eyang banyak sekali mendapatkan pengalaman berharga saat menjadi guru.

Pada tahun 1959, Eyang Moechtiana menikah dengan Alm eyang kakung saya yang bernama Goek Soetcipto. Almarhum kakek saya merupakan sosok yang sangat menginspirasi dan beliau juga aktif dalam kegiatan membangun Negara. Setelah menikah, eyang mendampingi Alm Eyang kakung saya di Kalimantan, karena Eyang kakung saya merupakan kapolres.  Tahun 1960, Eyang dikaruniai anak pertama,  seorang bayi perempuan. lalu anak kedua yang lahir tahun 1962, dan anak ketiga lahir tahun 1964. Anak ketiga inilah yang merupakan ayah saya. Ketiga tiganya lahir di Kalimantan. Anak ke 4 lahir pada tahun 1966, dan lahir di Brebes. Lalu anak terakhir lahir di Semarang.  Di masa hidupnya sekarang, eyang sangat bahagia karena semua anak yang sudah ia didik sudah tumbuh dewasa dan membanggakan orang tua.



PERANAN

Eyang saya tidak terlalu banyak memiliki peran saat zaman kemerdekaan atau sebelum kemerdekaan, karena pada masa itu eyang saya masih kecil. Eyang saya lebih berperan sebagai pengamat sejarah pada masa lampau itu.

Saat kemerdekaan tahun 1945, eyang mengikuti Aubade di Gedung Negara Yogyakarta. Suasana di Gedung Negara Yogyakarta sangat ramai dan berlangsung mengharukan. Aubade adalah semacam Paduan Suara Besar, terdiri dari Dua ratusan lebih penyanyi. Suara sorak sorai bahagia karena kemerdekaan merupakan peristiwa penting yang dialami oleh Negara kita. Pada tahun 1948, saat Agresi Militer 2, orang tua eyang ikut memperjuangkan Indonesia. Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.  Eyang ikut orang tuanya mengantar surat untuk gerilyawan Indonesia dari kota Yogyakarta ke luar kota dimana gerilyawan Indonesia berada. Gerilya adalah salah satu strategi perang yang dikenal luas, karena banyak digunakan, selama perang kemerdekaan di Indonesia pada periode 1950-an. A.H. Nasution yang pernah menjabat pucuk panglima Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat (TNI-AD) menuliskan di buku "Pokok-pokok Gerilya". Bagi tentara perang gerilya sangatlah efektif. Mereka dapat mengelabui,menipu atau bahakan melakukan serangan kilat. Taktik ini juga manjur saat menyerang musuh jumlah besar yang kehilangan arah dan tidak menguasai medan. kadang taktik ini juga mengarah pada taktik mengepung secara tidak terlihat (invisible). Sampai sekarang taktik ini masih dipakai teroris untuk sembunyi. Jika mereka menguasai medan mereka dapat melakukan : penahanan sandera, berlatih, pembunuhan hingga menjadi mata-mata. Dan musuh dapat melakukan nomaden, yaitu berpindah- pindah. Gerilyawan itulah merupakan tawanannya.

“saat itu, eyang dibonceng ayah eyang naik sepeda sambil membawa guci yang isinya surat untuk gerilyawan, rasanya sangat mendebarkan”


Tahun 1966, setelah dari Kalimantan mengikuti suami dan melahirkan anak ketiga, eyang kembali ke Jawa dan mendampingi suami menjadi kapolres di Brebes, Semarang, Cilacap, Tegal, dan Yogyakarta. Pada waktu itu eyang juga berkesempatan untuk menjadi ketua Bhayangkari  cabang setempat dimana suami bertugas. Bhayangkari merupakan organisasi persatuan istri anggota Polri yang merupakan badan ekstra struktural Polri yang mempunyai ruang lingkup nasional dengan tujuan membantu meningkatkan dan memelihara kesejahteraan keluarga Polri. Eyang juga aktif dalam gabungan organisasi wanita setempat. Eyang bergerak dalam bidang kesejahteraan keluarga, keterampilan, dan kesehatan. Karena aktif dalam organisasi, maka eyang dicalonkan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat 1 Jawa Tengah dari tahun 1982 sampai dengan 1992. Dewan perwakilan rakyat daerah (disingkat DPRD) adalah bentuk lembaga perwakilan rakyat (parlemen) daerah (provinsi/kabupaten/kota) di Indonesia yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah bersama dengan pemerintah daerah. DPRD diatur dengan undang-undang, terakhir melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009
DPRD berkedudukan di setiap wilayah administratif, yaitu:
   Dewan perwakilan rakyat daerah provinsi (DPRD provinsi), berkedudukan di ibukota provinsi.
   Dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten (DPRD kabupaten), berkedudukan di ibukota kabupaten.
   Dewan perwakilan rakyat daerah kota (DPRD kota), berkedudukan di kota.
DPRD merupakan mitra kerja kepala daerah (gubernur/bupati/wali kota). Sejak diberlakukannya UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah tidak lagi bertanggung jawab kepada DPRD, karena dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah.
DPRD memiliki fungsi :
   legislasi,berkaitan dengan pembentukan peraturan daerah
   anggaran,Kewenangan dalam hal anggaran daerah (APBD)
   pengawasan,Kewenangan mengontrol pelaksanaan perda dan peraturan lainnya serta kebijakan pemerintah daerah
Tugas dan wewenang DPRD adalah:
   Membentuk peraturan daerah bersama kepala daerah.
   Membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang diajukan oleh kepala daerah.
   Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan APBD.
   Mengusulkan:
  Untuk DPRD provinsi, pengangkatan/pemberhentian gubernur/wakil gubernur kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan/pemberhentian.
  Untuk DPRD kabupaten, pengangkatan/pemberhentian bupati/wakil bupati kepada Gubernur melalui Menteri Dalam Negeri.
  Untuk DPRD kota, pengangkatan/pemberhentian wali kota/wakil wali kota kepada Gubernur melalui Menteri Dalam Negeri.
   Memilih wakil kepala daerah (wakil gubernur/wakil bupati/wakil wali kota) dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah.
 Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah.
 Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
 Meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
  Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah.
  Mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.


 Sebagai anggota DPRD tingkat 1 Jawa Tengah, eyang sering mendapatkan tugas ke daerah tingkat 2 untuk menyerap aspirasi masyarakat mengenai pembangunan agar diwujudkan dengan dana APBD tingkat 1 Jawa Tengah.
Eyang merasa sangat senang dapat membantu masyarakat dan menampung aspirasi mereka, karena aspirasi mereka sangat penting bagi pembangunan Indonesia.

Setelah pensiun, eyang aktif di dalam kegiatan pensiunan terutama dalam bidang sosial contohnya, mengurus koperasi simpan pinjam bagi masyarakat, dan lain-lain. Saat eyang pensiun, eyang tinggal di Yogyakarta tepatnya di Jl. Balapan, yang merupakan tanah magersari. Sampai sekarang, rumah eyang yang di Yogyakarta masih terawat dan disana terdapat juga kos kosan (penyewaan kamar) untuk mahasiswa. Saat ini Eyang sudah tinggal di Jakarta bersama tante saya. Saat eyang menceritakan sejarah ini, saya sangat sangat tertarik dan terkesima. Eyang berpesan bahwa, suatu hari nanti, para pemuda harus lebih baik daripada masa-masa sebelumnya, karena masa depan yang baik tergantung dari para pemudanya.






No comments:

Post a Comment