Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Bagus Arifianto XI IPA 4

R. Soekarsono, Veteran perang yang haus akan llmu

            Sejarah adalah sesuatu yang sangat peting dalam dunia ini. Tanpa sejarah, kita tidak akan bisa seperti sekarang ini. Kita tidak akan bisa belajar dari kesalahan – kesalahan di masa lalu. Namun, kita sesungguhnya tidak hanya belajar dari kesalahan yang pernah kita perbuat dan meniru apa yang sudah baik. Kita juga perlu belajar dari kesalahan – kesalahan dan segala sesuatu yang sudah baik dari orang lain, terutama pendahulu kita. Mungkin, itulah alasan mengapa saya menulis biografi dan peranan dari kakek salah satu teman saya, yaitu Jafar Saifuddin.

 


Biografi

            Klaten, itulah kota dimana seorang laki – laki yang akan menjadi pembela tanah air dan juga ayah yang baik itu lahir. Kota kecil di Jawa, pertengahan antara Solo dan Jogja. Tepatnya tanggal 29 bulan 3 tahun 1925. Sekitar 20 tahun sebelum Indonesia merdeka. Beliau adalah sosok yang tumbuh dan besar di Jawa, membuat beliau menjadi orang yang sangat kuat.
            Berawal dari masa kecilnya yang dihabiskannya di Taman Kanan Kanak di Solo. Hingga beliau SD atau pada jaman belanda disebut HIS dan lulus pada tahun 1939 atau berarti saat beliau berumur 14 tahun. Setelah itu, beliau melanjutkan SMP atau disebut RK-MULO dan lulus pada tahun 1942 di Solo.
            Tidak sampai disitu saja, beliau juga melanjutkan pendidikannya  di Jogja dengan masuk ke SMA Belanda, AMS. Namun pada  tahun kedua, sekolahnya bubar karena kedatangan Jepang. Dan akhirnya beliau melanjutkan SMA di SMA Solo hingga lulus pada tahun 1947. Pada tahun berikutnya, tahun 1948 beliau melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah di Jogja. Tepatnya di Universitas Gajah Mada fakultas Ekonomi.
            Tidak lama kemudian, karena harus mencari nafkah. Ia akhirnya menuju ke Jakarta untuk merantau dan mencari pekerjaan pada tahun 1949. Sesaimpainya di Jakarta, sembari bekerja beliau tetap menginginkan mendapatkan pendidikan kembali. Dan pada akhirnya, beliau masuk ke Universitas Indonesia dan kembali mengambil fakultas ekonomi.
            Setelah cukup lama di Jakarta, beliau akhirnya mendapatkan pekerjaan yang cukup layak. Beliau bekerja di sebuah kantor notaris di Jakarta. Namun, beliau mengalami bentrok dalam hal kuliah di Universitas Indonesia fakultas ekonomi dan pekerjaannya di kantor notaris. Dan pada akhirnya ia berpindah ke fakultas hukum di Universitas Indonesia juga yang kebetulan perkuliahannya diadakan sore hari. Setelah 5 tahun beliau kuliah di fakultas hokum, akhirnya beliau lulus sarjana pada tahun 1957.
            Gelar sarjana yang disandangnya membuahkan hasil yang sangat manis. Pada tahun 1960, beliau diterima di Bank Indonesia dan mulai kerja pada tahun itu juga. Selain bekerja di Bank Indonesia, beliau juga mengajar di Universitas Indonesia untuk program Notariat di Universitas Indonesia. Anehnya, beliau tidak mempunyai SK dari Universitas Indonesia. Beliau hanya bermodalkan izin dari Bank Indonesia untuk mengajar.

            Sekitar 15 tahun bekerja di Bank Indonesia, beliau akhirnya keluar dari Bank Indonesia. Namun, beliau masih tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai dosen di Universitas Indonesia, bedanya kali ini beliau sudah mendapatkan SK dari Universitas Indonesia. Pada akhirnya, tahun 1995 beliau memutuskan untuk berhenti untuk menjadi dosen dan akhirnya hanya menjadi pensiunan Bank Indonesia hingga akhir hayatnya.
            Tidak lupa, untuk pasangan hidupnya beliau memilih Sri Rahayoe untuk menjadi istrinya. Istrinya yang 3 tahun lebih muda darinya memberinya 4 orang anak bernamakan Haryo Atmoko, Budi Lestariati, Setyo Utomo, dan yang terakhir Tyas Utomo. Dan mempunyai belasan cucu. Pada akhir hayatnya, beliau tinggal di Jakarta. Tepatnya di daerah Radio Dalam, Jakarta Selatan. Yaitu Jl. Dwijaya 11A. Beliau juga mempunyai hobi yang cukup menarik dan sangat mencerminkan dirinya, yaitu membaca buku. Itu menandakan dirinya adalah sosok yang rajin dan selalu haus akan ilmu pengetahuan.
            Untuk masalah keluarga, ia merupakan sosok ayah yang sangat baik dan hebat. Terbukti dengan apa yang beliau inginkan terhadap anaknya dan keturunannya. Yaitu menjadi lebih baik dari pada dirinya sendiri. Terbukti dengan semua anaknya menjadi sarjana, 1 diantaranya melebihi beliau yang hanya mencapai tahap S2 dan 2 diantaranya sama dengannya yaitu S2.
            Dan untuk anak cucunya dan generasi penerusnya, ia berpesan yaitu:
1.     Kalau menuntut ilmu, mulailah sejak usia muda. Sekarang kita lihat banyak mahasiswa yang tak muda lagi usianya. Ternyata mereka mengakui, tidak semudah dulu sewaktu muda mempelajari sesuatu.
2.     Kalau belajar, jangan asal – asalaan da nasal meniru teman. Carilah, renungkanlah, temukanlah dan yakinilah yang kau anggap benar, walaupun berbeda pendapat dengan kawan lain.
3.     Jangan cepat – cepat putus asa kalau tidak lulus. Walaupun kita tidak lulus padahal sudah benar – benar, tetaplah belajar. Jangan mundur!
           
Peranan

            Berawal pada usia yang sangat muda. Peranan  beliau terhadap bangsa dan Negara ini dimulai. Baru saja lulus SMP, beliau langsung ditawari kerja di kampung halamannya. Bekerja sebagai pembantu juru tulis kantor ass. Wedana Kotagede di Wilayah Karesidenan Surakarta, itulah hal pertama yang ia lakukan bagi bangsa ini. Itu adalah saat dimana dahulu belum banyak orang yang cakap baca tulis, ia sudah cakap dan akhirnya menjadi juru tulis disaat usianya yang ke 14. Untuk sekedar informasi, pada zaman jepang dulu wilayah Kotagede dekat Jogja terdiri dari dua bagian, yaitu Wilayah Surakarta dan Wilayah Jogja. Namun, semenjak zaman Republik Indonesia, wilayah itu disatukan dan menjadi wilayah Jogjakarta.
            Tidak hanya itu, beliau juga merupakan veteran perang yang ikut berperang melawan Belanda. Dalam melawan Belanda, beliau tergabung dalam Detasemen II Brigade XVII dengan pangkat Letnan II. Detasemen II Solo yang dipimpin oleh Mayor Achmadi.





Dari salah satu cerita beliau, beliau pernah menceritakan hal yang cukup mengherankan dan sedikit membuat saya bingung. Yaitu saat beliau bertugas di dalam kota. Beliau menguasai bahasa Belanda dengan sangat lancer, namun itu tidak sama sekali membuat resiko dalam bertugas menjadi lebih ringan. Contohnya adalah saat beliau ditangkap oleh petugas patrol Belanda dan dimasukkan dalam markas Belanda “verhoor” ataupun ditanya secara lisan secara bertubi – tubi oleh sekumpulan tentara Belanda. Bertuntung sekali beliau pada saat itu berhasil lulus dari pertanyaan – pertanyaan tersebut dan akhirnya diperbolehkan pergi. Akan tetapi, setelah keluar dari markas Belanda, tepatnya di depan pasar Legi. Beliau jatuh karena lemas dan taka da satu orangpun yang mau menolongnya. Itulah yang awalnya membuat saya bingung. Namun pada akhirnya saya tau kenapa alasannya mereka tidak mau menolong beliau, yaitu karena mereka takut kepada Belanda, sebab mereka semua melihat saya baru saja keluar dari markas belanda pada saat itu.
Cerita lainnya adalah saat beliau diberondong oleh tentara Belanda. Saat itu beliau mendapat tugas untuk menemui komandannya yaitu Achmadi untuk menanyakan suatu hal. Saat beliau melewati jalan Tjolomadu – Manahan. Tiba – tiba ia mendengar suara gemuruh tembakan dan juga tank. Seketika beliau bergegas mencari perlindungan. Setelah melihat kanan kiri, ia tidak bisa menemukan tempat persembunyian karena di daerah situ merupakan daerah perumahan. Setelah lari cukup jauh, ia masuk ke selokan. Di dalam selokan beliau berdoa pada Allah karena beliau berpikir bahwa beliau akan meninggal saat itu juga. Namun, setelah cukup lama beliau akhirnya yakin selamat karena disana sangat banyak selokan sehingga Belanda tidak akan bisa menemukannya dan juga tidak ada lagi gerak – gerik Belanda yang terdengar.
            Cerita lainnya adalah saat beliau pernah bercerita tentang bagaimana beliau saat bertugas di Solo. Saat ia berada disana, beliau sangat merasa terbantu oleh “pasukan putri” ataupun juga wanita – wanita yang membantu para tentara untuk melakukan perang gerilya. Salah satunya dengan dipermudahkannya para tentara pada zaman itu untuk mendapatkan keperluan fisik, contohnya sabun, pasta gigi, makanan kecil dsb. Tetapi anehnya, beliau juga bingung mengapa tidak ada Belanda yang curiga dengan adanya segerombolan wanita yang selalu masuk ke suatu rumah dengan membawa banyak sekali makanan.
            Dan salah satu pengalaman lucu yang beliau pernah ceritakan adalah saat beliau berada pada salah satu perempatan. Beliau bertemu dengan Belanda dihadapannya, tanpa pikir panjang beliau langsung berbalik arah. Namun ternyata dibelakangnya ada tentara Belanda juga. Beliau bingung bukan kepalang saat itu. Dengan ide yang sedikit nyeleneh beliau berhasil melarikan diri. Idenya dalah beliau berpura – pura buang air besar di pinggir jalan. Saat itu beliau nongkrong di selokan jalanan sambil membuka celananya. Maka pada saat tentara Belanda itu datang, tentara itu hanya bertanya sedang apa dan malah mencela kelakuan beliau. Namun, sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah mengakui cerita ini lucu. Karena menurutnya, sesuatu yang lucu adalah relatif dan kondisional. Tentunya pada saat itu adalah saat yang genting, jadi menurut beliau itu adalah hal yang menakutkan.
            Dan sesungguhnya beliau jarang bertugas untuk keluar kota untuk berperang. Namun beliau sering bepergian untuk menyampaikan amanah ke Menteri di Jakarta. Untuk contohnya beliau  pernah ke Jakarta untuk menanyakan apakah menjelang caese fire dua pabrik gula Tjolomadu dan Tasikmadu dibumihanguskan ataukah tidak. Dan juga beliau lebih banyak bertugas di dalam kota untuk menjaga keamanan kota. Namun, itu juga merupakan hal yang sangat berat dan merupakan tantangan yang sangat besar pada zaman itu. Jadi, apapun yang anda lakukan untuk negara ini. Yang terpenting adalah anda sudah berkorban dan berjuang demi bangsa ini.
           
           

            

No comments:

Post a Comment