Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 Biografi - Addo Djati Pradhipta XI IPA 4

R.Soewandi, Pelajar Sekaligus Berperang

A. Biografi

Pada tanggal 29 November 1929 di kota Jember lahirlah seorang anak laki-laki dari pasangan Martosoedirdjo dan R.Ng Sumarti  yang diberi nama R. Soewandi. Sang ayah adalah seorang kepala Pegadaian berawal di Jember, kemudian berpindah dari kota ke kota seperti Lumajang,Sumenep dan Madiun. Sedangkan sang Ibu adalah seorang ibu rumah tangga, sosok ibu yang penuh kelembutan dalam membimbing dan membesarkan anak-anaknya. R. Soewandi yang kakek saya ini adalah anak ke dua dari lima bersaudara yang terdiri dari dua anak lelaki dan tiga anak perempuan.

Kakek saya tumbuh dan berkembang sebagai siswa di kota Jember. Menyelesaikan Sekolah Dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Hollandsch-Inlandsche School (HIS) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah. Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.

Saat Sekolah Menengah Pertama beliau sekolah di SMPN Jember tahun 1942, dan Sekolah Menengah Atas di TRIP Malang tahun 1946, tepatnya tanggal 1 Agustus 1946. Masa-masa sekolah beliau adalah masa-masa yang sulit dimana situasi dan kondisi bangsa Indonesia saat itu harus berjuang untuk memperoleh kemerdekaan dari pihak penjajah Belanda. Pagi hari beliau belajar, dan malamnya beliau melawan Belanda. Beliau sempat terdesak ketika baku tembak melawan Belanda.

Tiap pelajar yang ikut berjuang harus tergabung dalam kesatuan pejuang pelajar yang disebut Tentara Republik Indonesia Pelajar atau disingkat TRIP. Beliau bergabung dengan TRIP saat masih di bangku Sekolah kelas 2 SMA dan menjadi anggota Kompi 1 Brigade 17 yang Markas Besarnya di Madiun.

B. Peranan

Sejarah nama Tentara Pelajar diberikan kepada Bagian Pertahanan IPI setelah melebur jadi Brigade 17 TNI pada tahun 1948 di bawah kendali Markas Besar Komando Djawa (MBKD). Kesatuan pelajar ini dibagi menjadi 4 Detasemen: I untuk Jawa Timur yang lebih dikenal dengan nama Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di bawah komando Isman; II di Solo, Semarang dan sekitarnya di bawah komando Achmadi; III di Yogyakarta, Kedu, Banyumas, Pekalongan dan sekitarnya di bawah komando Martono serta Detasemen IV di Cirebon dan Jawa Barat umumnya dengan julukan Tentara Pelajar Siliwangi (TPS) di bawah komando Solichin. Dan satu detasemen khusus teknik bernama Tentara Genie Pelajar (TGP) di bawah komando Hartawan.

Surat pengangkatan Kompi 1 Brigade 17 yang ditandatangani oleh Mas Isman, selaku Mayor Mas Isman sendiri merupakan pejuang RI yang tak asing lagi di lingkungan komunitas para pejuang RI, khususnya TRIP. Mas Isman ini adalah ayah dari Hayono Isman, mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI di era Orde Baru tahun 1993-1998.

Kekompakan anggota Kompi 1 Brigade 17 patut diacungi jempol karena dari keseluruhan anggotanya dapat saling melindungi di tiap aksi gerakan militer. Kekompakan dan rasa solidaritas yang tinggi untuk selalu bisa melindungi ini membuat keseluruhan personil dalam tim tetap bisa bertahan hingga perang Kemerdekaan usai.

Tugas pertama beliau adalah Operasi Militer ke satu atau yang disebut Agresi Militer Belanda I yang terjadi pada tanggal 21 Juli sampai 5 Agustus tahun 1947. Berperang melawan Belanda di saat beliau harus menuntut ilmu. Beliau bercerita ketika berperang ia menyaksikan temannya sendiri gugur dalam berperang dan tiada waktu untuk beristirahat dalam menyerang maupun berlindung dari serangan Belanda. Kemudian beliau mengikuti Agresi Militer Belanda II, yang terjadi pada tanggal 19 sampai 20 Desember 1948. Belanda menyerang di Pulau Jawa dan Sumatera. Selama berperang beliau termasuk dalam Komando III dan di pimpin oleh Majoor Isman.

Dari penghargaan yang di dapat beliau terdapat Satyalancana G.O.M I, beliau telah mengikuti operasi militer terhadap Peristiwa Madiun pada tahun 1948. Peristiwa ini merupakan konflik kekerasan yang terjadi di Jawa Timur bulan September – Desember 1948 antara pemberontak komunis PKI dan TNI. Peristiwa ini diawali dengan diproklamasikannya Negara Republik Soviet Indonesia pada tanggal 18 September 1948 di Kota Madiun oleh Muso, seorang tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung pula oleh Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifoeddin.

Pada saat itu hingga era Orde Lama peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun, dan tidak pernah disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Baru di era Orde Baru peristiwa ini mulai dinamakan Pemberontakan PKI Madiun.

Bersamaan dengan itu terjadi penculikan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Madiun,baik itu tokoh sipil maupun militer di pemerintahan ataupun tokoh-tokoh masyarakat dan agama.

Masih ada kontroversi mengenai peristiwa ini. Sejumlah pihak merasa tuduhan bahwa PKI yang mendalangi peristiwa ini sebetulnya adalah rekayasa pemerintah Orde Baru (dan sebagian pelaku Orde Lama).

Panglima Besar Soedirman menyampaikan kepada pemerintah, bahwa TNI dapat menumpas pasukan-pasukan pendukung Muso dalam waktu 2 minggu. Tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di otel Merdeka di Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.

Baru pada akhir bulan November 1948 seluruh pimpinan dan pasukan pendukung Muso tewas atau dapat ditangkap. Sebelas pimpinan kelompok kiri, termasuk Amir Syarifuddin Harahap, mantan Perdana Menteri RI, dieksekusi pada 20 Desember 1948 di makam Ngalihan, atas perintah Kol. Gatot Subroto.

Penghargaan lainnya yaitu Satyalancana G.O.M II, operasi militer terhadap Angkatan Perang Ratu Adil pada tahun 1950. Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil atau Kudeta 23 Januari adalah peristiwa yang terjadi pada tanggal 23 Januari 1950 dimana kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang ada di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling yang juga mantan komandan Depot Speciale Troepen (Pasukan Khusus) KNIL, masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui. Aksi gerombolan ini telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda.


Penghargaan selanjutnya yang kakek saya dapatkan adalah Satyalancana Penegak. Satyalancana Penegak adalah penghargaan kepada Anggota Bersenjata Republik Indonesia yang secara aktif sedikit-dikitnya 30 hari sejak 1 Oktober 1945 sampai tanggal yang ditentukan oleh Menteri Utama Bidang Pertahanan Keamanan dalam gerakan pembersihan dan pemberantasan G-S-30 PKI.

Dan beliau wafat pada tanggal 18 September 1997 ketika saya berusia satu tahun delapan bulan. Makam beliau berada di Taman Makam Pahlawan Kalibata karena kakek saya mendapatkan Bintang Gerilya. Bintang Gerilya, adalah sebuah tanda kehormatan yang dikeluarkan oleh Presiden Indonesia kepada setiap warga negara RI yang menunjukkan keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan republik semasa revolusi antara tahun 1945-1950, terutama saat Agresi Militer Belanda I (20 Juni 1947 - 22 Februari 1948) dan Agresi Militer Belanda II (18 Desember 1948 -27 Desember 1949).

Bintang Gerilya berbentuk sebagai berikut:

Sebuah bintang bersudut lima dibuat dari baja dengan garis tengah 42 milimeter dan tengah-tengah di dalam lingkaran dengan garis tengah 20 milimeter dilukiskan tulisan ”PAHLAWAN GERILYA” dengan dilingkari rangkaian padi.

Bintang disertai Patra yang bentuk dan kombinasinya sama dengan bintangnya, berukuran garis tengah 60 mm.

Pita Bintang berupa Pita Kalung yang berukuran lebar 35 mm dan berwarna dasar merah dengan 3 lajur berwarna putih lebar 3.5 mm yang membagi dalam bagian-bagian yang sama.

Kompi 1 Brigade 17 terdiri dari:

1. Komandan Isman, T.R.I.P., BG 17 det. 1 (1946-1949)

2. Murachman,T.R.I.P., BG 17 det. 1 (1946-1947)

3. Pratomo, T.R.I.P, BG 17 det 1 (1948-1949)

Dari ratusan anggota regu Kompi 1 Brigade 17, banyak kisah suka dan duka yang mereka lalui bersama di masa perjuangan. Bahkan hingga akhir hayatnya, hubungan satu sama lain diantara mereka layaknya saudara.

Kakek saya sering berbagi cerita kepada anak-anak dan menantunya, termasuk berbagi cerita kepada ayah dan ibu saya. Saat makan malam adalah saat yang tepat bagi kakek untuk berbagi cerita. Dalam masa perjuangannya, banyak kejadian-kejadian suka maupun duka yang sangat mengharukan. Saat dimana mereka dapat mengatasi hal-hal tersulit bersama. Cerita duka misalnya saat-saat dimana mereka mengetahui bahwa rekan sesama pejuang dari Kompi lain gugur dalam pertempuran. Masa-masa seperti inilah yang membuat mereka di Kompi 1 semakin solid.

Banyak hal lucu namun mengharukan yang disampaikan beliau kepada ayah dan ibu saya. Satu cerita lucu di dalam perjuangan adalah ketika mereka berjalan pada malam hari menyusuri hutan di Jawa Timur. Saat itu malam gelap menyelimuti hutan, dan mereka harus terus berjalan menyusuri hutan untuk mengejar waktu agar tiba di tempat. Saat itu malam gelap menyelimuti hutan, dan mereka harus terus berjalan menyusuri hutan untuk mengejar waktu agar tiba di tempat tujuan sebelum fajar menyingsing.

Ketika di dalam hutan, Komandan Kompi 1 memberi aba-aba untuk berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun karena malam yang gelap dan mereka tak boleh mengeluarkan suara-suara yang berisik, maka hanya aba-aba saja yang dapat disampaikan oleh sang Komandan untuk menginstruksikan seluruh anggota Kompi untuk berhenti. Sayangnya pesan berantai yang disampaikan sang Komandan tak bisa diterjemahkan secara baik oleh seluruh anggota Kompi. Akhirnya salah satu muka dari teman kakek saya terbentur dengan bazooka sehingga bibirnya membengkak.

Beliau melanjutkan kuliah Sarjana S2 di Universitas 17 Agustus 1945. Kemudian setelah menjadi pejuang veteran, kakek saya bekerja menjadi pengawas pabean di Direktorat Bea Cukai. Hingga naik pangkat dan pensiun pada umur 65 tahun.



No comments:

Post a Comment