Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Adhitya Bayu Siswonegoro

Mohammad Suratma, Pejuang dari Wonosobo

 

             Jika kita berbicara tentang Indonesia, maka tak pernah lupa kita tentang sejarah perjuangan kemerdekaan. Karena apa yang kita dan generasi-generasi kini rasakan tak lain adalah hasil perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan pikiran, jiwa, dan raga mereka demi harumnya NKRI kita tercinta ini. 

                 Semua sejarah beserta ilmu-ilmu di dalamnya pastinya telah kalian semua ketahui baik di sekolah ataupun lewat orang-orang disekitar anda. Sebagai manusia yang dilahirkan dengan kapasitas otak

 nya, menuntut ilmu tidaklah mengenal waktu. Kapan pun, dimana pun itu kita dapat dapat menuntuk ilmu sekecil apapun. Walaupun sejarah bersifat lampau tapi lewat sejarah inilah generasi kini diajarkan untuk belajar dari kesalahan yang lalu dan mengamalkan sesuatu yang positif kedepannya. Dengan begitu diharapkan generasi-generasi mendatang dapat melahirkan tunas-tunas bangsa yang akan membawa Indonesia pada kejayaannya kelak nanti.

                 Pada kali ini, saya berkesempatan untuk mewawancarai kakek saya sendiri, Mohammad Suratma (90). Beliau adalah pejuang kemerdekaan di zamannya, kala nasib negeri ini masih terombang-ambing disamping hebohnya Perang Dunia 2. Walaupun sempat sedikit kesulitan mencerna cerita dari kakek karena terbatasnya daya ingat beliau, tapi akhirnya tugas ini dapat diselesaikan berkat bantuan dari keluarga, karena itu selain pada kakek, saya juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang sudah ikut membantu meringankan tugas saya. Akhir kata sebelum memulai titian cerita-cerita perjuangan kakek, saya harap rangkaian cerita dibawah ini dapat menginspirasi kalian semua untuk memulai hidup yang lebih baik.

 A. Biografi

                Mohammad Suratma, pria kelahiran Wonosobo pada tahun 1923, tepatnya tahun ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Ia merupakan anak ke 2 dari 12 bersaudara. Beliau adalah anak dari seorang pensiunan kepala penilik sekolah jaman kependudukan Belanda.

                 Mohammad Suratma atau yang akrab di panggil Suratma kala itu bersekolah di H.I.S. (Hollands Inlandse School) atau yang saat ini lebih sering kita sebut SD sampai dengan kelas 7. Kala itu SD terbagi menjadi 4 jenis yaitu :

                1. E.L.S. (Europeese Lagere School), sekolah yang dikhususkan untuk orang Belanda.

                2. H.I.S. (Hollands Inlandse School), sekolah yang dikhususkan untuk masyarakat pribumi. Murid diajarkan bahasa Belanda.

                3. Sekolah Dasar

                4. Sekolah Desa

                 Namun tidak sampai lulus SD, Suratma bersama keluarganya memutuskan pindah ke Madiun untuk alasan tertentu. Disana dia kembali meneruskan pendidikan H.I.S. sampai dengan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau yang biasa disebut dengan SMP di masa kini.

                 Setelah lulus MULO, Suratma pindah ke Surabaya untuk meneruskan impiannya mengikuti sekolah teknik selama 2 tahun. Lalu pada tahun 1942 Suratma pindah lagi ke Jakarta untuk meneruskan sekolah tekniknya. Ia tinggal di Jalan Budi Utomo. 

                Di tahun yang sama juga terjadi sebuah peristiwa yang tidak bisa dilupakan masyarakat Indonesia kala itu. Yaitu menyerahnya pemerintah India-Belanda kepada tentara Jepang yang berlangsung di Pangkalan Udara (Lanud) Kalijati. Dekat Subang, Jawa Barat. Pada 9 Maret 1942, bertempat di Lanud Kalijati, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di India Belanda, Letnan Jenderal Hein Ter Poorten, mewakili Gubernur Jenderal India-Belanda, Tjarda van Starckenborgh-Stachouwer,  menandatangani dokumen ‘Menyerah-Tanpa-Syarat’ kepada balatentara Dai Nippon yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, dan menyerahkan seluruh wilayah jajahannya -India Belanda- kepada Jepang. Menjadikan Indonesia bebas dari penjajahan Belanda. Jepang memasuki ke Indonesia.

         Setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tonggak pertama,  menyerahnya Belanda kepada Jepang pada 9 Maret 1942 merupakan tonggak kedua yang terpenting menuju berdirinya Republik Indonesia.

                 Saat Pasukan Jepang tiba di Jakarta, Suratma juga bersama teman-temannya menunggu di daerah Harmoni sambil mengelu-elukan Jepang dan meneriakkan: "Hidup Jepang.. Hidup Jepang" begitulah mereka bersorak-sorak ketika pasukan Jepang berbaris memasuki Jakarta. 

                Di masa pendudukan Jepang dari 9 Maret 1942 sampai 15 Agustus 1945, bangsa Indonesia menumbuhkembangkan rasa ‘senasib dan seperjuangan’ serta memperoleh kesempatan membangun kekuatan bersenjata, yang kemudian menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia yang sangat berguna dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia terhadap agresi militer Belanda. 

                Bersama dengan teman-temannya, Suratma pun membentuk perkumpulan pembela Jepang. Namun setelah niat Jepang yang sebenarnya mulai terlihat yang menguasai seluruh wilayah bekas jajahan Belanda.             Perkumpulan yang dibuat Suratma bersama teman-temannya pun memberontak. Perkumpulan itu bubar untuk mencari jalannya masing-masing. Namun Suratma yang dulunya orang Surabaya, memutuskan untuk kembali ke Surabaya.

                 Sampai di Surabaya, Suratma bergabung dengan pemuda perjuangan Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo.

                 Setelah melalui serangkaian peperangan, Suratma memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Di Jakarta Suratma bertemu dengan teman-teman lamanya, Suratma dan teman-temannya bersama-sama pindah ke Bandung. Disana mereka bertemu kembali dengan beberapa kawan lamanya juga yang sudah masuk ke dalam Batalion. Suratma bersama teman-temannya dari Jakarta diperkenalkan dengan komandan Batalion tersebut, dan bergabung kedalam pasukan itu.

                 Perjuangan mereka pun dimulai kembali, salah satunya adalah mempertahankan daerah sepanjang kali Citarum. Pada suatu saat mereka juga menyerbu rumah sakit Situ Saur di Bandung Selatan, karena Batalion tersebut membutuhkan obat-obatan. 

                Perang besar pun juga terjadi, yang dikenal dengan Perang Bandung Lautan Api di daerah Cilampeni, Suratma bersama pemuda perjuangan kembali dihujani mortir oleh Pasukan Belanda.

                 Malam harinya setelah pemakaman prajurit, Suratma kembali ke Cilampeni. Beliau melewati balong-balong milik masyarakat setempat. Tapi suatu saat Suratma terpeleset dan tercebur ke dalam balong itu yang isinya adalah kotoran-kotoran. Keesokan harinya Suratma terkena penyakit eksim pada kaki kirinya dan harus di opname di Rumah Sakit Majalaya selama satu setengah bulan.

                 Setelah sembuh, bersama dengan para pemuda perjuangan lainnya, Suratma kembali ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, kelompok mereka dinyatakan sebagai perintis kemerdekaan. 

                Suratma aktif di militer sampai Tahun 1958, lalu mengundurkan diri dari militer untuk berkarir sebagai orang sipil. 

                Pada tahun 1960, Suratma bekerja di Perkapalan selama 2 tahun. Lalu mengikuti pelatihan menjadi calon Perwira di kapal. Ada 3 bagian : Deck, Mesin, dan Komunikasi. Suratma memilih bagian mesin dan mengikuti pelatihan Kemaritiman bidang mesin selama 1 tahun. 

                Selesai pelatihan, beliau mengikuti ujian dan lulus menjadi perwira jabatan Masinis-4 dengan ijazah sementara. Lalu mengikuti pendidikan lagi selama 2 tahun untuk menjadi Masinis-3. 

                Dari Masinis 3 harus punya pengalaman bekerja 2 tahun untuk jadi Masinis-2. Setelah itu ikut pendidikan lagi selama 2 tahun untuk jadi Masinis-1 sampai akhirnya Suratma pun menjabat sebagai Chief Engineer di kapal. Ia pun berlayar ke seluruh daerah Asia Timur, Eropa, dan Amerika hingga akhirnya pensiun pada pertengahan 1980-an.

 b. Peran-peran

                Dalam hidupnya yang juga sebagai pelajar, banyak peran-peran untuk Indonesia yang beliau lakukan. Pada awalnya bersama dengan teman-temannya, Suratma membentuk perkumpulan pemuda untuk membela Jepang. Namun semakin lama niat Jepang yang sebenarnya mulai terlihat. Mereka tidak bermaksud membela Indonesia, tapi justru menjajah Indonesia. Setelah berhasil menguasai seluruh wilayah bekas jajahan Belanda, pimpinan militer Jepang menyadari, bahwa mereka tidak dapat mempertahankan seluruh wilayah pendudukannya tanpa bantuan dari penduduk yang dijajahnya, karena kekuatan militernya tidak mencukupi. Apalagi perang di Eropa sejak tahun 1942 telah mengalami perubahan peta kekuatan dengan ikut sertanya Amerika Serikat ke dalam kancah peperangan. Jepanglah yang memulai perang melawan Amerika Serikat dan kemudian merebut semua jajahan Perancis, Inggris dan Belanda. Oleh karena itu, pimpinan militer Jepang memutuskan untuk melatih pribumi di wilayah pendudukannya untuk menjadi tentara. Hal ini semata-mata untuk kepentingan Jepang. 

                Perkumpulan yang dibuat Suratma bersama teman-temannya pun memberontak setelah orang-orang Jepang mengatakan “Pemuda Indonesia di Bandung adalah Pemuda peuyem (Lembek)". Perkumpulan itu bubar untuk mencari jalannya masing-masing. Namun Suratma yang dulunya orang Surabaya, memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Beliau naik kereta api tanpa ongkos, karena disaat itu masyarakat memaklumi pemuda-pemuda pejuang. 

                Sampai di Surabaya, Suratma bergabung dengan pemuda perjuangan Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo. Merekapun memulai serangkaian perlawanan terhadap pasukan Jepang. Salah satunya adalah perampasan senjata-senjata milik tentara Jepang yang disimpan di Stasiun Gubeng.  Senjata itu kemudian dibagikan kepada para pemuda perjuangan, salah satunya adalah Suratma yang ikut dapat senjata rampasan tersebut. 

                Kejadian yang tidak bisa dilupakan adalah ketika para pemuda perjuangan Surabaya diserang oleh Belanda pada tahun 1944. Disaat itu para pemuda posisinya berada di fiaduct Pasar Turi dimana mereka bisa melihat leluasa tentara-tentara belanda di bawah. Mereka menembaki tentara-tentara Belanda yang melintas di mata mereka. Tapi Belanda juga datang dengan kapal perangnya dan menghujani mortir ke arah para pemuda. Banyak diantara mereka yang tewas secara mengenaskan. Kalah kekuatan, Suratma memutuskan untuk melarikan diri ke Pasar Turi untuk mencari tempat yang strategis untuk menyerang pasukan Belanda. Disaat inilah Suratma bertemu dengan seorang tentara Belanda secara frontal. Ini adalah pertama kalinya beliau dihadapkan secara terang-terangan dengan pasukan musuh. Mengetahui dirinya harus menembak sebelum ditembak, maka Suratma melepaskan tembakan dan menghantam dada tentara belanda tersebut sampai tidak bernyawa. Melihat wajah tentara yang dibunuhnya membuat Suratma sedih karena memikirkan keluarga dari tentara tersebut dan membayangkan apa yang terjadi jika ia yang tertembak. Disaat itu beliau terus dihantui oleh rasa bersalah. 

                Kemudian  Suratma dan teman-temannya melarikan diri lagi ke kebun binatang Surabaya, di tempat itu mereka berhasil selamat. Mayat-mayat tentara Belanda berserakan dimana-mana, teman-teman Suratma yang selamat memperebutkan jam tangan yang dipakai oleh pasukan Belanda. Setelah kira-kira seminggu tinggal di Surabaya, Suratma memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Beliau naik kereta api secara gratis karena membawa senjata. 

                Di Jakarta Suratma bertemu dengan saudara sepupunya sekaligus teman semasa kecilnya, Kharis Suhud. Ketika itu Kharis ingin ikut bergabung masuk tentara, namun dia tidak mempunyai senjata yang di kala itu di Jakarta hanya orang-orang yang mempunyai senjata yang bisa masuk tentara. Suratma cuma memiliki 1 senapan, tapi ia juga punya 1 buah granat hasil rampasan. Ia pun memberikan granat itu kepada Kharis agar ia bisa menjadi tentara. Kharis Suhud inilah yang kemudian menjadi Jenderal di Angkatan Darat dan pada era kepemimpinan Presiden Soeharto, beliau sempat menjabat sebagai Ketua MPR/DPR RI sebelum pensiun. 

                Setelah bertemu dengan teman-teman lamanya, Suratma dan teman-temannya bersama-sama pindah ke Bandung. Disana mereka bertemu kembali dengan beberapa kawan lamanya juga yang sudah masuk ke dalam Batalion. Suratma bersama teman-temannya dari Jakarta diperkenalkan dengan komandan Batalion tersebut, dan bergabung kedalam pasukan itu. 

                Perjuangan mereka pun dimulai kembali, salah satunya adalah mempertahankan daerah sepanjang kali Citarum. Pada suatu saat mereka juga menyerbu rumah sakit Situ Saur di Bandung Selatan, karena Batalion tersebut membutuhkan obat-obatan. 

                Perang besar pun juga terjadi, yang dikenal dengan Perang Bandung Lautan Api di daerah Cilampeni, Suratma bersama pemuda perjuangan kembali dihujani mortir oleh Pasukan Belanda. Pada perang ini, Suratma kehilangan 1 sahabat terbaiknya yang tewas dihantam mortir milik Belanda. Namun Suratma bersikeras untuk membawa jenazah temannya yang sudah kehilangan kepala dan tangan kanannya. Dengan bajunya sendiri, Suratma membungkus jenazah itu untuk dimakamkan. 

                Meskipun harus hidup di masa-masa sulit, tetapi Kakek tidak pernah mengeluh ataupun menyesali takdirnya justru beliau merasa bangga dengan pencapaiannya pada negeri ini. "Suatu kebanggaan dan kehormatan buat bisa ikut berjuang dibawah Merah-Putih" begitu beliau mengakhiri titian pengalaman hidupnya.

 

 


No comments:

Post a Comment