Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Adinda Farah Fadila XI IPA 4

Memulai dari minus
Pahlawan, tentu Indonesia tidak akan merdeka tanpa jasa pahlawan jaman dahulu. Namun, apakah arti pahlawan? Menurut saya, pahlawan adalah orang yang memberikan jasa yang berkualitas bagi bangsa, negara, maupun agama. Pahlawan adalah sosok yang berani dan juga rela berkorban.
Saat guru sejarah saya, yaitu bapak Moh. Shobirienur Rasyid memberikan tugas untuk membuat biografi salah satu pahlawan pada zaman kemerdekaan. Teman-teman disekitar saya lansgung berfikiran tentang nenek dan kakek yang dulu berkontribusi untuk memerdekakan Indonesia, tetapi orang pertama yang melintas di fikiran saya adalah Eyang Putri (nenek dari mama) karena berdasarkan pengetahuan saya beliau dulu pernah menjadi seorang bidan. Mengapa saya berfikiran bidan sebagai pahlawan? Karena saya fikir dengan bidan yang membantu ibu melahirkan anak secara sempurna, sebuah bibit baru itu yang kelak nanti membawa Indonesia ke tempat yang lebih baik.
Pada hari minggu 26 Mei 2013, saya berkunjung ke rumah Eyang yang terletak di daerah Pasar Minggu bersama kakek yang biasa saya panggil Eyang Kung. Seperti biasa,  Eyang selalu senang menyambut cucu perempuan yang ke dua ini apalagi saat saya bilang bahwa saya ingin membuat biografi Eyang. Dari saya kecil sampai sekarang Eyang paling senang bercerita, entah dongeng, cerita seram sampai cerita zaman dahulu. Jadi, dengan senang hati eyang bercerita masa hidup nya dari berambut hitam ke rambut putih.
Berikut ini adalah biografi dan beberapa peranan Eyang Ti.

Biografi
Ratna Aswan lahir pada hari minggu tanggal 4 Februari 1940 di Lahat, Sumatra Selatan. Walaupun lahir di Sumatra Selatan, Eyang berdarah padang dari kedua orangtua nya yang bernama Hj.Hafsah dan Hj. Moh. Rachim. Beliau merupakan anak ke-3 dari enam bersaudara.
Pekerjaan bapak Eyang adalah guru bahasa belanda, ia fasih berbahasa belanda karena sering berbicara bahasa belanda dengan orang belanda yang pada zaman nya masih menguasai Indonesia. Akan tetapi, kefasihan nya berbahasa belanda membuat rakyat pribumi curiga dengan nya. Hal itu membuat Bapak Rachim pindah ke Jakarta membawa seluruh keluarganya, di sekitar tahun 1950an.
Pindah ke Jakarta berdampak besar pada Eyang dan keluarganya. Eyang harus beradaptasi dengan suasana yang baru dan tabiat orang-orang di Jakarta yang tentu nya berbeda dengan Lahat. Kondisi Ekonomi juga lebih susah, kebanyakan kebutuhan pokok yang harga nya lebih mahal. Walaupun susah Eyang harus bersikap positif dan membantu kedua orang tua.
Ibu Eyang, Hj. Hafsah bekerja sebagai dukun anak. Setiap hari, eyang mengunjungi ibu nya sepulang sekolah dan ikut membantu. Melihat lahirnya sebuah kehiupan baru tiap hari nya membuat Eyang bercita-cita untuk menjadi dokter kelak nanti.
Untuk mewujudkan tekadnya menjadi dokter, Eyang belajar dengan tekun selama SD sampai SMP di Sekolah Rakyat (daerah pesanggrahan barat) dan tidak pernah mendapat peringkat kurang dari 3. Prestasi nya itu sebagai panutan buat adik-adik nya. Saat ingin masuk ke pendidikan SMA, Eyang harus putus sekolah, Eyang rela harus berhenti agar adik-adik nya bisa mendapat pendidikan yang setara dengan beliau.
Setelah lulus dari Sekolah Rakyat (SMP), Eyang mulai mencari pekerjaan. Sayang sekali setelah melamar ke puluhan tempat mengitari Jakarta, tidak satupun mempekerjakan Eyang. Alasan Eyang tidak diterima selalu sama yaitu wajah nya yang terlihat telalu muda. Walaupun kecewa, Eyang akhirnya berpindah aliran untuk belajar Akutansi di Cikini.
Karir nya di dunia Akuntansi tidak berlangsung lama, beliau malah beralih sekolah yaitu ke Sekolah Guru Kepandaian Putri yang disingkat SGKP (hanya ada pada tahun 1950-1975). SGKP mengajarkan berbagai keahlian contoh nya cara memasak, membuat baju, dan bermacam pekerjaan wanita lain nya. Di SGKP, ujian nya berbentuk praktikum. Dengan demikian, praktikum dilakukan setiap minggu dan setiap praktikum murid harus mempersiapkan bahan nya sendiri. Bahan yang dibutuhkan untuk membuat baju sangatlah mahal dan akhirnya Eyang menyimpulkan bahwa bersekolah di SGKP hanya menghabiskan uang saja dan memutuskan untuk keluar.
Jalan demi jalan Eyang tapaki dan tidak ada yang cocok untuknya. Beliau mulai putus asa dengan masa depan nya. Semua yang ada di bumi membutuhkan uang. Sampai suatu saat ia sedang membereskan kamarnya, dan terlihat secarik kertas berisikan impian nya yang ditulis saat beliau umur 6 tahun. “ingin menjadi dokter kandungan, bisa membantu orang-orang di kampung” itulah yang tertulis sebagai impian nya. Hati beliau termenuh, dan langsung berkata kepada diri nya sendiri bahwa dia akan mewujudkan mimpi nya.
Beliau rasa untuk menjadi dokter membutuhkan biaya yang sangat banyak, dan orang tua nya tidak mampu membiayai eyang untuk kuliah. Seperti nya keberuntungan sedang ada di tangan Eyang saat Eyang baca dikoran ada penerimaan bidan di RS Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat.
Eyang memulai sekolah bidan dari tahun 1958-1960, selama tiga tahun. Tahun ke tahun, beliau mengalami banyak pengalaman yang sangat tidak terlupakan. Semakin banyak rintangan yang dilalui selama praktik dibuat nya sebagai pelajaran berharga. Pada enam bulan terakhir di sekolah bidan, semua calon bidan ditugaskan untuk mencari/menangani sebanyak kurang lebih dua ratus pasien. Tugas itu merupakan syarat terakhir untuk mengikuti ujian akhir. Ujian akhir dibagi menjadi tiga bagian yaitu, pathologi, persalinan dan labolatorium.
Karir eyang dalam perbidanan berlangsung selama kurang lebih empat tahun. Menurut eyang empat tahun itu adalah empat tahun yang menguras fisik dan batin beliau, tetapi juga mencakup tahun tahun yang menantang dan pertama kali nya eyang mencitai pekerjaan nya.
Eyang tidak melanjutkan karir nya karena, beliau menemukan pasangan hidup nya yang bernama Sugianto. Beliau memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak nya. Tidak sedetikpun eyang menyesal mengurus anak nya, beliau bangga karena sekarang anak-anak nya memiliki hidup yang jauh lebih baik dari hidup yang harus dilaui nya dulu.
Ratna aswan dan Sugianto memiliki 5 anak :
1. Ir. Gia Oktaviani AD
2. Augi Aswanto (Almarhum)
3. Gia Oktarina
4. Ir. Riko Indrawardana
5. Gia Kartika Permata

Peranan
Pada bulan ke 6 di tahun ke II (sekitar tahu  1960-an) beliau meenuntut ilmu di sekolah bidan, ia ditugaskan untuk praktek kerja ke kampung-kampung salama 3 bulan. Selama praktik Eyang didampingi dengan 1 dokter kandungan. Di kampung yang terletak di Jakarta Utara ini banyak kejadian yang eyang alami.
Pertama kali Eyang menginjak kampung itu, beliau langsung berfikir betapa kumuh nya kampung itu. Rumah-rumah nya tidak seperti rumah biasa melainkan sebuah rumah panggung. Lebih aneh nya lagi, di bawah rumah panggung/kolong rumah, penduduk memelihara banyak babi.
Setiap hari Eyang bisa mengatasi dua sampai tiga persalinan. Sehubungan dengan kondisi ekonomi penduduk disitu rendah Eyang jarang diberi upah, namun Eyang ikhlas karena tujuan pertama beliau adalah untuk membantu orang yang kurang mampu. Disitu tanda terimakasih bukan lah sebuah uang, melainkan barang sampai benda hidup contoh nya seperti babi, ayam, makanan, dan berbagai benda bendah aneh. Pernah, karena si ibu tidak bisa membayar dengan apapun ia memberikan anak nya yang baru lahir kepada Eyang. Menurut Ibu itu, ia sudah tidak mampu menafkahi dirinya sendiri apalagi ditambah anak dan lebih baik Eyang yang membesarkan anak nya. Dengan berat hati Eyang harus menolak permohonan si Ibu, karena Eyang sendiri juga tidak mampu untuk membesarkan anak. Akhirnya anak itu diberikan kepada salah satu teman bidan nya.
Kampung selanjut nya, adalah kampung di Grogol. Keadaan kampung ini lebih baik dari pada kampung sebelumnya dan kali ini Eyang berpraktik tanpa dokter, hanya beberapa bidan saja. Suatu waktu hujan lebat melanda kampung, sudah berjam-jam hujan pun tak kunjung berhenti dan menyebabkan kampung bergenang air. Dari dalam puskesmas Eyang melihat dua sosok manusia menerjang hujan dengan payung yang sangat kecil, dan datanglah Bapak yang sedang menopang si ibu dengan berbadan dua dan siap melahirkan. Ibu itu terlihat kedinginan karena baju lusuh nya sudah basah kuyup. Eyang langsung bergerak mengurus ibu itu. Sesudah itu lansgung di lakukan persalinan dan berjalan lancar. Eyang cerita, kalau saja terlambat sedikit bayi itu bisa tidak terselamatkan karena kondisi suhu si ibu yang terlalu dingin.
Setelah Eyang lulus dari sekolah bidan, beliau juga mengalami kejadian yang tidak bisa terlupakan sampai sekarang. Salah satu nya adalah disaat pasien nya yang berumur tua melahirkan. Jadi ibu itu datang terlambat, karena ia harus mencari kendaraan untuk menuju ke rumah sakit yang pada akhirnya ibu itu harus didorong dengan suami nya menggunakan gerobak. Terjadi kelainan saat si ibu melahirkan, yaitu posisi anak yang terbalik. Seharus nya kepala bayi yang mendorong keluar, tetapi malah sebalik nya yang keluar adalah sebagian dari kaki nya. Eyang harus menaklukan rasa panik nya dan segera memanggil dokter. Sayangnya, sudah tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan pilihan pada saat itu hanyalah diantara menyelamatkan si bayi atau nyawa ibu. Suami beliau sudah mengikhlaskan apapun yang terjadi, karena pasangan suami istri itu sudah memiliki 4 anak, sang suami memutuskan untuk menyelamatkan nyawa istrinya. Kaki anak yang sudah keluar terpaksa harus dipotong, karena oprasi sesar saat itu belum disempurnakan. Untuk mengeluarkan bayi, tubuh bayi harus dipenggal menjadi beberapa bagian. Eyang sangat sedih karena harus menyaksikan dan melakukan persalinan yang mengenaskan. Meskipun itu, kejadian tersebut Eyang jadikan pelajaran untuk kedepan nya nanti.


Menurut saya Eyang Putri adalah sosok yang saya sangat dambakan, dan sangat menginspirasi saya. Zaman dahulu eyang harus hidup disaat Indonesia belom merdeka dan tidak terfasilitasi dan dapat menghasilkan kehidupan yang jauh lebih baik ke anak-anak nya. Hal ini membuat saya berfikir kondisi saya yang hidup di zaman sekarang sangat enak, apa-apa sudah ada. Jika saya  sukses nanti saya tidak memulai dari 0, karena orang tua saya memfasilitasi kebutuhan saya sekarang, dan kalau eyang dulu mulai dari minus.

No comments:

Post a Comment