Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Adinda Salsabila XI IPS 1


Aki Sanusi, Tentara Sukarela yang Pemberani

Pada hari sabtu, tepatnya pada tanggal 18 Mei 2013, ditengah-tengah acara keluarga, saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai seseorang yang menurut saya sangat hebat. Beliau tidak lain adalah kakek saya sendiri. Kakek saya atau yang biasa saya panggil Aki Sanusi dengan senang hati mau membantu saya untuk mengerjakan tugas ini. Sejak saya kecil, Aki memang suka menceritakan pengalamannya ketika masih muda. Dan sampai sekarangpun Aki masih suka bercerita terutama kepada cucu-cucunya. Walaupun ada sedikit hambatan di tengah wawancara karena ingatan Aki yang sudah terbatas, tapi menurut saya, kisah kesakian kemerdekaan aki sangatlah luar biasa. Dengan kisah yang diceritakan aki, saya akhirnya dapat membuat tugas ini.

BIOGRAFI

Aki lahir pada tanggal 7 november 1929 (30 Agustus 1930 pada akta kelahiran), di Sukabumi dengan nama lengkap Ahmad Sanusi. Aki sanusi adalah anak pertama dari pasangan Alm. Raj’i dan Alm. Siti Rukhoyah. Aki adalah anak sulung dari 7 bersaudara, dan salah satu adik Aki yang bernama Mang Udin tinggal tepat di sebelah rumah aki. Masa kecil Aki dihabiskan di Sukabumi, sampai akhirnya keluarga aki pindah ke Jakarta tepatnya di daerah Manggarai. Ketika itu, ayah Aki bekerja sebagai DKRAI.

Aki mengenyam pendidikan di SD Akibono yang terletak di dekat rumah Aki. Ketika pada tahun ke 6 Aki bersekolah, terjadi Agresi Militer Belanda yang mengaharuskan Aki untuk terjun ke medan perang diusia remaja. Menurut informasi yang saya dapat, Aki sudah ikut perang di usia 16 tahun. Selesai kepulangannya dari perang, Aki kembali bersekolah dan mengulang lagi menjadi siswa kelas 6 di SD Akibono. Tetapi Aki menjalani ujian kelulusan di STM Kampoeng Djawa. Setelah lulus SD, Kampoeng Djawa mulai diduduki oleh Belanda. Seluruh siswa yang ingin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, terpaksa untuk meninggalkan STM Kampoeng Djawa. Aki kembali dikirim ke Sukabumi untuk turun lagi ke medan perang. Setelah kepulangannya lagi, Aki meneruskan SMP dan SMA di Taman Dewasa Raya, Taman Siswa di Kemayoran. Dan setelah melalui perjuangan panjang, Aki akhirnya tamat SMP dan SMA pada tahun 1952. Tahun 1952, setelah lulus SMA, aki memang melanjutkan kuliah, namun pada saat itu, aki merangkap sebagai pekerja di DKARI (Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia) atau yang sekarang lebih dikenal dengan PT. Kereta Api Indonesia. Karena memegang 2 profesi sekaligus, Aki memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah dan fokus terhadap pekerjaannya. Pada tahun 1955 aki menikah dengan seorang wanita yang bernama Saebah. Ya, wanita itu adalah nenek saya, dan pada saat itu, nenek Saebah bekerja menjadi suster di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dari hasil perkawinannya tersebut, Aki sanusi dan Nenek Saebah memiliki 5 orang anak. Yang pertama Adalah  Wa Acun, Wa Ika, Triana Udjinurani (Bunda saya), Bi Yanti, dan Om Pupung.

Tahun demi tahun telah berlalu, di usia yang hampir lanjut, aki membangun sebuah Madrasah yang bertempatkan di kediamannya sendiri di bilangan Manggarai. Rumah yang dari kecil Aki tempati hingga sekarangpun masih berdiri dengan kokoh. Saya sangat senang ketika mendapatkan tugas yang berhubungan dengan kemerdekaan. Saya sangat bangga memiliki kakek yang seperti Aki.

PERANAN

Dari saya kecil, Aki sangat gemar untuk bercerita kisah pengalaman perangnya ketika muda. Dan dari sanalah saya berpikir bahwa aki memiliki peran dalam kemerdekaan, walaupun hanya sebagai tentara tanpa imbalan. Aki memang sudah tidak ingat tahun-tahun peristiwa penting dan barang-barang yang berhubungan dengan perang juga sudah menghilang. Dengan ingatan yang sudah mulai meluap, Aki dengan antusias menceritakan seluruh kisahnya.

Dimulai dari Aki duduk di bangku kelas 6 SD. Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, terjadi Agresi militer Belanda yang pertama. Aki yang duduk di kelas 6A dengan teman-teman sekelasnya dan teman-teman kelas 6B serta guru-guru, dikirim keberbagai daerah untuk melaksanakan perlawanan terhadap Belanda. Saat itu, aki ditempatkan di Sukabumi. Ada salah satu kalimat yang aki masih ingat sampai sekarang.
“Waktu itu, Aki pergi perang gak pake ijazah. Cuma ditanya ‘berani atau tidak?’”.

Kalimat itu dilontarkan ketika Aki hendak perang. Aki dengan berani terjun ke medan perang di usia yang tergolong muda. Menurut informasi yang Aki berikan, pasukan Aki pada saat itu di pimpin oleh Kolonel Kawilarang. Yang saya sukai dari wawancara dengan Aki adalah, Aki mengalami pengalaman yang menurut saya lucu. Salah satunya, ketika Aki dan pasukan lainnya diperintahkan untuk membawa peluru yang panjangnya mencapai 1,5 meter. Karena badan aki yang kecil dan pendek, Aki tidak kuat membawa peluru tersebut dan beralih membawanya dengan cara menggelindingkan peluru tersebut. Tetapi, jalan yang dilalui Aki beserta pasukan lainnya itu adalah tanjakan, ditengah-tengah tanjakan, Aki sudah kehabisan tenaga dan peluru yang digelindingkan tersebut meluncur ke bawah seperti mengejar Aki dengan pasukan yang lainnya. Beruntunglah peluru tersebut tidak melukai Aki dan yang lainnya. Setelah insiden ‘peluru’ tersebut, Aki ditugaskan untuk menembakan meriam dari ujung genteng yang tak jauh dari pelabuhan ratu ke arah kapal laut Belanda. Masalah kembali terjadi, meriam yang seharusnya berputar 60˚ tidak bisa bergerak dan hanya dapat berputar 30˚. Mau tidak mau Aki menembakan meriam tersebut. Ketika saya bertanya. “meriamnya kena kapalnya?”. Aki hanya menjawab. “Aki gak tau, gak keliatan sih. Namanya juga tentara gak terlatih”.

Beberapa bulan kemudian markas Aki yang semula di tempatkan di Sukabumi dipindahkan ke Sala Bintana yang berdekatan dengan pabrik Teh Golpara. Setelah markas berpindah tempat. Aki-pun kembali melakukan penyerangan dengan meriam. Meriam ditembakkan dari Pasir Pogor ke Cianjur, dan sekali lagi Aki tidak mengetahui apakah meriam tersebut sampai sasaran atau tidak (walaupun aki sangat berharap kena tepat sasaran). Peristiwa itu terjadi di daerah Sukabumi, Cianjur. Pada tanggal 21 Juli 1947, Aki dan seluruh pasukan yang lainnya diperintahkan untuk dipindahkan ke Jogjakarta karena daerah Jawa barat mulai diduduki Belanda. Akan tetapi, Aki dan teman-temannya menolak untuk pergi dan ingin tetap di Sukabumi, akibatnya, Aki dan seluruh yang pasukan bersikeras tak mau pindah diberi tindakan oleh atasannya. Aki menjelaskan bahwa beliau dilucuti pakaiannya lalu diperlakukan keras, ketika malam, Aki disuruh tidur dengan cara berhimpit-himpitan dengan pasukan yang lainnya. Itu masa-masa yang sulit bagi Aki. Setelah itu pasukan Aki dibubarkan dan Aki kembali ke rumahnya. Ketika Aki hendak kembali kerumahnya, Aki tidak bisa pulang menggunakan kereta dikarenakan stasiun tersebut sedang terjadi penyisiran tentara Indonesia oleh Belanda. Aki terpaksa harus jalan kaki dari Sukabumi sampai Jakarta. Jalur yang Aki lewati untuk menghindari Belanda adalah: Cisaat, Cicurug, Dimaseng, bogor, Jakarta.

Banyak peristiwa yang Aki alami ketika diperjalanan menuju Jakarta. Saat di Cisaat, Aki dan pasukan lainnya tidak bisa naik kereta karena ada penyisiran oleh Belanda, kepanikanpun terjadi. Tak berselang lama, ada seorang kusir yang menyuruh Aki dan beserta yang lainnya naik delman milik si kusir tadi. Ketika melewati pasukan Belanda, salah seorang pasukan itu bertanya. “apakah kau lihat tentara Indonesia disekitar sini?”. Kusir itupun menjawab. “tidak, saya dan menantu-menantu saya sedang diperjalanan pulang”. Mendengar itu, pasukan Belanda tersebut membiarkan delman itu melewatinya. Aki dan pasukan yang lainnya selamat dari penyisiran Belanda di Cisaat. Setelah itu Aki diantar oleh tukang delman tersebut sampai Cicuruk. Masalah kembali terjadi, Aki tidak mengira bahwa penyirisan sampai ke daerah Cicurug. Aki pun bingung karena jalur satu-satunya yang bisa dilewati telah dihadang oleh pasuka Belanda. Akipun terpaksa berenang melewati sungai agar tidak ketahuan oleh Belanda. Aki berenang cukup jauh, tak disangka pasukan Belanda di Cicurug sangat banyak dan sepanjang jalan telah di tempati oleh Belanda. Masih dalam keadaan berenang, Aki melihat ada gadis-gadis yang sedang mencuci baju. Aki dengan yang lainnya beranang menuju gadis-gadis tersebut. Tanpa disangka-sangka, Gadis-gadis itu memenggil para Aki dan disuruh melepas seragam perangnya. Dengan segera, gadis-gadis itu mengambil seragam-seragam para tentara tersebut dan langsung mencucinya. Dengan perasaan heran aki hanya duduk terdiam disebelah gadis tersebut. Aki dikejutkan dengan tentara belanda yang datang menghampirinya. Dengan lantang, tentara belanda itu bertanya. “Siapa dia? (menunjuk Aki) apakah dia tentara Indonesia?”. Dengan keringat dingin, Aki berdoa agar gadis itu tidak membeberkan identitasnya. Lalu gadis itu tersenyum dan menjawab. ”Bukan, dia suamiku. Dia lumpuh jadi tidak ikut perang”. Tentara Belanda tersebut mengangguk mengerti dan pergi meninggalkan gadis-gadis -dan tentara- yang berada di pinggir sungai tersebut. Terkejutnya Aki dan tentara yang lainnya atas kebaikan gadis-gadis tersebut. Aki sangat berterimakasih pada gadis-gadis yang tak dikenalnya karena sudah menyelamatkannya.

             Setelah selamat dari penyisiran di daerah Cicurug. Tanpa berlama-lama, Aki langsung jalan lagi menuju Dimaseng dan pada akhirnya, Aki dan pasukan lainnya dapat naik kereta karena di daerah Dimaseng. Setelah semuanya duduk di tempat duduknya masing-masing, kepanikanpun kembali terjadi. Penyisiran kembali terjadi, tetapi kali ini dilakukan didalam kereta. Seluruh tentara pada saat itu sangat panik. Tak ada satupun yang bergerak dari tempat duduknya. Posisi Aki duduk saat itu adalah didekat jendela, di sebelah Aki ada seorang temannya yang juga dalam kondisi kepanikan. Tak berselang lama, banyak teman-teman Aki yang ditangkap karena ketahuan indentitasnya sebagai tentara Indonesia. Saat sampai di sebelah tempat duduk Aki. Tentara Belanda tersebut bertanya dengan lantangnya. “kamu tentara kan?”. Tentara itu bertanya pada teman yang duduk di sebelah Aki. Beliaupun menjawab. “iya, saya tentara Indonesia”. Teman Aki tersebut langsung diborgol dan akan dibawa tentara Belanda. Sesaat sebelum digiring, tentara itu melihat Aki dan bertanya pada teman Aki yang sudah diborgol tersebut, “Apa dia juga seorang tentara?” Teman Aki hanya melihat Aki dan menjawab dengan singkat, “Bukan, dia bukan tentara”. Itu kalimat terakhir yang Aki dengar dari beliau. Lagi, Aki selamat dari menyisiran tersebut. Aki sangat berterimakasih kepada seluruh orang-orang yang telat menyelamatkan Aki dan pasuka yang lainnya. Tapi menurut aki, pahlawan yang sesungguhnya itu adalah, teman Aki yang sama sekali tidak memberitahukan kepada tentara belanda tentang identitas Aki. 

“Kalau gak ada temen Aki waktu itu, gak tau deh nasib aki sekarang”

Sambil memandang kearah depan. Aki melontarkan kalimat tersebut. Saya dapat melihat bahwa aki sangat berterimakasih dan selalu mengingat teman beliau tersebut. Dan akhirnya, setelah perjalanan dari Sukabumi menuju jakarta dengan sangat berat. Aki sampai di jakarta, sesampainya di Jakarta Aki disuruh oleh komandannya untuk mendaftarkan diri sebagai veteran karena telah berperan dalam menghadapi Belanda. Tak disangka, Aki menolak tawaran tersebut dan memilih untuk melanjutkan pendidikannya yang sebelumnya sempat berhenti karena ikut perang.  Akibatnya, Aki juga harus mengulang kembali kelas 6 di Akibono, namun, Aki mengikuti ujian kelulusan di ‘STM Kampoeng Djawa’. Setelah mengikuti ujian, Aki lulus di SD pertukangan di Kampoeng Djawa. Ketika akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Belanda mulai menguasai wilayah tempat aki bersekolah. Akhirnya, Aki pindah ke Taman Dewasa Raya, Taman Siswa yang terletak di Kemayoran. Dengan kepala sekolah yang bernama bapak Said. Aki akhirnya lulus SMP dan SMA pada tahun 1952. Setelah lulus, Aki bekerja di DKARI dan menikah dengan nenek saebah.

Ketika menjelang akhir wawancara, Aki tiba-tiba berkata “Aki ingat kok nama temen-temen aki”. Aki masih ingat nama teman-temannya ketika berada di medan perang. Yaitu, Letnan dari Jepang (Aki lupa namanya), Ibrahim dan Muhammad Saleh dari cirebon, Tahapari dan Laksamana Hu yang berasal dari Ambon. Tapi sayangnya, seluruh orang yang disebutkan Aki tersebut telah wafat. Saya dapat melihat bahwa Aki sangat merindukan teman-temannya tersebut, sama seperti yang Aki ceritakan ketika saya masih kecil. Ketika saya kecil, saya pernah dilihatkan sebuah foto. Foto tersebut memperlihatkan Aki dengan teman-temannya, dan foto tersebut dibingkai dan terlihat sudah lumayan lama. Ternyata, itu adalah foto Aki dengan teman-temannya ketika perang. Saya ingat wajah Aki ketika menceritakannya. Aki kelihatannya sangat merindukan teman-temannya tersebut.

Bertahun–tahun kemudian, Aki mendirikan sebuah Madrasah di rumah yang sekarang beliau tinggali. Sampai saat ini, diusia yang ke 84, Aki tidak mau mendaftarkan diri untuk menjadi seorang veteran. Aki berkata, bahwa semua yang beliau lakukan, dan seluruh yang beliau perjuangkan untuk melawan belanda beliau lakukan dengan ikhlas tanpa perlu imbalan. Memang peran Aki ketika perang kemerdekaan hanya menjadi tentara muda yang tak terlatih. Tetapi, saya sangat bangga dengan seluruh perjuangan yang telah dilakukan kakek saya. Saya sebenarnya berharap Aki masih mengingat keseluruhan tampat dan waktu kejadian-kejadian penting yang Aki alami secara spesifik. Dan sebenarnya saya juga berharap aki masih memiliki bukti-bukti sejarah yang bisa saya perlihatkan, namun apadaya barang-barang tersebut sudah menghilang. Tetapi itu tidak apa-apa, yang penting Aki sudah berusaha mengingat kejadian-kejadian sejarah yang telah dialaminya dan telah menceritakannya kepada saya. Saya benar-benar bangga kepada kakek saya.
Saya dengan Aki Sanusi

No comments:

Post a Comment