Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Afiq Mohamad Riandrayana XI IPA 2

Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata - Guru & Praktisi Bidang Konstruksi yang Turut Membangun Indonesia

Pada hari Minggu tanggal 25 Maret  2013, saya berkesempatan berkunjung ke rumah Aki Broerie, panggilan akrab Wiratman Wangsadinata, di Bandung untuk mewawancarai beliau. Ia merupakan saudara saya, yaitu adiknya ayahnya nenek saya. Panggilan "Aki" sebetulnya kurang tepat untuk saya utarakan karena memang jika dilihat pohon keluarganya ia adalah kakek buyut saya. Akan tetapi panggilan ‘Aki Broerie’ sudah lazim digunakan oleh saudara-saudara saya.
 

A. Biografi

Pada tanggal 25 Februari 1935, di Jatinegara, Jakarta, dilahirkan anak dari R. Ating Wangsadinata dan Siti Asiyah yang merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara yang bernama Wiratman Wangsadinata. Ayahnya adalah seorang pegawai PTT (Post, Telegraaf & Telefoon Dienst) sedangkan ibunya adalah lulusan sekolah guru di zaman Belanda yang disebut Kweekschool. Kedua orang tuanya berasal dari Sumedang. Karena selisih usianya dan kakaknya yang terdekat cukup jauh, yaitu 7 tahun, ia dijuluki kakak-kakaknya adik kecil atau dalam bahasa Belanda "broerie". Nama inilah yang hingga saat ini masih menempel padanya. Saat usianya 2 tahun, orang tuanya pindah ke Bandung sehingga ia menganggap kota itu sebagai kediaman tetapnya. 2 tahun kemudian, ayahnya meninggal dalam usia 42 tahun. Namun ibunya adalah sosok yang sangat mandiri, beliau mampu mengurus serta memberikan pendidikan terhadap anak-anaknya.

Pada tahun 1942 saat pendudukan Jepang atas Indonesia, Aki Broerie yang tengah duduk di kelas 1 SD Europese Lagere School Ib di Jalan Merdeka pindah ke Sekolah Rakyat No. 28. Mengikuti itu 3 tahun kemudian pecahlah Perang Kemerdekaan RI yang awalnya ditandai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Mengikuti peristiwa itu Bandung menjadi lautan api sehingga ia sekeluarga mengungsi ke Subang. Ketika kakak-kakaknya turut berjuang mengikuti para pemuda usianya masih terlalu muda. Saat Tentara Kolonial Belanda menduduki Ibukota RI Yogyakarta ( Aksi Militer II ), ia sekeluarga kembali ke Bandung. Di Bandung ia kembali bersekolah di sekolah belanda yaitu Algeme Lagere School III.

Di masa remaja, ia bersekolah di Middlebare School dan SMAK (Sekolah Menengah Kristen). Ternyata semenjak SMP ia selalu duduk sebangku dengan Rudy Habibie. Menjelang akhir SMA, ia sering datang ke rumah temannya Rumini untuk belajar bersama. Inilah yang menyebabkannya berkenalan dengan adiknya Rumini yang bernama Rohani namun biasa dipanggil Nanan. Setelah lulus SMA ia berminat untuk masuk Jurusan Teknik Fisika. Sayangnya saat itu Fakultas Teknik tidak menerima siswa baru jurusan tersebut sehingga ia akhirnya mengambil Jurusan Teknik Sipil. Pada tahun 1959 Fakultas Teknik UI berbubah menjadi Institut Teknologi Bandung.  Saat hampir tamat kuliah untuk meraih gelar sarjana selama 5 tahun, ia menikah dengan Nanan.  Ia lulus sebagai Sarjana Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung  tahun 1960.

Saat inilah Aki Broerie memulai karirnya sebagai professional di industri konstruksi. Ia memulainya sebagai Insinyur Perencana di Jawatan Jalan-jalan dan Jembatan Dep. PU pada tahun 1960 hingga 1965.  Pada tahun 1960 dan 1962 ia dikaruniai 2 orang anak, Melani Dewiyana dan Sofia Miriyanti. Setelah itu ia menjadi Direktur dari PN Perencana Indah Karya. Pada akhir tahun 1960-an saat Orde Baru bangkit di bawah pimpinan Presiden Soeharto ia ditugaskan untuk bersekolah di Inggris dengan beasiswa dari Colombo Plan. Di sana ia senang karena berkesempatan untuk menjadi tim perencana Hongkong Cross Harbour Tunnel I. Di tahun 1970 ia diangkat menjadi Pengawas Pemerintah untuk perencanaan dan pelaksanaan Gedung Wisma Nusantara bertingkat 30, proyek investasi Pemerintah sekaligus gedung tinggi pertama di Indonesia , selama 3 tahun. Ia kemudian  mendirikan perusahaan konsultan sendiri yaitu PT. Wiratman & Associates tahun 1976 dan menjadi Direktur Utamanya sampai sekarang.

Disamping pencapaiannya di bidang konstruksi, Aki Broerie juga tetap mengejar karir akademik serta terus menuntut ilmu tanpa mengenal usia. Karir akademiknya dimulai sejak ia lulus dari ITB dengan langsung menjadi tenaga pengajar luar biasa di Jurusan Teknik Sipil ITB. Seiring dengan pengembangan karir akademiknya, ia mengambil doktor di ITB dan mendapatkan gelar doktor pada tahun 1992 dalam bidang Rekayasa Struktur dengan predikat Cum Laude. Pada tahun 1995 sampai 2004 ia menjadi Guru Besar di Jurusan Teknik Sipil ITB. Dan sejak tahun 2005 menjadi Guru Besar Emeritus di Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara. Aki juga diangkat menjadi anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi  dari tahun 2003 sampai tahun 2006.


Sekian biografi singkat dari Wiratman Wangsadinata. Selanjutnya saya akan menyebutkan berbagai peran yang ia lakukan bagi Indonesia, tanah air yang ia cintai, selama hampir 80 tahun lamanya.

B. Peran

Aki Broerie atau Wiratman Wangsadinata memang termasuk saksi mata peristiwa Bandung Lautan Api namun karena usia beliau waktu itu serta peranan beliau yang lebih mengarah kepada pembangunan saya tidak akan mengulas tentang peristiwa tersebut. Sepanjang karirnya ia telah melakukan berbagai peranan penting bagi Indonesia terutama di bidang konstruksi serta perkembangan IPTEK. Beliau adalah salah satu tokoh yang merupakan juru kunci pembangunan serta modernisasi Indonesia yang tengah dilakukan semenjak periode Orde Baru.

Di bidang perkembangan IPTEK, selama ini Aki Broerie telah menulis lebih dari 200 makalah teknik yang dipresentasikan dalam berbagai konferensi nasional maupun internasional. Untuk karya-karya pribadinya yang menonjol, ia telah menerima berbagai penghargaan diantaranya Adhicipta Rekayasa 1994 untuk Teknik Sipil dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan ASEAN Achievement Award 1994 for Engineering dari ASEAN Business Forum, sebuah makalah berjudul “Dynamics of Roadway Pavements” yang ditulis bersama Prof. DR. Sofia W. Alisjahbana pada Fourth International Conference on Concrete under Severe Conditions (Consec ’04), Seoul, Korea, Juni 27 – 30, 2004, memperoleh penghargaan Karya Tulis Konstruksi tahun 2004 dari Dep. PU. Tahun 2005 sehingga ia menerima penghargaan dari Dep. PU berupa predikat “Tokoh Konstruksi Indonesia”, dan ia juga memegang paten dalam pembuatan terowongan “Sistem Antareja”. Saat ini DR. Wiratman menyandang Sertifikat Insinyur Profesional Utama (IPU) dari PII dan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI).

Wiratman Wangsadinata juga berperan aktif dalam kegiatan organisasi dan asosiasi profesi yang sejauh ini termasuk: Anggota PII; Anggota dan mantan Ketua Tim Penasehat Konstruksi Bangunan (TPKB) DKI Jakarta; Pendiri, Anggota Kehormatan, Anggota Dewan Pertimbangan dan mantan Ketua HAKI; Pendiri, Ketua Dewan Kehormatan Nasional dan mantan Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO); Anggota Dewan Pembina Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Tingkat Nasional; Anggota Majelis Pertimbangan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN); Anggota the New Zealand National Association for Earthquake Engineering; Anggota Council on Tall Buildings and Urban Habitat, USA.

Seperti yang telah saya utarakan, Aki Broeri berperan dalam pembangunan infrastruktur dan memodernisasi Indonesia di berbagai daerah. Karya-karyanya yang merupakan unggulan atau monumental yang telah menghiasi perjalanan sejarah bangsa Indonesia antara lain adalah Gedung Wisma Nusantara, Wisma Dharmala, Bakrie Tower dan Duku Atas Tunnel di Jakarta, Jembatan Ampera di Palembang, Jembatan Rajamandala di Bandung, serta Keuliling Dam di Aceh. Di pembangunan hotel dan apartemen, ia merancang Four Seasons Residential Apartments, Mal Ciputra, dan Hotel Aryaduta. Pembangkit Listrik Tenaga Air Mrica, Banjarnegara, PLTA Merangin, PLTA Kusan, Pembangkit Gresik, Telecommunication Tower dan Menara Jakarta dirancang olehnya. Ia juga sempat ikut serta melestarikan peninggalan sejarah Indonesia pada proyek restorasi Candi Borobudur di Magelang.

Aki Broerie pernah mendamping Misi Pampasan Perang RI (MISPRI) di Tokyo selama 2 bulan untuk memeriksa perencanaan Jembatan Ampera di Palembang yang dahulu dikenal dengan nama Jembatan Musi. Rencana proyek tersebut dibuat oleh Fuji Car Manufacturing. Selain itu ia juga dikenal sebagai “Bapak Beton Indonesia” karena pada tahun 1970 ia merancang Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) yang belum diperbarui semenjak tahun 1950-an. Pengetahuannya tentang perkembangan beton ia dapatkan dari publikasi-publikasi serta dari CEM, komite beton eropa, saat ia berada di Inggris. Beliau juga menggagas tentang peraturan gempa di Indonesia.

Walau usianya yang sudah tergolong tua, ia tidak berhenti menuntut ilmu serta bervisi kedepan. Ia memiliki visi untuk lebih mempererat bangsa Indonesia dengan merancang struktur yang dapat menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera. Proyek tersebut dikenal dengan nama JSS (Jembatan Selat Sunda). Telah terjadi perdebatan manakah yang lebih efektif antara membuat jembatan kabel seperti Golden Gate atau membuat tunnel seperti di Selat Inggris. Konstruksi proyek ini diperkirakan akan membutuhkan waktu satu dekade. Walau ada beberapa kendala yang memperlambat pelaksanaan proyek JSS, Wiratman Wangsadinata tetap antusias untuk dapat mensukseskan proyek ini.
 
Salah Satu Gambar JSS

Demikian yang bisa saya sampaikan tentang peranan Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata dalam sejarah pembangunan Indonesia. Ia adalah salah satu putra terbaik bangsa yang patut kita teladani. Dedikasi dan kegigihannya dalam menuntut ilmu sepertinya ia warisi dari Ibunya yang sangat mementingkan pendidikan karena merupakan kunci bagi masa depan yang cerah. Prinsip ini berhasil dibuktikan oleh Aki Broerie sendiri setelah ia menggeluti bidang yang ia minati dengan sepenuh hati. Satu lagi pelajaran yang dapat kita ambil ialah kita yang masih muda sudah seharusnya jangan mau kalah dan memiliki mimpi atau target masing-masing. Kesimpulannya adalah berkarya dan belajar tidak mengenal usia. Semoga dengan mendokumentasikan orang-orang yang berperan bagi tanah air kedepannya bangsa Indonesia akan terdorong untuk bangkit dan berjaya di berbagai bidang keilmuan serta meneruskan pembangunan untuk menjadi negara yang maju.

No comments:

Post a Comment