Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Aldeina Putriandita XI IPA 3

Uti Soemali, Berjuang dengan Mobil Ambulans, Putri Tertua Aki Oto Sang Djalak Harupat

Minggu 21 April 2013 saya berkesempatan untuk mengunjungi kakak dari nenek saya yaitu Ibu Martini Soemali. Biasa saya panggil dengan Uti Soemali. Saya mengunjungi kediaman beliau yang bertempat di Kompleks DPR Bintaro Sektor 3 hari itu pada waktu Ba'da Maghrib. Saya bisa dikatakan cukup dekat dengannya, sehingga kami bisa dengan santai mengobrol di kamarnya.

Uti Soemali beserta nenek saya, merupakan anak dari R. Oto Iskandar Dinata. Yang berarti bahwa beliau adalah kakek buyut saya. Saya bisa mengatakan bahwa Uti Soemali merupakan saksi sekaligus pelaku peristiwa sejarah di Indonesia. Sebagai saksi karena beliau melihat langsung kegiatan Aki Oto di saat-saat perang, dan sebagai pelaku karena beliau turut mengalami dan cukup terlibat di saat perang kemerdekaan Indonesia.

Biografi

Martini Iskandar Dinata, merupakan nama lengkap dari Uti Soemali. Lahir di Bandung pada 2 Maret 1927 yang berarti bahwa ia sekarang sudah berusia 86 tahun. Merupakan anak ke 3 dari 11 bersaudara dari pasangan Oto Iskandar Dinata dan Soekirah. Sebagai anak perempuan yang paling tua, Uti Soemali tumbuh menjadi pribadi yang sangat mandiri. Lahir dan dibesarkan di Bandung, dan baru pindah ke Jakarta ketika sudah dewasa.

Uti Soemali menikah dengan Bapak Soemali. Pasangan ini dikaruniai dengan 5 orang anak. 2 perempuan dan 3 laki-laki. Nama dari anak-anak Uti Soemali ini sangatlah unik karena menggunakan nama-nama perwayangan seperti “Arya Bima”, “ Arya Narayana”, dan bahkan nama cucunya juga ada yang bernama “Arya Yudhistira”. Sekarang Uti Soemali tinggal dengan anaknya yang paling terakhir di daerah Bintaro, tempat saya mengunjunginya itu.

Uti Soemali turut berperan aktif pada masa orde lama maupun orde baru. Beliau sempat ikut dalam keanggotaan DPR selama beberapa tahun. Walaupun sekarang sudah tidak seaktif dulu, beliau masih tetap memantau keadaan di Indonesia ini. Usianya sudah terbilang tua, tapi masih tetap bersemangat dan berenergi. Bahkan ketika saya masuk kamarnya, Uti sedang menonton pertandingan tennis!

Uti Soemali ikut mengalami masa penjajahan mulai dari Belanda, dan Jepang. Dahulu Uti Soemali melaksanakan pendidikan di HBS 5 tahun yang terletak di Jalan Belitung (sekarang menjadi gedung SMA 3 dan 5 Bandung). Lalu pendidikan setingkat SMP dan SMA di Bandung. Pada akhirnya beliau mengikuti kegiatan sebagai anggota PMI. Uti Soemali fasih berbicara Belanda.

Selanjutnya, biografi dari Aki Oto. R. Oto Iskandar Dinata. Lahir di Desa Bojongsoang, Jawa Barat pada 31 Maret 1897. Aki Oto merupakan putra ke 3 dari 8 bersaudara. Merupakan buah hati dari pasangan Raden Haji Rachmat Adam dan istrinya, Nyi Raden Siti Hatijah.

Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga menak, Aki Oto dapat hidup relatif lebih nyaman dibandingkan dengan anak kebanyakan. Beliau disekolahkan di sekolah Barat. Setelah cukup umur, Aki Oto dimasukkan ke HIS (Sekolah gasar Belanda). Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool Onderbouw (Sekolah guru bagian pertama) lalu ke Hogere Kweekschool (Sekolah guru atas). Beranjak dewasa, Aki Oto ikut berperan aktif dalam keanggotaan perjuangan nasionalisme yang salah satunya adalah menjadi anggota Budi Utomo.

Seperti yang kita tahu selama ini, R. Oto Iskandar Dinata merupakan orang yang mengusulkan agar Soekarno dan Bung Hatta yang menempati jabatan sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Ternyata sejak kecil, Aki Oto sudah terlihat ke “keras kepala”an dan keberaniannya. Beliau berani menegur guru yang menurutnya memang pantas untuk ditegur. Hampir semua guru tidak menyukai anak-anak yang tinggi nasionalisme nya seperti Aki Oto. Keaaan ini terus terbawa sampai beliau dewasa. Kehebatannya melancarkan kritik kepada pemerintah kolonial menyebabkan belai dijuluki “Si Jalak Harupat”.

Peranan dan Kesaksian
 
Diawali dengan pertanyaan apa yang telah Uti lakukan di masa peperangan, dimulailah kisah perjalanan perempuan hebat ini di masa lalu. Sebelumnya, beliau meminta maaf karena persoalan usia, beliau tidak bisa memberikan waktu, tempat, dan tahun yang pasti dalam kisahnya ini.

Pertama-tama, Uti Soemali menceritakan pengalamannya mengenao kegiatan PMI. Beliau mengakui bahwa di saat itu, tugas PMI hanyalah untuk menunggu apabila ada yang terluka, kecelakaan, dan macam-macam lainnya. Kegiatan sehari-harinya selama zaman kolonialisme Belanda hingga Jepang adalah tetap bersekolah.

Uti mengikuti PMI karena di saat itu, keadaan sudah merupakan perang terbuka dengan belanda. Zaman yang dimaksud adalah ketika Jepang sudah kalah, dan Belanda kembali ingin merebut Indonesia. Kebetulan saat itu, dokter yang merawat Mbah Soekirah sedang memerlukan orang. Saat itu pos mereka bertempat di Jalan Bungsu, dan Uti ditawari untuk ikut bergabung. Sementara itu, di Jalan Bungsu itu sekarang sudah berubah menjadi rumah sakit.

Beliau mengkisahkan, dahulu sempat terjadi banjir besar yang disebabkan oleh Belanda. Pihak Belanda menjebol bendungan sehingga banjir sampai ke Bandung daerah Selatan. Apabila dilihat dari belakang Braga, semua daerah penuh dengan meja, kursi, dan perabot lainnya yang dikarenakan oleh banjir yang menyeretnya itu. Keadaan yang paling mengenaskan adalah ketika diketahui bahwa terdapat sekitar 400 mayat akibat banjir besar ini.

Uti Soemali mengaku bahwa bau nya sangatlah tidak enak. Bahkan beliau sampai tidak bisa makan hampir sebulan. Mayat-mayat ini dikumpulkan di satu toko. Saat itu, Uti dan teman-temannya sedang dinas. Sebenarnya ada tembakan mortir, namun tidak terdengar dan yang terdengar hanyalah bunyi rintik hujan. Saat melihat keluar, air sudah sampai lutut.

Dibantu dengan teman-temannya, Uti Soemali kembali ke rumah untuk mengecek keadaan keluarga. Saat itu Mbah sedang hamil, sehingga keadannya cukup mengkhawatirkan. Ketika sampai di rumah, keluarga sudah berada di lantai atas. Sedangkan, di halaman rumah sudah terdapat berbagai barang seperti kasur, dll. Keadaan ini bertahan sampai beberapa hari.

Ini merupakan salah satu kejadian yang dialami oleh Uti sebagai PMI yang ikut membantu. Saat itu, terdapat batas berupa rel kereta api yang memisahkan warga Indonesia dan pihak Belanda. Batas ini tidak bisa dilewati. Tetapi, masih tetap terjadi tembak-tembakan namun dari daerah masing-masing.

Sempat salah satu teman tertembak, dan di bawa ke daerah Belanda. Uti dan teman-teman PMI-nya berempat diperintahkan untuk masuk ke daerah belanda untuk mengambil teman yang tertembak itu. Ternyata, di pihak Belanda juga banyak yang terluka. Beliau menceritakan bahwa keadaannya sangat seram dan mencekam. Ingin sekali Uti cepat-cepat keluar dari tempat itu. Tapi karena mereka PMI, sebenarnya tidak akan berbahaya bagi mereka.

Setelah bertemu dengan temannya yang terluka itu, mereka cepat-cepat meninggalkan daerah tersebut. Karena di saat itupun, sedang terjadi peristiwa Bandung Lautan Api. Mbah dan keluarga lainnya sudah terlebih dahulu mengungsi ke Bojongsoang.

Dengan kehamilan Mbah, keadaan menjadi agak hectic. Karena memang sudah saatnya melahirkan, sekeluarga memutuskan untuk tetap tinggal dulu, dan tidak pindah ke mana-mana. Anak yang lahir di saat ini adalah anak bungsu dari 11 bersaudara ini. Diberi nama Kustinah Merdekawati, Nena – saya akrab memanggilnya- lahir tanpa mengenal Bapaknya.

Sebenarnya, karena Uti Soemali anggota PMI, beliau seringkali sudah tidak bersama dengan keluarga lagi. Uti hanya bolak-balik mengecek dengan menggunakan mobil ambulans. Karena keadaan semakin parah, mereka merasa akan lebih baik untuk mengungsi. Uti kembali meminjam mobil ambulans untuk mengangkut keluarganya pindah ke daerah Tasikmalaya. Nena yang saat itu masih bayi pun tetap diikutkan.

Keluarga ini bertempat di Tasikmalaya hingga hampir setahun. Namun, Belanda semakin mendesak sehingga mereka memutuskan untuk pindah kembali. Melanjutkan perjalanan ke Gunung Sawal dan terus menaiki ke desa nya. Selama perjalanan, melewati Tasikmalaya selatan, keadaan sudah sepi sekali dan tidak ada orang. Sampai suatu ketika sampai ke suatu jembatan yang sudah sangat rusak dikarenakan perang. Tempat ini mengharuskan rombongan Uti dan sekeluarga untuk memanjat jembatan untuk melewatinya.

Mbah yang saat itu membawa Nena yang masih berusia 6 hari, haruslah menggendongnya dan melewati jembatan itu. Aki Mamat, yang merupakan anak ke 10 dalam keluaraga, yang saat itu masih sangat kecil sudah mulai mengeluh karena jarak jembatan yang sangat jauh. Setelah perjuangan panjang, sampailah mereka di Desa Sukahirup. Di desa itu, sudah terdapat korps pelajar yang juga mengungsi ke sana.

Pemuda-pemuda di korps pelajar ini menggunakan radio, untuk mencari informasi dan berita. Sinyal pun didapat dengan “mencuri” dari pabrik-pabrik di bawah. Mbah yang saat itu dianggap sebagai “Ibu” setiap hari memasaki mereka.

Ternyata, daerah yang sedang ditempati ini merupakan tempat latihan pihak Belanda. Pihak Belanda tahu persis akan daerah di sini, bahkan sempat menyerangnya. Pernah ada pesawat jatuh ke daerah sana, dan bagian-bagian pesawat itu habis oleh warga setempat.

Uti Soemali dan korps pelajar serta pengungsi lainnya mendirikan sekolah bagi pengungsi-pengungsi lainnya. Mereka senang dengan adanya sekolah yang dianggap sangat membantu ini. Selain itu, PMI juga terus memberikan makanan dan obat-obatan bagi pengungsi ini, walaupun tidak ada bahan. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan buah kina.

Selanjutnya, saya bertanya tentang Aki Oto. Aki Oto di mata Uti Soemali merupakan seorang pemberani dan dengan jujur selalu berjuang demi kepentingan rakyat. Beliau tidak pernah mementingkan diri sendiri ataupun keluarganya sebelum memikirkan kepentingan umum.

Aki Oto adalah sosoko yang selalu konsekuen dalam mencetuskan gagasan. Salah satu gagasan dari Aki adalah mendirikan PETA. Sebelum beliau meminta orang lain untuk mengikuti gagasannya, beliau memuli dari kalangan keluarganya sendiri. Buktinya, beliau meminta putra sulungnya – Kakek Sentot- untuk menjadi anggota PETA.

Uti Soemali menuturkan mengenai peristiwa penculikan yang menyebabkan perginya Aki Oto untuk selamanya. Saat itu, Aki berangkat ke Jakarta karena ada telepon ke rumah yang mengharuskannya ke Jakarta. Biasanya apabila sudah sampai di Jakarta, Aki masih akan menelpon Mbah setiap pagi. Namun kali ini, sudah 2 hari Aki tidak menelpon dan ini membuat Mbah gelisah.

Mbah akhirnya menelpon ke Jakarta untuk mencari informasi, dan akhirnya diperoleh berita bahwa tanggal 31 Oktober 1945, Rabu jam 11 siang, Aki Oto diculik. Beberapa waktu kemudian, Mbah menerima surat yang tertanggal 31 Oktober 1945 dan merupakan surat dari Aki Oto. Dan ternyata, surat itu merupakan surat terakhir dari Aki Oto untuk Mbah dan anak-anaknya.

Sebuah berita resmi akhirnya diterima menjelang akhir bulan Desember 1945, yang menyatakan bahwa Aki Oto telah menjadi korban “Laskar Hitam” di Pantai Mauk, Taengerang. Jenazah Aki Oto tidak pernah diketemukan, bahkan siapa pembunuhnya tidak ada penjelasan. Ternyata tidak hanya Aki Oto yang menjadi korban penculikan ini. Setidaknya terdapat 3 orang pejabat lain yang ikut diculik. Tetapi 3 orang ini berhasil selamat walaupun beberapa bulan hilang.

Tentu saja, Mbah dan anak-anak sangat berontak hatinya, menuntuk keadilan. Akan tetapi, siapa yang peduli akan kematian Sang Jalak Harupat, ketika revolusi telah menyibukkan semua orang. Penculilan dan pembunuhan sudah dianggap biasa saja.

Begitulah hasil dari kunjungan saya ke kediaman Uti Soemali. Di akhir dari kisahnya, Uti menuturkan “Sekarang seharusnya bisa lebih baik, karena katanya demokrasi. Tapi kok ternyata keadaannya lain ya?”. Beliau sangatlah berharap agar keadaan di masa sekarang membaik. Walaupun begitu, belau masih sangat mencintai negara ini dengan segala kekurangannya dan terus berdoa agar negara Indonesia ini kembali ke masa puncaknya seperti dahulu.

Saya bersama dengan Uti Soemali


R. Oto Iskandar Dinata

Tanda jasa dan piagam penghargan dari Pemerintah RI bagi Aki Oto




Monumen-makam simbolis Aki Oto di Pasir Pahlawan Lembang

Surat terakhir dari Aki Oto


Keputusan Presiden yang menyatakan Aki Oto sebagai Pahlawan Nasional

1 comment:

  1. teh punten saya minta Kontak Nomor yg bisa dihubungi, penting ada hubungannya dengan sejarah Pak Otto ini.. pls reply A.S.A.P to -> garlin@myself.com ,nuhun.

    ReplyDelete