Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Alissa


Atuk Muhammad Syarief, Pembela Negara yang Tak Kenal Putus Asa

BIOGRAFI

            Nama kakek saya adalah Haji Muhammad Syarief. Biasa dipanggil “Papa” oleh anak-anaknya sedangkan cucunya biasa memanggil nya “Atuk”. Atuk lahir pada tanggal 2 Februari 1923 di Lubuk Jantan Lintau. Dilahirkan dari pasangan ayah bernama Muhammad Quraisy dan Ibu bernama Banso, Atuk memiliki dua orang kakak laki-laki yang bernama Zainal dan Sarudji. Pada tahun 1947 Atuk menikah dengan nenek saya yang bernama Halimatussa’diah biasa dipanggil “Ibu” oleh anak-anaknya dan dipanggil “Uwo” oleh cucu-cucunya. Dari pernikahan ini Atuk dan Uwo memiliki 9 orang anak yang bernama Syafriel Syarief, Wisma Aurora Syarief, Syahrial Syarief, Deli Astri Syarief, Drs. Erwansyah Syarief, Syukri Bintani Syarief, Zulhanif Syarief, Disril Revolin Putra Syarief, dan Riaulina Syarief.

            Pada tahun 1930 Atuk bersekolah di Volkschool, Lintau. Kemudian pindah ke HIS sampai tahun 1937. Lalu Atuk menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1952 di SMEA Medan. Setelah menyelesaikan pendidikan, Atuk dan kakaknya pergi meninggalkan Lubuk Jantan menuju Tampino, Jambi.Di Jambi Atuk mendapatkan kesempatan untuk bekerja di pertambangan minyak di Bajubang. Banyak peristiwa yang terjadi pada saat itu, contohnya gerakan-gerakan melawan penjajahan belanda.

            Sejak masih muda Atuk memang sudah tertarik untuk menjadi tentara. Melihat bangsa Indonesia yang dengan susah payah berjuang melawan Belanda-pun semakin menguatkan cita-cita Atuk untuk menjadi tentara. Atuk pernah mendaftarkan diri ke pendaftaran milisi Landswacht/Staadswacht yang dipersiapkan untuk melawan pendudukan Jepang yang dibuka oleh pemerintahan Belanda pada saat itu. Namun karena usia Atuk pada saat itu belum memenuhi syarat, Atuk tidak diperkenankan untuk bergabung.

            Setelah pendaftaran Landswacht/Staadswacht, dibukalah pendaftaran Giugun. Kali ini yang mendaftar bukan hanya Atuk, Kakak Atuk yang bernama Zainal juga turut mendaftarkan diri. Lagi-lagi Atuk tidak diterima, sedangkan kakaknya diterima. Akhirnya cita-cita Atuk untuk menjadi seorang tentara dapat terwujud saat pembentukan BKR dan TKR. Atuk ditempatkan di satuan PHB dengan pangkat Letnan Muda.

            Atuk sering bercerita kepada anak-anaknya mengenai masa-masa perjuangannya. Salah satu cerita yang pernah diceritakan adalah tentang pahitnya bergerilya dari hutan ke hutan di Bukittinggi, Payakumbuh, Lintau. DIsana Atuk harus melindungi diri dari serangan peluru yang bisa kapan saja datang. Selain itu alat-alat komunikasi berupa radio dan pemancar juga harus dilindungi. Kelangsungan pemancar harus selalu dijaga agar informasi gerak-gerik Belanda dapat diantisipasi.

            Atuk juga pernah bertugas di Aceh dan Medan. Di Medan Atuk melanjutkan pendidikannya di SMALPPU yang diasuh tentara bagian pendidikan. Setelah itu melanjutkan ke Fakultas Hukum dan Kemasyarakatan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Pada suatu hari Atuk terjatuh dari motor Harley Davidson yang sedang dikendarainya dan mengalami patah tulang di bagian bahu. Semenjak kecelakaan itu terjadi Atuk sudah tidak kuat lagi mengangkat beban yang berat. Kondisitersebut membuat Atuk mengajukan pension dini dan kembali ke masyarakat.

            Bulan Januari 1955 permohonan pension dini yang atuk ajukan disetujui. Pada tahun 1956 Atuk pindah ke Tanjung Pinang atas referensi Wedana Habib. Di Tanjung Pinang Atuk memulai karir barunya sebagai pendidik. Atuk pernah mengajar di Pendidikan Guru Agama, Universitas Hang Tuah dan STM sebagai guru agama. Atuk juga membangun Hang Tuah Shipping, sebuah perusahaan pelayaran yang melayani jalur perdagangan Tanjung Pinang-Singapura. Di kota ini Atuk benar-benar menyatu dengan masyarakat. Atuk beralih profesi menjadi Mubaligh. Ia sering diundang untuk berceramah di kelompok masyarakat maupun pemerintah daerah.

            Bersama beberapa tokoh masyarakat, Atuk mendirikan Masjid Al-Hidayah yang saat ini menjadi salah satu masjid terbaik di Tanjung Pinang. Seiring dengan semakin berkembangnya kota Tanjung Pinang, Atuk merasa masjid yang awalnya kecil sudah harus diperbesar. Karena biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit, salah seorang pengurus masjid merasa pesimis. Tetapi didasari rasa optimis Atuk bahwa masjid adalah milik Allah dan akan dipermudah oleh Allah, tanpa diduga pada tahun 1982 Menteri Perhubungan Indonesia yang pada saat itu adalah Bapak Emil Salim datang berkunjung ke Masjid Al-Hidayah dan menawarkan bantuan presiden. Dengan bantuan tersebut Masjid Al-Hidayah telah direnovasi dan berdiri megah.

            Selain sebagai mubaligh, Atuk juga aktif dalam organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Dalam organisasi keagamaan atuk aktif di Muhammadiyah. Di organisasi kemasyarakatan Atuk menjabat sebagai ketua organisasi masyarakat Minang yang bernama Maimbau.


RIWAYAT PERJUANGAN
           
            Tanggal 18 Desember 1948 Atuk bersama dengan para Pembersar Civil dan Militer berkumpul di lapangan terbang Piobang, Payakumbuh untuk menyambut rombongan Presiden Soekarno yang menurut berita akan singgah dalam perjalanannya dari Yogyakarta menuju India. Setelah ditunggu-tunggu kenyataanya rombongan presiden tidak jadi datang.

            Tanggal 19 Desember 1948 pagi diberitakan ada sebuah pesawat terbang yang datang menuju Piobang. Mendengar berita tersebut Atuk dan Bupati Limapuluh Kota Alifin dan Kepala Polisi Limapuluh Kota Sjarief Dt. berangkat menuju lapangan Piobang. Ketika tiba di lapangan Piobang ternyata yang datang bukanlah rombongan presiden melainkan pesawat Belanda yang menembaki lapangan dan sekitarnya.

            Dengan adanya penyerangan tersebut, Atuk segera kembali ke kota untuk memberi tahu rakyat agar waspada karena musuh sudah mulai menyerang. Pesawat tempur Belanda yang datang menembaki Kota Payakumbuh terutama kendaraan. Di sepanjang Kota Payakumbuh terlihat banyak korban berjatuhan terbakar, dan luka.

            Keesokan harinya, pada tanggal 20 Desember 1948 Bapak Residen Sumatera Barat Mr. St. Mohd. Rasjid datang ke Payakumbuh dan langsung mengadakan pertemuan pimpinan pemerintahan, civil, militer, dan pemuka masyarakat. Pertemuan ini diadakan di rumah Kapten Komaruddin Koman-Batalion Merapi. Di pertemuan itu diputuskan bahwa Bukit Tinggi akan di bumi hanguskan. Setelah melakukan perundingan diputuskan bahwa Payakumbuh juga akan di bumi hanguskan seperti Bukit Tinggi, begitu juga dengan bangunan pemerintah yang ada.

            Berlangsunglah pem-bumi hangusan kota Payakumbuh, kantor-kantor, bank, stasiun kereta api, penjara, kilang senjata di Gelanggan, kantor listrik, dan kantor PHB yang baru beroperasi selama satu tahun. Payakumbuh menjadi lautan api yang diiringi dengan dentuman alat-alat yang terbakar.

            Atuk dan anggota Payakumbuh yang lain meninggalkan kota Payakumbuh menuju Selatan ke Gadut – Halaban – Lintau. Usaha untuk mengontak pasukan lainnya juga turut dilaksanakan, terutama dengan komandan batalion, Kapten Komaruddin yang juga menuju Gadut.

            Di Lintau rombongan Atuk disambut oleh Komandan PHB DIV IX Banteng Kapten Suadi dan Komandan PHB Komando Sumatera yang bernama Kapten Mus Yunus dan Tuan Ardiwinata beserta staf PTT yang lebih dulu tiba. Mereka tiba di Lintau dengan membawa alat pemancar. Karena bagi mereka Lintau adalah daerah yang baru, Atuk dan rombongannya diminta untuk bergabung membangun pemancar agar cepat mengudara.

            Setelah bergabung, Atuk mengadakan dengan Kepala Nagari, Ninik Mamak, Ulama dan Pemuka Masyarakat. Pertemuan ini ditujukan agar  Kecamatan Lintau Buo menjadi pendukung utama operasi pemancar radio.

            Minggu pertama dari Clash ke II, saat tengah malam alat pemancar diangkut menggunakan mobil serta bantuan tenaga manusia melalui sawah.  Kurang dari setengah hari alat pemancar sudah tiba di lokasi yang direncanakan. Tidak lama setelah itu Pemancar YBJ-6 sudah dapat mengudara. Pemancar YBJ-6 ini terkenal dengan aktivitas hubungan luar negrinya.

            Kapten Mus Yunus beserta Staf meninggalkan Lintau untuk bergabung dengan rombongan Panglima Komandu Sumatera. Kapten Suadi Komandan PHB. Div. IX berangkat ke Pusat Komando Divisi IX di Suliki. Atuk dan pasukan PHB Sektor Limapuluh Kota diperintah untuk mengurus keperluan pemancar dibantu oleh wakil Atuk Letnan Muda Amiruddin K, Smyr (Anggota pengurus perbekalan dan kelengkapan), satu tenaga bantuan PTT.

            Sebagian anggota PHB Atuk tugaskan sebagai kurier antar front dan sebagian lagi sebagai pelaksana dan penyelenggara telepon di front pertempuran Payakumbuh Selatan sehingga Front Limapuluh Kota dan Tanah Datar dengan Pemancar YBJ-6 di Lintau bisa turut diperhatikan.

            Front pertempuran Limapuluh Kota dipimpin olwh Overste A. Thalib, Front Tanah Datar dipimpin oleh Mayor Syu’ib, Front Payakumbuh Selatan (Limapuluh Kota) dipimpin oleh Kapten Kamaruddin, dan Front Lintau Buo dipimpin oleh Letnan Ali Sjahruddin.

            Seiring dengan dibentuknya Komando Pertempuran Lintau Buo, tugas Atuk juga turut bertambah. Atuk ditugaskan untuk menjadi anggota staff pertempuran Lintau Buo, mengkoordinir BPNK dan PMT dan selanjutnya BPNK bergabung menjadi tenaga tempur.

            Lancarnya operasional Pemancar YBJ-6 menghasilkan informasi mengenai Belanda yang akan melakukan penyerangan serentak ke Lintau Buo dari arah Payakumbuh, Batusangkar, dan Sawahlunto.

            Ternyata informasi yang didapatkan tersebut benar. Lintau Buo diserang dari udara selama beberapa hari berturut-turut. Serangan dilakukan melalui pesawat udara yang menggunakan mitraliur dan senapan mesin memporakporandakan tempat pemancar pertama. Bom-bom yang dijatuhkan pesawat Belanda telah merusah rumah rakyat, kincir, dan kebun. Untungnya serangan tersebut tidak merusak pemancar YBJ-6 dan membahayakan para awak. Tentara Belanda juga mendirikan Benteng di Taluk, Buo bagian Hilir.

            Kedatangan Atuk dan pasukannya di Lintau diawali dengan AURI yang dipimpin oleh SMY Sumario, disusul Batalion Gajah Mada yang dipimpin Mayor Ma’sum.

            Untuk mengahadapi kondisi yang sedemikian rupa, Batalion Gajah Mada dibagi menjadi dua dengan area operasional di Aur Sumpur Kudus dan di Kopah, Lintau. Di Kumanis dan Tanjung Ampalu ditempati oleh pasukan Letnan Muda Zainal, Pasukan Aziz Lakon ditempatkan di Lintau, dan Pasukan Mobil Brigade pimpinan Amir Sunario untuk memperkuat pertahanan.

            Pada tanggal yang sudah tidak diingat lagi oleh Atuk, terjadilah sebuah peristiwa hebat. Pasukan Belanda menyerang dan terjadi pertempuran di Kopah dan Lubuk jantan semalam suntuk. Ketika subuh tiba mereka mundur kembali ke Taluk tetapi dihadang oleh pasukan TNI, Pasukan Aziz, dan pasukan lainnya. Setelah subuh Atuk dan pasukannya menyelamatkan beberapa rakyat yang menjadi korban, diantaranya beberapa orang tua yang ditawan Belanda dalam bak mandi di sebuah rumah di Tanjung Pauh Lubuk Jantan.Tidak begitu lama dari kejadian tersebut, terjadi pula bentrokan senjata antara Pasukan Gajah Mada dan Pasukan Mobil Brigade. Kejadian itu membuat Atuk, Letnan Ali Sjahruddin dan Komandan CPM membuat kontrak dengan kedua pasukan. Dari situlah diketahui bahwa satu anggota pasukan Amir Sunario Meninggal.

            Peristiwa tersebut membuat pasukan Atuk, Komandan Pertempuran Ali Sjahruddin dan dua orang anggota pergi ke Suliki menyampaikan laporan kepada panglima Let. Kol. Dahlan Jambek. Letnan Ali Sjahruddin mencari kontak dengan kapten Komaruddin sedangkan Atuk dan anggota terus ke Sulliki. Setibanya di Dangung-dangung rombongan Atuk disambut oleh Overste A. Thalib dan setelah menjelaskan peristiwa yang sesungguhnya besoknya rombongan Atuk diperintahkan untuk kembali ke Lintau .

            Mendekati masa Case Faire, dibentuklah kumpulan pasukan dan batalion sebelumnya yang dijadikan satu batalion dengan pemimpin batalion Overste A. Thalib.

            Pelantikan diadakan di Balai Panjang Gadut Front Payakumbuh Selatan. Saat itu walaupun Atuk sedang bertugas sebagai Perwira Piket pada Gadut, Atuk juga dilantik menjadi Komandan PHB pada batalion tersebut. Pada saat itu juga ada dua Pilot dan Co Pilot Pesawat Capung Belanda yang jatuh di Lubuk Bangku.

                Batalion itu kemudian disebut Batalion K 124 Kinantan de Benteng.


Atuk H. Muhammad Syarief


Bintang Gerilya yang didapatkan Atuk pada tahun 2008 beserta sertifikat yang di tandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Narasumber : Zulhanif Syarief (Papa)

No comments:

Post a Comment