Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Aliya Salsabila

SUDARSONO SALEH – SEORANG KOMANDAN LOGISTIK YANG PENSIUN DINI DEMI MEMPERTAHANKAN PRINSIP DAN KEADILAN

Waktu bergulir cepat, tak terasa kita telah sampai di tahun 2013. Perubahan demi perubahan dirintis oleh negeri kita yang tercinta ini, Indonesia, agar menjadi negara yang memiliki perkembangan baik di mata dunia. Tetapi kita tak boleh lupa akan apa-apa yang terjadi di masa lampau, terutama peristiwa-peristiwa yang mengajarkan kita dan juga membentuk kita hingga seperti sekarang ini.
Sejarah mengenai kita dan negara kita di era lalu, merupakan pelajaran bagi kita semua. Baik yang pernah menjadi saksi dan juga bagi yang pernah ikut serta di dalamnya. Sejarah mungkin hanyalah sekedar cerita, tetapi sebenarnya sejarah merupakan mesin waktu yang membawa kita kembali ke masa lampau sambil menyelami peristiwa-peristiwa dulu. Mesin waktu yang sebenarnya bisa menjadi proyektor kecil bagi kita, kalau sejarah adalah bagian terpenting dalam hidup kita.

BIOGRAFI
Kakek Sudarsono Saleh, dulunya adalah seorang Kolonel Purnawirawan TNI Angkatan Darat yang lahir di Brebes, Jawa Tengah, tanggal 31 Desember 1924. Beliau akrab dipanggil dengan nama ‘Darsono’ oleh sanak keluarga. Ayahnya, Saleh, adalah seorang pekerja seni yaitu seorang dalang wayang kulit, sedangkan ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga biasa.
Tumbuh besar di sebuah kota bernama Brebes, beliau merupakan anak yang patuh kepada orang tua. Kemudian, beliau pun menginjakkan kakinya dan bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), yang merupakan sekolah binaan Belanda dan diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Indonesia asli. Setelah 7 tahun duduk di sekolah yang setaraf dengan tingkat Sekolah Dasar tersebut, beliau melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah binaan Jepang, Tsu Gakko.
Setelah lulus dari Tsu Gakko, beliau melanjutkan pendidikannya dengan mengitu pelatihan militer khusus binaan Jepang yang biasa dikenal dengan nama PETA atau Yugeki Tai Minarai Shodantyo pada tahun 1945 dan dilanjutkan dengan pendidikan khusus di Kader Genie School di tahun 1946.
Debut pertama beliau sebagai pasukan angkatan perang, di mulai saat ia masuk ke dalam PETA di daerah Lembang, Bandung.  Kemudian, barulah beliau masuk ke dalam satuan TNI Angkatan Darat dan menjabat sebagai Kopral Juru Masal Kompi BKR/TKR Cirebon sejak 17 Agustus 1945 hingga 13 Maret 1946. Kemudian naik sebagai Sersan Danru Batalyon I hingga 9 Mei 1946.
Setelah menjabat sebagai Sersan, beliau kembali dinaikkan ke Jabatan Letda. Selama beliau menjabat sebagai Letda, dari tahun 1946 hingga 1949 beliau berada di area militer Yogyakarta – Solo, Jawa Tengah. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya di tahun 1949, beliau dipindahkan ke area militer Ciamis, Jawa Barat.
Sukses menjabat sebagai Letda, beliau kembali dinaikkan pangkat ke Lettu. Selama kurang lebih 8 tahun, beliau menjajaki kariernya sebagai Lettu. Tiga bulan pertama beliau habiskan di Tasikmalaya, Jawa Barat, kemudian dipindahkan ke daerah militer Tasikmalaya – Ciamis, Jawa Barat selama satu tahun.  Kurang lebih selama tiga tahun berada Indramayu.
Di penghujung tahun 1954, beliau pun akhirnya menikahi pujaan hatinya, Sriningsih, yang telah ia kenal selama beberapa tahun selama ia menjabat di daerah militer Indramayu sebagai Letnat Satu (Lettu). Dengan berbekalkan doa dan niat baik, tanggal 4 Desember 1954, beliau resmi menikah dengan Sriningsih, yaitu nenek saya sendiri, di Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat.
  
Bersama istri tercinta

Selama satu tahun berikutnya, beliau kemudian di pindahkan ke Sumedang, lalu selama sepuluh bulan ia dipindahkan ke Kuningan, Jawa Barat. Karena kekosongan jabatan terjadi di daerah militer Sumedang, beliau pun akhirnya kembali dipindahkan ke Sumedang dan dianugerahi anak pertamanya yang bernama Bambang Ediyanto pada tahun 1956.
Bersamaan dengan berakhirnya jabatan ia sebagai Lettu, beliau dikembalikan ke Cirebon dan dinaikkan pangkatnya sebagai Kapten untuk Kabupaten Cirebon. Diakhir periodenya selama menjabat di Kabupaten Cirebon, beliau dianugerahi anak kedua yang bernama Endah Dwiriani pada tahun 1958. Setelah 2 tahun menjabat di Kabupaten Cirebon, beliau pun dipindahkan ke Bandung selama kurang lebih sepuluh bulan. Selama masa jabatannya di Bandung, beliau kembali dianugerahi anak ketiganya yang bernama Kuat Triutomo pada tahun 1959.
Dengan berakhirnya masa jabatan beliau sebagai Kapten, beliau akhirnya dipindahkan ke Majalengka Jawa Barat. Jabatannya naik sebagai Mayor dan selang dua tahun setelah menjadi Mayor, beliau kembali dianugerahi anak perempuan kedua yang bernama Dian Noviarsih pada tahun 1962.
Menjabat sebagai Mayor kurang lebih empat tahun lamanya, jabatannya kembali dinaikkan sebagai Letnan Kolonel dan melakukan ‘pindahan’ yang cukup besar-besaran karena harus memboyong istri dan keempat anaknya. Belum lagi, adik-adiknya yang ikut ‘numpang hidup’ dengan beliau, ikut pindah dengan keluarga Sudarsono. Kali ini beliau tidak dipindahkan di sekitar Jawa saja, namun beliau dan sekeluarganya harus pindah ke Medan, Sumatera Utara.
Jabatan yang pertama kali beliau duduki di sana waktu itu adalah Pamen Kodam II Bukit Barisan, Medan dan hanya berlangsung selama empat bulan. Kemudian di tahun 1965, beliau sekeluarga pindah ke kota Pematang Siantar, Sumatera Utara. Disana beliau menjabat sebagai Dandim Pematang Siantar dan menjadi orang yang sangat disegani oleh masyarakat dan petinggi-petinggi di Pematang Siantar sendiri. Pada tahun 1966, beliau kembali dianugerahi anak kelima yaitu anak bungsunya yang bernama Yulita Siantarini, yang tidak lain adalah ibu kandung saya.
Ibu saya, Yulita Siantarini, sebagai narasumber.
Selama kurang lebih dua tahun menjabat sebagai Dandim Pematang Siantar, beliau sekeluarga pindah ke kota Padang, Sumatera Barat, dan beliau menduduki jabatan Kolonel Ass. 5 Kodam II 17 Agustus dengan regional Sumatera Barat – Riau, selama kurang lebih tiga tahun.
Bersamaan dengan kepindahannya 3 tahun itu, pangkatnya kembali dinaikkan sebagai Kolonel sejak tahun 1970. Jabatan yang beliau duduki setelah naik sebagai Kolonel untuk pertama kali adalah Ass. 7 Irwaskudam III/17 Agustus daerah regional Sumatera Barat – Riau selama empat tahun lamanya. Kemudian beliau menjabat sebagai Komandan Komando Logistik Kodam III/17 Agustus daerah regional Sumatera Barat – Riau. Selama masa jabatannya sebagai Komandan Kologdam III, banyak sekali kejadian yang menimpa beliau. Beliau bahkan sering difitnah atas kejujuran beliau sendiri, seakan-akan kejujuran bahkan seudah tidak berlaku lagi di dunia ini.
Pada tanggal 1 April 1975, beliau melepaskan jabatan Komandan Kologdam III beliau demi mempertahankan prinsipnya dan pada akhirnya menjadi bebas tugas. Selama dua tahun setelah Bebas Tugas, beliau menjabat sebagai Direktur Utama PT. Wira Karya Sakti, bekerjasama dengan Kodam III mengelola konsesi hutan Kodam III/17 Agustus seluas 100.000 hektar di Pekanbaru – Riau Daratan (sekarang Provinsi Riau). Beliau juga menjabat sebagai ketua KONI Sumatera Barat yang berpusat di kota Padang dan menjadi ketua MADA LVRI Sumatera Barat. Walaupun beliau sudah bebas tugas, namun sampai kapanpun ia masih tetap diingat sebagai orang besar yang kuat dan berpegang teguh pada prinsipnya.
Pada tahun 1977, beliau akhirnya kembali ke Cirebon dan resmi selesai tugas dengan sempirna, diberhentikan dengan hormat dari ABRI dengan hak-hak pensiun penuh. Namun, saat beliau resmi pensiun dari ABRI, ia tidaklah pensiun karena umur, tetapi pensiun karena permintaan orang yang bersangkutan atau biasa disebut juga Pensiun Dini.

Saat Alm. kakek Darsono bertugas di Sumatera Barat
Kembalinya beliau ke tanah asal disambut baik oleh sanak-saudara dan juga staf-staf ABRI yang ada di regional Cirebon. Pekerjaannya tidak sampai disitu saja. Karena beliau sangat menyukai organisasi, beliau pun bergabung dengan PEPABRI dan ditunjuk menjadi ketua DPC Dati II Kabupaten Cirebon dari tahun 1979 hingga 1985. Disamping jabatannya sebagai ketua PEPABRI, beliau juga menjabat sebagai menjadi ketua DPD Golkar Dati II Kabupaten Cirebon dari tahun 1979 hingga 1984. Disela-sela jabatannya sebagai ketua PEPABRI dan Partai Golkar, kemudia beliau juga disumpah untuk menjadi Anggota DPRD Tingkat II Kabupaten Cirebon dari tahun 1979 hingga tahun 1987.
Menjalani masa tuanya di Cirebon bersama istri tercinta, hingga akhir hayatnya. Innalillahi wainnailahi ra’jiun, Kakek Sudarsono Saleh meninggal dunia di usianya yang ke-84 tahun 2008 lalu. Semua terasa seperti baru kemarin, karena kehilangan beliau merupakan salah satu kehilangan terbesar saya sampai saat ini. Walaupun fisiknya telah terkubur didalam tanah, namun segala jasanya dan sejarah yang almarhum torehkan adalah bagian penting dari kita semua.

PERANAN
Kakek Sudarsono Saleh, beliau lahir memang bukan dari keluarga yang berbau militer namun lebih kepada berbau kesenian Jawa yang sangat kental adanya. Tumbuh dengan banyak pengaruh optimisme dari sang ayah, Kakek yang akrab disapa dengan nama ‘Darsono’, menjadi anak yang memiliki semangat tinggi dalam hal apapun. Hollandsch-Inlandsche School (HIS) menjadi pijakan pertamanya dalam menuntut ilmu. Dilanjutkan dengan sekolah menengah binaan Imperalisme Jepang yaitu Tsu-Gakkou.
Saat umur beliau menginjak 21 tahun, disaat Indonesia masih berada pada masa imperialisasi Jepang, pemerintahan Jepang mengharuskan semua pemuda yang berumur 15 tahun ke atas untuk bekerja di dalam sistem kerja paksa Jepang, Romusha. Jelas, kakek Darsono tidak mau menjadi budak. Karena tidak tahan melihat apa yang dilakukan Jepang kepada Indonesia, beliau ingin sekali mengusir Jepang dari Indonesia. Namun apa daya, beliau tidak memiliki persenjataan sama sekali dan jalan satu-satunya agar bisa memiliki senjata adalah masuk PETA yang berdomisili di Bandung saat itu.

Foto resmi sesaat setelah naik ke pangkat Kolonel.
Singkat cerita, Jepang yang sudah kalah telak dengan sekutu dipaksa menandatangani perjanjian yang berisikan pengakuan kalah tanpa syarat, akhirnya memutuskan untuk hengkang dari Indonesia dan membiarkan Indonesia merdeka. Walaupun Jepang masih banyak memberikan pengaruh pada Indonesia hingga awal tahun 1946-an, tetapi Indonesia masih bisa berdiri sendiri. Di saat inilah, Belanda kembali masuk ke Indonesia. Belanda perlahan-lahan kembali memulai penjajahannya seperti dulu kala. Orang Indonesia sudah banyak yang mengerti taktik ini, sehingga kemiliteran Indonesia yang sudah mulai terprogram dan berpendidikan mulai bangkit.
Alm. kakek Darsono adalah salah seorang tentara Indonesia yang ikut berperang di Agresi Militer II dan terpaksa meninggalkan sekolah kemiliterannya demi berperang melawan penjajah. Saat itu, Alm. Kakek Darsono masih berpangkat Letnan Dua (Letda). Selama agresi berlangsung, beliau kebetulan sedang bertugas di area regional Yogyakarta.
Selama berjalannya perang, banyak sekali hal yang membuat beliau tidak pernah lupa. Beliau bercerita kepada anak bungsunya, yaitu ibu saya sendiri, bahwa di saat Jenderal Soedirman sakit keras di medan perang, beliaulah yang menjadi penyampai pesan bagi pasukan yang ada di bawah naungan beliau. Padahal, saat itu yang dipanggil untuk menghadap Jenderal Soedirman adalah perwira-perwira setingkat Letnan Kolonel dan kolonel. Beliaulah satu-satunya perwira berpangkat Letnan Dua yang dipanggil menghadap Jenderal Soedirman di Yogyakarta.
Kembali ke medan, seluruh pasukan diambil alih oleh Letnan Kolonel Suharto. Beliau juga bercerita, selama perjalanannya di medan perang, beliau pernah kekurangan logistik makanan. Akhirnya, beliau berinisiatif untuk memasak dengan peralatan seadanya. Yang ada didekatnya saat itu adalah pohon durian. Karena kehabisan akal, akhirnya teman beliau pun memanjak naik dan mengambl durian yang masih muda untuk dimasak karena sudah terlalu lapar. Dan beliau pun memasak opor durian muda dan berkomentar ‘enak’. Sekilas intermezo, bertahun-tahun kemudian saat beliau sedang dinas di Padang, beliau meminta sang istri untuk membuatkannya opor durian muda-nya itu dengan alasan ‘mengenang masa perang’. Saat beliau makan, beliau spontan berkata tidak enak. Tentu saja satu keluarga tertawa saat makan.
Sebelum mengikuti perang Agresi Militer II di tahun 1948, Alm. Kakek Darsono juga ikut menumpas Partai Komunis Indonesia yang waktu itu dipimpin oleh kepala regionalnya, Mr. Yusuf, di Hotel Grand Cirebon pada tanggal 11 Februari 1946, saat beliau masih berpangkatkan Kopral dengan spesialiasasi Juru Masak. Dua bulan setelah penumpasan di Cirebon, dengan penuh keberanian beliau yang sudah berpangkatkan Sersan, membawa pleton-pletonnya berangkat dari Jawa Barat ke Mojokerto, Jawa Timur, yang dipimpin oleh Mayor Sabirin Muchtar dimulai sejak tanggal 19 April 1946.

Lencana dan penghargaan yang didapat Alm. kakek Darsono.
Setelah selesai berperang di Agresi Militer II, beliau bergabung dengan Batalyon Nasuhi dan ikut menumpas Partai Komunis Indonesia yang saat itu dipimpin oleh Muso. Beliau menyusuri jalan, bukit, hutan, dan gunung, mulai dari Yogyakarta, Solo Kleco, Wonogiri, Pacitan (Ajosari), Ponorogo, Karanganyar, dan Tawangmangu. Kemudian beliau mengikuti Long Marsch yang dimulai dari Temanggung, Jawa Tengah dan berakhir di Rancah, Jawa Barat.
Seusai berperang melawan Partai Komunis Indonesia (PKI), beliau masih menjalankan satu perang terakhirnya yaitu penumpasan gerakan DI/TII yang menyeruak di Tasikmalaya dan sekitarnya. Beliau melakukan taktik gerilya di sekitar Banjar Patroman, Ciamis dan Tasikmalaya. Saat berada di dalam perang ini, beliau juga mendapat pengalaman berharga. Lagi-lagi karena kehabisan logistik makanan, beliau berinisiatif dengan idenya yang sangat tidak biasa, yaitu memotong leher sepatu boot-nya, lalu membakarnya. Menurut beliau, saat itu rasanya seperti kikil sapi.
Usai melakukan peperangan-peperangan, Alm. Kakek Darsono lebih banyak bekerja di Kodim TNI. Jabatannya di sana adalah sebagai Komandan Komando Logistik Kodim, seperti yang beliau kerjakan selama menjabat di Sumatera Barat. Suatu ketika, beliau terlibat kasus yang sangat sensitive untuk diceritakan di artikel ini, karena yang bersangkutan memang telah meninggal dunia. Sehingga akan menjadi tidak cukup fakta dalam penjelasannya. Yang jelas, di akhir karier beliau, beliau menolak untuk menjadi orang yang zalim dan memilih untuk melepaskan jabatannya lalu pensiun dini, dibanding harus merugikan orang lain, karena begitulah prinsip beliau. Setelah bebas tugas, beliau bekerja di swasta-negri hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke Cirebon.
Piagam dari LVRI.
Sekian artikel yang bisa saya tuliskan mengenai Almarhum kakek saya tercinta, semoga apa yang saya tuliskan dapat berguna bagi siapapun yang membaca dan semoga prestasi dan jasa-jasa yang telah beliau lakukan menjadi pertimbangan Tuhan atas surga bagi beliau. Amin.

1 comment: