Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Alvian Putra Adhitama XI IPA 1

Ki Ageng Suryomentaram, seorang Pangeran dan juga Seorang Petani


       Sejarah merupakan sesuatu yang pernah terjadi. Kita mempelajari sejarah guna melihat prestasi-prestasi maupun kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan nenek moyang kita. Dari prestasi-prestasi itu, kita dapat belajar menghargai perjuangan nenek moyang kita terdahulu dengan mempelajarinya, mengajarkannya, dan menerapkan semangat tiada padam nenek moyang kita dalam memperjuangkan Negara Indonesia yang sangat kita cintai ini. Dari kesalahan-kesalahan mereka, kita dapat belajar memahami pola pikir nenek moyang kita, dan memperbaiki pola pikir tersebut sehingga kita dapat memetik pelajran penting dan menerapkan perbuatan-perbuatan postif kedepaannya.

      Sejarah Indonesia termasuk pokok pembahasan yang sangat menarik.  Telah kita ketahui bahwa Indonesia mempunyai banyak sekali ragam budaya. Dari setiap budaya itu, memiliki berjuta-juta sejarah yang berpola pikir dan berprinsip yang sangat berbeda. Marilah kita sebagai genereasi-generasi penerus bangsa Indonesia ini, mengupas sejarah pahlawan-pahlawan bangsa tersebut.  

       Banyak orang-orang disekeliling kita, nenek kita, kakek kita, serta orang-orang tua disekitar kita, mempunyai pengaruh besar dan banyak berperan ketika masa-masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Mungkin ada yang menjadi jendral angkatan laut, komandan regu pada perang-perang yang dihadapi, maupun hanya sebagai pelopor ide-ide yang kemudian akan berdampak besar kedepannya. Walaupun begitu, sekarang mereka sudah pensiun, hanya duduk di sebuah kursi goyang, menatap perbuahan dengan mata berbinar, terharu oleh pencapaian yang telah dicapainya. Mereka-mereka ini akan sangat senang dan bersemangat ketika kita (generasi-generasi penerus) ingin mendengar cerita-cerita perjuangan mereka. Mereka akan merasa kembali ke masa itu, ketika mereka semua memiliki semangat tiada padam yang terus membawa raga dan jiwa mereka maju menuju suatu titik pencapaian, yaitu kemerdekaan Indonesia.

         Oleh karena itu, saya akan mengadakan wawancara singkat dengan orang-orang yang hidup sekitar masa revolusi kemerdekaan, dan mendengarkan cerita mereka dengan mata, telinga, dan hati.

  Pada hari Minggu, 26 Mei 2013, nenek saya mengadakan suatu acara arisan di kediaman rumahnya di daerah Buncit. Pada hari itu saya datang ke acara tersebut dan saya diberi kesempatan untuk bertemu dan mengadakan wawancara singkat dengan bapak Dr. RM Grangsang Suryomentaram. Beliau merupakan salah satu orang yang hidup dimasa revolusi kemerdakaan Indonesia. Beliau lahir sekitar tahun 1932, sekarang umurnya sudah mencapai sekitar 81 tahun. Beliau merupakan saksi langsung seseorang yang berperan sangat besar dalam perjuangan-perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia.

Bapak Grangsang merupakan anak ketiga dari 7 bersaudara. Beliau mempunyai 1 kakak perempuan, 1 kakak laki-laki, 3 adek perempuan, dan 1 adek laki-laki. Kakak laki-lakinya yang bernama RM Jegot, tewas dalam gerakan yang dilakukan kumpulan pemuda, guna mencegah pendaratan pesawat amphibi Inggris di Rawabelong.

   Bapak Grangsang sendiri menyatakan bahwa dirinya tidak pernah terlibat secara langsung dalam gerakan-gerakan revolusi kemerdekaan. Beliau dari kecil bercita-cita untuk menjadi dokter, dan hal itu pun  terwujud. Beliau ketika masa mudanya bekerja sebagai dokter umum sampai umur pensiunnya. Selain bermimpi menjadi dokter, beliau dari kecil juga memiliki hobi menulis karangan. Hobi tersebut pun membawa dia berhasil menerbitkan buku-bukunya. Buku yang pertama terbit yang berjudul ‘Kawruh Jiwa Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram’ adalah buku yang menceritakan riwayat hidup Pangeran Ki Ageng Suryomentaram yang merupakan ayahanda dari beliau.     
     
BIOGRAFI

Ki Ageng Suryomentaram merupakan putra langsung dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Nama asli dari Ki Ageng adalah Bendera Raden Mas Kudiarmadji atau biasa dipanggil BRM Kudiarmadji.

Seperti saudara-saudaranya yang lain, Bendara Raden Mas Kudiarmadji bersama-sama belajar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan kraton. Tingkat pendidikan sekolah ini kurang lebih sama dengan sekolah dasar sekarang. Selepas dari Srimanganti, dilanjutkan dengan kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Setelah selesai kursus, bekerja di gubernuran selama 2 tahun lebih.

BRM Kudiarmadji mempunyai kegemaran membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan agama Islam dan mengaji didapat dari K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Beliau diangkat menjadi Bendera Pangeran Harya Suryomentaram ketika beliau menginjak umur 18 tahun.

Seiring berjalannya waktu, Pangeran Suryomentaram semakin jenuh dengan susasana keraton. Dalam kegelisahannya, pada suatu ketika Pangeran Suryomentaram merasa menemukan jawaban bahwa yang menyebabkan ia tidak pernah bertemu orang, adalah karena hidupnya terkurung dalam lingkungan kraton, tidak mengetahui keadaan di luar. Hidupnya menjadi sangat tertekan, ia merasa tidak betah lagi tinggal dalam lingkungan kraton. Penderitaannya semakin mendalam dengan kejadian-kejadian berturutan yang menderanya, yaitu:
1.       Patih Danurejo VI, kakek yang memanjakannya, diberhentikan dari jabatan patih dan tidak lama kemudian meninggal dunia.
2.       Ibunya dicerai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan dikeluarkan dari kraton, kemudian diserahkan kepada dirinya.
3.       Istri yang dicintainya meninggal dunia dan meninggalkan putra yang baru berusia 40 hari.

Rasa tidak puas dan tidak betah makin menjadi-jadi sampai pada puncaknya, ia mengajukan permohonan kepada ayahanda, Sri Sultan Hamengku Buwono VII, untuk berhenti sebagai pangeran, tetapi permohonan tersebut tidak dikabulkan. Pada kesempatan lain ia mengajukan permohonan untuk naik haji ke Mekah, namun ini pun tidak dikabulkan. Karena sudah tidak tahan lagi, diam-diam ia meninggalkan kraton dan pergi ke Cilacap menjadi pedagang kain batik dan setagen (ikat pinggang). Di sana ia mengganti namanya menjadi Notodongso.

Ketika berita perginya Pangeran Suryomentaram ini didengar oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII, maka Sultan memerintahkan KRT Wiryodirjo (Bupati Kota) dan R.L. Mangkudigdoyo, untuk mencari Pangeran Suryomentaram dan memanggil kembali ke Yogyakarta. Setelah mencari-cari sekian lama, akhirnya ia ditemukan di Kroya (Banyumas) sedang memborong mengerjakan sumur.

Namun beliau berhasil ditemukan dan dibawa kembali ke Yogyakarta.  Tetapi tidak lama setelah itu, ayahandanya meninggal dunia, dan digantikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pangeran Suryomentaram ini pun kembali mengajukan permohonan berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran , dan kali ini dikabulkan. Beliau kemudian membeli tanah di Bringin dan tinggal disana sebagai petani. Disana beliau lebih dikenal dengan nama Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. Dia juga dianggap sebagai dukun disana, banyak yang datang kepadanya untuk berdukun dan meminta petunjuk. Di Bringin jugalah ia bertemu dengan orang pintar dan berpandangan luas, yang kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Setelah Perang Dunia 1 selesai, Ki Gede Suryomentaram dan Ki Hajar Dewantara beserta beberapa orang mengadakan sarasehan setiap malam Selasa Kliwon dan banyak juga dikenal orang-orang daerah Bringin itu.

Sepuluh tahun setelah perginya sang istri dari Ki Ageng, beliau menikah lagi, dan kemudian membawa sekeluarga tinggal di Bringin.

Suatu malam di pada tahun 1927, Ki Ageng membangunkan istrinya dan berkata, “Bu, sudah ketemu yang kucari. Aku tidak bisa mati.” "Ternyata yang merasa belum pernah bertemu orang, yang merasa kecewa dan tidak puas selama ini, adalah orang juga, wujudnya adalah si Suryomentaram. Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai 0berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung. Sekarang sudah ketahuan. Aku sudah dapat dan selalu bertemu orang, namanya adalah si Suryomentaram, lalu mau apa lagi? Sekarang tinggal diawasi dan dijajagi."

Setelah itu, beliau makin sering berpergian, keluyuran, bertemu orang-orang. Ia sering mendatangi teman-temannya dan bercerita tentang hasil pembicaraannya dengan orang-orang yang ia temui.

PERAN

Dalam sarasehan yang rutin dilakukan oleh Ki Gede dengan Ki Hajdar, mereka membahas topik seputar keadaan sosial-politik di Indonesia. Kala itu sebagai akibat dari Perang Dunia I yang baru saja selesai, negara-negara Eropa, baik yang kalah perang maupun yang menang perang, termasuk Negeri Belanda, mengalami krisis ekonomi dan militer. Saat-saat seperti itu dirasa merupakan saat yang sangat baik bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda.

Pada awalnya muncul gagasan untuk mengadakan gerakan fisik melawan Belanda, tetapi setelah dibahas dengan seksama dalam sarasehan, disimpulkan bahwa hal itu belum mungkin dilaksanakan karena ternyata Belanda masih cukup kuat, sedangkan kita sendiri tidak mempunyai kekuatan. Kalau kita bergerak tentu akan segera dapat ditumpas.

Sekalipun gagasan perlawanan fisik tersebut tidak dapat terwujud, namun semangat perlawanan dan keinginan merdeka tetap menggelora. Dalam sarasehan bersama setiap Selasa Kliwon itu akhirnya disepakati untuk membuat suatu gerakan moral dengan tujuan memberikan landasan dan menanamkan semangat kebangsaan pada para pemuda melalui suatu pendidikan kebangsaan. Pada tahun 1922 didirikanlah pendidikan kebangsaan dengan nama Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara dipilih menjadi pimpinannya, Ki Gede Suryomentaram diberi tugas mendidik orang-orang tua.

Ki Ageng semakin terdengar namanya dimana-mana, dan beliau sempat masuk kedalam daftar pengawasan intel Belanda. Setiap rapat ataupun ceramah selalu ada agen PID (Politzeke Inlichtingen Dienst) yang hadir.

Pada waktu kedudukan Jepang, Ki Ageng berusaha keras dalam membentuk tentara, karena ia berkeyakikan bahwa tentara adalah tulang punggung negara. Gagasan ini dikemukakan dalam pertemuannya dengan Empat Serangkai.

Dalam usaha mewujudkan gagasannnya, Ki Ageng mengajukan permohonan kepada Kolonel Yamauchi yang waktu itu merupakan gubernur Yogyakarta untuk membentuk tentara sukarela, tetapi permohonan itu ditolak.

Tetapi perjuangan beliau untuk membentuk tentara tidak pernah berhenti, sampai ketika seorang anggota dinas rahasia Jepang yang bernama Asano tertarik dan kemudian menyanggupi akan membawa permohonan itu ke Tokyo, tanpa diketahui oleh pihak pemerintahan Jepang di Indonesia.

Tidak lama kemudian permohonan itu disetujui oleh pihak Tokyo, sehingga mau atau tidak mau pemerintah Jepang di Indonesia tetap harus membentuk tentara sukarela itu. Setelah disetujui, Ki Ageng langsung mengadakan pendaftaran anggota besar-besaran. Datanglah orang berduyun-duyun untuk mendaftar. Tetapi blom lama setelah pendaftaran dibuka, pendaftaran segera diambil alih oleh pemerintah, dan nama Tentara Sukarela diganti namanya menjadi Tentara Pembela Tanah Air (PETA).

`MENJELANG AKHIR HIDUP

  Setelah penyerahan kedaulatan, Ki Ageng mulai lagi mengadakan ceramah-ceramah Kawruh Beja (Kawruh Jiwa) ke mana-mana, ikut aktif mengisi kemerdekaan dengan pembangunan jiwa berupa ceramah-ceramah pembangunan jiwa warga negara. Pada tahun 1957 pernah diundang oleh Bung Karno ke Istana Merdeka untuk dimintai wawasan tentang berbagai macam masalah negara. Ki Ageng tetap mengenakan pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari.

 
 Kurang lebih 40 tahun Ki Ageng menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan.

    Pada suatu hari ketika sedang mengadakan ceramah di desa Sajen, di daerah Salatiga, Ki Ageng jatuh sakit dan dibawa pulang ke Yogya, dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit itu, Ki Ageng masih sempat menemukan kawruh yaitu bahwa "puncak belajar kawruh jiwa ialah mengetahui gagasannya sendiri".


  Ki Ageng dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu, namun karena sakitnya tidak kunjung berkurang, kemudian ia dibawa pulang ke rumah. Sakitnya makin lama makin parah, dan pada hari Minggu Pon tanggal 18 Maret 1962 jam 16.45, dalam usia 70 tahun, Ki Ageng tutup usia di rumahnya di Jln. Rotowijayan no. 22 Yogyakarta dan dimakamkan di makam keluarga di desa Kanggotan, sebelah selatan kota Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment