Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Alvinka Vianissa Putri XI IPA 2

Erwin Kasim, Saksi "Bandung Lautan Api"


"Halo-halo Bandung
Ibukota periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali"

(Halo Halo Bandung)


Pada hari Sabtu siang tanggal 25 Mei 2013, saya mewawancarai kakek saya di rumahnya yang berada di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Saya pergi ke sana bersama ketiga teman saya yaitu, Bella, Zhafran, dan Rafi. Maksud awal kami adalah mengunjungi Korps Veteran RI di daerah Jakarta Timur untuk mewawancarai para Veteran yang berada disana. Kami juga ingin mendengar cerita seorang pelaku sejarah di masa perjuangan. Setelah mencapai lokasi, kami tidak dapat menemukan Korps Veteran RI yang dimaksud. Akhirnya kami memutuskan untuk mewawancarai kakek saya. Setelah melalui perjalanan yang lumayan jauh, sampailah kami di rumah kakek saya dan mulai mewawancarai beliau. Peristiwa yang kakek saya lalui adalah peristiwa yang terkenal dengan sebutan “Bandung Lautan Api”.

BIOGRAFI

Kakek saya bernama Erwin Kasim. Saya biasa memanggil kakek saya dengan sebutan “Papa” sementara sepupu saya yang lain memanggil beliau “Aki”. Beliau lahir pada tanggal 6 Maret 1942. Beliau lahir dari pasangan Muhammad Kasim dan Fatimah Kasim. Kakek saya merupakan anak ke-enam dari sepuluh bersaudara. Kakek buyut saya bekerja sebagai guru dan nenek buyut saya menjadi ibu rumah tangga untuk mengurus keperluan suami dan kesepuluh anaknya.

Beliau memulai pendidikannya saat umur 6 tahun di Sekolah Rakyat Bebedilan, Ciamis. Beliau bersekolah di sana sampai kelas 2. Kemudian, kakek saya dan keluarga pindah ke Bandung dan Beliau melanjutkan pendidikannya sampai tamat SD di Sekolah Rakyat Banjarsari, Bandung. Sampai sekarang, sekolah ini masih berdiri dan kakek saya masih sering melakukan reuni dengan teman-teman SD-nya. Setelah lulus SD pada tahun 1954, beliau melanjutkan ke jenjang berikutnya di SMPN 2 Bandung selama 3 tahun sampai tahun 1957. Kemudian, beliau menghabiskan 3 tahun masa SMA di SMAN 3 Bandung sampai tahun 1960. Kakek saya mengambil jurusan B yang seperti jurusan IPA di masa sekarang ini. Setelah lulus SMA, beliau sempat berkuliah selama setahun di ITB jurusan Geodesi. Kemudian pindah ke Universitas Padjajaran Bandung mengambil jurusan ekonomi. Setelah lulus mendapat gelar sarjana, beliau melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 pada tahun 1997 di Pascasarjana UGM jurusan Manajemen. Kakek saya bekerja di Pertamina dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1998. Selama bekerja disana, kakek saya mendapat pendidikan-pendidikan di bidang perminyakan dan manajemen di negara-negara Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Beliau juga sempat berpindah-pindah kerja dari Plaju, kemudian ke Pangkalan Brandan, dan Jakarta sampai sekarang ini.

Kakek saya menikah dengan nenek saya yang bernama Sukartinah Kasim pada tanggal 9 Juni 1968. Mereka dikaruniai 2 orang putri dan seorang putra. Salah satunya adalah Ibu saya. Kakek saya memiliki 5 orang cucu dan cucu pertamanya adalah saya.

PERANAN

Pada umur 4 tahun, kakek saya menjadi saksi sejarah peristiwa “Bandung Lautan Api” yang terjadi di tahun 1946. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Maret 1946. Pada hari itu, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka dan meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Sekilas Tentang Bandung Lautan Api

Pasukan Inggris tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Inggris pun mengeluarkan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.

Ultimatum inilah yang mendorong TRI untuk membumihanguskan kota Bandung. Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Pada 23 Maret 1946, semua penduduk Bandung meninggalkan kota Bandung dan malam itu juga, dilakukan pembakaran di kota Bandung. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut.

Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung.

Istilah Bandung Lautan Api muncul di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul "Bandoeng Djadi Laoetan Api". Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi "Bandoeng Laoetan Api".

Kesaksian

Saat peristiwa itu terjadi, kakek saya masih berumur 4 tahun. Saat itu, beliau adalah anak ke enam dari tujuh bersaudara. Anak kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh lahir saat peristiwa itu sudah berlalu. Kakek saya bersama keluarganya ikut rombongan penduduk Bandung yang mengungsi. Ayah dari kakek saya adalah seorang guru dan memihak kepada Republik Indonesia.

Kakek saya dan rombongan pengungsi itu berjalan kaki ke selatan karena Bandung Utara sudah dibumihanguskan. Sampailah di Dayeuhkolot kemudian ke Balai Endah. Di Balai Endah, kakek saya menetap sementara di rumah kenalan tentara kakek buyut saya selama beberapa hari. Karena kakek buyut saya memiliki kenalan seorang tentara, kakek saya pun mendapat sedikit kemudahan selama masa pengungsian itu. Jarak dari Bandung mencapai 10 kilometer yang ditempuh dengan jalan kaki.

Saat dikejar tentara sekutu, kakek saya terus berpindah-pindah tempat. Kemudian, kakek saya mengungsi lagi ke Pangalengan yang berjarak kurang lebih 70 kilometer. Kakek saya dan keluarga sampai di Pangalengan dengan menaiki truk tentara. Selama pengungsian, Beliau tinggal di rumah-rumah penduduk yang tinggal di daerah-daerah yang disinggahi. Beliau tinggal di Desa Kertasari dengan menumpang rumah penduduk setempat. Tidak terdapat logistik sama sekali. Sehingga nenek buyut saya menukar barang-barang yang keluarganya punya untuk ditukar dengan beras dan makanan. Karena makanan sangat terbatas, kakek saya diajarkan sedari kecil untuk tidak pernah membuang makanan barang satu butir nasi pun. Kakek saya bercerita, jika ada sebutir nasi yang jatuh dari piring, akan diambil satu suap nasi dari piringnya sebagai hukuman. Karena itulah sampai sekarang, kakek saya tidak pernah membuang-buang makanan. Beliau selalu menghabiskan makanan di piringnya sampai tidak tersisa.

Dari Pangalengan, beliau memulai perjalanan ke Ciamis yang menempuh waktu selama satu bulan. Beliau berjalan kaki, kemudian naik truk peleburan, truk tentara, dan berjalan kaki lagi hingga sampai Ciamis. Kemudian kakek saya menetap di Cigembor selama 6 bulan. Kakek buyut saya adalah seorang guru. Karenanya, di setiap tempat yang beliau singgahi dan tempati agak lama, beliau mendirikan sekolah perjuangan untuk anak-anak pengungsi dan penduduk setempat. Semangatnya yang sangat tinggi patut ditiru oleh generasi sekarang ini.

Saat Perjanjian Renville sudah ditandatangani dan disetujui, kakek saya dan keluarga menetap di Ciamis. Di Ciamis inilah kakek saya memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat Bebedilan, Ciamis sampai kelas 2 SD. Sekolah Rakyat adalah sekolah yang setara dengan Sekolah Dasar. Kakek buyut saya pun menjadi direktur sebuah sekolah disana.

Pada tanggal 23 Agustus 1949 sampai 2 November 1949, di Den Haag, Belanda, dilaksanakan Konferensi Meja Bundar atau KMB. Konferensi ini merupakan sebuah titik terang bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh pengakuan kedaulatan dari Belanda, menyelesaikan sengketa antara Indonesia-Belanda, dan berusaha menjadi negara yang merdeka dari para penjajah.

Setelah konferensi ini, kakek saya pun kembali ke Bandung dengan aman. Beliau pun meneruskan kehidupannya di Bandung dan pada akhirnya menghabiskan masa tuanya bersama anak dan cucu di Jakarta.

Pada saat peristiwa Bandung Lautan Api terjadi, kakek saya masih berumur 4 tahun. Beliau menceritakan peristiwa “Bandung Lautan Api” dari kacamata seorang anak laki-laki berumur 4 tahun. Selama pengungsian, hal yang kakek saya lakukan sebelum memulai sekolah rakyat adalah bermain-main bersama teman sebaya, bermain di sawah, membantu nenek buyut saya memetik daun singkong dan pekerjaan lainnya.

Kakek saya sempat sakit mencret sampai berdarah saat itu. Kemudian, beliau ditolong seorang dokter dan akhirnya bisa sembuh. Kakek saya berkata yang paling beliau ingat adalah mengalami kudisan di kaki. Wabah penyakit tentu menyebar sehingga banyak yang gugur selama pengungsian karena sakit.

Saat mengungsi, tentara Inggris terus mengejar dan menembaki ribuan penduduk yang sedang berjalan mengungsi. Jika ada pesawat sekutu, langsung terdengar teriakan dari penduduk lainnya dan semua rombongan pun berlindung dari tembakan sekutu di selokan. Banyak yang gugur selama pengungsian ini karena tertembak sekutu, ataupun karena sakit. Setiap singgah, semua penduduk harus memiliki lubang perlindungan di rumahnya. Lubang ini digunakan sebagai tempat berlindung jika tentara inggris menyerang mereka.

Saat itu, beliau merasakan betapa ramah dan baiknya penduduk Indonesia. Karena selama itu, beliau tinggal menumpang di rumah-rumah penduduk setempat yang dengan tangan terbuka menerima keluarga kakek saya yang terbilang cukup besar. Para pengungsi lainnya juga dengan rasa kebersamaan yang tinggi selalu membantu orang lain.

Demikianlah hasil wawancara saya dengan kakek saya. Berikut adalah foto kakek dan nenek saya.







No comments:

Post a Comment