Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Alysia Vania Anabel


Nenek Timawar Hutabarat, Saksi Kejamnya Hidup           

               
                  Setiap manusia pasti punya sejarah.  Setiap manusia pasti pernah mengalami banyak kejadian selama masa hidup mereka, baik kejadian yang menyenangkan maupun yang memilukan.  Masing-masing kejadian tersebut pun pastinya akan membekas dan menjadi kenangan yang akan terus melekat di pikiran setiap manusia.  Tentu saja, kenangan-kenangan yang dimiliki masing-masing individu akan berbeda tergantung pada zaman apa mereka hidup.  Pada kesempatan kali ini, saya akan mewawancarai nenek saya yang bernama Timawar Hutabarat tentang kehidupan dan pengalamannya selama ia hidup dari zaman penjajahan hingga Indonesia merdeka dan sampai pada zaman modern ini.


Biografi Nenek                          

             Nenek saya bernama Timawar Hutabarat.  Beliau lahir di Tarutung, Sumatera Utara pada tanggal 6 Mei tahun 1938, beliau sekarang sudah berumur 75 tahun.  Nenek saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya berjenis kelamin perempuan.  Orang tua  dari nenek saya mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya dengan bertani.  Ayah nenek saya bernama Adonia Hutabarat dan ibu nenek saya bernama Sabina.  Nenek saya  banyak menghabiskan masa kecilnya di Tarutung, setiap harinya beliau selalu membantu kedua orang tuanya bekerja di sawah.  Beliau tidak dapat bersekolah layaknya anak seusianya karena ayah beliau melarangnya untuk bersekolah.  Menurut ayah beliau, anak perempuan tidak sepantasnya untuk pergi menuntut ilmu karena anak perempuan seharusnya berada di dapur dan membantu pekerjaan rumah.  Pada umur 7 tahun beliau dan kakaknya akhirnya dapat menuntut ilmu di sebuah sekolah rakyat yang bernama sekolah H.K.I. setelah ayahnya meninggal dunia.  Setiap pagi, beliau akan pergi berjualan sayur ke pasar sambil membawa keranjang tempat meletakkan sayur jualannya. Setelah sayur jualannya habis beliau biasanya akan menitipkan keranjangnya pada temannya kemudia beliau baru akan pergi untuk menuntut ilmu  ke sekolah.  Beliau setiap harinya pergi ke sekolah dengan berjalan kaki dan tanpa mengenakan alas kaki.  Setelah pulang sekolah, beliau biasanya akan langsung pulang untuk berganti baju dan mengambil cangkul lalu pergi ke sawah untuk bertani.  Hal ini beliau lakukan untuk membantu ibunya yang sudah janda karena beliau tidak ingin menyusahkan ibunya.  Setelah mencapai pendidikan hingga di kelas 3 SD, beliau diajak untuk pergi ke kota oleh saudara ibunya.  Beliau mengiyakan tawaran tersebut, apalagi karena alasan saudara ibunya mengajak beliau pergi ke kota adalah supaya beliau bersekolah di sekolah bagus yang ada di kota.  Namun ternyata, sesampainya di kota, beliau justru dipaksa oleh saudara ibunya untuk bekerja di toko kue milik saudara ibunya.  Beliau dipaksa untuk bekerja sepanjan hari.  Ia bahkan tidak diberikan waktu untuk bersekolah.  Karena beliau merasa tidak betah dan tidak sanggup, akhirnya beliau memutuskan untuk melarikan diri dan kembali ke kampung dan tinggal bersama dengan ibunya lagi.  Beliau kemudian kembali menuntut ilmu di sekolah rakyat yang sama yaitu Sekolah H.K.I. dan kemudian dinyatakan lulus dari pendidikan jenjang SD pada tahun 1953.

                Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP di sebuah SMP Negeri.  Sampai pada masa SMP-nya, kehidupan beliau tidak mengalami begitu banyak perubahan.  Beliau masih melakukan usahanya berjualan sayur untuk membayar uang sekolahnya.  Beliau kemudian lulus dari pendidikan jenjang SMP pada tahun 1956.  Setelah lulus dari SMP, beliau kemudian diajak oleh pamannya untuk pergi ke Medan.  Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya ke SGA (Sekolah Guru Atas).  Namun, menurut beliau, karena ia tidak menyukai dan tidak menguasai seni suara, maka ia tidak suka bersekolah di SGA dan kemudian memutuskan untuk keluar dari SGA.  Beliau kemudian mendengar tentang dibukanya pendaftaran untuk sekolah perawat Angkatan Darat.  Beliau kemudian mengikuti pendaftaran di Medan lalu setelah itu pergi ke Cimahi, Bandung untuk bersekolah di sekolah perawat Angkatan Darat pada tahun 1957 dengan ikatan dinas.  Selama 3 tahun menuntut ilmu di sekolah perawat Angkatan Darat, beliau tinggal di sebuah asrama yang telah disediakan.  Beliau tidak pernah meminta dikirimi uang kepada ibunya karena lagi-lagi, beliau tidak ingin menyusahkan ibunya.  Beliau kemudian lulus dari sekolah perawat Angkatan Darat pada tahun 1960 dan kemudian bekerja di sebuah rumah sakit di Cimahi, Bandung.  Pada tahun 1961, beliau pulang kembali ke kampung menemui ibunya setelah berhasil menyimpan uang hasil kerjanya.  Beliau kemudian kembali ke Cimahi, Bandung sesudah menemui ibunya di kampung.  Setelah kembali ke asramanya, beliau kemudian dikenalkan oleh temannya kepada kakek saya yang bernama Maniur Pasaribu.  Kebetulan, pada saat itu, kakek saya juga sedang berada di Cimahi untuk mengikuti pendidikan untuk menjadi seorang TNI dan jarak antara asrama nenek saya dan mess kakek saya berdekatan.  Setelah 2 tahun menjalin hubungan, kemudian kakek dan nenek saya memutuskan untuk menikah.  Namun, karena tidak mempunyai biaya untuk mengontrak rumah, maka mereka tidak tinggal bersama hingga akhirnya, setelah 3 bulan menikah, mereka pun bisa tinggal bersama dan mengontrak sebuah kamar yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat nenek saya bekerja.  Kakek dan nenek saya kemudian dikaruniai 5 orang anak, 3 berjenis kelamin perempuan dan 2 berjenis kelamin laki-laki.  Dari 5 anak-anaknya tersebut, beliau kemudian diberikan 9 orang cucu.  4 berjenis kelamin perempuan dan 5 berjenis kelamin laki-laki.  Kakek dan nenek saya kemudian sering tinggal berpindah-pindah kota seperti Bogor, Bandung, Jakarta, dan Surabaya karena mengikuti pekerjaan kakek saya yang seorang TNI.  Beliau juga sempat  pergi ke negara Amerika Serikat dan menetap di Negeri Paman Sam tersebut karena menemani kakek saya yang saat itu sedang mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat sebelum akhirnya tinggal dan menetap di Jakarta. 


Peranan

          Menurut cerita nenek saya kehidupan pada zaman penjajahan sangatlah penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan.  Pada zaman penjajahan Belanda dahulu, rakyat miskin tidak ada yang mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan di bangku sekolah.  Beliau bilang, hanya orang-orang dari golongan atas yang pro atau mendukung Belanda yang dapat bersekolah. Kehidupan zaman dahulu sangat susah dan keras, beliau yang memang sudah hidup berkekurangan penderitaannya seakan-akan bertambah saat zaman penjajahan.  Untuk mendapat makanan sangat susah apalagi untuk mendapatkan pakaian.  Pakaian saja sampai harus mengenakan karung goni yang dipotong-potong sehingga dapat dikenakan di badan dan bahkan terkadang sampai harus mengenakan kulit dari kayu pohon.  Beliau juga bercerita kalau zaman penjajahan Belanda ada kerja rodi di kampungnya, para pemuda dan penduduk laki-laki dipaksa untuk bekerja membuat jalan-jalan.  Selain itu, pada zaman dahulu, baik pada zaman penjajahan Belanda maupun pendudukan Jepang, ketika orang-orang Belanda ataupun orang Jepang datang ke kampung, mereka seringkali menembaki penduduk.  Karena merasa terancam dan takut menjadi korban penembakan, setiap penduduk biasanya akan membuat lubang tersembunyi di rumah mereka yang digunakan sebagai lubang persembunyian.  Biasanya, saat orang-orang Belanda atau orang-orang Jepang datang, para penduduk kampung akan bersembunyi di lubang-lubang tersebut sehingga mereka aman dari ancaman.  Menurut beliau, zaman pendudukan Jepang adalah zaman yang paling penuh dengan kesengsaraan.  Pada zaman pendudukan Jepang, masyarakatnya selalu kekurangan karena orang Jepang selalu merampas apa yang dimiliki oleh masyarakat.  Pernah suatu waktu, nenek saya yang dulu memelihara ikan mas dirampas ikan masnya  oleh tentara Jepang karena ikan masnya saat itu berukuran sangat besar.  Zaman dulu, biasanya orang-orang kota akan pergi ke kampung untuk melakukan  barter dengan orang-orang kampung, biasanya orang-orang kota akan mencari bahan makanan seperti sayur-sayuran dan singkong karena di kota tidak ada bahan-bahan makanan yang dibutuhkan.  Pada zaman Jepang, para pemuda dan penduduk laki-laki juga dipaksa untuk bekerja.  Kerja paksa pada zaman Jepang dulu dikenal dengan nama romusha.  Biasanya para tentara Jepang akan memaksa para pemuda dan penduduk laki-laki untuk bekerja, dan barangsiapa dari mereka yang menolak untuk bekerja akan diberi hukuman dengan cara dicambuk.  Para tentara Jepang juga biasanya akan menangkap pemuda dan penduduk laki-laki.  Tahanan-tahanan tersebut kemudian akan dikumpulkan di sebuah camp yang terlihat seperti sebuah penjara untuk dipaksa bekerja dan disiksa.  Sebelumnya, para tentara Jepang berniat untuk membawa para tahanan tersebut ke Jepang, namun karena insiden pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, tentara Jepang tidak jadi membawa para tahanan tersebut dan mereka, para tentara Jepang pergi mundur kembali ke Jepang. Setelah itu, Belanda kembali masuk ke Indonesia.  Menurut nenek saya, pada zaman ini para tentara Belanda sering mencari dan menangkap para tentara nasional yang bersembunyi di kampung.  Saat  Belanda kembali datang, Belanda kembali menguasai daerah kota sehingga hal ini membuat para tentara nasional terpaksa pergi dan bersembunyi.  Para tentara nasional ini banyak yang pergi bersembunyi ke kampung-kampung maupun pergi bersembunyi ke gunung-gunung.  Menurut nenek saya, biasanya para tentara Belanda akan pergi ke kampung-kampung untuk mencari orang-orang yang bekerja di kota, terutama mereka yang merupakan anggota tentara nasional karena memang saat itu banyak dari penduduk kota yang melarikan diri ke kampung.  Biasanya para tentara Belanda ini akan mencari orang-orang kota dengan cara yang sangat unik, yaitu dengan cara memegang tangan orang-orang yang mereka temui.  Apabila tangan mereka terasa kasar dan keras seperti tangan seorang pekerja, maka para tentara Belanda akan mengetahui kalau mereka adalah orang kampung asli.  Tetapi bila tangan yang dipegang terasa halus maka mereka adalah orang kota.  Biasanya orang-orang kota terebut akan ditangkap dan dibawa dan jika yang tertangkap adalah seorang tentara nasional, maka Belanda tidak akan segan-segan untuk membunuh tentara yang tertangkap tersebut.  Setelah para tentara melarikan diri ke gunung, para tentara itu memiliki mata-mata yang bertugas untuk memata-matai baik tentara Belanda maupun penduduk yang tinggal atau yang datang ke kampung.  Apabila ada penduduk nasional yang dianggap pro atau mendukung Belanda, maka penduduk tersebut akan ditangkap oleh tentara nasional.  Pernah ada saudara dari nenek saya yang dianggap mendukung Belanda sehingga rumah saudara nenek saya tersebut dibakar, saudara nenek saya tersebut bahkan sempat tertembak di bagian kakinya.  Tidak banyak kejadian-kejadian di tahun-tahun berikutnya yang nenek saya ingat.  Nenek saya mungkin memang tidak berperan dalam peperangan yang terjadi di zaman dulu.  Ia mungkin hanya menjadi saksi kekejaman hidup pada zaman penjajahan Belanda dan zaman pendudukan Jepang.

             Demikianlah informasi yang saya dapatkan setelah wawancara saya dengan nenek saya Timawar Hutabarat.  Meskipun tidak banyak memiliki peranan namun saya kagum dengan perjuangan nenek saya untuk dapat bertahan hidup melewati kejamnya penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.  Saya harap kisah ini dapat memberi motivasi bagi generasi muda saat ini yang sudah hidup di zaman yang lebih modern, canggih, dan mudah daripada zaman dulu untuk terus berjuang dalam hidupnya.

Saya dan Nenek





No comments:

Post a Comment