Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Biografi) - Amelia Nurul Permatasari

Pejuang Veteran pada Serangan Umum 1 Maret Perebutan Jogja Kembali

Sejarah merupakan gambaran kehidupan masyarakat di masa lampau, mempelajari sejarah penting karena dengan sejarah kita dapat lebih mengetahui peristiwa atau kejadian-kejadian yang terjadi di masa lampau. Peristiwa yang terjadi di masa lampau tersebut dapat dijadikan pedoman dan acuan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di masa kini dan masa yang akan datang. Dengan sejarah kita tidak sekedar atau mengingat data-data dan fakta-fakta yang ada tetapi lebih memaknainya dengan mengetahui mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi.

Indonesia kini sudah berumur 67 tahun di kemerdekaannya, tidak bisa dibayangkan sudah berapa banyak jasa-jasa orang terdahulu dalam berkontribusi memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tugas sejarah kali ini, guru sejarah saya meminta untuk mewawancari orang yang berumur sekitar kakek atau nenek, awalnya saya bingung karena alasan dari empat kakek-nenek saya, dua diantaranya saya belum pernah bertemu dengan beliau, sedangkan satu kakek saya tahun lalu baru saja dipanggil ke Tuhan Yang Maha Esa. Sekarang ini, saya hanya mempunyai satu nenek, dan kebetulan sekali, nenek saya ini sedang berada di Wonosobo, tetapi pada saat saya menelfon ke rumah eyang putri, eyang sedang berada di Jogjakarta dan kurang beruntung saya, eyang saya tidak bisa dihubungi.

Akhirnya saya memutuskan untuk mewawancarai bapak saya karena, saya teringat akan makam eyang kakung saya di Jogja, diatas makam beliau terdapat tanda seperti bambu runcing berwarna kuning dan terdapat bendera merah putih. Saya memutuskan untuk bertanya-tanya pada bapak saya mengenai eyang kakung saya pada hari ini.

Biografi
Eyang kakung saya bernama S. Bariin. Amat sangat disayangkan saya belum pernah bertemu dengan beliau, bukan hanya saya saja, tetapi ketiga kakak dan adik saya pun tidak berkesempatan untuk bertemu dengan beliau. Eyang saya lahir di Jogja bulan Agustus seingat saya pada tahun 1928 dan anak ke tujuh dari tujuh bersaudara, yang mempunyai enak kakak perempuan semua. Eyang kakung merupakan anak terakhir dan ketujuh bersaudara itu dan merupakan anak laki-laki pertama dan terakhir. Eyang kakung sudah menjadi anak yatim di usianya tiga puluh lima hari. Eyang buyut meninggal tiga puluh lima hari setelah keahiran Eyang kakung.

Konon katanya, Eyang buyut meninggal 35 hari setelah kelahiran Eyang kakung karena, beliau dulu menginginkan anak laki-laki, lalu beliau pergi ke "orang pintar" untuk meminta seorang anak laki-laki, tetapi setelah lahirnya anak laki-laki itu ayah dari anak itu setelah 35 hari, meninggal. Eyang kakung setelah menjadi anak yatim, beliau diasuh oleh kakeknya, bernama Eyang Brojo Hanggo. Dan disekolahkan di SR (Sekolah Rakyat) setara dengan Sekolah Dasar Muhammadiyah hingga Sekolah Menengah Pertama.

Eyang kakung mempunyai istri, bernama Siti Sumartati. Saya dan dua kakak dan adik saya tidak berkesempatan juga untuk bertemu dengan eyang putri, tetapi kakak saya yang pertama sempat bertemu dengan eyang putri. Menurut bapak dan ibu saya, eyang putri merupakan sosok yang sangat rapi, dan disiplin, beliau merupakan seorang guru kedisiplinan. Beliau juga mahir dalam berbahasa Inggris British, walaupun beliau belum pernah pergi ke luar negeri.

Maaf sebelumnya, data-data file saya error dan terhapus, saya akan menulis mengenai eyang kakung saya seingat saya saja. :)

Peran Tokoh
Eyang kakung saya adalah seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, dan ikut bergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia, dan mendapatkan bintang LVRI pula.
Secara umum ada tiga tingkatan veteran, yang tertinggi adalah veteran perang kemerdekaan, kemudian veteran perang dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa dari agresi luar negeri dan selanjutnya veteran perang dalam membela kepentingan bersama bangsa-bangsa yang menjadi sekutunya atau membela kepentingan politik tertentu negaranya.

Sejujurnya saya sangat sedih akan hilangnya data saya mengenai cerita tentang eyang kakung, tetapi semoga saja apa yang saya ingat ini dapat berguna untuk nilai tugas sejarah.

Eyang kakung saya dahulu juga merupakan juru kampanye dari Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX, dan suka membantu Sri Sultan ketika turun ke bawah. Tugas dari juru kampanye antara lain untuk meyakinkan masyarakat agar masyarakat mengikuti Sri Sultan dalam memilih partai politik. Yang pada waktu itu adalah Golongan Karya, salah satu dari tiga partai yang diperbolehkan di negara. Masa kampanye tersebut sekitar tahun 1971-1977. Kedua partai lainnya adalah Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia.

Beliau menjadi pejuang perang membela Negara Republik Indonesia pada saat Serangan Umum 1 Maret 1948. Pada waktu itu beliau berusia sekitar dua puluh dua (22) tahun. Beliau terkena pecahan peluru di pelipis bagian kiri, tetapi Alhamdulillah itu hanya terluka dan tidak membahayakan nyawanya. Pada waktu itu yang bertugas adalah Kolonel Komandan Bataliyon Soeharto, yang pada akhirnya menjadi Presiden Republik Indonesia yang kedua.

Beliau juga aktif dalam membangun Monumen Jogja Kembali bersama dengan pejuang-pejuang pada Serangan Umum 1 Maret 1948, yang saat ini monumen tersebut terletak di Jalan Kaliurang Ring Road Yogyakarta.

Eyang kakung dahulu juga sempat bekerha di bagian penerangan masyarakat, saya lupa namanya apa yang sekarang menjadi Badan Komunikasi dan Informasi. Lalu salah satu dari anak buah eyang kakung ialah Radius Prawiro yang pada akhirnya beliau sempat menjadi Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia. 

Ada beberapa orang lagi yang menjadi anak buah eyang kakung, dan orang-orang itu menjadi seseorang yang berguna dan berkepentingan bagi bangsa dan negara Indonesia ini. Salah satu kelebihan eyang kakung ialah, beliau merupakan seorang pemimpin yang baik dan mahir dalam berpidato atau berbicara di depan umum. Setelah itu kelebihannya yang lain ialah beliau pintar dalam memilih anak buahnya, karena sebagian besar anak buahnya menjadi orang penting di negara ini.

Eyang kakung meninggal pada tahun 1988, dan selang beberapa tahun kemudian, eyang putri menyusul eyang kakung.

Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti juga Republik Indonesia - masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia Internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.

LVRI sesungguhnya dibentuk pada tanggal 1 Januari 1957, namun karena beberapa pertimbangan kemudian mengalihkannya menjadi tanggal 2 Januari 1957, bertepatan dengan hari pelantikan Badan Pimpinan Pusat LVRI yang pertama oleh Presiden Soekarno tanggal 2 Januari 1957 yang kemudian dikukuhkan dalam Keputusan Presiden RI Nomor 103 tahun 1957. Terbentuknya Legiun Veteran Republik Indonesia dan berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan suatu penghargaan dan penghormatan dari Pemerintah dan Rakyat Indonesia secara tulus kepada para veteran yang dalam periode perjuangan dan periode pembelaan Kemerdekaan RI telah berjuang mengangkat senjata membela kemerdekaan dan kebebasan tanah airnya dibawah panji-panji perjuangan melawan segala isme dalam segala bentuk manifestasi apapun yang bertentangan dengan Pancasila. Guna meluruskan pengertian dan pandangan masyarakat terhadap keberadaan organisasi-organisasi yang beranggotakan para veteran, seperti halnya Organisasi Angkatan ’45, dijelaskan bahwa persamaannya adalah anggota LVRI dan pendiri Organisasi Angkatan ’45 sama-sama mantan pejuang Kemerdekaan RI, tapi yang mnembedakannya antara lain adalah ruang lingkup organisasinya, dimana Organisasi Angkatan ’45 didirikan sebagai wadah pengkajian, pengembangan dan pembudayaan jiwa, semangat perjuangan Nilai-Nilai ’45 tetap tertanam pada setiap generasi penerus Indonesia dalam mengisi kemerdekaan, agar tetap tegaknya NKRI hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sementara itu, Organisasi LVRI diatur oleh Undang-Undang No. 7 tahun 1967 yaitu tentang Veteran Republik Indonesia, sehingga mempunyai kedudukan yang istimewa karena berdirinya melalui Keputusan Presiden RI. Begitu juga Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tanggal serta pengangkatan anggota Pimpinan Pusat dan Dewan Paripurna Pusat LVRI disahkan melalui Keputusan Presiden.
Monumen Yogya Kembali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubowono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh kolonel Soegiarto, selaku walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983. Nama Yogya Kembali dipilih dengan maksud sebagai tetenger (peringatan) dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibukota RI Yogyakarta pada waktu itu, tanggal 29 Juni 1949. Hal ini merupakan tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintahan Belanda.


PENGHARGAAN PEMERINTAH KEPADA LVRI Atas jasa para Veteran RI Pemerintah memberikan penghargaan kepada para Veteran RI berupa : 1. Bintang LVRI bagi anggota organic Veteran maupun bukan Veteran yang telah berjasa kepada Veteran membantu baik materi ataupun fasilitas lain, dengan persyaratan yang telah ditentukan, disamping Bintang Veteran juga diberikan Satya Lencana Veteran dan Surat Penghargaan.

Sekiranya hanya itu yang dapat saya sampaikan mengenai eyang kakung saya, mohon maaf atas kekurangan yang ada pada tugas sejarah ini, karena kekurangan pada tugas sejarah ini tidak diduga dan terjadi di akhir dan mendekati jam akhir terakhir pengumpulan tugas biografi ini. Atas perhatian bapak, dan lainnya, saya ucapkan terima kasih. :)

Lambang LVRI

Monumen Jogja Kembali

Seragam LVRI

Radius Prawiro




No comments:

Post a Comment