Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 Biografi Amyra Putri Larasati XI IPS 3

           Kakung Soegyoso, Saksi Sejarah Tiga Zaman

            Pada kesempatan ini, saya menulis biografi tentang Kakek saya yang bernama Almarhum Soegyoso. Informasi yang didapatkan untuk menulis biografi ini didapat dari autobiografi yang beliau tulis pada tahun 2000, dimana beliau berumur 75 tahun. Saya mengambilnya dari buku beliau karena beliau sudah wafat, begitu pula dengan istrinya. Karena Beliau orang Jawa, saya lebih akrab memanggil beliau dengan sebutan Kakung.

Biografi

            Kakung saya berenama Kakung Soegyoso. Ia menjadi saksi dari tiga zaman yang dialami Indonesia, yaitu zaman penjajahan Belanda, Jepang, dan kemerdekaan. Beliau wafat pada tahun 2007 lalu, dikarenakan sakit dan umur yang sudah tua. Beliau lahir pada tanggal 26 Agustus 1925 di Pulo Pecinden, dari pasangan Bapak R. Soeprapto dan Ibu Amenah. Karena pada zaman itu keluarga besar adalah hal yang wajar, kakung saya adalah anak pertama dari 9 kakak beradik, dimana ada lima orang laki-laki dan empat orang perempuan. Menurut silsilah keluarganya, beliau masih merupakan keturunan dari Mangkunegaran.
            Pendidikan formal pertama Kakung Soegyoso ia rasakan pada masa penjajahan Belanda adalah sekolah dasar yang pada waktu itu disebut Hollands Inlandsche School atau disingkat H.I.S. yang dapat diartikan sebagai sekolah Belanda untuk Pribumi. Sekolah dasar pada  saat itu berlangsung selama 7 Tahun.
            Setelah menjalani Sekolah Dasar, beliau melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah Belanda, yaitu Hogere Burger School (H.B.S.). H.B.S. adalah salah satu sekolah yang dikelola oleh Christelijke Middelbare Scholen (C.M.S.). H.B.S. berlangsung selama 5 tahun, dikarenakan merupakan gabungan Sekolah Menengah Pertama (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan Sekolah Menengah Atas (Algemene Middlebare School). Murid-muridnya rata-rata adalah anak-anak Belanda, dengan hanya beberapa anak Pribumi dan Indo.
            Kakung Soegyoso melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Beliau masuk Geneeskundige Hoge School atau sekarang dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tetapi, Kakung saya tidak melanjutkan pendidikan disana hingga tamat, memilih keluar di tengah-tengah masa pembelajarannya.
            Beliau menikahi nenek saya, atau yang biasa saya panggil uti saya, yang bernama Sri. Mereka menikah pada tanggal 4 Januari 1954, dan memiliki lima anak, karena pada zaman itu, memiliki anak banyak masih dikategorikan biasa saja. Ibu saya adalah anak ke lima dari lima bersaudara.

Kesaksian dan Kontribusi

            Pada zaman Belanda, Kakung saya lebih menjadi saksi dibandingkan memberi kontribusi pada negara karena pada saat penjajahan Belanda beliau masih muda. Dalam jurnal dan biografi yang beliau tulis, dikatakan bahwa golongan rakyat terbagi menjadi tiga, yaitu orang-orang Eropa atau disebut Europeanen yang termasuk didalamnya orang Amerika, orang-orang Asia dan Timur Asing yang disebut Vreemde Oosterlingen, dan orang-orang  pribumi atau Inlanders. Orang-orang Indonesia pun dikatakan terdiri dari rakyat biasa dan kaum elite.
            Pendidikan pada masa itu boleh dikatakan tidak berjalan dengan semestinya. Dikatakan demikian karena pada saat itu hanya anak-anak Belanda dan orang-orang Indonesia bergelar Bangsawan saja yang dapat masuk sekolah.
            Wilayah Jakarta pada masa tersebut jauh lebih kecil daripada Jakarta sekarang. Perbatasan pada bagian selatan dibatasi oleh Banjir Kanaal, atau sekarang disebut Kali Malang. Bagian Barat dibatasi pada daerah Petojo (Barat dari sungai Cideng), bagian Timur di daerah Kemayoran dan Gang Tengah. Alat untuk transportasi waktu itu masih terbatas dengan sepeda, delman, sado, trem listrik, dan taksi yang jumlahnya belum seberapa.
            Makanan pada zaman Belanda tidak sesulit itu untuk didapatkan, tidak seperti zaman Jepang. Pada zaman Belanda, makanan yang dikonsumsi dapat dibilang makanan sederhana, misalnya sop sayur bening. Buah-buahan dan sayur-sayuran pun masih mudah dicari dan sebagian besar adalah jenis-jenis yang kita makan sehari-hari.

            Pada awal mulainya zaman Perang Dunia II yang kakung saya rasakan setelah adanya pengumuman bahwa Hindia Belanda berada dalam keadaan perang dengan Jepang. Beliau menyaksikan persiapan-persiapan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda, antara lain mengadakan penangkapan orang-orang Belanda yang termasuk anggota Nationaal Sosialistische Bond atau yang disebut sebagai kumpulan Nazi Belanda, karena pada saat itu Belanda ada dalam keadaan perang dengan Jerman dan sekutunya.
            Masyarakat pada zaman itu diperintahkan untuk menggali lubang perlindungan untuk menghadapi kemungkinan serangan udara dari Jepang. Persiapan-persiapan lainnya pun dilaksanakan, seperti memasang ban-ban kertas pada jendela-jendela, mengecat hitam lampu-lampu mobil, dan menurunkan arah sinar lampu. Kakung saya dan keluarganya menggali lubang perlindungan atau bunker sedalam kurang lebihh dua meter dalamnya, satu setengah meter lebarnya dan dua setengah meter panjangnya yang terletak disamping rumah. Keadaan saat itu sangatlah penuh dengan huru-hara. Bila ada tanda bahaya, sirene akan dibunyikan, dan semua orang akan masuk kedalam lubang perlindungannya. Untuk membantu menghalau serangan udara, Belanda dibantu oleh serdadu dari Australia yang datang ke Batavia. Belanda juga mengadakan pengumpulan alumunium bekas untuk membangun pesawat terbang baru dan Spitfire fonds untuk menggalang dana untuk membuat pesawat pemburu Inggris bernama Spitfire.
            Sekolah Kakung Soegyoso juga mengadakan baris pertahanan yang terdiri dari murid-murid sekolah menengah Belanda yang dinamakan School Oefen Corps (S.O.C.), yaitu semacam tentara pelajar pada masa perjuangan kemerdekaan yang dilatih oleh sorang opsir dari Koninklijke Nederlands Indische Leger (K.N.I.L.) atau tentara kerajaan Hindia Belanda. Latihan S.O.C. terdiri dari baris-berbaris dan menggunakan granat tangan.
            Kakung saya tidak ingin mengikuti kegiatan S.O.C. Beliau segera mendaftarkan diri pada Panitia Korban Perang (PKP), suatu badan yang diakui dan dianggap juga membantu keadaan pada waktu itu. PKP diketuai oleh Bapak Tjindarbumi dan berkantor di Salemba dan bertugas mengurusi pengungsi-pengungsi dan lain sebagainya. Kakung Soegyoso sempat mengantarkan pengungsi ke Jati Petamburan menemui keluarganya dengan naik delman.

            Masuknya tentara Jepang didahului dengan desas-desus macam-macam. Ada yang mengatakan bahwa orang Jepang mengincar sepeda untuk melanjutkan pengejaran tentara sekutu, ada juga yang menceritakan bahwa seseorang beruntung karena sepedanya yang kecil ditukar dengan sepeda merk Raleigh yang dikatakan terlalu tinggi untuk orang Jepang. Karena dibandingkan dengan tentara Belanda, orang-orang Jepang yang masuk ke Indonesia kecil-kecil.
            Awalnya, Jepang masuk mengaku sebagai saudara Indonesia. Awalnya rakyat Indonesia menyambut mereka dengan baik. Bagaimana tidak, Jepang sudah membebaskan Indonesia dari Belanda. Kemudian, lama kelamaan Jepang mulai bertingkah aneh, dengan menyuruh orang Indonesia membungkuk memberi hormat (kirei) pada penjaga-penjaga Jepang yang sedang bertugas.
            Keadaan semakin kacau saat tingkah mereka sudah makin menjadi-jadi. Rakyat mulai kesulitan dalam hal lapangan kerja. Ayah dari Kakung sayang saja kehilangan pekerjaanya di Bataviasche Kunstkring. Kakung saya sampai mulai berjualan gambir untuk mencari nafkah.
            Beras menjadi sulit didapatkan karena sebagian besar panen padi harus diserahkan pada pemerintah, sedangkan petani-petaninya sendiri tidak mendapatkan beras sesuai kebutuhan, sampai-sampai mereka terpaksa mencuri padi mereka sendiri dimalam hari. Banyak orang mati kelaparan dan bergelimpangan dimana-mana. Dipasar banyak ditemukan bangkai bertebaran.
            Kakung dan keluarganya memiliki sebidang tanah di pelbak, atau tempat pembuangan sampah yang sudah menjadi humus. Tanah itu ditumbuhi sayur-sayuran dan kemudian dijual. Keluarga kakung terpaksa bertani untuk “mempertahankan hidup”, saking sulitnya hidup di zaman Jepang.
            Pada zaman Jepang, transportasi umum disesuaikan dengan keadaan perang, karena yang diutamakan adalah transportasi yang mendukung kepentingan militer Jepang. Transport umum terutama terdiri dari kereta api, trem listrik, saldo, deman dan sepeda. Taksi malah tidak ada karena harus menggunakan bensin, dan semua mobil sudah diambil tentara Jepang. Tapi kemudian muncul kendaraan umum yang sekarang disebut becak, yang muncul untuk menggantikan kendaraan umum lainnya.

            Kakung pernah sempat terlibat dengan Kinro Hooshi. Kinro Hooshi atau kerja bakti, bersifat kerja paksa yang diperintahkan kepada pelajar untuk membantu usaha perang Jepang tanpa bayaran. Beliau pernah ditugaskan untuk memotong alang-alang yang tumbuh di lapangan terbang Kemayoran, yang digunakan balatentara Jepang sebagai pangkalan udara. Beliau dan teman-temannya diangkut dengan truk, kemudian dipekerjakan pada siang hari, dengan alat pembabat rumput yang masih sederhana. Makan siang yang disediakan sangat sedikit, tidak cukup untuk mengisi kembali energi setelah bekerja seharian. Sampai suatu saat ada diskusi tentang Kinro Hooshi. Mulai dari situ, sudah mulai timbul pembicaraan-pembicaraan yang mengarah kepada politik.

            Peranan Beliau selain dalam mengikuti PKP masih banyak, salah satunya adalah mengungsikan isi rumah Mr. Rum. Suatu hari ketika masih bermarkas di Pegangsaan Timur 19, Kakung diperintahkan untuk mengungsikan isi rumah Mr. Moh. Rum, salah seorang pemimpin Republik, di Jalan Kwitang Raya.
            Mr. Moh. Rum saat itu sedang dirawat di rumah sakit, dikarenakan kakinya ditembak, sehingga kakung saya dan teman-temannya ditugaskan mengamankan barang-barangnya. Saat itu terdapat tangsi Netherlands Indies Civil Administration atau NICA, serdadu Belanda yang terdiri dari orang-orang Ambon. Sebelum pergi kesana kakung pergi ke markas Military Police tentara Inggris untuk minta dikawal. Beliau menggunakan truk 3 ton yang diambilnya dari tentara Jepang bersama Soenarto, Zus Wiet Djajadiningrat, dan rekan-rekan lainnya. Barang-barang Mr. Moh. Rum kemudian diungsikan ke Jalan Karet, Tanah Abang, kerumah saudaranya, yang kemudian menjadi tempat kelurahan Tanah Abang.

            Kakung Soegyoso juga bergabung dengan WANI atau Wanita Indonesia, yaitu kelompok yang diasuh oleh Ibu Erna Djajadiningrat. Secara resmi, WANI adalah Dapur Umum, tapi dibalik layar adalah tempat rendez vous dengan Tentara Republik Indonesia dan juga kegiatan logistik dan lainnya yang bertujuan mensupply para tentara. WANI yang semulanya beroperasi di jalan Mampang 45 kemudian terpaksa pindah karena diteror Belanda.
            Tugas utama WANI semulanya adalah menyediakan makan bagi para pejuang yang ada di Jakarta dan sekitarnya, tetapi kemudian berkembang menjadi lebih, seperti menyediakan pakaian yang antara lain digunakan untuk membantu korban kebakaran, membarter dengan bahan makanan disamping membuat bendera merah putih dan seragam untuk pasukan Indonesia.
            Seperti dikatakan tadi, dibalik layar WANI berfungsi sebagai berbagai macam, selain menjadi dapur umum. WANI juga berperan sebagai tempat pertemuan para pejuang, sarana menampung warga yang dipulangkan dari luar negeri, sarana supply kebutuhan pejuang, kedok aktivitas perjuangan, menyelamatkan harta republik, pengungsian tawanan sekutu, pusat kepanduan Republik di Jakarta, tempat pemusatan gerakan pemuda, dan turut serta dalam bidang pers Nasional.

            Kakung saya sempat juga menjadi seorang guru. Beliau mengajar di SMP API (Angkatan Pemuda Indonesia). SMP dan SMA API adalah peguruan yang didirikan oleh para mahasiswa yang prihatin dengan keadaan pendidikan yang ada pada zaman pendudukan Belanda.
            Kakung menjadi guru bersama dengan teman-temannya yang lain dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Banyak juga guru-guru lainnya yang bukan berasal dari Fakultas Kedokteran. Kakung Soegyoso mengajar Biologi dan menggambar.
            Kemudian, beliau diangkat menjadi direktur SMP API. Beliau juga pernah diminta untuk mengajar di SMA yang menampung anak-anak Tentara Pelajar di daerah Lapangan Banteng, dimana beliau memberi pelajaran menggambar.
           
            Ditahun-tahun setelah proklamasi kemerdekaan, Kakung Soegyoso bekerja di Departemen Penerangan, yang dulunya berada di gedung Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau adalah yang termuda disana, dan bekerja dibawah pimpinan Wim Latumeten. Mereka bekerja di bidang pers dan menerbitkan majalah dalam bahasa Belanda. Beliau lupa dengan nama majalah mingguan yang ia terbitkan, tetapi seingatnya, namanya adalah Het Nieuwsblad.
            Maksud dari penerbitan tersebut adalah untuk memberikan gambaran mengenai situasi  politik Indonesia dilihat dari pihak republik Indonesia, untuk membalikan visi Belanda. Pekerjaan beliau antara lain mengkoreksi konsep-konsep yang akan dicetak. Pernah suatu hari saat bekerja, Beliau digiring dengan truk oleh Corps Speciale Troepen Westerling di malam buta. Hanya karena salah duduk di dalam truk, Beliau dipukuli oleh mereka. Saat sampai di lokasi yang dituju, didalamnya sudah ada kumpulan hasil razia pasukan elite belanda itu. Saat waktu hampir pagi, beliau digiring keruang bawah tanah oleh seorang opsir Westerling untuk ditanya-tanyai. Kemudian setelah selesai, beliau dibebaskan. Tak lama setelah kejadian tersebut percetakannya digrebeg oleh Belanda dan dikuasai.

            Selain bekerja di Departemen Penerangan, Kakung saya juga sempat bekerja di Bank Central Asia, Bank Pern. Indonesia, Bank Risyad Salim Internasional, dan di Bank Negara Indonesia, baik di divisi PDA maupun sebagai pemimpin cabang di Solo. Setelah pensiun Beliau memutuskan untuk menjadi pelukis, melihat keterampilannya dalam menggambar.

             
Saat masih muda

Saat berumur 75 Tahun

Serah terima jabatan sebagai pemimpin BNI cabang Solo

No comments:

Post a Comment