Monday, 27 May 2013

Tugas-2 Biografi Anandhyka Ramadhan XI IPA 4


Kakek Hidayat, Pejuang Pemberantas DI/TII

Penulis salah satu dari 10 (sepuluh) cucu Almarhum Rd. H. Oyot Hidayat yang pada masa hidupnya turut serta berjuang, mengabdikan diri dan rela mengorbankan kepentingan pribadi demi menggengam kemerdakaan untuk negara yang kita cintai, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kakek telah mengalami sekian banyak zaman pemerintahan. Mulai dari zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, Kemerdekaan Indonesia, perubahan sistem pemerintahan ke negara serikat, demokrasi liberal, demokrasi terpimpin (Orde Lama) serta Orde Baru (zaman presiden Alm. Soeharto yang memimpin negara selama 32 tahun).
Penulisan sejarah singkat ini diperoleh informasi dari Nenek dan sanak keluarga sebagai narasumber yang mengenal dekat dan mengetahui kehidupan dari Rd. H. Oyot Hidayat. Sebagian besar dari cerita ini diperoleh dari Uwa Ido Sumardi sebagai keponakan kakek yang tinggal disebelah rumahnya. Penulis tidak bisa menanyakan langsung kisah hidup kakek karena Rd. H. Oyot Hidayat sebagai narasumber utama telah wafat pada tanggal 5 Mei tahun 1995, 9 bulan sebelum penulis lahir. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
(a). Biografi
Rd. H. Oyot Hidayat lahir di Garut pada tanggal 15 Agustus tahun 1925 sebagai anak bungsu (anak terakhir) dari 6 (enam) bersaudara dari pasangan Rd. Kartapradja dan Rd. Hj. Iyoh Masriah. Rd. Kartapradja menjabat sebagai lurah Desa Sukasono di Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut yang berhasil dapat memberikan kesejahteraan kepada warganya sehingga dihormati dan dikagumi oleh warganya serta mendapat penghargaan sebagai Lurah Bintang dari Belanda.  
Seabagai anak lurah yang berhasil pada saat itu kakek dapat mengenyam pendidikan di Holand Inlander School (HIS)  setingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas sekarang yang berlokasi di jalan Pasundan Garut dan lulus pada tahun 1938.
Pada tahun 1943 sampai dengan tahun 1945 bekerja di PT Pendawa yang bergerak dibidang pengolahan teh, Jabatan terakhir Mandor Dalam. Pada waktu itu daerah Garut udaranya masih dingin, sehingga banyak perkebunan teh yang produksinya tinggi baik dari sisi kualitas maupun kuantitanya.
Setelah bekerja selama 2 tahun di Perusahaan Teh, pada tahun 1945 kakek bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia yang merupakan cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pangkat Sersan Mayor di kesatuan Corps Polisi Militer. Pada Tahun 1945 sampai dengan tahun 1947 bergabung dengan pasukan Pangeran Papak dibawah Komandan Mayor Kosasih, bergelirya di sekitar Garut Timur dan Garut Utara melawan penajajah dalam agresi militer Belanda 1.
Peralatan perang yang dimilki saat itu sangat terbatas untuk mengusir penajajah Belanda tidak seperti halnya peralatan perang yang dimilki TNI saat ini. Sebagai seorang komandan peleton yang mempunyai anggota sebanyak 30 orang hanya memiliki 2 buah pistol dan 3 buah senjata laras panjang dan masing-masing anggota regu menggunakan bambu runcing, sehingga dalam melawan penjajah tidak memungkinkan untuk berperang secara terbuka.
Aksi perlawanan sering dilakukan pada malam hari dan pada siang hari digunakan untuk istirahat, bahkan dari beberapa anggota pasukan menyamar sebagai penjual makanan atau pekerja kasar di lingkungan orang-orang belanda untuk memperoleh kekuatan dan kelamahan pasukan Belanda.
Perlawanan dilakukan pada malam hari untuk lebih memudahkan pelarian setelah melakukan serangan dan bersembunyi di tempat-tempat yang sulit dan tidak dikenal oleh tentara Belanda.
Tahun 1947 sampai dengan tahun 1949 melanjutkan gerilya di Gunung Galunggung, Tasikmalaya dengan strategi yang sama pada saat bergeliya di daerah Garut Timur dan Garut Utara, yaitu dengan melakukan serangan pada malam hari dan pada siang istirahat atau beberapa anggota melakukan pengintaian dengan menyamar sebagai pedagang makanan atau pekerja kasar.
Setelah bergerilya selama 4 tahun, pada akhir tahun 1949 berhenti  atas permintaan sendiri dan 1 tahun kemudian kakek menikahi seorang bunga desa setempat  yang bernama Rd. Dewi Aminah. Wanita yang dipinang menjadi istrinya ini mempunyai talenta seni menari dan bernyanyi serta mempunyai kemampuan mengajar sebagai guru berhitung di Sekolah Rakyat (SR) di Desa Sukasono. Dari pernikahannya itu, dikaruniai 6 anak yang semuanya sukses dalam menyelesaikan pendidikan dan berkarir dalam pekerjaaannya. Anak pertama bernama Lenny Hidayat (Sarjana Ekonomi), Asri Hidayati (Sarjana Perbankan), Djamhur Hidayat (Sarjana Politik) yang merupakan ayah dari penulis, Teddy Hidayat (Sarjana Ekonomi), Andi Hidayat (Insyinur Perkebunan) dan Dadang Hidayat (Sarjana Teknik Mesin).              
Dalam mendidik putra/putrinya kakek sangat memperhatikan pendidikannya dan akan marah dengan keras apabila ada  yang tidak sungguh-sungguh sekolahnya, seperti bolos sekolah, nilai raport yang kurang baik, bahkan selalu menasehati bahwa guru itu adalah orang tua kedua yang harus diperhatikan dan dituruti nasehat dan ajarannya. Itulah salah satu perjuangan kakek dalam membimbing dan mendidik putra/putrinya, sehingga semuanya dapat menyelesaikan pendidikan sarjana untuk bekal dalam kehidupan masing-masing.
(b). Peranan
Pada tanggal 14 Agustus 1947 setelah Agresi Militer Belanda I, Kartosuwiryo menyatakan “perang suci” melawan Belanda. Gerakan Kartosuwiryo semakin tidak sejalan dengan pemerintah RI ketika berdasarkan perjanjian Renville ”pasukan TNI di daerah kantong-kantong Gerilya harus hijrah ke wilayah yang dikuasai RI” tetapi Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo menolak melakukan hijrah ke wilayah RI dan bersama 4.000 orang pengikutnya memilih tetap tinggal di Jawa Barat.
Pada tanggal 7 Agustus 1949 di suatu desa di Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Gerakannya dinamakan Darul Islam (DI) sedang tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Gerakan ini dibentuk pada saat Jawa Barat ditinggal oleh pasukan Siliwangi yang berhijrah ke Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam rangka melaksanakan ketentuan dalam Perundingan Renville. Ketika pasukan Siliwangi berhijrah, gerombolan DI/TII ini dapat leluasa melakukan gerakannya dengan membakar rumah-rumah rakyat, membongkar rel kereta api, menyiksa dan merampok harta benda penduduk. Akan tetapi setelah pasukan Siliwangi mengadakan long march kembali ke Jawa Barat, gerombolan DI/TII ini harus berhadapan dengan pasukan Siliwangi.
Usaha untuk menumpas pemberontakan DI/TII ini memerlukan waktu yang lama disebabkan oleh beberapa faktor, yakni :
1.    medannya berupa daerah pegunungan-pegunungan sehingga sangat mendukung pasukan DI/TII untuk bergerilya
2.    pasukan Kartosuwiryo dapat bergerak dengan leluasa di kalangan rakyat,
3.    pasukan DI /TII mendapat bantuan dari beberapa orang Belanda, antara lain pemilik-pemilik perkebunan dan para pendukung negara Pasundan,
4.    suasana politik yang tidak stabil dan sikap beberapa kalangan partai politik telah mempersulit usaha-usaha pemulihan keamanan.
Upaya damai dilakukan pemerintah RI melalui Moh. Natsir (pemimpin Masyumi) melalui surat tetapi tidak berhasil. Bahkan upaya komite yang dipimpin oleh Moh. Natsir gagal untuk mengajak Kartosuwiryo untuk kembali ke pangkuan RI. Akhirnya dilakukan operasi militer untuk menumpas gerakan DI/TII yg dimulai pada tanggal 27 Agustus 1949.
Setelah menikah, yaitu pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1960 kakek bergabung kembali dengan TNI menumpas Gerombolan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosoewiryo yang berupaya untuk mendirikan negara islam.  
Dalam perjuangannya menumpas DI/TII, rumah kediamannya yang berada di kaki Gunung Sadakeling di Garut yang bersebelahan dengan gunung Galunggung Tasikmalaya dijadikan markas TNI yang berasal dari Siliwangi, Aceh, Ambon, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan Gerombolan DI/TII bermarkas di gunung dengan membuat goa-goa yang pada disiang haripun tidak dapat dilihat, karena lubang goa tertutup oleh pohon atau batu-batuan.
Gerombolan DI/TII dalam melakukan operasinya pada malam hari dan pada siang hari mereka istirahat bersembunyi di markasnya berupa goa atau bangker  di gunung-gunung yang berada di daerah Jawa barat. Strategi yang dilakukannya seperti halnya strategi yang dilakukan pejuang Indonesia melawan penjajah Belanda, yaitu pada malam hari mempengaruhi masyarakat untuk bergabung mendirikan Negara Islam atau menyerang TNI atau siapaun yang dianggapnya musuh atau lawan. Pada siang hari mereka beristirahat atau mempersiapkan untuk penyerangan malam hari. 
Dalam pemenuhan kebutuhan logistiknya, Gerombolan DI/TII melakukan dengan cara-cara memeras dan memkasa masyarakat terutama yang berada di kaki gunung. Apabila ada masyarakat yang menentang atau tidak mau memenuhi permintaannya, tidak segan untuk membunuhnya, karena dianggapnya sebagai ancaman dalam meperjuangkan pendirian Negara Islam. Selain itu mendapat bantuan dari beberapa orang Belanda, antara lain pemilik perkebunan.
Strategi yang dilakukan oleh TNI dalam menumpas Gerombolan DI/TII berbeda dengan apa yang dilakukan pada perjuangan melawan atau mengusir penjajah.  Peralatan perang yang cukup menunjang walaupun belum terpenuhi seluruhnya, seperti senjata laras pendek berupa pistol FN, senjata laras panjang AK dan mortir serta granat.
Menumpas Gerombolan DI/TII mengalami kesulitan seperti melawan musuh dalam bayangan, karena tidak nampak secara berhadap-hadapan. Musuh akan nampak pada malam hari dan tidak secara bergerombol atau pasukan, tetapi hanya ada satu persatu dan sulit untuk dikejar mengingat mereka lebih menguasi medan (daerah pegunungan) dan sulit ditemukan tempat persembunyian. Namun secara bertahap satu persatu Anggota Gerombolan DI/TII dapat ditangkap atau menyerahhkan diri. Daerah operasi yang dilakukan kakek untuk menumpas Gerombolan DI/TII yaitu di pegunungan yang berada didaerah Garut dan Tasikmalaya.
Strategi dalam menumpas Gerombolan DI/TII dengan  taktik ”pagar betis” yang dilakukan dengan menggunakan tenaga rakyat berjumlah ratusan ribu untuk mengepung gunung tempat gerombolan bersembunyi. Tujuan taktik ini adalah untuk mempersempit ruang gerak DI/TII. Selain itu digunakan juga Operasi tempur Bharatayudha dengan sasaran menuju basis pertahanan DI/TII.
Strategi atau cara seperti ini cukup efektif walaupun dibandingkan dengan strategi  perang dijaman modern ini kurang efisien. Akhiirnya pada tanggal 4 Juni 1962 Kartosiwiryo beserta pengawalnya  dapat ditangkap oleh Pasukan Siliwangi dalam opersai “Baratayudha” di Gunung Geber, daerah Majalaya Jawa Barat. Kemudian Kartosuwiryo oleh Mahkamah Angkatan Darat dijatuhi hukuman mati sehingga pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dapat dipadamkan.
Setelah masa tenang datang, Rd. H. Oyot Hidayat melanjutkan perjuangannya, tetapi bukan dengan senjata atau bambu runcing melawan penjajah atau gerakan-gerakan yang akan mengganggu kemerdekaan, namun berjuang mengisi kemerdekaan bersama-sama masyarakat untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera. Bekerja sama dan aktif dengan masyarakat baik dari tingkat desa, keacamatan maupun tingkat kabupaten. Tahun 1982, kakek mendirikan Koperasi Unit Desa (KUD) bersama  dengan masyarakat di Kecamatan Sukawening, Garut. Sebagai pendiri, kakek memegang jabatan Manajer KUD. Pada usia 57 tahun yaitu 15 Agustus tahun 1981 Rd. Oyot Hidayat dengan NPV : 09.03.350, Golongan C dan  Masa Bhakti 2 (dua) tahun dianugrahi penghargaan Gelar kehormatan Veteran Pejuang Kemeredekaan Republik Indonesia dari Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia serta mendapatkan tunjangan pensiun.  
          Kita sebagai generasi penerus harus bisa menghargai dan melanjutkan perjuangan dengan mengisi dan memanfaatkan kemerdekaan ini untuk memajukan masyarakat yang lebih sejahtera, makmur, adil dan sentosa.

----selesai---


Foto Sertifikat Gelar Kehormatan Veteran


No comments:

Post a Comment