Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Andi Adelia Putri Sesaria XI IPA 4


Wa' Budi Naskawan, Sudut Pandang Mahasiswa G-30S

 Hari Kamis, 30 Mei 2013 merupakan hari yang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan. Pasalnya, hari tersebut merupakan 1 hari sebelum batas pengumpulan tugas wawancara sejarah, dimana kami, murid SMA Labschool Kebayoran harus mewawancarai kakek-nenek kami sebagai saksi sejarah masa lampau. Sayangnya, kakek-nenek saya, baik dari keluarga ayah maupun ibu, sudah almarhum. Nenek saya merupakan anak tunggal, ditambah lagi dengan saudara-saudara kakek saya dari silsilah keluarga ayah saya bermukim di Indramayu, yang sangat tidak mungkin untuk diwawancara.
Sehingga, diambillah keputusan untuk mewawancarai Pakde saya yang paling tua, Budi Naskawan, sekaligus kakak dari ayah saya, Deddy Yuniadi. Sangat beruntung mempunyai keluarga yang sangat besar dari silislah ayah saya, maklum, ayah saya tujuh dari sepuluh bersaudara.
Dalam rangka silaturahmi, tak segan-segan Pakde saya atau sering saya panggil 'Wa Budi' bertamu ke rumah saya sekaligus membantu tugas keponakannya ini. Sehingga wawancara pun berlangsung bertempat di rumah saya.

BIOGRAFI
Wa Budi memiliki nama panjang Budi Naskawan. Ia lahir di Solo, 10 April 1947, dari pasangan  Alm. Rushadi dan Adi Rohmani, yang biasa saya sebut eyang kakung dan eyang putri. Eyang kakung dan eyang putri saya merupakan kakek nenek yang hebat. Eyang Rushadi merupakan tokoh penggerak pendidikan lewat jasanya sebagai guru, serta eyang putri yang sangat menyayangi anak-anak.
Wa Budi merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara. Bisa dibayangkan bukan, perannya sangat mempengaruhi sepuluh bersaudara ini. Sehingga tak jarang ia sangat bertanggung jawab pada adik-adiknya.
Beliau melalui pendidikan formal SD di SDN 09 Indramayu dan hanya melewatinya 5 tahun. Ia bercerita bahwa ia meloncati kelas 2 SD karena kejeniusannya, atau yang bisa kita sebut sekarang sebagai akselerasi. Sehingga ia lulus dari SD masih lumayan muda. Kemudian, melanjutkan jenjang SMP di SPN 1 Indramayu selama tiga tahun, dan mendapat prestasi bintang pelajar sebagai murid paling pintar dari tiga angkatan. Melanjutkan bangku SMA di SMAN Indramayu, dan pindah saat kelas 2 SMA ke SMA 3 Margoyudan, Solo, untuk mengikuti eyang putri yang pindah ke Solo, sehingga 10 anaknya pun ikut pindah. Di SMA 3 Margoyudan tersebut ia mengambil jurusan paspal.
Lulus bangku sekolah. Beliau melanjutkan kuliahnya di Institut Teknologi Tekstil di Bandung, di sanalah ia bertemu sang istri yang asli Bandung. Kemudia bekerja di PN Industri Sandang dan melanjutkan sekolah tinggi manajemen industri di Jakarta, dan mendapat gelar Master of Science, dan lulus tahun 1984.
Bertemu dengan sang istri yang asli sunda bernama, Eti Kurniawati, dan memiliki empat orang anak, dua putra dan dua putri. Yang sulung bernama Indra Pahla, kini sudah menikah dengan wanita bernama Fitri. Yang kedua bernama Jali, ia pun sudah menikah dan dikaruniai satu putera bernama Hilmi. Anak ketiga merupakan putri bernama Suci Karina atau akrab dipanggil Cika. Sementara anak bungsunya bernama Fany, yang juga sudah menikah.
Seperti yang sudah diceritakan, Wa Budi merupakan sosok kakak yang berwibawa dan menjadi tempat bersandar. Kehidupan keluarga Rushadi memang bisa dikatakan kurang mampu, dengan sepuluh anak yang hidup tentu tak semua berkecukupan. Keluarga Rushadi hampir setiap hari makan hanya berbekal nasi dengan garam, dan mendapat telur dadar yang dibagi bersepuluh pun sangat bersyukur. Mereka pun sempat pindah-pindah ke setiap tempat saudara-saudara yang ada di Indramayu, namun tak sedikit yang menganggap mereka rendah sehingga kadang malah diperlakukan tidak layak.
Dengan kehidupan yang sangat terpuruk, Wa Budi merupakan salah satu kakak yang bisa diandalkan. Ia mengemban pendidikannya dengan cepat dan baik, sehingga bisa mendapat pekerjaan layak, yang nantinya merupakan bekal bagi adik-adiknya. Seperti hasil kerjanya bisa sebagai bekal adik-adiknya berkuliah, termasuk untuk ayah saya.
Dan dapat dilihat bahwa Wa Budi merupakan sosok yang bertanggung jawab baik dalam pendidikan ataupun dengan keluarganya.

KESAKSIAN
Lalu bagaimana perannya dalam peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau? Wawancara saya dengan Wa Budi Naskawan ini bermula dari saat ia akan dilantik menjadi Resimen Mahasiswa atau Menwa di kampusnya, Institut Teknologi Tekstil, Bandung. Resimen mahasiswa merupakan suatu kewajiban untuk kewiraan mahasiswa, dimana untuk mempersiapkan keamanan kampus dalam keadaan kacau balau pada saat itu, yaitu tahun 1966. Dan Wa Budi menjalankan proses menjadi Menwa tersebut di saat beliau dalam masa prabakti mahasiswa, untuk menjadi calon anggota tekstil.
Sebagai Menwa, mahasiswa dilatih baris berbaris untuk pelatihan disiplin dan pelatihan menembak yang dilakukan di Bitbul, Dago, Bandung Utara, dimana biasa dijadikan sebagai tempat latihan menembak. Dimana pelatihan ini dilatih oleh instruktur Jenderal Syuhanda dari Siliwangi. Latihan menembak dilakukan dengan banyak senjata seperti pistol, stun gun, senapan laras panjang, termasuk bongkar pasang senjata. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenal senjata dan membiasakan senajata dalam keadaan siap sedia menembak seperti menghadap lawan yang tiba-tiba, karena saat itu banyak peristiwa preman-preman yang berlawanan dengan mahasiswa ingin menyerang sehingga harus dibuat pertahanan yang baik.
Ternyata, latihan terakhir yang dilakukan mahasiswa adalah jurit malam. dimana laki-laki per dua orang melewati daerah-daerah hutan dan hanya berbekal kompas dan melewati posko-posko di malam hari. Dari jauh setiap terlihat lampu, itulah posko, dan di setiap osko diharuskan tanda tangan. Jurit malam dilewati dengan perjalanan melalui kuburan, sungan, dan sebagainya yang sangat menakutkan, bertujuan untuk dilatih keberanian menghadapai keadaan medan menakutkan. Sampai-sampai, senior memberi bau kemenyan ataupun semacam pocong untuk melatih keberanian.
"Seorang militer harus siap menghadapi keadaan apapun di medan," ujar Wa Budi.
Setelah jurit malam berlalu, kini mahasiswa dibagi kembali menjadi setiap regu. Tiap regu banyak posisi yang diberikan, seperti pemimpin, pemegang senjata laras pendek, pemegang stun gun, pemegang senjata bren, pemegang kompas, dan pemegang peta. Wa Budi diberi tugas sebagai pemimpin, dan diberi informasi radius arah kompas beberapa derajat. Dengan tanpa bekal makanan, dan dalam keadaan basah, karena melewati tali di atas sungai untuk mengarungi perjalanan, regu Wa Budi pun menyusuri hutan-hutan hingga tersesat. Di tengah kebingungan tersebut, mereka mendengar kompi putri yang bercanda di daerah atas, sehingga diasumsikanlah bahwa arah yang benar adalah naik ke atas. Mereka pun hanya membekali diri dengan jamur api yang mereka temui, karena jamur api bisa menyala dan membantu penerangan mereka.
Naik ke daerah atas merupakan perjuangan yang berat. Sesampainya di atas, ternyata kosong. Suara-suara yang mereka dengar merupakan halusinasi semata. Dan yang mereka temukan hanyalah bekas-bekas pertempuran seperti jembatan rusak, dan lain lain, karena tempat tersebut memang merupakan bekas pertempuran Jepang dan Belanda. Regu tersebut pun hanya bisa menunggu selama tiga jam tanpa senter, dll.
Saat menjadi Resimen Mahasiswa
Regu Wa Budi tak berani bergerak karena padangan gelap dan ditakuti yang mereka lewati adalah jurang. Misstisnya lagi, tanda-tanda di pohon sebagai tanda untuk kembali ke tempat asal yang mereka buat di pohon lenyap entah kemana. Cahaya mereka dapati dari sinar bulan saja. Hingga tiga orang instruktur menemui mereka setelah 3 jam, pukul 3 malam, memaki senter. Yang menakutkan adalah saat turun mereka dikejutkan ternyata banyak batu nisan di daerah tersebut. Bahkan sesampainya di bawah, tepatnya di posko penduduk, masyarakat pun mulai bercerita bahwa tempat yang mereka datangi disebut Gunung Putri dan jarang yang bisa ke sana.
Mereka pun berlanjut turun hingga ke tujuan yaitu daerah maribaya. Ternyata, Maribaya merupakan arah tujuan dari semua kompas pada regu masing-masing. Di Maribaya pun, jurit malam selesai, dan setiap mahasiswa resmi menjadi Resimen Mahasiswa dengan diberinya baret biru.
Dengan dilantiknya mahasiswa menjadi Resimen Mahasiswa, kini waktunya mahasiswa menjalankan tugas. Tugas mereka terbagi dua yaitu demonstrasi dan menjaga kampus. Wa Budi mendapat tugas menjaga keamaan kampus dengan piket di sana. Resimen beliau adalah Resimen Kompi 6 Mahwarman, kumpulan dari akademi-akademi postel, dll. Saat itu, komanan batalyon 6 adalah Ilham Baton, yang berasal dari Gorontalo.
Masa itu, 1966, merupakan masa ramainya tercipta dua kubu, yaitu pendukung Presiden Soekarno (Soekarnois) dan mahasiswa yang melawan Soekarno. Mahasiswa memiliki Tritura atau Tri Tuntutan Rakyat. Tritura berisi tuntutan dibubarkannya PKI, diturunkannya harga karena saat itu harga melonjak, dan perombakan kabinet 100 menteri. Kelompok mahasiswa beranggotakan HMI, PMKRI, dll. Ketua umum HMI saat itu adalah Akbar Tanjung, beserta anggota lain yaitu Sugeng Saryadi, Fahmi Idris (Menteri Tenaga Kerja), Adi Sasono, Teo Sambuaga, yang hampir semua berasal dari Bandung.
Saat itu Letnan Jenderal Suharto diangkat Soekarno untuk menertibkan keamanan negara. Soeharto pun segera memutuskan untuk membubarkan PKI, pengamanan di seluruh batalyon seperti kerusuhan-kerusuhan yang dulu merupakan kelompok islam seperti NU, terjadi semacam pembunuhan-pembunuhan. Saat kudeta PKI, banyak orang islam yang terbunuh, dan terdaftar untuk dibunuh, salah satunya mertua saya, Affandi Ridwan.
Tahun 1966 merupakan respon akibat peristiwa-peristiwa 1965 yang sedang rusuh. Tahun 1965, terjadi peristiwa Banjar Besi, dimana petani-petani mengobrak-abrik mesjid, seperti orang-orang yang beribadah bisa ditembaki. Juga peristiwa di Jawa Timur kelompok islam pun menjadi korban. Sehingga puncaknya adalah peristiwa Lubang Buaya dimana pembunuhan 7 jenderal, dan Jenderal A. H. Nasution selamat namun justru kehilangan Ade Irma. Peristiwa tersebut merupakan misteri, karena saat itu PKI, yang dipimpin Letnan Kolonel Untung Cakrabirawa, memiliki alasan untuk menyelamatkan Soekarno dari kudeta Dewan Jenderal. Padahal, Dewan Jenderal tersebut tidak ada dan PKI justru mendapat dokumen gilkris, yaitu dokumen yang dibuat CIA untuk membuat isu kudeta tersebut.
Saat Ahmad Yani terbunuh, Soekarno malah mengangkat jenderal lains elain Soeharto. Yang membuat mahasiswa berpikiran adanya afiliasi antara PKI tersebut, sehingga terjadilah demonstrasi mahasiswa. Ditambah lagi pembentukan kabinet 100 menteri yang menurut mahasiswa kacau, seperti Yusuf Muda Dalam, yang dikatakan mahasiswa pencopet, dan sebagainya.
Keadaan politik kacau balau, sehingga tiga jenderal yaitu M. Yusuf, Basuki Rahmat, dan Amir Mahmud, menghadap Soekarno di Istana Bogor dan menjelaskan keadaan negara yng kacau balau dan butuhnya pemulihan keadaan dan ketertiban, yang berakhir dengan dikonsepnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang tidak ditemukan dokumen tersebut hingga sekarang. Sehingga membuat Jendral Soeharto membuat keputusan-keputusan: pembubaran PKI, teleks seluruh radiogram dan batalion agar menjaga posisi dan menjaga ketertiban.
Karena saat itu masalah kabinet masih belum terselesaikan, mahasiswa bergerak. Pergerakan dimulai dari Bandung seperti HMI, PMKRI (Persatuan Mahasiswa Kristen), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Semua pun bergerak dan ditambah dengan penembakan Arif Rahman Hakim.
PNI saat itu terbagi dua yaitu PNI Alisurahman (ASU) dan PNI Osal Maliki dan Usep Kranowijaya (OSAUSEP). Diceritakan bahwa Alisurahman memiliki hubungan dengan PKI, sehingga tugas Wa Budi saat itu adalah menjaga keadaan kampus dengan menghindari mahasiswa dari gerakan Alisurahman tersebut.
Sehingga peran Wa Budi ini berakhir dengan dibubarkannya PKI sesuai keinginan mahasiswa. Letnan Jenderal Soeharto menjadi presiden seusai pidato Nawakara Soekarno tidak diterima MPR. Dan kejadian ini merupakan awal mulanya masa orde baru.

Saya bersama Wa Budi Naskawan

No comments:

Post a Comment