Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Andi Harvan Zakariya XI IPA1

"Oppa Goenawan Djoko Oetojo, Dari memegang pensil hinga menggenggam senjata"

                “Hidup ini terlalu lama apabila dijalani dengan penuh derita dan kesusahan, dan sebaliknya hidup ini terlalu singkat apabila dijalani dengan penuh kesenangan” – H. Goenawan Djoko.

            Bagi para pahlawan yang masih hidup untuk melihat bangsa ini berkembang, merupakan salah satu kebahagiaan bagi seorang veteran perang. Karena dapat melihat bahwa kerja keras yang mereka keluarkan pada pertempuran menuju kemerdekaan itu tidak sia – sia.
            Pada tanggal Rabu, 29 Mei 2013 lalu saya berkesempatan untuk mewawancarai salah satu veteran yang membantu memerdekakan negeri kita ini. Narasumber yang saya pilih merupakan salah satu dari kenalan ayah saya sekaligus salah satu veterang perang Surabaya bernama H. Goenawan Djoko Oetojo atau lebih sering dipanggil oleh Oppa Gun. Betapa senangnya oppa ketika didatangi, karena ia sangat senang apabila ada orang yang tertarik untuk berbicara tentang pengalamannya saat perang.

A.    Biografi
            Pada tanggal 20 Oktober 1927, di Kota Majasawit, Boyolali , Solo lahirlah anak dari Sastrosoetomo dan Siti Roekinah yang kelima dari tujuh bersaudara yang bernama Goenawan Djoko Oetojo. Oppa oleh keluarganya lebih sering dipanggil oleh Goenawan, sedangkan nama panggilan Djoko Oetojo lebih dipakai oleh teman teman di lingkungan rumah dan sekolahnya. Pada usia sekolah (pada jaman dahulu kurang lebih 6 tahun)  oppa diikut sertakan oleh orang tuanya ke Sekolah Rakyat yang saat itu disebut oleh Volkschool 3 tahun di desa Balong, suatu desa berjakar kurang lebih 2 Km dari rumah di Cerme, masih di daerah Sawit. Saat itu Oppa sekeluarga baru 2 tahun bermukim di desa kecil Cerme, Kelurahan Gombang, Kecamatan Sawit karena kepindahan tugas ayah yang dipromosi sebagai lurah oleh Desa Gombang di daerah tersebut, sebagai imbalan atas prestasi ayah yang oleh Pemerintah Hindia Belanda dianggap pantas memperoleh penghargaan.     
            Setelah dari situ oppa pun mulai melanjutkan sekolahnya ke Neutrale Schakelschool (NSS) yaitu sekolah bagi anak anak orang pribumi yang berbahasa Belanda. Di Neutrale Schakelschool oppa tidak selesai sekolahnya tapi ia pindah ke Kokumin Gakkoo di Gombang, Sawit karena pemerintahan Hindia Belanda diganti oleh pemerintahan Jepang. Karena Jepang saat itu adalah pemerintahan militer, sehingga seluruh kegiatan dan sektor kehidupan diarahkan untuk kepentingan dan kekuatan militer. Para pelajar, pemuda, wanda wanita terorganisasi dalam kesatuan – kesatuan seperti Seinendan. Setelah mengikuti pelatihan di tingkat kabupaten di Boyolali, masih dilanjutkan kemudian bersama wakil-wakil dari tiap kabupaten di daerah Surakarta di Pusat Pelatihan Seinendan untuk seluruh Kerajaan Surakarta (Solo Kochi Seinen Kunrenshoo) yang langsung dipimpin dan diawasi oleh militer Jepang selama dua bulan di Jebres, di bagian timur kota Solo. Karena waktu pelatihan cukup lama, sehingga oppa dibebaskan dari sekolah selama dua bulan.
            “Tidak perlu diceritakan lagi deh betapa beratnya latihan – latihan kemiliteran jaman dahulu yang harus Oppa alami” tuturnya. Oppa berkata latihan zaman dahulu terasa susah karena dari seluruh latihan yang serba berat itu harus diberi di usia yang saat itu masih sangat muda, oppa merasakan bukan sebagai beban yang berat sehingga semuanya dapat dilalui dengan baik sekalipun di sana-sini cukup banyak di antara para peserta latihan yang terpaksa dilarikan ke Chuo Byoin (Rumah Sakit Pusat) karena kurangnya daya tahan mereka. Dari seluruh latihan yang berat itu, oppa mengambil hikmahnya dengan pikiran-pikiran yang positif seperti pengetahuan kita menjadi bertambah, khususnya pengetahuan kemiliteran dan yang lebih penting lagi yaitu penanaman disiplin atas setiap gerak, langkah da kegiatan dalam setiap sektor/aspek kehidupan.
            Usai menjalani pelatihan di Solo Kochi Seinen Kunrenshoo, oppa diangkat sebagai Sawit Son Seinendan Shidoin (Pimpinan Kesatuan Seinendan Kecamatan Sawit). Peran oppa dalam kesatuan ini adalah untuk menyebarkan pengatahuan – pengetahuan yang telah diperoleh selama pelatihan kepada para pemuda di Kecamatan Sawit terutama ke para pemuda yang tercatat sebagai Seinendan agar menghemat waktu pelatihan.
            Karena berita – berita Surat kabar maupun siaran – siaran radio yang didengar oppa membuat oppa berkeyakinan, bahwa pemerintahan Jepang rasanya tidak akan lama lagi, maka situasi dan kondisi saat itu sangat mendukung dan sangat bagus bagi oppa untuk mendidik dan mempersiapkan rakyat serta pemuda pemudi Bangsa Indonesia. Disitulah peran Oppa Gun dimulai untuk menuju mempertahankan Indonesia.

B.     Peranan
            Sebagai salah satu dari Kesatuan Pelajar Pejuang Batallion 300 (sebelum kemudian tergabung dalam Kesatuan Tentara Pelajar) oppa kebetulan bermarkas digedung sekolah oppa di Jetis. Hampir setiap malam tugas piket digedung terus berdatangan. Pada saat-saat yang mencekam saat itu, oppa berserta segenap anggota kesatuan lain disinyalir dalam kota dan tidak dibenarkan meninggalkan kota untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi. Radio pada zaman dahulu merupakan salah satu media komunikasi yang sangat vital, karena hanya melalui radiolah para pejuang dapat mengetahui dan mendengar perkembangan daerah – daerah di seluruh penjuru tanah air di samping perkembangan dunia.
            Pada saat itu beberapa kali Sekutu (Inggris) mencoba mendaratkan serdadu dari kapal dengan sekoci – sekoci di Surabaya, namun gagal karena ditentang dan dihadang oleh para pejuang di Surabaya, di mana teman teman pelajar pejuang yang tergabung dalam TKR Pelajar (sebelum kemudian menjadi TRIP) sangat berperan dalam pertempuran – pertempuran di Surabaya. Sejak smeula kota Surabaya oleh serdadu – serdadu Sekutu pasti sudah dirasakan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, apaliag mereka sudah merasa capek bertempur dalam Perang Dunia ke – II yang baru saja berlalu.
            Pada tanggal 25 Oktober 1945, suatu armada Sekutu telah berada di lepas pantai di depan pelabuhan Tanjung Perak, siap mendaratkan 6000 tentara divisi India dibawah pimpinan Brigadir Jenderal A.S. Mallaby. Pada saat itu Mallaby langsung mengundang pimpinan Indonesia datang ke kapalnya untuk berkenalan, namun langsung ditolak oleh Suryo yang saat itu menjabat sebagai residen di Surabaya yang menghendaki perkenalan tidak dilakukan di kapal dan tidak bernada suatu perintah.
            Namun secara tiba – tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya Sekutu mendaratkan pasukannya di Ujung dan di Tanjung perak. Untuk tidak menimbulkan insiden dengan para pejuang, maka residen Suryo, Drg. Moestopo serta panglimat TKR Soengkono menghubungi Sekutu, di mana disepakati bahwa Sekutu dapat mendaratkan pasukkanya tidak melebihi 800 meter dari pelabuhan Tanjung Perak. Pada hari itu juga Sekutu mendaratkan lebih banyak pasukannya dan bermaksud untuk membebaskan para tawanan Belanda, namun mendapat tantangan hebat dari para pejuang. Sekutur  justru semakin menambah pasukannya. Melihat gelagat yang demikian, di mana Sekutu semakin banyak melanggar kesepakatan dan semakin nekat, maka kepada kesatuan TKR dan Polisi yang merupakan aparat resmi pemerintah Indonesia serta para pejuang umumnya diperintahkan agar menjauhi kedudukan Sekutu. Dengan semakin sengitnya pertempuran – pertempuran di Surabaya dan semakin banyaknya pasukan – pasukan Sekutu yang didaratkan maka semakin hebat pul perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang/gerilyawan kita di seluruh penjuru kota.
            Pada saat – saat situasi Surabaya dalam kondisi menegangkan, maka oppa dan teman teman – teman pelajar pejuang di Yogya tergerak dan merasa terpanggil untuk memenuhi seruan Bung Tomo yang meminta bantuan untuk membantu para pemuda dan pejuang, utamanya membantu teman- teman rekan TKR Pelajar melawan Sekutu dan Belanda yang “membonceng”. Maka dalam waktu secepatnya oppa beserta teman – teman pelajar Pejuang dari Yogya telah berada di Surabaya bersama dan menyatu dengan TKR pelajar di markasnya, Jalan Darmo Raya 49 melalui angkutan kereta api khusus dari Yogya.
            Oppa dan pasukan Pelajar Pejuang dari Yogya bersama rekan TKR Pelajar terlibat secara aktif dalam kancah pertempuran. Setelah Jenderal Mallaby terbunuh, pasukan TKR Pelajar dan pasukan Pelajar Pejuang dari Yogya bersama kembali ke markas Jalan Darmo 49. Namun setelah ultimatum Jenderal Christison dan disusul oleh Jenderal Mansergh yang merupakan Jenderal Sekutu memanggil pasukan untuk menyerang di Jawa Timur yang diikuti oleh serangan besar – besaran tanggal 10 November 1945, pasukan BKR Staf I dijadikan pasukan Cadangan oleh Markas Pertahanan Surabaya. Inilah hari yang sangat menggelisahkan, karena di mana – mana di seluruh penjuru kota berlangsung perang besar – besaran dan mati – matian.
            Pada hari ketiga perang 10 November 1945, hampir seluruh pasukan TKR Pelajar termasuk oppa beserta selerah pasukan Pelajar Pejuang beramai – ramai meninggalkan markas dan berpencar secara kelompok yang terkoordinasi untuk menuju ke daerah daerah pertempuran tujuan masing masing, seperti daerah – daerah Sidotopo, Kenjeran, Kebalen, Krembangan, Pencindilan, Kaliondo dan lain – lain. Demikianpun oppa dan pasukan Pelajar Pejuang bersama mengikuti gerakan rekan – rekan TKR Pelajar yang secara geografis lebih mengetahui dan lebih paham situasi kota Surabaya di samping juga bertempur di bagian depan pertempuran Surabaya dan baru kembali ke asrama setelah matahari terbenam. Yang tinggal di asrama hanyalah mereka yang tidak/belum memiliki senjata.
            Pertempuran dan perlawanan di sekitar asram Polisi Istimewa baru berakhir keesokan hari tanggal 30 November 1945. Pasukan - pasukan TKR Pelajar yang sudah letih kemudian bergerak meninggalkan kota dan demikianpun pasukan – pasukan yang di bawah pimpinan Soebiantoro, Pratomo, Soetopo, Widjojo dan Soedarto. Pasukan – pasukan pelajar itu , termasuk kelompok oppa (Pelajar Pejuang Yogya) saling bahu – membahu dengan para pejuang yang lain. Sekutu makin mendesak dari darat, laut dan udara. Pasukan TKR Pelajar terpaksa meninggalkan kota Surabaya menuju ke arah Barat melalui Kedarus, menurut pengumuman Sekutu tidak kurang dari 6.915 mayat pejuang Republik yang tidak sempet diurus dan tertinggal di dalam kota Surabaya yang sudah berubah menjadi lautan api dan puing – puing. Maka begitu kota Surabaya sepenuhnya dikuasai oleh Sekutu, pasukan TKR Pelajar pun meninggalkan kota pula untuk selanjutnya menyusun strategi perjuangan dengan melakukan perang gerilya, sementara oppa beserta seluruh rekan – rekan Pelajar Pejuang dari Yogya kembali ke kota asal Yogyakarta untuk beristirahat dan bertemu dengan keluarga masing- masing.

            Atas Partisipasi Oppa dalam Pelajar Pejuang, beliau mendapatkan beberapa piagam – piagam dan bintag bintang tanda jasa.
1.      Pengakuan, Pengesahan dan Penganugerahan Gelar Kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata (31 Juli,1982)
2.      Surat Tanda Jasa Pahlawan atas Jasanya di dalam Perjuangan Gerilya membela Kemerdekaan Negara dengna disertai Bintang Gerilya oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia
3.      Surat Tanda Penghargaan Satya Lencana Perang Kemerdekaan Ke – 1 oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia dengan disertai Bintang Perang Kemerdekaan I.
4.      Surat Tanda Penghargaan Satya Lencana Perang Kemerdekaan Ke – 2 oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia dengan disertai Bintang Perang Kemerdekaan II
5.      Surat Tanda Penghargaan Satya Lencana Gerakan Operasi Militer I oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia dengan disertai Bintang G.O.M.I.
6.      Surat Tanda Penghargaan Satya Lencana Penegak oleh Menteri Pertahanan Keamanan Republik Indonesia dengan disertai Bintang Penegak

            Setelah mewawancarai Oppa Gun, saya lebih memahami bahwa betapa pentingnya peranan sekecil apapun dalam mempertahankan kemerdekaan dapat membuahkan hasil yang dapat di nikmati oleh generasi – generasi berikutnya. 

No comments:

Post a Comment