Sunday, 19 May 2013

Tugas-2 Biografi Andina Zahra Nabilla


Kakek Syafei, Pejuang Masa Depan

I.               Biografi

Syafei Zainuddin lahir di kota Palembang pada 12 Juli 1937 dengan nama Ripai atau biasa dipanggil Ropei oleh orang-orang di sekitarnya. Nama tersebut diberikan oleh ayahnya dan hingga masuk sekolah yang kemudian ia mulai dipanggil Syafei. Nama Zainuddin beliau dapat dari nama ayahnya.

Beliau lahir di keluarga pengusaha karet, lebih tepatnya di keluarga dengan usaha Firma Familidin. Dahulu, buyut dari beliau merupakan seorang petani tanaman keras dan akhirnya berfokus dalam mengelola ladang karet. Sehingga kakek beliau akhirnya melanjutkan usaha tersebut. Karet-karet dikumpulkan dan setelah terkumpul dalam jumlah banyak, getah karet tersebut diolah dengan dipadatkan dan ditambah bahan kimia menjadi bahan mentah kotor karet yang disebut sled.. Kemudian olahan tersebut diekspor ke berbagai negara seperti Cina. Kemudian negara tersebut mengolah bahan tersebut di ren milling menjadi olahan yang lebih halus yang akhirnya dijual kembali ke Singapura atau Eropa. Usaha pabrik dan perdagangan ini kemudian sampai ke orangtua beliau dan terus dilanjutkan. Setelah keluarga beliau mampu membangun ren milling sendiri, karet yang didapat di lading pun diolah di Palembang dan hasilnya yang sudah merupakan karet setengah jadi diekspor ke negara-negara yang lebih banyak lagi. Ekspor paling banyak dilakukan dengan Singapura karena perputaran uangnya lebih cepat. Selain karet, keluarga beliau juga melakukan usaha di bidang lain seperti kopi sebagai sampingan.

Karena keluarga beliau termasuk yang bercukupan dalam pendidikannya beliau tidak terhambat walau dengan Belanda yang sedang menjajah Indonesia pada saat itu. Beliau dimulai dengan mengikuti taman kanak-kanak di sekolah Hadi yang terletak di Palembang. Setelah itu beliau melanjutkan ke sekolah dasar yang saat itu disebut dengan nama sekolah rakyat. Pada masa ini, Indonesia sedang diduduki oleh militer Jepang sehingga walaupun sekolah yang diikuti beliau dikelola oleh pribumi, murid-murid dan guru diharuskan untuk menghadap matahari terbit, menyanyikan lagu nasional Jepang yaitu Kimigayo, dan senam kaiso sebelum masuk ke kelas. Murid-murid nya pun harus mematuhi peraturan kemiliteran Jepang yaitu salahsatunya dengan memotong rambut hingga botak untuk laki-lakinya.

Ketika beliau mencapai tingkat setara dengan 3 SD, beliau pindah ke sekolah Taman Anak di Taman Siswa yang merupakan sekolah perjuangan. Setahun setelah itu, beliau menaiki jenjang Taman Muda (yaitu setara dengan kelas 4-6) di Taman Siswa. Karena pada saat itu beliau pribadi tidak terlalu mementingkan pendidikannya, beliau terpaksa harus mengulang kelas enamnya. Saat beliau mencapai jenjang sekolah menengah pertama, Belanda sudah tidak ada lagi di Palembang.

Kepindahan beliau ini dari sekolah sebelumnya ke Taman Siswa tersebut bersamaan dengan menyerahnya Jepang terhadap sekutu pada akhir Perang Dunia II dan sekolah yang dulu diikuti beliau diambil alih oleh Belanda. Alasan kepindahan beliau dikarenakan dulu Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia sedangan Belanda tidak dan beliau di sisi rakyat tidak mau mengikuti aturan Belanda. Setelah Jepang kalah dan Indonesia menyatakan proklamasi kemerdekaannya, Belanda datang kembali ke Indonesia untuk merebut kekuasaan salahsatunya juga di Palembang. Karena masih terlalu kecil, beliau berlindung di suatu rumah dekat laut dan menyaksikan pertempuran lima hari lima malam antara rakyat dan Belanda yang akhirnya dimenangkan oleh Belanda. Pada masa itu keluarga beliau tidak ada yang aktif dalam bidang militer melainkan hanya membantu dalam sisi logistik dan lain-lain. Dengan kekalahan rakyat pada saat itu, Palembang pun jatuh di bawah kekuasan Belanda dan masuk ke Negara Indonesia Serikat sebagai negara bagian NSS (Negara Sumatera Selatan).

Pada tahun 1959, beliau lulus SMA dan pergi ke Jakarta meninggalkan pacarnya untuk mengikuti sekolah lanjut di Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang pada saat itu terletak di Salemba Raya. Selain belajar, beliau juga membantu usaha keluarganya di Jakarta karena pada masa-masa ini usaha tersebut sedang berada di puncaknya. Sebagai perwakilan Firma Familidin di Jakarta, beliau mengurus perihal uang karena dalam banyak situasi uang hanya dapat diambil di bank pusat yang hanya berada di Jakarta dan pertukaran mata uang dari rupiah ke dollar dan sebaliknya karena pada saat itu importir membutuhkan dollar untuk memasukan barang ke dalam negara. Beliau kemudian bertugas untuk mengirimkan kembali uang itu ke Palembang untuk dibeli bahan baku karet agar usaha dapat terus berlanjut. Setelah beberapa tahun di Jakarta, beliau disusul oleh pacarnya ke Jakarta dan akhirnya mereka menikah pada tahun 1962 di Palembang.

Usaha keluarga tersebut pun mulai turun pada tahun 1975. Karena produksi utama dari usaha keluarga beliau adalah karet, jumlah yang dapat diekspor dibatasi oleh pemerintah. Selain itu, pada saat itu jumlah ini dipengaruhi oleh faktor kedekatan dengan departemen perdagangan. Karena beliau belum cukup dekat dengan pejabat tersebut, perdagangan karet di Indonesia pun didominasi oleh bangsa Cina karena banyak dari mereka dekat dengan pemerintah. Banyak yang dengan cara jujur, namun banyak juga yang melalui jalan singkat suap. Menurut beliau, orang pribumi bahkan lebih tidak berani dalam mendekati pejabat pemerintah karena masih dipandang rendah dibanding bangsa Cina. “Pertama, sesama orang kita, dengan orang departemen perdagangan itu kan, segan meminta. Kalau sama Cina, Cina memang senang nyogok. Kita sih mau sebenernya tapi mereka sendiri risih, sesama pribumi itu risih. Lebih baik mereka bermain dengan Cina, makanya kita kalahnya di situ,”

Selain itu, mundurnya usaha keluarga beliau juga dikarenakan harga karet internasional turun dan juga masalah internis dari perusahaan tersebut. Salahsatu contoh seperti adanya pegawai yang diragukan kesetiaannya walau masih satu garis darah. Oleh karena itu kemudian mereka meminjam uang ke BNI ’46 untuk mengusahakan kelanjutan perdagangan mereka. Untuk meminjam, bank memeriksa perusahaan mereka untuk menyesuaikan jumlah barang yang akan diproduksi dengan uang yang dipinjam. Dan walau sudah mendapat pinjaman uang, kondisi tidak lah membaik namun uang yang selama itu menjadi modal terus berkurang karena harga bahan baku yang saat itu sangatlah tinggi. Hasil produksi yang diekspor tidak sepadan dengan uang modal yang dikeluarkan. Kondisi kian memburuk hingga mereka pernah harus menipu bank. Di dasar gundukan karet yang mereka tunjukan kepada pihak bank, mereka meletakkan drum-drum kosong sehingga hasil produksi terlihat lebih banyak dari kenyataan. Namun benar saja suatu hari penipuan tersebut diketahui oleh pihak bank dan akhirnya perusahaan tersebut dijatuhi sanksi dan kehilangan sumber pinjaman modal mereka. Lama kelamaan perusahaan tersebut bankrupt dan kerugian yang dialami ditutupi dengan menjual rumah beliau di Jakarta karena keluarga beliaulah yang bertanggungjawab terhadap perusahaan keluarga tersebut.

Dengan bangkrutnya perusahaan keluarga tersebut, beliau tidak memiliki pekerjaan dan uang sedangkan ia harus menghidupi ketiga anaknya dan juga istrinya. Oleh karena itu, berkat referensi dari temannya, beliau mendapat tawaran untuk menjadi pegawai negeri walau gajinya tidak seberapa, jelas jauh dari kenyamanan yang beliau miliki sebelum perusahaan keluarganya bangkrut. Namun beliau tidak peduli dan tetap mengambil pekerjaan sebagai pegawai negeri di Radio Republik Indonesia tersebut dibanding menyerah sebelum berusaha. Selain perihal gaji yang kecil, beliau juga harus berpisah dengan keluarganya di Jakarta untuk bekerja sendiri di RRI Tanjung Karang, Lampung pada tahun 1975 dengan jabatan kepala siaran. Dalam pekerjaannya, beliau dibebankan tugas untuk mengurus urusan berkait tentang jadwal siaran dan lain-lain. Namun, pada tahun 1978, keluarganya yang ada di Jakarta memutuskan untuk menyusul beliau ke Lampung. Dengan pekerjaannya ini, beliau sanggup mengirim anak tertua keduanya untuk belajar di Institut Pertanian Bogor.

Pada tahun 1983, beliau dikirim oleh pekerjaannya untuk bertugas di RRI Jakarta dan mendapat rumah dinas sampai 1989. Namun dari tahun 1983 hingga 1986, beliau tidak memegang jabatan apapun, hanya bekerja untuk membantu-bantu rekannya. Pada 1986 beliau akhirnya mendapat jabatan sebagai kepala sub-kepegawaian yang bertugas untuk mengatur urusan kepegawaian di RRI seluruh Indonesia karena beliau bekerja di RRI Pusat. Pada masa-masa ini beliau sudah mulai merasa nyaman dengan hidupnya. Mungkin tidaklah mudah, namun, beliau memiliki cukup uang untuk menafkahi keluarganya serta mengirim anak-anaknya untuk sekolah dan itu sudah cukup baginya. Lalu pada tahun 1989, beliau dikirim ke RRI Jogjakarta sendiri. Pada tahun ini, beliau sudah mengirimkan anak ketiganya untuk sekolah di Institut Pertanian Bogor. Beliau bertugas di Jogjakarta hingga tahun 1993 dan akhirnya mengambil pensiun pada usia 56 tahun.

Setelah pensiun, beliau kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah dinasnya yang berada di Cimanggis sampai tahun 2003.

Menurut beliau sebagai seorang pegawai negeri, kebanyakan penerimaan pegawai itu, terutama di RRI, hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keinginan pimpinan, uang, dan koneksi seperti hubungan darah. Selain itu penugasan yang diberikan kepada pegawainya pun tidak terlalu jelas dan tidak sepadan dengan gaji yang diterimanya. Seperti pada pertama kali beliau masuk, beliau mendapat gaji Rp 40.000,- yang masih terbilang kecil pada masanya dan terakhir sebelum beliau pensiun beliau mendapat Rp 300.000,-. Uang pensiun pun tidak mencukupi dan menurut beliau, gaya hidupnya yang tidak terlalu sulit sekarang lebih terbantu oleh anak-anaknya dibanding oleh uang pensiun itu sendiri. Selain itu korupsi dan penyelewangan dana sudah banyak beliau perhatikan ada di instansi tempat beliau bekerja. Bahkan, beliau mengakui dengan rasa jengkel bahwa penyelewengan tersebut sudah umum dilakukan oleh pegawai dengan pejabat tinggi pada masa itu dalam banyak bentuk. “Belum lagi ada namanya proyek-proyek, kalau misalnya mau bikin pemancar baru, itu kan uangnya banyak, nah, pimpinan yang biasanya main itu. Mainnya sama pemborong, satu mau dikasih berapa, nanti waktu kerjanya dikasihtau, nah itu. Itu namanya korupsi. Udah gitu, pemesanan barang-barang pemancar, itu kan mahal-mahal lho. Itu juga bisa dibuat nambahin uang buat pegawai yang mengurusinya. Kadang lampu tuh, udah ada di situ, tapi minta uang biar dikira dibeli.” Menurut beliau tindak tikus-tikus negara ini cukup memprihatinkan apalagi jika diingat-ingat bahwa RRI bukanlah instansi negara yang memiliki banyak uang. Jika hal ini sudah umum terjadi di instansi kecil, bagaimanapula dengan instansi besar?

Beliau pribadi merasa khawatir dengan Indonesia pada saat ini dengan tingginya jumlah kejadian penyelewangan yang bahkan dapat terjadi di pemerintahan dan juga tingginya tingkat konflik yang terjadi antara satu sama lain bahkan antara aparat negara. Beliau berharap Indonesia dapat berkembang untuk menjadi lebih baik lagi demi kesejahteraan rakyat di dalamnya.

II.             Peranan

Beliau lahir di keluarga pengusaha dan walau beliau tidak sempat untuk melanjutkan usaha tersebut sepanjang hidupnya, beliau memiliki tangan dalam usaha itu pada usia remaja hingga dewasa awalnya. Usaha keluarga tersebut memiliki peran untuk negara dengan cara mengekspor produknya ke luar negeri dan telah meningkatkan pendapatan negara. Selain berkat usaha keluarga tersebut, beliau juga memiliki peran pribadi. Mungkin beliau bukanlah seseorang yang berjuang seluruh jiwa raganya untuk mempertahankan tanah air dari penjajah dan mungkin beliau bukan seseorang yang telah tercatat di buku sejarah Indonesia sebagai orang yang berpengaruh. Namun perannya, walau sekecil apapun itu, telah memberi perubahan untuk Indonesia, atau lebih tepatnya masa depan Indonesia. Beliau memiliki harapan akan Indonesia yang lebih baik di kemudian hari dan beliau telah membuktikannya dengan keberhasilan beliau untuk membentuk generasi lanjut yang lebih baik dengan cara memenuhi pendidikan anak-anaknya walau dengan uang yang sangat sulit. Beliau tidak membiarkan kebangkrutan perusahaannya membuatnya terpuruk dan tetap berusaha untuk bangkit dari posisi jatuh. Beliau tidak peduli walaupun beliau harus mulai dari tingkat paling bawah untuk mendapatkannya dan tidak pernah menyerah untuk menafkahi serta memberi pendidikan untuk anak-anaknya. Kini, anak-anak beliau dapat hidup dengan nyaman dan berguna untuk bangsa berkat perjuangan beliau dalam memenuhi kebutuhan mereka tumbuh. Beliau adalah seorang pejuang yang telah mengusahakan masa depan Indonesia yang lebih cerah. Jika semua orang memiliki kepedulian yang sama dengan beliau tentang pendidikan, tidak perlu dipertanyakan lagi, generasi selanjutnya pun akan jauh lebih baik lagi dan Indonesia akan satu langkah lebih dekat untuk menjadi negara yang telah ia cita-citakan.

Saya dengan Kakek Zainuddin

“Whatever you do will be insignificantbut it is very important that you do it” - Mahatma Ghandhi

1 comment:

  1. zulqarnain cucung H Nungcik ali, lrg palang merah, palembang. masih bedulur, tapi lom pernah ketemu. salam buat yang di jakarta, jangan lupo lebaran maen kerumah, masih banyak dulur di palembang. payo mampir dukin.

    ReplyDelete