Wednesday, 29 May 2013

Tugas - 2 Biografi - Annisa Pratita Maharani XI IPA 1



Dari Tanpa Alas Kaki, Hingga Berjas

Rabu, 29 Mei  2013. Annisa Pratita Maharani berkesempatan untuk mewawancarai seorang yang patut kita teladani. Beliau adalah Prof(emr). Dr.  R. Soetanto. Beliau adalah seorang yang bergelut di bidang pendidikan. Pengabdian beliau untuk pendidikan lah yang membuat saya tertarik untuk mewawancarai beliau. Wawancara ini juga dilakukan untuk memenuhi tugas sejarah.
Sore itu sepulang sekolah saya berada dirumah eyang. Saya menelepon sebuah nomer yang Papa berikan kepada saya. Tertera dalam kontak hp Papa saya sebagai  “Mas Tanto”. Papa saya adalah sepupu dari Prof(emr). Dr. R. Soetanto. Sehingga saya lebih akrab menyapa beliau dengan panggilan Pakde Tanto.
Seperti  biasa saya selalu menanyakan kabar beliau, karena usia beliau sudah cukup lanjut. Saya khawatir sewaktu saya menelpon beliau tidak tepat. Saya khawatir beliau sedang pergi atau sedang lelah. Alhamdulillah, beliau dalam kondisi sehat dan dengan lugas menjawab pertanyaan – pertanyaan yang saya ajukan dan beliau dengan sabar dan teteh menceritakan detail kronologis perjuangan beliau dalam bidang pendidikan.
Prof(emr). Dr. R. Soetanto
Prof(emr). Dr. R. Soetanto, adalah seorang guru besar di Universitas Gajah Mada atau yang biasa kita kenal dengan UGM. Beliau tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Beliau lahir di sebuah desa, yang bernama Bligo, tahun 1933. Pada saat saya mewawancarai beliau, beliau menyebutkan tanggal lahirnya adalah Sabtu Pahing, bulan Syafar, tahun Ba. Saya yang awam ini pun bertanya-tanya apa maksud dari itu. Ternyata itu adalah tanggalan Jawa. Jika di artikan ke tanggalan masehi biasa, maka beliau lahir pada tanggal 23 September 1933. Jadi bisa kita hitung saat ini beliau berumur  80 tahun. Dengan umur beliau yang sudah lanjut, ternyata beliau masih semangat untuk menceritakan pengalaman-pengalamannya selama berkecimpung dengan dunia  pendidikan.
Saat usia beliau masih sangat belia, beliau bersekolah di SD Ngluar yang jarak tempuhnya kurang lebih 6 kilo meter dari rumahnya yang berada di Bligo. Sewaktu SD beliau menceritakan bahwa, sempat beliau sekolah tidak menggunakan alas kaki, hidup penuh kesederhanaan. Kesederhanaan ini bukan karena beliau tidak mampu untuk membeli sepatu, akan tetapi lebih kepada etika. Karena saat itu Indonesia masih dalam kondisi di jajah. Sehingga hanya orang-orang bangsawan saja yang boleh memakai sepatu untuk berangkat ke sekolah. Beruntung saat beliau kelas 3 SD, beliau sudah dapat mengenakan sepatu untuk berangkat ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolahnya kadang ditempuh dengan naik sepeda, tidak jarang beliau juga harus berjalan kaki.
Setelah lulus dari SD Ngluar, beliau melanjutkan sekolahnya ke SMP Munthilan. Akan tetapi beliau hanya bertahan satu tahun di sekolah ini. Beliau akhirnya pindah ke SMP 2 Jogja. Alasan beliau pindah lebih karena ingin berada di lingkungan yang lebih maju dan kondusif. Karena bagi beliau lingkungan sangat berpengaruh terhadap kualitas individu tersebut. Sewaktu SMP beliau sempat mengalami desanya diserang oleh tentara belanda. Akan tetapi yang berhasil menembus pertahanan desa hanya canon (peluru bulat besar dan dapat meledak) saja. Sedangkan tentara belanda tidak berhasil masuk karena dihadang penduduk desa. Sebegitu sulitnya perjuangan dimasa lalu. Ketika bahkan bersekolah pun masih harus waspada dengan adanya serangan-serangan dari musuh.
Lalu setelah lulus SMP beliau melanjutkan ke SMA yang sekarang kita kenal dengan SMA 3 Jogja. Zaman dulu, beliau mengalami ketika SMA masih terbagi pagi dan petang. Lalu ada tiga jurusan yang dapat di pilih berdasarkan nilai yaitu IPS, IPA, dan Ekonomi. Sistem ini hampir menyerupai sistem sekolah sekarang. Satu kelasnya pun relatif hampir sama, antara 36-40 anak per kelas. Beliau berpendapat bahwa sekolah zaman sekarang lebih capek akan tetapi lebih bisa membangkitkan kreatifitas anak dengan adanya ekskul dan kegiatan diluar sekolah yang beragam.
Setelah lulus SMA beliau melanjutkan studinya ke UGM dengan mengambil Fakultas Sastra & Kebudayaan. Saat itu UGM yang belum memiliki kampus-kampus semegah sekarang. Mahasiswanya  pun masih harus belajar di pendopo-pendopo yang berapa di rumah-rumah bangsawan. Pendopo yang sekali kuliah berisi sekitar 56 mahasiswa ini berhubungan langsung dengan rumah induk. Lalu modal untuk sekolah juga masih sangat minim, hanya satu buah buku tulis dan tidak ada handphone atau gadget apapun untuk membantu beliau dalam mendokumentasikan pelajaran yang di sampaikan. Modal beliau hanya menulis se’kena’nya dan mendengar semaksimal mungkin. Patut di contoh semangat beliau untuk tetap bertahan dan menuntut ilmu meski dengan banyak keterbatasan tempat dan sebagainya.
Setelah lulus S1, beliau melanjutkan studinya ke S3. Pada masa beliau, mahasiswa-mahasiswa S1 bisa langsung naik ke S3 tanpa melalui S2. Mulai dari sinilah sebenarnya pengabdian beliau yang luar biasa pada pendidikan dimulai.
Setelah lulus S3 beliau mulai merintis karier menjadi staff pengajar di Universitas Gajah Mada. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur beliau, akhirnya saat ini beliau hanya mampu mengajar untuk S2 dan S3 saja, karena mengajar S2 dan S3 orang-orangnya relatif sedikit dan lebih kondusif. Sedangkan kalau mengajar S1, mahasiswanya sangat banyak dan harus sambil berdiri. Usia beliau yang cukup lanjut tidak memungkinkan untuk berdiri berlama-lama. Untuk itu beliau memilih menjadi guru S2 dan S3 saja.
Beliau mengajar pada bidang Remote Sensing (pengindraan jauh) atau kita bisa memahaminya dengan sebutan foto satelit, foto udara yang dapat membantu bidang geografi, penelitian relief bumi, kehutanan dan lain-lain. Fakultas Remote Sensing ini pertama kali ada di Indonesia itu di UGM. Fakultas ini di rintis oleh Pakde Tanto bersama teman nya dengan mendirikan pusat pendidikan remote sensing yang bekerja sama dengan pihak UGM. Awal di bentuk pada tahun 1976 dan lima belas tahun kemudian yaitu tahun 1991, beliau mengundurkan diri dari keterlibatannya dalam pusat pendidikan remote sensing karena beliau diangkat dan diberi amanah untuk menjadi dekan.
Karena beliau berhasil merintis, mengetuai, dan mengajar di pusat pendidikan remote sensing di Indonesia, beliau jadi sering mendapat undangan untuk mengikuti konferensi mengenai remote sensing.
Konferensi yang pernah beliau hadiri:
-          1972, di Honolulu, Hawaii selama 1 bulan
-          1972, di Seoul, selama 1 minggu
-          1978, di Manila pada bulan Januari dan April
-          1980, di Hamburg selama dua minggu
-          1981 dan 1982, di Kuala Lumpur, Malaysia
-          1983, di Bangkok dengan subjek pembahasan Regional Remote Sensing Program of the escape remote, dimana pertemuan ini selalu berlangsung selama satu tahun sekali.
-          1984, di Paris, Prancis
-          1987, di Waterloo, Kanada
-          1990, di Brunei Darussalam
-          1992, di Kuala Lumpur
-          1996, di Singapore dan merupakan konferensi terakhir yang pernah beliau hadiri.
Dari sekian banyak konferensi yang beliau hadiri. Hanya konferensi di Waterloo, Kanada lah yang paling berkesan mendalam bagi beliau. Karena konferensi ini di biayai dengan dollar merah putih. Beliau mengatakan demi kian artinya konferensi ini di biayai oleh pemerintah Indonesia. Beliau merasa konferensi di Kanada terasa spesial karena konferensi-konferensi yang lain selalu di biayai oleh pihak ketiga (Foundation / Negara Asing) yang berarti pemerintah Indonesia saat itu belum terlalu merespon apa yang telah berhasil beliau lakukan bagi kemajuan pendidikan bangsa.
Selain mengikuti konferensi beliau juga ikut serta dalam awal  Konsorsium MIPA pada tahun 1990 sampai 1992. Konsorsium MIPA ini meliputi fakultas IPA, fakultas IPS, fakultas Biologi, Fakultas Farmasi, dan fakultas Geografi. Kemudian Konsorsium MIPA ini berubah namanya menjadi Komisi Disiplin Ilmu MIPA pada tahun 1999 sampai 2002. Lalu pada tahun 2002 beliau mengikuti rapat Direktorat jendral Pendidikan Tinggi yang rutin diadakan setiap satu bulan sekali.
Dari sekian banyak kontribusi yang telah Pakde Tanto persembahkan untuk bangsa dan generasi-generasi penerus ini, ternyata masih banyak dari bangsa ini yang harus diperbaiki. Saat saya sedang mewawancarai Pakde Tanto, beliau sempat menyampaikan beberapa pesan untuk kita para pelajar Indonesia. Beliau berpesan untuk selalu disiplin dalam segala aspek. Mulai dari disiplin terhadap waktu, terhadap diri sendiri, terhadap peraturan lalu lintas dan banyak lagi. Karena bagi beliau, Indonesia ini masih belum tertata dengan apik segala aspeknya. Mulai dari sistem transportasi, sistem pendidikan, dan mindset masyarakatnya.
Jika di bandingkan dengan negara asia yang sudah maju seperti Jepang, China dan Korea, beliau berpendapat bahwa sebenarnya sama saja kita ingin hidup di negara manapun. Yang membedakan negara-negara tersebut dengan Indonesia adalah tingkat kesadaran manyarakat tentang pendisiplinan diri dan sikap. Ketika kamu belum bisa untuk mendisiplinkan dirimu sendiri maka jangan harap orang lain mau berdisiplin saat berhadapan denganmu.
Selain disiplin beliau juga berpesan agar kita, remaja-remaja yang beruntung sudah bisa menikmati sekolah dengan kondisi yang sangat baik ini dapat lebih menghargai setiap ilmu yang diberikan. Jangan pernah putus asa dalam menggapai cita-cita. Karena disaat kita berusaha, cita-cita itu akan memilihkan jalan yang terbaik yang dapat kita tempuh kedepannya.
Wawancara saya dan Pakde Tanto yang berlangsung sekitar satu setengah jam ini banyak mengubah cara pandang saya terhadap perjuangan para pendidik. Walaupun wawancara ini hanya melalui telephone, tetapi tidak membuat saya merasa ini hanya sekedar pengalaman hidup seseorang saja. Jakarta-Jogja tidak bisa di ukur hanya sebatas jarak jika kita memang ingin mengambil pelajaran dari pengalaman menarik seseorang yang sudah sukses. Dan saya mengagumi Pakde Tanto sebagai sosok yang penuh semangat dan penuh ambisi untuk mensukseskan generasi yang menunggu untuk di bimbing menuju jalan yang terang.
Untuk bisa menjadi seseorang dari sebatas kesederhanaan, dibutuhkan disiplin, semangat, dan kemauan yang penuh.

No comments:

Post a Comment