Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Annisa Sabila

"Ongku Sulaiman Labai, Sang Penghadang Kereta Api di Silungkang"


67 tahun sudah negara yang kita cintai ini merdeka. Negara ini adalah salah satu negara  di dunia, tepatnya di Asia Tenggara yang memiliki banyak sekali sumber daya alam yang sangat bermanfaat dan sangat diincar oleh negara-negara lain seperti Portugal, Spanyol, Perancis, Inggris, Belanda, dan Jepang yang akhirnya menjajah negeri kita tercinta ini. 1602-1942, kira-kira selama 3,5 abad Indonesia dijajah oleh Belanda kemudian muncul lah negara lain yang menjajah Indonesia, yaitu Jepang yang menjajah negara kita ini selama kurang lebih 3,5 tahun. Selama berabad-abad negara ini dijajah oleh para penjajah dan sangat banyak menelan korban jiwa. Terlalu banyak orang yang kehilangan keluarga, sanak saudara, ataupun kerabat. Semua sudah dilakukan oleh para pejuang untuk memperoleh kemerdekaan, mereka sudah tidak butuh belas kasihan ataupun perhatian dari orang-orang terdekat, mereka hanya ingin melepas ketergantungan dari negara penjajah. Seluruh harta benda mungkin sudah hancur, tetapi bagi mereka apapun akan mereka lakukan demi merdeka dan bebas dari kekangan negara penjajah.

Saat masa penjajahan Jepang, negara ini sudah mulai memiliki ide-ide dan rencana untuk kemerdekaan, seperti membuat sebuah kelompok-kelompok yang bertujuan untuk merebut kemerdekaan dari tangan Jepang, walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin, teteap saja Jepang memiliki cara untuk menggagalkan kemerdekaan negara tercinta kita ini. Dengan segala usaha yang telah dilakukan akhirnya usaha itu berbuah manis. Tibalah saat itu, saat yang ditunggu-tunggu, saat dimana Indonesia mengalami perubahan menjadi sebuah negara yang merdeka atau bebas dari kekangan negara lain. 17 Agustus 1945 bertempat di  Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 diproklamirkan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno yang berbunyi: 
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17 - 8 - '05
Wakil2 bangsa Indonesia.

Semua perjuangan pahlawan tidak sia-sia, mereka semua yang mengantarkan kita pada hari ini, di negara Indonesia yang aman tanpa ada kecaman perang dari negara manapun. 



“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarah bangsanya, dari sejarahlah kita mendapat banyak sekali pelajaran yang berharga.” Dari kalimat diatas dapat disimpulkan bahwa kita harus menghargai sejarah bangsa kita agar menjadi bangsa yang besar. Saya ditugaskan untuk membuat suatu biografi kakek saya atau orang yang seumuran dengan kakek saya, tetapi karena kakek saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, akhirnya saya memutuskan untuk mengutip cerita dari buku yang berisi tentang biografi dan peranan buyut saya atau yang biasa saya sebut ongku aye’ saya yang bernama Sulaiman Labai.


BIOGRAFI


Lahir di Silungkang kira-kira lebih dari 1 abad yang lalu, Sulaiman Labai tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang penuh tanggung jawab sampai akhirnya dia berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sulaiman Labai. Masa kecil terlewati sebagaimana anak kecil di kampung biasa, masa remaja pun sama tetapi saat mulai dewasa ia mulai melakukan perjuangan atau bisa juga disebut pemberontakan yang cukup dahsyat. Akhirnya pun ia menikah dan mempunyai beberapa orang anak, salah satu nya adalah Anwar Sulaiman, Anwar Sulaiman menikah dengan Mas Kanti dan dikaruniai beberapa orang anak yang biasa saya panggil (alm Nenek Darti), Ongku Pimpa, Nenek Uning, Nenek Utieh, Nenek Onsu, Ongku Uar, dan yang paling kecil Ongku Uji. Lalu alm. Nenek Darti menikah dengan kakek saya sendiri yang biasa saya panggil Ongku Imam. Nenek dan Ongku dikaruniai 5 anak, salah satu nya adalah Mama saya. Ongku Aye’ Sulaiman Lobai pun mulai sakit dan berakhir meninggal karena penyakit tua. 

PERANAN

Penghadangan Kereta Api
Sejak 1915 Sarekat Islam(SI) cabang Silungkang yang dimimpin oleh Sulaiman Labai dalam kesehariannya selalu memperhatikan kepentingan anak nagari nya. Sehabis Perang Dunia I 1918 hampir seluruh dunia terjadi resesi, malaise dan krisis ekonomi yang menimbulkan pengangguran. Untuk itu dilakukan penghematan penggunaan bahan makanan. Pemerintah colonial Belanda Sawahlunto mengeluarkan peraturan atau kebijakan-kebijakan antara lain: mengadakan pelarangan tanpa izin mengangkut beras dari satu daerah ke daerah atau tempat lain. Setiap peraturan yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda hanya menimbulkan ketidakpuasan serta memperberat penderitaan anak nagari. 

Sebagaimana kondisi Silungkang yang telah diuraikan pada bab bab diatas bahwa nagari Silungkang jauh dari kemudahan mendapatkan bahan-bahan pangan untuk kehidupan sehari-hari. Sebab seluruh kebutuhan pangan harus didatangkan dari daera atau kampong lain. Dalam masa malaise atau masa sulit Belanda mengadakan penciutan terhadap pembagian bahan makanan. Belanda mengadakan sistim pendistribusian bahan makanan bagi penduduk. Tentu saja dengan maksud agar supaya kepentingan penduduk belanda tidak terganggu. Pendistribusian beras untuk penduduk untuk nagari Silungkang yang bisa dibagikan kepada penduduk sangat kurang. Namun sebaliknya, bahan makanan dalam hal ini beras untuk keperluan penduduk kolonial Belanda dan para pegawai perusahaan tambang Ombilin, setiap hari puluhan wagon kereta api lalu lalang di stasiun Silungkang. Beras ini diangkut dari daerah penghasil beras(Solok) ke Sawahlunto. 

Stasiun Kereta Api Silungkang - Tempo Dulu


Setelah mempelajari Undang-Undang Darurat Perang (Oorlog ordonantie) pada suatu hari yang ditetapkan ketua Sarekat Islam(SI) cabang Silungkang Sulaiman Labai dengan dibantu berpuluh-puluh anggota Sarekat Islam(SI) membongkar dua gerbong kereta api yang penuh dengan beratus-ratus karung beras ketika kereta api sedang berhenti di Stasiun Silungkang.

Kepala Stasiun dan masinis diancam dan tidak dapat berbuat apa-apa kecuali membiarkan menyerahkan isi dua gerbong beras itu untuk dibawa dan dibongkar oleh anak buah Sulaiman Labai. Masinis begitu juga kepala stasiun terpaksa mengikuti perintah Sulaiman Labai dan menerima semua insturksi – instruksi nya. Sulaiman Labai memberikan sepucuk surat tanda terima (kwitansi)  atas beras tersebut dan menyerahkan sejumlah uang sebagai tanda pembayaran kepada masinis. Kepala stasiun dan masinis menerima sebuah surat pernyataan dari Sarekat Islam(SI) cabang Silungkang yang menyatakan bahwa pengambilan beras itu terpaksa dilakukan oleh karena keadaan darurat perang yang telah menimbulkan bahaya kelaparan bagi penduduk khususnya anak nagari Silungkang. 

Dua jam setelah peristiwa pembongkaran dan penurunan beras dari gerbong kereta api di stasiun Silungkang itu Controleur Sawahlunto dengan pasukan Veldpolisi sampai di Silungkang. Namun beras itu telah habis dibagi-bagikan kepada penduduk dan membawanya pulang. Semua penduduk tidak terkecuali bagi mereka yang belum terdaftar sebagai anggota Sarekat Islam(SI) pun mendapatkan pembagian beras tersebut. Yang penting asal penduduk Silungkang mereka mendapatkan bagain. Ketika pembagian beras itu dilaksanakan memang terlihat kerumunan dan keramaian masa penduduk stasiun. 

Suasana kerumunan dan keramaian itu terjadi hanya sebentar saja. Begitu rombongan Controleur Sawahlunto sampai di Silungkang para penduduk sudah berada kembali di rumah masing-masing. Jadi yang tinggal hanya pengurus-pengurus Sarekat Islam(SI) yang mempertanggungjawabkan tindakannya. Dalam peristiwa itu Controleur hanya bisa membawa Sulaiman Labai(Ketua SI) dan Datuk Bagindo Ratu (bendahara) SI cabang Silungkang ke Sawahlunto. 3 hari kemudian Sulaiman Labai dan Datuk Bagindo Ratu dilepaskan oleh Hoofild Van Pelaatselijk Besteuur Sawahlunto dengan hanya diberi peringatan keras untuk tidak mengulangi aksi pembuatannya di kemudian hari.

Setiap peristiwa penghadangan kereta api itu, Silungkang yang minus beras mendapat fasilitas dari pemerintah dengan memperoleh kuota distribusi beras yang cukup untuk keperluan penduduk. Aksi yang ditunjukkan oleh Sulaiman Labai dalam peristiwa pembongkaran beras itu membawa dampak dan pengaruh yang sangat luar biasa serta sambutan baik dari penduduk. Peristiwa itu telah membangkitkan keberanian anak nagari Silungkang. Akibatnya mereka berduyun-duyun masuk menjadi anggota SI. 

Di beberapa daerah di Sumatra Barat termasuk juga di Silungkang penduduk diharuskan memiliki “kartu merah”. Kegunaan “kartu merah” itu selain untuk kemudahan bagi diri mereka untuk mendapatkan barang-barang keperluan sehari-hari, namun juga berlaku sebagai tanda anggota gerakan. Sering juga bagi mereka yang tidak memiliki “kartu merah” agak mendapatkan kesulitan bahkan ancaman halus dari orang-orang komunis dengan maksud agar mereka memiliki serta membelinya. “kartu merah” itu mempunyai nilai turun naik sesuai dengan kondisi keadaan waktu itu. Bagi orang-orang yang tidak memiliki “kartu merah” itu atau “identitas” sepertinya tidak ada jaminan hidup atau perlindungan diri. Bila revolusi itu nanti telah selesai tak perlu lagi membawa “kartu merah” kemana-mana yang dilontarkan oleh beberapa propagandis komunis tentang peran “kartu merah” tersebut. 

Sesungguhnya banyak orang yang merasa terpaksa membeli “kartu merah” itu. Lebih-lebih karena harganya terus menaik dari waktu ke waktu; hari ini dijual f 0,50 per lembar, besok hari dapat dipastikan harga nya naik menjadi f 1 per lembar. 

Sejalan dengan perkembangan SI di pusat dan daerah-daerah lain, maka SI cabang Silungkang sejak tahun 1924 berubah Sarekat Rakyat Anak Cabang Silungkang. Kala itu sebagian besar anak nagari Silungkang sudah masuk menjadi anggota organisasi politik ini. 
Untuk meningkatkan wawasan berfikir dan pengetahuan anggota dan penduduk, di Silungkang terdapat sebuah perpustakan milik Datuk Sinaro Catib seorang penghulu yang juga sekertaris dari Sarekat Rakyat Anak Silungkang. Perpustakaan itu memilki koleksi buku-buku tidak kurang dari seribu buah. Kebanyakan buku-buku itu merupakan terjemahan dari buku-buku karangan-karangan penulis Eropa dan Tiongkok. Di waktu senggang banyak para aktivis atau anggota  yang mengisi waktunya dengan membaca buku disini seperti dituturkan oleh Abdul Muluk Nasution yang :”saya sebenarnya bukanlah anak nagari Silungkang tetapi kelahiran negeri Cubadak, Talu dari suku Mandailing, Januari 1907. Setelah taman sekolah Gouvernement Inlandsche School disingkat SD. Saya gagal melanjutkan sekolah ke Normaal School Padang Panjang. Kegagalan itu membuatnya terdampar ke Silungkang. Dan bekerja sebagai Leerling Opneemer Takenaar pada Burgerlijk Opembare Werken (PU) yang sedang membuat jalan antara Silungkang, Muara Kalaban.(1920-1923) sebagai anggota pergerakan saya sengat senang membaca pada perpustakaan yang ada di Silungkang itu. Banyak buku-buku yang menarik serta menggugah hatinya sebagai bekal perjuangan. Manakala dalam membaca buku tersebut banyak yang belum dimengerti, atau belum diketahui atau ada yang perlu ditanyakan. Maka saya senantiasa meminta bantuan dari Datuk Utieh Sulaiman Labai, ketua Sarikat Rakyat Silungkang. Beliau adalah seorang cerdik pandai di nagari ini: seorang ahli agama dan pandai berpidato. Berjam-jam kami dari kalangan pemuda-pemuda asyik mendengarkan ceramah atau cerita beliau. Terkadang tentang agama islam, tentang politik, tentang situasi sekarang, sekali-sekali kami mendengar juga cerita-cerita Datuk Utieh Sulaiman Labai tentang hikayat 1001 malam. Semenjak mengenal kepemimpinan Sarekat Rakyat Silungkang ini saya senang sekali terjun berjuang bersama anak nagari Silungkang dan sekitarnya yang gagah berani” kata Abdul Muluk Nasution. 

Setelah saya menulis dan membaca cerita tentang Ongku Aye' Sulaiman Labai saya dapat mengambil hikmahnya. Orang dulu mati-matian berjuang untuk kemerdekaan dan kebebasan dari kekanngan penjajah, tapi anak muda jaman sekarang sangat sedkit yang sudah tidak perduli dengan kisah-kisah masa lampau atau pun sejarah perjuangan rakyat Indonesia sendiri. Mulai dari sekarang, kita harus membiasakan diri untuk mempelajari dan menghargai sejarah dan segala hal yang pernah terjadi di Indonesia dari sebelum atau sesudah kita merdeka. 






No comments:

Post a Comment