Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Annisaa Nurqomariah XI IPA 3


"Eyang putri, menyaksikan semua peristiwa di balik bilik hitam"

Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan tentang bagaimana rasanya hidup di jaman Indonesia belum merdeka. Dikarenakan tugas sejarah inilah saya menjadi sangat penasaran dengan situasi hidup di tahun 1930-an. Awal nya saya ingin mewawancarai mbah saya yang mempunyai peran yang cukup besar dalam peristiwa kemerdekaan Indonesia. Meskipun saya mempunyai buku yang ia tulis sendiri mengenai perjalanan hidupnya, namun saya tidak sempat mengunjungi beliau dikarenakan waktu yang terbatas dan saya sendiri tidak terlalu dekat dengan nya hanya sekedar mengenal dan sering bersilaturahmi saja. 

Alhamdulillah kedua dari nenek kakek dari orang tua saya masih hidup sampai saat ini, mereka diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk hidup dari jaman yang dimana-mana masih sangat kurang dan sangat tidak aman sampai di jaman yang semua serba ada dan sangat aman. Saya memutuskan untuk mewawancarai nenek saya, relasi antara saya dan nenek saya cukup dekat dan sangat gampang menghubungi beliau karena kami berada di satu atap yang sama.

Ibu Hj. Ati Fatimah lahir pada 28 November 1931, beliau merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Satu-satunya saudara yang beliau punya adalah Djulaihah yang sering dipanggil Djudju yang sudah wafat beberapa puluh tahun yang lalu. Sewaktu eyang saya lahir ia tinggal di Cimahi, Bandung. Ia dibesarkan di keluarga yang sederhana, bapak nya bekerja di Pos Telegram dan Telepon dan ibu nya adalah seorang ibu rumah tangga.

Dulu ia bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), ia bercerita bahwa dulu tidak ada yang namanya TK adanya kelas 0, kelas 0 itu setara dengan TK. Beliau juga menceritakan bahwa dahulu saat kelas 0 beliau pernah di gendong oleh kepala sekolah H.I.S yang merupakan orang belanda, eyang saya sangat takut tapi ia tahu bahwa pada saat itu orang belanda hanya ingin menakuti ia saja dengan tampang datar ia menyembunyikan rasa takut nya. Kepala sekolah yang berwarga negara belanda itu pun melepaskannya dari gendongan nya dan membiarkan eyang saya pergi.
Lalu setelah lulus SMP tak lama beliau pindah ke Yogyakarta dan bersekolah di sekolah khusus putri, SMP Putri terletak di sekitar kawasan Kali Code. Tidak lama kemudian ia kembali ke Bandung lagi dan bersekolah di kawasan dago merupakan SMA K yang mayoritas nya siswa siswi nya beragama kristen atau non-muslim.

Lulus SMA ia melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung beliau lupa jurusan apa yang ia tekuni, beliau ingat adalah jurusan yang berhubungan dengan kimia. Mungkin tidak sempat menyelesaikan kuliah nya karena beliau menikahi kakek saya sangat dini dan pindah ke Semarang bersama kakek saya.

Saat ia kembali ke Bandung, ia sudah mempunyai 6 anak dan salah satu nya adalah ibu saya, anak 6 dari 6 bersaudara. Di bandung eyang saya bekerja di laboratorium analitik selama kurang lebih 5 tahun di Institut Teknologi Bandung, diketuai oleh professor yang berasal dari negeri Austria.
Setelah kurang lebih 6 tahun di Bandung eyang saya pindah ke Jakarta karena kakek saya dipindahkan ke Jakarta. Daerah radio dalam merupakan rumah pertama yang ia tinggalkan selama berpuluh-puluh tahun, karena sifatnya yang ramah dan sangat friendly eyang saya dapat bersosialisasi dengan tetangga dengan cepat dan sangat baik sampai sekarang tali silaturahmi mereka tidak pernah putus. Setiap jumat bila tidak ada halangan ia dan teman-teman nya menyempatkan diri untuk mengadakan pengajian rutin setiap jumat.

Setelah 15 – 20 tahun ia tinggal di radio dalam, akhirnya ia memutuskan untuk menjual rumah nya dan membuat rumah di daerah sekitar lebak bulus yang sekarang menjadi tempat tinggal nya bersama suami, anak dan cucu nya.

Eyang putri memang tidak mempunyai peran yang sangat menonjol untuk Indonesia. Disini saya akan menyeritakan kesaksian nya terhadap masa penjajahan jepang dan belanda dahulu.
Dahulu ketika ia masih di masih bersekolah di H.I.S di Bandung. Ia mengalami masa-masa tidak nyaman nya negeri Indonesia, dimana pemuda-pemuda Indonesia berjuang untuk melawan tentara Belanda. Beliau bercerita bahwa dulu kalau ada tanda-tanda musuh (NICA) sudah dekat itu sirine yang dikumandangkan untuk memberi tanda bahwa musuh sudah dekat. Ia juga berkata “Dulu ya, kalau anak gadis atau perempuan segede kamu nih itu kalau udah ada sirine itu nggak boleh yang namanya keluar dari rumah. Soalnya dulu nggak aman kalau seorang gadis diluar, bisa aja di apa-apain dan di bohongi sama tentara belanda. Kan kita nggak tahu, makanya gadis tuh dulu wajib di rumah aja dan nggak boleh sekolah demi keamanan” saya pun bisa membayangkan bagaimana menderita nya gadis-gadis pada jaman itu. 

Rumah eyang saya tidak jauh dari jalan raya, berada di tengah kota dan rumah eyang saya hanya dilindungi oleh sekolah SD yang sangat panjang. Lokasi rumah yang berada di dekat jalan raya dan di belakang sekolah tersebut yang membuat eyang saya dengan mudah dapat melihat situasi yang sedang terjadi di jalan raya. Rumah eyang bewarna hitam, karena pada saat itu warga sekitar di anjurkan untuk menutupi semua bagian rumah agar pada saat pesawat tempur datang tidak terlihat dari atas.

“Dulu kita semua disuruh buat lobang perlindungan, supaya kalau udah mulai ada musuh kita bisa waspada dan ngumpet di lobang tersebut. Biasanya terbuat dari tanah terus luar nya rumput – rumput biar nggak ketahuan sama musuh. Terus ya, kita dikasih semacam karet gitu supaya kalau ada bom kita tidak kaget dan tidak refleks mengigit lidah kita sendiri” ujar eyang putri.

Refleks eyang putri bercerita panjang lebar dan saya pun makin penasaran. Beliau juga bercerita bahwa dulu pemuda-pemuda kita mempunyai kebiasaan yaitu pada pagi  hari sampai menjelang sore hari mereka semua kelayapan di kota, melakukan aktivitas sehari-hari. Saat fajar atau malam mereka semua mulai masuk ke hutan dan mulai mengatur strategi untuk perang melawan musuh, pemuda-pemuda Indonesia tidak mempunyai senjata pada saat itu, mereka menggunakan bambu runcing. Suatu hari ketika bapak nya sedang bekerja di Pos Telegram dan Telpon tiba-tiba tentara semua mengelilingi kantor nya, mungkin takut menyebarkan info-info yang bisa merugikan mereka.
Ibu kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta, keluarga eyang saya pun pindah ke Yogyakarta. Di perjalanan menuju Yogyakarta, eyang saya sempat melihat situasi dimana Bandung di hancurkan oleh musuh habis-habisan di bom sana sini dan semua berubah menjadi merah. Untung saja eyang saya sempat melarikan diri bersama keluarga nya ke Yogyakarta. Pada saat itu sudah tidak ada lagi kereta, jadi harus numpang dulu di truk lalu sampai ada stasiun kereta api baru menggunakan kereta api.

“Sampai di Yogyakarta tuh yang namanya aman itu aman banget, yang namanya menjadi manusia biasa dan nggak ada perang tuh di Jogja. Mungkin karena pemerintahan nya sudah pindah kali ya. Tapi nggak lama kemudian ada perang lagi, cuman paling enggak ya eyang masih bisa ngerasain sekolah lagi dan merasa aman” papar eyang saya.

Eyang ingat banget, pertama kali musuh sampai di Yogyakarta, mereka ngebom lapangan udara atau bandara dan membuat akses untuk keluar masuk kota tersebut sangat amat terhambat.  Eyang juga menceritakan aksi Bung Tomo dalam pemimpin perang merupakan salah satu pahlawan yang paling berani, eyang salut pada nya. 

3 tahun kemudian setelah lulus SMP ia meninggalkan Yogyakarta dan kembali ke Bandung untuk meneruskan SMA, pada saat itu kota Bandung sudah cukup aman dan dapat ditempati lagi.
Sekian cerita tentang kesaksian eyang putri terhadap masa penjajahan jepang dan belanda dahulu. Semoga kita bisa lebih bersyukur bahwa kita dilahirkan pada saat Indonesia sudah merdeka dan semoga kita bisa melakukan yang lebih untuk Indonesia.


No comments:

Post a Comment