Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Aqil Athalla Reksoprodjo XI IPA1

"dr. Arlis, Seorang yang tak mengenal usia dalam menuntut ilmu"

Pada kesempatan ini saya akan mewawancara salah satu dari sekian banyak saksi sejarah mengenai pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sebenarnya banyak anggota keluarga saya yang turut berperan dalam perjuangan bangsa Indonesia namun sayang karena keterbatasan waktu maka saya tidak dapat dipertemukan dengannya.  Kebetulan nenek saya merupakan salah satu dari saksi sejarah tersebut, maka dari itu saya dapat mewawancarainya secara langsung. Berikut adalah hasil wawancara saya beberapa waktu silam.

           A.      Biografi
                dr.Hj. Arlis Faiza Reksoprodjo. SpPd. M. Ag atau yang akrab saya sapa Ibu Lies lahir pada tanggal 21 Februari 1937 di Langsa, Aceh dan merupakan putri kelima dari H. Arifin Temyang. Sejak usia 6 bulan ibu sudah berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lainnya diantaranya ke Bandung, Batusangkar dan Yogyakarta.  Saat Jepang masuk ke Indonesia pada 1942 berada di Yogyakarta dan bersekolah di SD dulu bernama sekolah rakyat kalau dalam bahasa Belanda lebih dikenal dengan nama HIS. Pada zaman Jepang sekolah rakyat setiap pagi sebelum belajar diadakan olahraga yang bernama Taiso. Bahasa Jepang pada waktu itu pun wajib di pelajari.Pada tahun 1945 sewaktu terdengar kabar mengenai Jepang kalah dalam perang AsiaTimur Raya, para pemuda di Yogyakarta bergolak semua melawan Jepang dan berusaha memproklamirkan kemerdekaan di bawah Soekarno dan Hatta.
 Bersamaan dengan itu Belanda kembali lagi ke Indonesia untuk merebut kembali wilayah yang diklaim Belanda masih milik mereka. Maka munculah perang gerilya yaitu perang melawan Agresi Militer Belanda. Sekitar kelas 4 SD. Hidup pada masa itu serba kekurangan karena perang gerilya menyebabkan pertanian serta industri tidak jalan. Anak sekolahan biasa tidak memakai sepatu, bahkan gordyn pun digunakan sebagai bahan pakaian. Anak-anak pada zaman itu ikut berjuang untuk mencari sesuap nasi. Dengan berjualan dan sebagainya. Pada tahun 1949, Seluruh keluarga ibu hijrah dari Yogyakarta melalui Semarang dan kemudian ke Bogor. Pada tahun ini disebut zaman federal karena Republik Indonesia telah berganti menjadi pemerintahan federal dengan nama Republik Indonesia Serikat. Masa itu adalah masa transisi dimana sekolah-sekolah SMP juga dipelajari bahasa Belanda karena pada masa pemerintahan Republik Indonesia Serikat  pengaruh Belanda menjadi besar karena Belanda menggunakan negara-negara bagian Republik Indonesia Serikat sebagai negara bonekanya dalam rangka memecah belah kesatuan Indonesia.
Pada masa SMP ibu bersekolah di Bogor sampai kelas 2 SMP karena sudah memasuki zaman federal maka kehidupan sudah lebih baik dari pada waktu Ibu di Yogyakarta. Waktu di Bogor ibu hidup di sebuah gubug yang dibagun dari bilah-bilah bambu. Pada masa ini juga bersekolah sudah bisa memakai sepatu. Kemudian pada tahun 1952 Ibu pindah ke Jakarta dan Republik Indonesia Serikat telah dibubarkan dan kembali ke Republik Indonesia. Pendidikan SMP ibu di Jakarta dilanjutkan di SMP 5 Jakarta. Pada kurun waktu dari tahun 1953-1955 Ibu kemudian melajutkan pendidikannya ke jenjang SMA. Sekolah ibu terletak di jalan Batu, Jakarta yang kini dikenal dengan nama SMA 3 Jakarta. SMA 3 waktu itu masih berada di zaman peralihan dari guru-guru Belanda menjadi guru-guru pribumi. Ibu sewaktu SMA mempelajari bahasa Jerman dan Inggris sementara sewaktu SMP belajar bahasa Belanda.
Pada tahun 1955 Ibu melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan. Ibu masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pada waktu itu perkuliahan masih menggunakan bahasa asing karena dosen-dosennya berasal dari asing dan buku-bukunya pun juga semuanya berbahasa asing.  Ibu biasa pergi bersekolah dengan sepeda dari rumahnya di kawasan Tanah Abang menuju gedung perkuliahan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di  kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Pada waktu ini Sekolah kedokteran sudah mulai terorganisir dengan  baik karena sebelumnya pendidikan kedokteran sistem perkuliahannya belum sebaik saat ini. Misalnya kelulusan mahasiswa itu ditentukan oleh mahasiswa tersebut.  Akan tetapi sistem semesternya masih perlaihan dari sistem Belanda menjadi sistem Nasional.  Sistem perkuliahan pada waktu itu masih menggunakan C1, C2, D1,D2,A1,A2 Arts/Dokter.
Pendidikan Kedokteran menurut Ibu sangat menyenangkan karena anak-anak  pada  waktu itu dapat bergaul. 
Pada tahun 1959 Ibu diangkat menjadi asisten dosen di bagian penyakit dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan ditugaskan di bagian adminstrasi.
Ibu kemudian lulus pendidikan Strata-1 kedokteran pada tahun 1961 dan juga kemudian menikah dengan Soelarto Reksoprodjo yakni kakek saya.
Pada waktu dari tahun 1961-1966 ibu mendapatkan pendidikan Spesilais, dimana kalau di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo merupakan sebuah gabungan antara pembelajaran dan profesi.
Pada tahun 1966 Ibu kemudian mengambil pendidikan Strata-2 profesi spesialis penyakit dalam.
Ibu kemudian diajukan untuk memperdalam ilmu kedokterannya untuk menjadi seorang ahli penyakit darah namun harus pergi ke Belanda untuk pendidikan itu tapi kemudian Ibu menolak karena suami Ibu pada waktu itu berada di Paris dan sudah memiliki 2 anak. Maka diputuskan pada tahun 1968 ibu pindah ke Rumah Sakit Fatmawati untuk mengembangkan bagian penyakit dalam. Yang kemudian ibu pensiun dini sebagai kepala bagian penyakit dalam pada tahun 1992 karena mau sekolah. Pada tahun 1993 ibu mengambil pendidikan D-3 bahasa Perancis di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan selesai tahun 1996. Dari tahun 1996 sampai 2000 Ibu mengambil pendidikan penyiaran dan komunikasi Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pada tahun 2000-2004 mengambil lagi pendidikan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pascasarjana di bidang sejarah dan kebudayaan Islam dan predikat magister dalam Agama Islam. Setelah menempuh pendidikan Magister ibu kemudian berkecimpung di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta sebagai komisaris dan dari tahun 2011 sampai sekarang Ibu berkedudukan sebagai direktur operasional.

          B.      Peranan
Karena faktor usia Ibu waktu itu masih terlalu muda maka Ibu tidak terlalu berpengaruh dalam melawan Belanda tetapi kakak-kakak ibu ikut ke kelompok tentara pelajar dan ikut bergerilya. Pada satu ketika saat Belanda melancarkan Agresinya yang kedua atau yang lebih dikenal dengan nama “Clash 2”, rumah ibu di datangi oleh perampok dimana salah satu perampok ingin menculik ayah dari ibu. Namun yang tertangkap adalah salah satu tentara pelajar yang kebetulan sedang menginap di rumah ibu. Kemudian ternyata diketahui bahwa perampok itu adalah tentara Belanda yang menginginkan ayahanda dari ibu untuk bekerjasama dengan pihak Belanda namun ia menolak untuk bekerja sama dengan Belanda. Ibu pernah mengalami bersekolah dengan sarana sekolah yang kurang memadai, buku tulis dibuat dari kertas merang. Yang biasa di pakai adalah sabak dan grip yang pada waktu istirahat para murid sudah berjongkok di halaman sekolah untuk mengasah grip mereka masing-masing. Obat-obatan pada masa itu sangat minim sekali, anak-anak yang menderita penyakit kulit seperti kudis obatnya adalah dengan memakan belerang.  Pada agresi militer belanda 2. Belanda pada pagi-pagi sekali sudahmenyerang Yogyakarta pada tahun 1948 dan Belanda merangsek masuk ke Yogyakarta maka dari itu seluruh sekolah di Yogyakarta ditutup dan digunakan sebagai asrama militer Belanda. Ibu kemudian ikut dengan grup kakak-kakak kelas yang mengadakan tutorial kepada teman-teman ibu pada waktu itu kelas 6 SD.
                Selain itu Ibu pernah menjadi tim kesehatan ibadah haji Republik Indonesia dari tahun 1987 hingga tahun 1998.


No comments:

Post a Comment