Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Astrid Amalia XI IPA 2

Eyang Endang Astuti, Saksi peperangan yang masih belia

Menyaksikan huru hara peperangan antara pasukan gerilya Indonesia dengan para penjajah bukanlah hal yang dapat diterima dengan mudah oleh orang dewasa. Bahkan dalam beberapa kasus menyisakan trauma yang mendalam dan teringat terus seumur hidup. Bagaimanakah jika anda menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut dalam umur yang masih kecil? Hal inilah yang membuat rasa ingin tahu saya meningkat dan akhirnya memutuskan untuk mewawancarai nenek saya yang saat itu masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar).

Mempunyai peran dalam perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan adalah keinginan semua masyarakat Indonesia pada masa itu. Tetapi apakah hanya orang dewasa saja yang mempunyai kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam perjuangan bangsa Indonesia? Tentu tidak. Nenek saya, walaupun masih dalam usia yang bisa dibilang “anak kecil” berhasil membuktikan bahwa untuk berpartisipasi dalam perjuangan bangsa Indonesia bukan hanya dengan mengangkat senjata dan terjun ke medan perang.

Saya berkesempatan mewawancarai beliau saat saya mengunjungi kediaman beliau di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan. Wawancara berlangsung dengan seru dan penuh nostalgia. Nenek saya, yang biasanya akrab saya dan sepupu-sepupu saya panggil eyang memang sudah tidak terlalu ingat dengan jelas kejadian-kejadian yang terjadi. Namun, beliau tetap bercerita dengan semangat  tentang kehidupannya dulu yang bisa dibilang tidaklah mudah.

Nenek Endang Astuti, nama akrabnya nenek Tuti yang biasa saya dan sepupu-sepupu saya panggil eyang. Lahir pada tanggal 31 Maret 1939 di Ambarawa. Pada saat itu, Indonesia masih dalam jajahan Belanda. Pada saat eyang berusia 4 tahun, yaitu pasa tahun 1943, eyang dan keluarganya yang terdiri dari bapak, ibu dan anak yang berjumlah 6 bersaudara. Memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke Gundih yang terletak di daerah Purojadi. Karena keterbatasan lapangan kerja bagi masyarakat biasa, ayah dari eyang saya dalam kata lain kakek buyut saya , terpaksa menerima perkerjaan yang mengharuskan beliau untuk pindah tinggal masuk ke dalam hutan. Waktu itu, eyang saya memasuki umur yang sudah mengharuskan beliau untuk pergi ke sekolah. Sedangkan, jangankan sekolah rumah tinggal saja sulit ditemukan di dalam hutan. Situasi yang tidak memungkinkan membuat orang tua eyang saya memutuskan untuk mengirim eyang saya ke Jakarta (waktu itu Batavia).

Walaupun sedih karena harus berpisah dari orang tuanya. Eyang saya dan kakak laki-lakinya terpaksa mengikuti kakek mereka (ayah dari ibunya eyang saya) pergi ke Jakarta. Menurut cerita eyang saya, kakeknya eyang saya  adalah seorang Jawa tulen yang sangat baik. Beliau adalah seorang dokter dan merupakan satu-satunya dokter di daerah tersebut pada masa itu. Sesampainya di Jakarta, eyang saya dan kakak laki – lakinya yang bernama Hari menetap sementara di rumah tante mereka, yang sekarang adalah eyang buyut saya, bernama tante Santoso. Selama mereka menetap di Jakarta suasana sedang sangat tegang karena pada saat itu sedang sering terjadi bentrok antara pasukan Belanda, pasukan sekutu dan pasukan Jepang. Menurut cerita eyang saya, saat itu pasukan Jepang sedang gencar-gencarnya mencoba untuk memasuki Indonesia. Sehingga, sering terjadi bentrokan dengan pasukan Belanda untuk mempertahankan kedudukan belanda di Indonesia. Karena takut akan banyaknya pasukan yang berlalu lalang, tante dari eyang saya kerap kali memerintahkan eyang saya dan kakaknya untuk bersembunyi dan tidak mengeluarkan suara apapun. Bahkan untuk mendengarkan radio saja eyang saya hanya boleh menyalakan radio dalam volume terkecil dan mendengarkannya dengan telinga menempel erat dengan speaker nya.

Setalah menetap di Jakarta selama beberapa bulan, eyang saya tidak ingat berapa bulan persisnya, tante dari eyang saya dikabarkan bahwa ayah dari eyang saya alias kakek buyut saya, sudah pindah dari tempat tinggal mereka yang berada di tengah hutan di daerah Gundih, ke daerah Purwokerto.  Akhirnya, tante dari eyang saya memutuskan untuk memulangkan eyang saya dan kakaknya untuk bertemu kembali dengan orang tuanya di Purwokerto. Ada cerita menarik yang diceritakan eyang saya yang terjadi dalam perjalanan dari Jakarta menuju Purwokerto. Beberapa saat sebelum berangkat menuju stasiun kereta api, eyang saya sedang menunggu tante saya sambil bermain di halaman belakang rumah tante eyang saya. Ketika sedang bermain, eyang saya menemukan semacam lencana bergambar bendera negara Belanda yaitu berwarna merah, putih dan biru. Karena waktu itu eyang saya masih kecil dan belum mengerti betul, eyang saya pun mengambilnya dan menyimpannya di tas tante eyang saya untuk dibawa karena menganggap lencana tersebut menarik tanpa mengetahui bahwa lencana itu kemungkinan besar milik tentara Belanda. Ketika mereka sampai di Purwokerto dan sedang menjalani pemeriksaan, tiba-tiba tante eyang saya ditahan dan diperiksa secara menyeluruh dan diberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan mata-mata. Setelah diberikan banyak pertanyaan dan diminta untuk menjawabnya, tante eyang saya  pun menyadari bahwa dirinya sedang dicurigai sebagai seorang mata – mata dari tentara Belanda. Ternyata, pada masa itu masyarakat sedang sangat waspada terhadap kemungkinan adanya mata – mata tentara Belanda atau Jepang diantara mereka karena baik tentara Belanda maupun tentara Jepang sedang gencar – gencarnya menyebarkan mata – mata mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Mereka melakukan hal tersebut untuk mencari informasi tentang keberadaan tentara musuh mereka dan persembunyian pasukan pejuang Indonesia. Untunglah, setelah berkali – kali meyakinkan petugas bahwa dirinya bukanlah seorang mata – mata Belanda, beliau berhasil lolos dari penahanan dan dapat melanjutkan perjalan ke Purwokerto.

Keluarga eyang saya menetap cukup lama di Purwokerto. Namun, mereka terpaksa harus mengungsi ke Lubuk Siung karena peristiwa Bumi Hangus. Peristiwa ini, menurut eyang saya, merupakan peristiwa yang bahkan sampai saat ini eyang saya masih mengingat detail kejadiannya dengan sangat jelas karena kesan yang dihasilkan oleh kejadian tersebut sangatlah dalam. Pada saat itu, 1 hari biasa di Purwokerto. Semua orang sangatlah bersemangat pada hari itu karena Bung Karno hari itu akan datang dan memberikan pidato di salah satu alun – alun masjid di Purwokerto. Orang – orang sangat bersemangat untuk mendengarkan pidato Bung Karno dan berbondong – bondong datang ke alun – alun masjid untuk mendengarkan pidato Bung Karno termasuk eyang saya yang saat itu datang ke alun – alun bersama dengan adiknya. Pada saat semua orang sedang mendengarkan Bung Karno yang sedang berpidato dengan berkobar – kobar, tiba – tiba tentara Belanda datang dan mereka dengan brutalnya mulai melakukan tembakan masal ke arah kumpulan masyarakat Indonesia yang ada di alun – alun masjid tersebut, eyang saya yang saat itu sedang tidak bersama dengan orang tua beliau pun langsung ikut berlari tunggang langgang menuju rumah beliau. Ketika orang – orang keluar dari alun – alun itulah mereka melihat rumah – rumah yang ada di Purwokerto itu sudah habis terbakar bom yang dijatuhkan dari pesawat oleh tentara Belanda. Mulai dari rumah – rumah milik penduduk sipil sampai bangunan pemerintah daerah di Purwokerto terbakar habis hingga rata dengan tanah. Karena itulah peristiwa ini dikenal dengan sebutan peristiwa Bumi Hangus. Karena kejadian tersebut, keluarga eyang saya dan sebagian besar warga Purwokerto lainnya terpaksa mengungsi ke tempat lain yang lebih aman. Keluarga eyang saya memutuskan untuk mengungsi ke desa Lubuk Siung. Walaupun sudah mengungsi, karena posisi desa yang terdapat di pinggir kota dan lumayan dekat dengan lokasi perang, beliau menjalani kehidupan sehari – harinya selalu ditemani dengan kecemasan dan kewaspadaa akan adanya peluru nyasar. Salah satu cara pencegahan terkenanya peluru nyasar yang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada saat itu adalah dengan menutup tempat tidur. Tempat tidur yang tadinya terbuka diubah menjadi tertutup dengan besi sehingga bentuknya seoerti kubus tetapi tanpa atapnya. Selain itu, setiap hari mereka hatus berurusan dengan tentara – tentara Belanda atau Jepang yang datang silih berganti memeriksa apakah ada mata – mata dari negara musuh mereka yang bersembunyi di antara masyarakat Indonesia. Tentara – tentara tersebut juga mencari tahu diamna tempat persembunyian pasukan gerilya Indonesia.

Sejak pengungsian itu, keluarga eyang saya selalu berpindah pindah tempat tinggal dari desa satu ke desa yang lain. Pada saat itu, karena kebanyakan desa letaknya di pinggir hutan, desa – desa tersebut sering dijadikan tempat peristirahatan bagi pasukan gerilya yang khusus beroperasi di medan – medan perang seperti hutan. Eyang saya pun menceritakan ketika akhirnya ibu dari eyang saya mulai membuat dapur umum yang diperuntukkan bagi para pasukan pejuang Indonesia tersebut. Dapur umum tersebut menyediakan  tempat beristirahat dan makanan bagi para tentara Indonesia tersebut. Eyang saya yang waktu itu masih belum mencapai masa remaja setiap hari membantu ibunya mempersiapkan dapur umum tersebut agar tentara Indonesia yang kebetulan melewati dapur umum tersebut bisa langsung beristirahat di dapur umum tersebut. Menurut eyang saya, walaupun tentara – tentara tersebut terlihat sangat seram dan berkarisma ketika menggunakan pakaian perang mereka dan memegang bamboo runcing. Tetapi, jika sudah waktunya mereka menikmati waktu istirahat yang berharga sebelum mereka terjun ke medan perang kembali, mereka menghabiskan waktunya seperti orang – orang kebanyakan. Seperti, tidur, mengobrol, bernyanyi sampai bermain bersama – sama dengan anak kecil. Di saat – saat seperti itulah eyang saya yang saat itu masih berusia yang bisa dibilang “kecil” bahkan bisa melihat betapa rindunya para pejuang kemerdekaan itu terhadap kampong halaman dan keluarganya. Eyang saya pun merasa senang bisa menyediakan tempat peristirahatan bagi para pejuang Indonesia agar mereka bisa kembali ke medan perang dengan semangat yang berkobar – kobar dan terus memperjuangkan hak Indonesia yaitu kemerdekaan.


Sekian wawancara saya dengan nenek Endang Astuti. Semoga dapat bermanfaat.

No comments:

Post a Comment