Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Astrid Fahnasya XI IPS I



Eyangkung Zein Effendi, Satia Penegak Pers

Keluarga merupakan bagian dari kelompok sosial yang terkecil dan terdekat bagi setiap individu, begitu pula bagi saya. Meskipun begitu, banyak hal yang masih belum saya ketahui mengenai keluarga saya, bahkan mengenai kakek dan nenek saya sendiri. Dalam keluarga, saya memang lebih dekat dengan kakek dan nenek (ayah dan ibu dari mama saya) daripada dengan eyangti apalagi almarhum eyangkung saya (ayah dan ibu dari papa saya). Dengan adanya tugas sejarah kali ini, saya dapat lebih mengenal eyang saya yang belum pernah saya temui sama sekali. Nafas beliau memang terhenti pada tahun 1986, tetapi sejarah dan cerita mengenai beliau masih dapat terus terdengar dan dapat menjadi semangat bagi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Suatu malam, saya sedang bercerita kepada orangtua saya mengenai tugas sejarah yang diberikan oleh guru sejarah saya di sekolah. Tugasnya adalah untuk membuat biografi tentang kakek, nenek, atau orang segenerasi yang memiliki peran dalam sejarah. Sebenernya eyangti saya pasti lebih banyak tau mengenai eyangkung saya tetapi saya tidak mau merepotkan eyangti saya yang harus dengan susah payah menggunakan hearing aid untuk mendengarkan berbagai pertanyaan yang akan saya ajukan, sehingga saya memutuskan untuk bertanya tentang eyangkung kepada ayah saya.

Saya berkata kepada ayah saya tentang keinginan saya untuk mendengar cerita tentang almarhum eyangkung saya, yang sudah berpulang ke Rahmatullah bahkan sebelum saya sempat terbentuk di rahim ibu saya, selengkap-lengkapnya. Sebelumnya, saya sempat ragu untuk meminta ayah saya bercerita, karena saya takut ayah saya menjadi sedih dan menitikkan air mata. Tetapi ayah saya nyatanya bercerita dengan senyum dan bangga. Ketika ayah saya mengeluarkan album berisi dokumen-dokumen tentang kakek saya, malah saya yang banjir air mata. Entah mengapa, mungkin saya merasa sedikit kecewa karena tidak berkesempatan untuk bertemu dengan orang hebat seperti beliau atau mungkin juga saya terharu mengetahui bahwa saya adalah keturunan dari orang yang sehebat beliau.



Biografi
Eyangkung Zein Effendi
Beliau yang daritadi saya bicarakan bernama lengkap Zein Effendi. Eyangkung lahir pada tanggal 20 Februari tahun 1924 di Tuban, Jawa Timur. Eyangkung merupakan anak ke 3 dari 14 bersaudara. Beliau merupakan putra dari pasangan bapak R. Abdullah Koestoer  dan ibu Musarofah. Ayah beliau adalah seorang penghulu agama di Blora, kabupaten Jawa Tengah, tetapi bertempat tinggal di Jl. Kebon Sari VII No. 142, Tuban, Jawa Timur.

Eyangkung menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya di Tuban, Sekolah Menengah Pertama di Blora, lalu beliau pindah ke rumah tante beliau di Jogja untuk menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas di Bopkri Jogja. Saat beliau sedang  menempuh pendidikan  Sekolah Menengah Atas di Bopkri, beliau mulai bekerja sebagai wartawan di Harian Buruh yang berkantor di Jl. Kopi Kecil Jogja, yang berlokasi di dekat kantor Percetakkan Negara. Pada saat itu, Harian Buruh dipimpin oleh Djamal Ali. Beliau bekerja di Harian Buruh bersama sahabatnya yaitu eyang Hertantio atau akrab disapa eyang Heng.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, masih bersama sahabatnya, eyangkung melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta. Di Universitas itulah eyangkung bertemu dengan eyangti Juul Sugiarti yang beliau peristri pada tahun 1954 . Saat itu, beliau juga  masih bekerja di Harian Buruh. Beberapa saat kemudian, beliau dipindah-tugaskan ke kantor pusat Harian Buruh di Jakarta. Di Harian Buruh, beliau memiliki nama samaran yaitu Rangsang Tuban dengan alasan karena beliau berasal dari Tuban. Eyang Hertantio berhasil lebih dahulu menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum dan mulai bekerja di bank, sedangkan eyangkung masih tetap setia pada panggilan jiwa beliau, jagat kewartawanan, dunia jurnalistik Indonesia.

Menurut ayah saya, eyangkung mendapatkan gelar Sarjana Hukumnnya dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Namun ketika saya mencaritau tentang eyangkung di internet, dituliskan bahwa beliau merupakan lulusan Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat di Universitas Indonesia.

Surat Tanda Demobilisasi sebagai Tentara Pelajar Jogja

Sebagaimana halnya yang dilakukan sebagian besar pemuda pelajar Indonesia pada masa itu, pada waktu agresi Belanda II, eyangkung keluar kota dan menggabungkan diri dengan brigade/tentara pelajar di sekitar Yogya. Pada pertengahan tahun 1948, bersama dengan eyang Hertantio, beliau pindah ke Antara. Pada tahun 1955, eyangkung ditugaskan ke Amsterdam oleh Lembaga Kantor Berita Negara Antara. Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara (atau disingkat Perum LKBN Antara) merupakan kantor berita di Indonesia, yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Perum LKBN Antara merupakan BUMN yang diberikan tugas oleh Pemerintah untuk melakukan peliputan dan penyebarluasan informasi yang cepat, akurat, dan penting, ke seluruh wilayah Indonesia dan dunia internasional.

Piagam Penghargaan dari LKBN Antara


Pada tahun 1957, tanggal 2 Agustus di sebuah Rumah Sakit di Amsterdam, lahirlah putra pertama mereka yang menjadi narasumber saya sekarang, bernama Farid Zeineddin Effendi. Beliau dan keluarga tinggal di Beethoven Strat No.101. 2 tahun kemudian, beliau sekeluarga pindah kembali ke Jakarta. Di Jakartalah 3 anak beliau yang lainnya dilahirkan. Putri terakhirnya lahir pada tahun 1967 di Jakarta.

Setelah menderita sakit sejak tahun 1977 di Singapura, dengan tenang menjelang fajar hari Selasa 4 Februari 1986, eyangkung Zein Effendi SH, seorang ayah, suami, direktur harian dan salah seorang pendiri surat kabar The Indonesia Times di Jakarta,  menghadap Sang Khalikul Alam.

Piagam Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia

“Saudara Zein Effendi adalah seorang tokoh pers yang terkemuka dan telah berbakti banyak untuk Tanah Air, wafatnya beliau merupakan kehilangan besar bagi keluarga dan kita semua, khususnya dunia pers.”

Begitulah sepotong kalimat yang dituliskan oleh Bapak Soepardjo, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada tahun 1986, dalam surat ucapan belasungkawa yang beliau kirimkan kepada eyangti Juul Sugiarti pada saat meninggalnya eyangkung.

Eyangkung dikenal sebagai Managing Director The Indonesia Times saat meninggal dunia pada tanggal 4 Februari tahun 1986 di Rumah Sakit Jantung Yayasan Harapan Kita pada pukul 03.38 WIB dalam usia 62 tahun. Eyangkung disemayamkan di rumah duka, Jl. Dr. Makaliwe I/20 Jakarta Barat dan dimakamkan di Pemakaman Karet pada pukul 14.30 WIB. Diantara para pelayat yang datang antara lain Menpen Harmoko, Mendagri Soepardjo Rustam, Dirjen PPG Sukarno SH dan para wartawan ibu kota.

Peranan
Eyangkung menerjuni jagat wartawan Indonesia sudah sejak masih menjadi pelajar SMA Bopkri pada masa revolusi di Jogja. Bersama dengan teman akrab beliau, eyang Hertantio, beliau menjadi wartawan Harian Buruh pada (TAHUN BRP). Nama samaran yang beliau pakai sebagai wartawan adalah Rangsang Tuban.
Pada pertengahan tahun 1948 bersama dengan eyang Hertantio, beliau pindah ke Antara, dengan alasan memperkuat barisan reporter yang waktu itu jumlahnya masih amat sedikit.  Pada waktu Agresi Belanda II, eyangkung menggabungkan diri dengan Tentara Pelajar di Jogja.

Dalam perjuangan beliau di tahun 1949 berebut hidup dengan Belanda, beliau ditawan musuh lalu dimasukkan ke penjara Wirogunan, dan kemudian dipindahkan ke penjara Ambarawa yang ayah saya pun tidak terlalu mengetahui alasannya.

Beliau dibebaskan karena adanya persetujuan Roem-Royen yang menyepakati bahwa para tawanan politik boleh dibebaskan. Eyangkung dibebaskan dari penjara dan mendengar bahwa Antara yang semula berpusat di Jogja telah kembali ke Jakarta dan berkantor besar di ibu kota. Eyangkung segera menggabungkan diri dan ditempatkan di Meja Luar Negeri sampai tahun 1954.

Pada awal 1955 beliau dikirim ke Amsterdam untuk memperkuat kantor cabang yang waktu itu dipimpin oleh almarhum Mashud Sosroyodho, dibantu dengan almarhum Muhammad Chudori yang setelah itu juga sempat menjadi pimpinan umum surat kabar Jakarta Post di Jakarta.

Menjelang akhir tahun 1958, eyangkung dipanggil kembali ke tanah air, ditempatkan di Meja Ekonomi Dalam Negeri, lalu selanjutnya ditempatkan di Meja Dalam Negeri.

Antara merupakan sebuah Kantor Berita Negara yang pekerjanya berasal dari berbagai aliran politik (misalnya PKI, anti-PKI, BPS, dan lain-lain) sehingga pergolakkan politik di dalam negeri cukup berpengaruh. Meskipun yayasan telah memberitau dan menegaskan bahwa dalam hal pemberitaan, para wartawan tidak diperbolehkan membawa-bawa atau mengungkit-ungkit mengenai ideologi yang dianutnya, namun dalam kenyataannya hal tersebut sulit dilaksanakan.

Pada awalnya, eyangkung merasa nyaman dan enak bekerja di Antara yang penuh dengan semangat kekeluargaan. Namun, setelah adanya kasus pro dan kontra naskah Linggarjati, tanpa sengaja telah terbentuk blok-blok di dalam kantor. Saat kaum komunis melakukan pemberontakkan di Madiun pad atahun 1948, berita yang dikirimkan oleh wartawan Antara dengan sengaja tidak dimuat oleh bapak Djawoto, pemimpin redaksinya. Berita tentang pemberontakkan komunis tersebut malah diambil dan diberikan dan diterbitkan oleh surat kabar Nasional.

Sedikit terjadi heboh dan pembicaraan waktu itu, tetapi karena pada masa revolusi tiap saat tiap detik penuh dengan peristiwa penting, kasus tersebut tidak pernah dibicarakan dan diungkit kembali. Menurut eyangkung, pertengkaran yang sudah mulai punya bibit di Antara Jogja ini telah mengutungkan kaum komunis yang sedikit demi sedikit juga telah menguasai Antara, terutama di bagian pemberitaan dalam negeri.

Dengan dipelopori oleh eyangkung, sebagian wartawan yang beraliran Pancasilais, kemudian dinamakan “grup sponsor”, menolak kepemimpinan bapak Djawoto yang bertindak membeda-bedakan terhadap para wartawan Antara yang non-komunis dan yang komunis. Kebetulan eyangkung adalah orang yang termasuk non-komunis.

Pemimpin redaksi diaak mengadakan msuyawarah untuk memperbaiki situasi tetapi dalam perkembangannya dua kubu tidak dapat didamaikan. Akhirnya setelah pihak komunis merasa terdesak, pihak komunis meminta bantuan Presiden Soekarno untuk campur tangan.

Bung Karno saat itu mengambil keputusan untuk mengubah status Antara yang tadinya yayasan menjadi Lembaga Kantor Berita Negara yang berada langsung dibawah pengawasan Presiden.

Kaum komunis yang merasa sangat terdesak karena bangsa Indonesia telah mengetahui bahwa bila hal yang seperti ini dibiarkan maka akan membawa bencana bagi kehidupan bangsa dan negara Indonesia seluruhnya. Dipelopori oleh Adam Malik, BM Diah dan Soemantoro, didirikanlah Badan Pembela Soekarnoisme yang sedikit demi sedikit membangun banyak cabang di berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Eyangkung menjadi salah satu tenaga wartawan dari Antara yang menjadi anggota pengurus BPS (Badan Pembela Soekarnoisme). Eyangkung dipensiunkan dari kantor Antara karena adalah seorang yang anti-komunisme.

Pemberian Penghargaan Kesetiaan: Lencana Setia Antara Klas I, Klas II, klas III 

Pers Komunis merasa kewalahan menghadapi serangan pers yang tergabung dalam BPS karena semua taktik dan siasat kaum komunis diserang balik tanpa ampun. Rakyat diberitahukan betapa liciknya kaum komunis mengelabui mereka. Eyangkung dan BPS juga mengingatkan rakyat betapa palsunya ajaran komunis.

Kembali dengan bantuan Bung Karno, BPS dibubarka begitu saja dengan membawa akibat yang sangat jauh bagi kehidupan pers Indonesia. Sejarah mencatat bahwa kasus BPS merupakan kasus yang sangat unik dala sejarah pers dunia sebab baru kali ini terjadi di Indonesia sekumpulan kaum wartawan dari berbagai surat kabar dan aliran mengadakan perlawanan terhadap komunis.

Eyangkung mendapatkan instruksi dari Jaksa Agung untuk mengundurkan diri dari Antara karena kedudukannya sebagai anggota pengurus BPS, dan permintaan pihak yang berkuasa itupun dilaksanakan dengan patuh oleh eyangkung. 

Pada awal 1966 eyangkung kembali pad adunia kewartawanan. Eyangkung mendirikan harian berbahasa Inggris, The Indonesian Herald, tetapi kira-kira sembilan bulan kemudian eyangkung memimpin The Jakarta Times. Eyangkung pernah mendapat tanda penghargaan Satia Penegak Pers dari PWI, menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah Hukum Pers di Universitas Indonesia dan Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Publisistik sebagai wakil ketua pengurus pusat SPS dan wakil sekjen PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat. Eyangkung juga pernah menjadi anggota MPRS sampai terbentuknya MPR hasil Pemilu.

Eyangkung meninggal pada saat menjabat menjadi Managing Director di The Indonesia Times pada tahun 1986. Beberapa koran seperti Sinar Harapan 4 Februari 1986 dan Kompas  5 Februari 1986 memuat tulisan tentang meninggalnya eyangkung.

Harian Kompas menuliskan “Semoga Tuhan mengampuni segala dosa kesalahannya dan menerma semua amal kebaikannya.”. Begitu pula doa yang saya panjatkan kepada  Allah swt untuk eyangkung. Semoga hidup Eyangkung diterima sebagai amal baik yang diridhoi-Nya, diampuni segala dosa-dosanya, dan arwahnya didekatkan di sisi-Nya. Aamiin.


Dengan diberikannya tugas ini, saya menjadi berpikir, ketika cucu saya nanti diberikan tugas yang serupa, kira-kira apakah ia akan menuliskan tentang saya? Apa yang akan ia tuliskan mengenai saya? Saya berharap kelak saya juga dapat menorehkan tinta sejarah ke dalam bab kehidupan saya yang bermanfaat tidak hanya bagi saya atau keluarga tetapi juga bagi orang banyak, seperti eyangkung saya.

No comments:

Post a Comment