Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Biografi) - Astrid Levina XI IPA 3

Paulus Yoseph Suryoprabowo; Berjuang Dengan Jas Putih dan Stetoskop



Pada kesempatan ini, saya mewawancarai kakek saya sendiri dari keluarga mama. Beliau bernama Paulus Yoseph Suryoprabowo, yang akrab dipanggil Opa Suryo oleh cucu-cucunya. Beliau adalah sosok pria yang bertanggung jawab, tegas tetapi lembut, dan penuh kesabaran. Menjadi cucu perempuan pertama dari keluarga besar Suryoprabowo, membuat saya mempunyai kesempatan mengenal beliau 6 tahun lebih lama dari saudara-saudara yang lain. Namun karena tugas ini, saya jadi mengetahui lebih dalam apa yang belum pernah saya ketahui. Pengalaman, perjuangan dan pengabdiannya yang membuatnya menjadi seperti sekarang.

Karena Opa Suryo bertempat tinggal di Surabaya, maka pada hari Kamis, tanggal 30 Mei 2013 pukul 9 malam, saya melakukan wawancara via telepon dengan Opa Suryo sehabis beliau selesai praktek di rumahnya. Ya, pada usianya yang tahun 2013 ini menginjak 76 tahun beliau masih mengabdi mengobati orang-orang yang sakit sebagai seorang dokter.

Opa Suryo lahir di Semarang pada tanggal 2 September 1937. Beliau hidup tanpa kehadiran seorang ayah sebagai sosok pemimpin dan tulang punggung keluarga sejak usia 2 setengah tahun. Opa Suryo selalu berusaha untuk tidak membebani ibunya dengan segala kebutuhannya. Tubuh yang masih sangat kecil itu sudah dipaksa belajar untuk dewasa dan mandiri.

Pada tahun 1942, saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda, terjadi penyerbuan tentara Dai Nippon ke Indonesia. Karena terjadi banyak kekacauan dan penjarahan oleh masyarakat sekitar, Opa Suryo sekeluarga bersama ibu dan saudara-saudaranya mengungsi ke desa Kedungwuni, yang terletak di dekat Pekalongan. Karena kejadian itu, harta keluarga benar-benar habis. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badan.

Opa Suryo bersama korban lainnya ditampung di rumah seorang hartawan setempat. Halaman rumah hartawan tersebut yang luas terlihat kurang karena diisi oleh puluhan bahkan ratusan pengungsi yang tidur berdempet-dempetan, berjejer seperti ikan dalam kaleng. Setiap hari, mereka hanya diberi makan nasi yang dicampur dengan sedikit tauco (kecap Jepang) karena pada masa itu hanya makanan tersebut yang terjangkau harganya. Di sana, Opa Suryo menyaksikan teman-teman dan kenalannya sesama pengungsi satu per satu meninggal karena sakit atau depresi. Keadaan Indonesia yang belum merdeka, terjajah, menjadikan masyarakat lelah akan kerusuhan dan kekacauan yang terus terjadi dalam jangka waktu yang tidak pasti.

Pada tahun 1944, Opa Suryo dengan seluruh kerabat kembali ke Semarang. Berhubung keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk beliau mengikuti pendidikan sekolah, maka Opa Suryo baru mengikuti pendidikan di SD Xaverius, Semarang secara gratis pada tahun 1946. Saat itu opa berumur 9 tahun, lebih lambat 3 tahun dari yang seharusnya. Namun, bagi Opa Suryo tidak ada kata terlambat. Opa Suryo menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 1951. Kemudian beliau melanjutkan ke SMP Dominikus Xavio hingga tahun 1954. Nah, di SMP Dominikus Xavio ini, tepatnya kelas 2 SMP, Opa Suryo mulai harus bayar uang sekolah. Maka, Opa Suryo bekerja sebagai loper koran dan hasilnya digunakan untuk membayar uang sekolah. Setiap pagi, Opa Suryo mengedarkan koran dari rumah ke rumah dengan berjalan kaki. Keringat tidak pernah mematahkan semangatnya.

Tahun 1954, Opa Suryo melanjutkan pendidikan di SMA Loyola, Semarang. Kali ini untuk membayar uang sekolah, Opa Suryo bekerja sebagai pemungut iuran Perkumpulan Seni Dansa di Perkumpulan Kesenian Semarang (PKS). Dari pekerjaan itu, Opa mendapatkan gaji yang besarnya lumayan untuk menamatkan sekolah hingga tahun 1957.

Setamat SMA, Opa Suryo pergi ke Surabaya, mencoba menempuh tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Tetapi Tuhan berkata tidak, hasilnya pada tahun itu Opa Suryo gagal. Akhirnya Opa Suryo menunda kuliah, beliau bekerja serabutan di sebuah perusahaan dagang yang menangani hasil bumi bernama Polowijo, di daerah Kalimas Baru, Surabaya. Tahun berikutnya, Opa Suryo mengulangi menempuh tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan kali itu, Opa Suryo berhasil.

Selama kuliah di fakultas kedokteran, Opa Suryo mencari biaya dengan memberikan les privat kepada siswa-siswa SMA yang membutuhkan, juga sumbangan dari kerabat-kerabat. Namun pada tahun 1961, sudah banyak kegiatan dimana Opa Suryo harus menginap di rumah sakit, sehingga bimbingan belajar untuk siswa SMA tidak dapat terlaksana lagi. Lalu pada tahun 1962, Opa Suryo mengajukan diri untuk mendapat beasiswa dari TNI Angkatan Laut. Banyak orang dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang mengikuti tes tersebut, hanya Opa Suryo yang lulus.

Setelah Opa Suryo lulus sarjana kedokteran penuh, Opa Suryo harus mengikuti pendidikan dasar perwira kesehatan TNI Angkatan Laut pada tahun 1964. Setelah selesai pendidikan dasar ini, Opa Suryo mulai praktek sebagai Letnan 1 Laut. Sejak saat itu, Opa Suryo menerima gaji sebagai perwira TNI Angkatan Laut, tetapi statusnya masih sebagai menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Airlangga. Pada tahun 1966, Opa Suryo lulus penuh sebagai seorang dokter, bersamaan dengan itu beliau mendapat promosi sebagai Kapten Laut.

Di TNI Angkatan Laut, Opa Suryo bekerja sebagai dokter tetapi statusnya sebagai Perwira Laut. Ada kalanya Opa Suryo harus mengikuti pelayaran-pelayaran di kapal perang, dan ada kalanya Opa Suryo berdinas di pendirian-pendirian darat dari TNI AL yaitu di Rumah Sakit. Hal ini yang menyebabkan mama saya pada masa kecilnya berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti dinas Opa Suryo. Opa Suryo mengikuti dinas yang aktif hingga tahun 1972, tahun 1972 sampai dengan 1976 Opa Suryo ditempatkan di pendirian darat Daerah Angkatan Laut 9, Ambon. Lalu tahun 1976 sampai dengan pertengahan 1979, Opa Suryo pindah ke Daerah Angkatan Laut 2, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Akhirnya pada pertengahan 1979 hingga pensiun sebagai Kolonel Laut di tahun 1992, Opa Suryo praktek di RS Angkatan Laut Surabaya, RS Dokter Ramlan.

Selama hampir 30 tahun, Opa Suryo mengabdi kepada TNI Angkatan Laut. Tidak berperang, tidak mengangkat senjata, tetapi dengan stetoskop dan seragam dokternya, mengobati orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Setelah diperlakukan begitu keras oleh hidupnya, beliau berhasil menjadi seorang dokter yang dicintai oleh pasien-pasiennya. Beliau juga berhasil dalam membuat keenam anaknya, termasuk mama saya, menjadi sarjana-sarjana yang membawa namanya, Suryoprabowo.




dr. P.Y. Suryoprabowo bersama istri tercinta, Andriana Hidayat. (Desember, 2012)


No comments:

Post a Comment