Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 Biografi Auliya Devaldi Wiratama XI IPS 1

Angku Bermawi, Seorang Polisi yang Menjadi Saksi Peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia Tahun 1958 di Sumatera Barat

Salah satu pahlawan yang berperan penting dalam menjaga keutuhan negara ini, terutama pada waktu Indonesia masih dijajah, adalah polisi. Polisi adalah suatu pranata umum sipil yang mengatur tata tertib (orde) dan hukum. Namun, terkadang pranata tersebut bersifat militaristis, seperti di Indonesia sebelum Polri dilepas dari ABRI. Polisi dalam lingkungan pengadilan bertugas sebagai penyidik. Dalam tugasnya, ia mencari barang bukti, keterangan-keterangan dari berbagai sumber, baik keterangan saksi-saksi maupun keterangan saksi ahli.

Setelah mengetahui bahwa alamarhum kakek saya, atau biasa disebut dengan 'angku' dalam bahasa Padang, merupakan seorang polisi yang cukup berprestasi dan pernah menjadi saksi beberapa peristiwa sebelum kemerdekaan, saya memutuskan untuk berbicara dengan nenek, atau biasa saya sebut dengan sapaan 'andung', untuk mengetahui segala informasi mengenai dirinya. Informasi yang saya dapatkan cukup lengkap, mulai dari keadaan keluarga, pendidikan, masa-masa bekerja beliau, sampai yang paling penting, kesaksian beliau terhadap peristiwa kemerdekaan.

A. Biografi
Bermawi dalam seragam polisinya

Ahmad Bermawi Ilyas adalah seorang polisi yang lahir dari pasangan Bapak Ilyas Datuk Rajo Nan Gadang dan Ibu Ramalah pada tanggal 23 Agustus 1923 di Solok, Sumatera Barat. Bermawi, atau yang lebih sering disapa dengan nama 'Mawi', merupakan anak ke-2 dari 5 bersaudara. Beliau memiliki kakak yang bernama Nur Muhammad Ilyas dan 3 adik, di antaranya Marakarma Ilyas, Imran Ilyas, dan Herlina Ilyas. Secara ekonomi, keluarga Ilyas cukup mampu. Bapaknya seorang guru sekolah rakyat (yang sekarang dikenal dengan sebutan sekolah dasar atau SD) dan sempat menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah yang berada di Sungai Lasi, Solok, yang hari ini dikenal dengan nama SD Indudua. Sedangkan, ibunya merupakan seorang wanita yang lebih memilih untuk menetap di rumah bersama anak-anaknya sebagai ibu rumah tangga daripada berkarier. Mereka menetap di suatu daerah di Solok, tepatnya beralamat di Jalan Pramuka No.7.

Pada tahun 1929, beliau memutuskan untuk bersekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Hal tersebut merupakan sesuatu yang besar dan sangat beliau syukuri, karena di sekitar tahun 1920-an, tidak semua anak dapat bersekolah. Hanya anak-anak yang orang tuanya memiliki jabatan. Setelah 6 tahun bersekolah di HIS, tepatnya pada tahun 1935, beliau memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dari tahun 1936 sampai tahun 1939. Selama di HIS dan di MULO, beliau selalu mendapatkan peringkat pertama. Namun, beliau bukan orang yang sombong. Rasa kasihan yang tinggi terhadap teman-temannya membuat beliau semangat untuk mengajarkan pelajaran yang belum dimengerti teman-temannya sampai teman-temannya tersebut sudah mengerti semua hal yang dipelajari. Selain itu, beliau juga merupakan sosok yang jago berbahasa. Beliau sudah dapat menguasai 2 bahasa asing, yaitu bahasa Belanda dan bahasa Inggris sebelum lulus dari MULO.

Bagi beliau, menyelesaikan pendidikan sampai tingkat MULO merupakan hal yang sangat membanggakan, karena kedua adiknya ada yang tidak lulus HIS, yaitu Karma dan Imran, dan kakaknya, Nur, tidak lulus MULO. Ketidaklulusan tersebut disebabkan oleh sifat mereka yang sering bermalas-malasan. Pada akhirnya, kakak dan adik-adiknya bekerja di swasta, kecuali adiknya yang paling muda, yang biasa disapa dgn nama 'Lin', yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah perawat yang menspesialisasi gigi dan akhirnya bekerja di Rumah Sakit Jamil, Padang, setelah lulus dari SMP Santa Maria. Sedangkan untuk Bermawi, beliau memutuskan untuk mengambil karier yang sangat cocok dengan kepribadiannya yang "heroistik", yaitu sebagai polisi.

Setelah lulus dari MULO, beliau tidak langsung masuk ke akademi polisi dikarenakan usia yang belum cukup, sehingga beliau memutuskan untuk melakukan kegiatan lain. Kegiatan yang beliau lakukan selama 2 tahun, tepatnya dari tahun 1940-1942, tidak terlalu banyak. Beliau membantu kegiatan orang tua, seperti pergi ke sawah, dan lain-lain. Pada tahun 1942, beliau memutuskan untuk mendaftar ke Sekolah Polisi Republik Indonesia di Bukittinggi, Sumatera Barat, karena rasa kepahlawanan dan perjuangannya yang tinggi. Hal lain yang menginspirasi beliau untuk masuk ke Sekolah Polisi Republik Indonesia adalah kenyataan bahwa tingkah laku Belanda dan Jepang sudah keterlaluan. Dengan kegigihan dan determinasi, beliau berhasil menyelesaikan waktunya di Sekolah Polisi Republik Indonesia. Pada tahun 1944, beliau dilantik menjadi polisi dan langsung ditugaskan di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Saat bertugas pertama di Pematang Siantar, beliau memiliki jabatan, atau disebut 'seksi' waktu zamannya, sebagai keamanan kota pada kantor polisi kota. Tugas beliau adalah untuk mengamankan kota khususnya dari ancaman, gangguan, atau kekacauan, termasuk pemberontakan dari rakyat.

Selama bertugas di Pematang Siantar, beliau banyak melakukan penangkapan terhadap usaha-usaha kriminal, yang dianggap dapat membuat kekacauan, di antaranya perampokan, provokasi terhadap rakyat, dan masih banyak lagi. Selain itu, salah satu tugas terberat yang pernah beliau lakukan adalah mengamankan upaya yang berkaitan dengan adu domba rakyat, yang dapat melemahkan kekuatan pertahanan rakyat akibat pengaruh Jepang terhadap masyarakat, karena Jepang masih ingin berkuasa dengan cara bekerjasama. Jasa yang telah beliau berikan mendapat respon yang positif dari masyarakat, sehingga beliau diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai kepala polisi sektor kota, yang sekarang dikenal dengan istilah 'KAPOLSEK'.

Pada tahun 1950, tepatnya enam bulan setelah Bermawi naik jabatan, beliau dipertemukan dengan seorang wanita yang kelak akan menjadi istrinya. Perkawinan dengan cara dijodohkan ini sudah menjadi hal yang biasa di adat Minang dalam kurun waktu tersebut. Beliau dipertemukan dengan seorang guru agama Islam di sekolah rakyat, yang bernama Yunidar. Pada saat pertama kali dijodohkan, Yunidar tidak dapat bertemu langsung dengan Bermawi, karena beliau sedang bertugas dan tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat ia bertugas. Yunidar hanya mengetahui fisik Bermawi dari foto-foto yang dilihatnya. Pada tanggal 2 Oktober 1950, pernikahanpun berlangsung. Sayangnya, Bermawi tidak diperbolehkan untuk mengambil cuti 1 hari untuk menikah. Beliau tidak diberikan izin karena daerah tempat beliau bertugas masih rawan dan belum stabil, sehingga beliau harus diwakilkan. Adiknya, Karma, mewakilkan kehadirannya selama pernikahan tersebut berlangsung di rumah orang tua Yunidar. Tiga hari kemudian, Yunidar memutuskan untuk pergi ke Pematang Siantar untuk bertemu dengan sang suami yang belum pernah beliau temui secara langsung sebelumnya. Sesampai di sana, beliau memutuskan untuk menetap di sana.

Bermawi dan istrinya di tahun pertama pernikahan mereka

Dua bulan setelah mereka menikah, Yunidar hamil dengan anak pertamanya, yang menyebabkan beliau harus membuat keputusan. Apakah beliau menetap dan terpaksa melewati masa-masa kehamilannya dengan Bermawi yang sibuk bertugas atau beliau kembali ke rumah orang tuanya dan melewati masa-masa kehamilannya dengan bantuan serta dukungan mereka? Yunidar memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Solok dan Bermawi setuju dengan keputusannya tersebut. Pada tanggal 5 September 1951, lahirlah putra pertama yang kemudian dinamakan Darma Pala di Rumah Sakit Umum Solok. Nama 'Darma' memiliki arti yang unik, karena nama tersebut merupakan singkatan dari Yunidar dan Bermawi. Saat hari kelahiran Darma, Bermawi belum bisa bertemu dan memegang anaknya tersebut. Beliau masih bertugas dan sering mengikuti pendidikan di sekolah polisi (PUSDIKLAT) POLRI di Bandung. Pendidikan di sekolah polisi tersebut hanya berlangsung sekitar 6 bulan, sehingga beliau dapat kembali ke keluarganya.

Setelah Darma berumur 1 tahun, Yunidar memutuskan untuk menetap di Solok dan Bermawi harus kembail menetap di Pematang Siantar. Tiba-tiba, Bermawi dikagetkan dengan berita bahwa  beliau direncanakan untuk dipindahkan ke tempat lain yang sangat jauh dari rumah keluarganya. Tempat tersebut kurang cocok dengan kondisi beliau yang memiliki masalah kesehatan, yaitu penyakit asma, yang cukup parah, karena tempat tersebut memiliki udara yang buruk. Akhirnya, beliau memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai polisi . Keputusan tersebut merupakan hal terberat yang beliau pernah lakukan, karena menjadi polisi adalah impiannya. Namun, beliau tetap senang dengan keputusannya dan sangat bersyukur bahwa beliau akhirnya dapat tinggal menetap bersama istri dan anaknya di wilayah baru, yaitu di Padang. Di Padang, ia memutuskan untuk bekerja di departemen perdagangan sejak tahun 1953.

Tahun 1953 merupakan tahun yang menyakitkan dan menyenangkan bagi Bermawi dan Yunidar. Anak pertama mereka, Darma, meninggal dunia sebelum menginjak usia 2 tahun, karena suatu penyakit. Di saat yang bersamaan, Yunidar sedang mengandung anak keduanya. Sayangnya, Darma tidak dapat bertemu dengan adik lelakinya, begitupun sebaliknya. Pada tahun 1953, lahirlah seorang anak laki-laki, yang bernama Satya Putra. Dua tahun kemudian, Yunidar melahirkan anak perempuan pertama, sekaligus anak ketiga mereka, yang dinamakan Herthawati. Dua tahun berikutnya, lahirlah anak laki-laki ketiga sekaligus anak keempat mereka, yaitu Wirawan, ayah saya. Dua tahun setelah ayah saya lahir, lahirlah anak perempuan kedua, sekaligus anak kelima mereka, yaitu Litizia. Dua tahun berikutnya, lahirlah anak laki-laki keempat, sekaligus anak keenam mereka, yang dinamakan Adi Karma. Nama 'Karma' pada Adi Karma, diambil dari nama adik Bermawi sebagai penghargaan akan hal-hal yang telah dilakukan oleh adiknya. Dua tahun berikutnya, lahirlah anak perempuan ketiga, sekaligus anak ketujuh mereka, yaitu Edna Rianti. Setahun kemudian, lahirlah anak laki-laki terakhir, sekaligus anak kedelapan mereka, yaitu Kenfilka. Pada tahun 1966, Bermawi kembali lagi ke Solok untuk tinggal menetap bersama istri dan ketujuh anaknya dan beliau menjabat sebagai Kepala Kantor Perdagangan Kabupaten Solok. Setahun kemudian, lahirlah anak perempuan terakhir, sekaligus anak kesembilan mereka, yaitu Dian Kastela.

Pada tahun 1969, tepatnya tanggal 19 April, Bermawi meninggal dunia di usia 45 tahun. Kematiannya tersebut disebabkan oleh penyakit asma yang sudah beliau derita dari kecil. Keluarga yang ditinggalkannya sangat sedih, terutama ayah saya yang waktu itu masih berumur 11 tahun. Bermawi dimakamkan di kota Solok esok harinya pada tanggal 20 April 1969. Kehidupan keluarga yang ditinggalkan beliau semakin sulit. Namun, mereka tetap menjalani hidup dengan tabah.

B. Peranan
Sebagai seorang polisi, Bermawi telah menyaksikan beberapa peristiwa yang historik. Ada peristiwa yang beliau saksikan sebelum Indonesia merdeka, setelah Indonesia merdeka, bahkan pada saat Indonesia merdeka. Peristiwa historik yang beliau pertama kali saksikan adalah peristiwa pemerintahan darurat republik Indonesia (PDRI). PDRI adalah penyelenggara pemerintah Republik Indonesia periode 22 Desember 1948 sampai 13 Juli 1949, dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara yang disebut juga dengan Kabinet Darurat. Namun, Bermawi hanya sekedar tahu mengenai hal tersebut. Beliau tidak ada di lapangan saat peristiwa tersebut berlangsung. Pada saat pembacaan prokalamasi kemerdekaan, Bermawi juga berperan dalam mengamankan kota Pematang Siantar. Beliau melakukan patroli jalan raya, memantau keamanan kota Pematang Siantar.

Kejadian pasca kemerdekaan yang beliau saksikan adalah terjadinya kasus yang berkaitan dengan terbentuknya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). PRRI merupakan salah satu gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein di Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Adapun maksud dari PRRI itu sendiri adalah untuk memperingatkan Presiden Soekarno waktu itu yang sudah bertindak sewenang-wenang. Ketimpangan pembangunan ekonomi antara pusat dan daerah sangat mencolok. Pada saat itu, Soekarno sedang membangun proyek mercusuar, sehingga daerah-daerah di luar Jakarta dibiarkan miskin dan sangat tertinggal. Apalagi, Soekarno secara tiba-tiba mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup, sehingga membuat daerah-daerah di luar Jakarta marah, khususnya daerah Sumatera Barat.

Ahmad Husein adalah seorang panglima Divisi Banteng, yang dahulu bernama Sumatera Timur, yang berjasa mengusir tentara NICA dari Sumatera Timur. Tentara Divisi Banteng ini dikenal tangguh dalam berperang. Karena terus memberontak, pusat melakukan penyerbuan ke Sumatera Barat. Serbuan tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat melalui darat, laut, dan udara. Pendaratan yang dilakukan di Pantai Padang berdekatan dengan rumah Bermawi. Pertempuran itu menyebabkan diberlakukannya jam malam, di mana mulai jam 6 malam, ditandai dengan bunyi sirine, masyarakat tidak diperbolehkan lagi keluar rumah. Apabila terjadi pertempuran, semua anggota keluarga harus diungsikan apabila memiliki lubang persembunyian.

Bermawi mengungsikan istrinya dan ketiga anaknya ke lubang perlindungan. Saat itu, ayah saya masih berumur 1 tahun. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka penuhi di siang harinya. Serbuan yang terjadi menimbulkan banyak korban jiwa, baik dari piham pasukan PRRI maupun tentara dari pusat, termasuk rakyat sipil, yang salah satunya adalah tetangga Bermawi. Bermawi dan keluarga aman, karena komandan polisi di Padang adalah teman dari sekolah polisi beliau. Tentara-tentara PRRI akhirnya melarikan diri ke hutan-hutan, karena terntara dari pusat menyerang dengan pesawat tempur. Akhirnya, Ahmad Husein pun menyerahkan diri di sebuah lapangan di Solok, dekat rumah orang tua Bermawi.

Walaupun pada saat itu Bermawi sudah tidak berperan sebagai polisi, beliau turut membantu teman-temannya mengamankan dan menenangkan masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

No comments:

Post a Comment