Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Badra Gufhran Ramadhan XI IPA 4


Eyang Sedyadi Atmo Sasmito, Pejuang Pembela Tanah Air

Sejarah merupakan hal yang esensial dan merupakan komponen yang sangat penting dalam kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Dengan mempelajari sejarah banyak hal yang dapat kita temukan dan pelajari dari masa lampau. Sehingga kita dapat menemukan hal – hal positive dan negatif. Ada kalanya juga di masa lampau terjadi musibah atau kejadian yang menimpa negeri kita. Maka dari itu,  dari kejadian tersebut kita dapat menentuan dan mengambil keputusan yang paling tepat jika seandainya kejadian itu terjadi lagi di masa kini atau masa yang akan datang.

Kita dapat mempelajari sejarah melalui banyak hal. Dapat melalui pelajaran sekolah, membaca buku atau mendengar cerita langsung dari orang yang mengalami peristiwa atau kejadian tersebut, misalnya kakek atau nenek kita. Kebetulan saya mendapat tugas dari sekolah untuk mewawancarai dan menceritakan kembali tentang biografi dan kontribusinya pada masa sekitar kemerdekaan Indonesia.

Saya mendapat tugas sejarah untuk mewawancarai seorang kakek yang pernah mengalami masa – masa perang sebelum kemerdekaan. Untuk itu, saya menemui kakek dari teman sekelas saya, beliau bernama Sedyadi Atmo Sasmito. Beliau lahir di Purwokerto, tepatnya tanggal 6 Agustus 1927. Orangtua beliau merupakan seorang priyayi, sehingga pada zaman Belanda beliau dapat bersekolah mulai dari tingkatan SD atau yang pada zaman itu disebut HIS. Pada golongan rakyat biasa, pembelajaran menggunakan bahasa daerah, tetapi pada golongan tengah mengunakan bahasa belanda. Beliau mulai bersekolah mulai dari umur 7 tahun dan akhirnya lulus pada umur 14 tahun. Setelah beliau lulus pada umur 14 tahun, beliau melanjutkan sekolah yang pada zaman itu disebut MULO atau setingkat dengan SMP di zaman sekarang. Pada saat ini pula Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Beliau juga tidak langsung meneruskan pendidikannya, tetapi beliau masuk menjadi tentara dan ikut berperang melawan Belanda.

Pada saat jepang menginjakan kaki di Indonesia, tepatnya pada tahun 1942, perbedaan golongan yang dianut Belanda dalam system sekolah mulai dihapuskan. Lalu dengan penggantian nama-nama sekolah seperti tingkat SMP menjadi Chugakko. Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda masuk ke daerah Jogjakarta. Belanda menduduki Indonesia sampai penyerahan kedaulatan. Yang sampai pada akhirnya kedaulatan Indonesia berpindah ke Semarang. Untuk ikut serta dalam membantu kebebasan Indonesia dari Belanda, Beliau ikut bergabung di kesatuan Komandan. Kesatuan Komandan yang pada waktu itu dipimpin oleh Jendral Gatot Subroto.

Pada waktu itu terjadi pula peristiwa penyerangan oleh DI/TII di Jawa Tengah yang berada dibawah pimpinan Kartosuwiryo. Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo merupakan komisaris Partai Masyumi wilayah Jawa Barat. Ia berencana untuk mendirikan Negara Islam Indonesia sudah sejak tahun 1942. Upaya Kartosuwiryo tersebut diawali dengan mendirikan pesantren Sufah yang digunakan untuk latihan kemiliteran bagi pemuda-pemuda Islam khususnya Hizbullah dan Sabilillah serta digunakan untuk menyebarkan propaganda pembentukan “Negara Islam”.
           
Pada tanggal 14 Agustus 1947 setelah Agresi Militer Belanda I, Kartosuwiryo menyatakan “perang suci” melawan Belanda. Gerakan Kartosuwiryo ini semakin tidak sejalan dengan pemerintah RI ketika berdasarkan perjanjian Renville yang inti dari isinya adalah pasukan diderah kantong – kantong gerilya harus berpindah ke wilayah yang dikuasai Republik Indonesia. tetapi Kartosuwiryo menolak melakukan hijrah ke wilayah RI. Kartosuwiryo bersama orang pengikutnya memilih tetap tinggal di Jawa Barat.

Pada Februari 1948 kegiatan Masyumi di Jawa Barat dibekukan dan diganti dengan Majelis Umat Islam dan mengangkat Kartosuwiryo sebagai imam dari Negara Islam Indonesia (NII). Kartosuwiryo juga membentuk Tentara Islam Indonesia(TII). Tanggal 7 Agustus 1949 secara resmi Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).

Tanggal 25 Januari 1949 terjadi kontak senjata atau peperangan pertama kali antara TNI dan DI/TII ketika pasukan Divisi Siliwangi melakukan hijrah (long march) dari J


awa Barat ke Jawa Tengah. Peperangan bahkan terjadi antara TNI-DI/TII-Tentara Belanda. Munculnya DI/TII mengakibatkan penderitaan rakyat Jawa Barat karena rakyat sering mendapat teror dari DI/TII bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka merampok rakyat terutama rakyat yang tinggal di daerah terpencil seperti lereng gunung.

Upaya damai telah dilakukan oleh pemerintah RI melalui surat tetapi tidak berhasil. Bahkan upaya untuk membentuk komite yang dipimpin oleh Moh. Natsir pada bulan September 1949 tetapi upaya tersebut pun gagal mengajak Kartosuwiryo untuk kembali ke pangkuan RI.

Operasi militer untuk menumpas gerakan DI/TII dimulai pada tanggal 27 Agustus 1949. Operasi ini menggunakan taktik ”pagar betis” yang dilakukan dengan menggunakan tenaga rakyat berjumlah ratusan ribu untuk mengepung gunung tempat gerombolan bersembunyi. Tujuan taktik ini adalah untuk mempersempit ruang gerak DI/TII. Selain itu digunakan juga Operasi tempur Bharatayudha dengan sasaran menuju basis pertahanan DI/TII.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMP atau yang dulu disebut MULO, beliau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau dapat disebut SMA. Beliau lulus pada tahun 1953. Pada waktu itu di SMA tersebut terdapat 3 jurusan, yaitu IPA (ilmu Pengetahuan Alam), IPS (Ilmu pengetahuan Sosial) dan yang terakhir jurusan Sosial ekonomi. Beliau memilih untuk masuk ke jurusan Sosial Ekonomi.  Selain itu, selagi beliau melanjutkan sekolahnya, beliau pun bekerja sampai jam 2 siang dan melanjutkan sekolahnya jam 3 sampai jam 9 malam.

Beliau pun pindah dari Semarang ke Purwokerto dan masuk ke resimen Imfantri 12. Resimen Imfantri 12 tersebut meliputi bekas karesidenan dari Pekalongan dan Banyumas. Di masa ini, masih terdapat beberapa gangguan dari DI/TII.

Pada tahun 1962 kartosuwiryo tertangkap. Sehingga terjadilah konsolidasi daerah. Setelah lulus SMA pada tahun 1953, beliau baru melanjutkan pendidikan ke kuliah di UNSUD pada tahun 1963. UNSUD sendiri dibuat untuk memperingati jasad Jendral Sudirman dan jasad – jasad pahlawan lainnya.

Jenjang 10 tahun dari kelulusan beliau dari SMA sampai beliau kuliah diperuntukkan untuk bekerja melawan DI/TII. Menaklukkan DI/TII yang dapat dikatakan kuat, merupakan hal sulit bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, rakyat Indonesia melawan DI/TII secara gerilya. Salah satu pengalaman yang berkesan bagi eyang adalah penyerbuan pasukan Jepang di Koatabaru pada bulan September 1945. Pada tanggal 5 Oktober, terjadi perubahan dari TKR menjadi TRI lalu berubah lagi menjadi TNI. Pada masa orde baru, tentara dan polisi yang bergabung disebut dengan sebutan ABRI. Sedangkan sekumpulan tentara tanpa polisi disebut APRI.

Sekarang ini keadaan eyang tidak begitu baik. Salah satu matanya sudah tidak berfungsi lagi dengan baik. Ternyata, luka yang beliau dapatkan berasal dari peristiwa yang tak terlupakan. Pada waktu itu, beliau mengikuti pelatihan terjun paying di Bandung pada tahun 1950 an. Sampai pada suatu hari beliau diterjunkan dari Aceh untuk melawan DI/TII. Tetapi sayangnya, beliau terjatuh di hutan bambu aceh dan terkena daun bambu. Hal itulah yang menyebabkan mata eyang terluka dan masih membekas sampai sekarang.

Pada tahun 1947, Indonesia berunding dengan Belanda mengenai de facto wilayah Indonesia. Menurut eyang, perang melawan bangsa sendiri jauh lebih berat daripada melawan bangsa lain atau Belanda. Hal ini dikarenakan eyang harus melawan DI TII selama 13 tahun dari tahun 1949 -1962 yang tidak lain tidak bukan adalah warga Indonesia sendiri. tidak hanya DI/TII, ada pula GAM (gerakan Aceh Merdeka) yang berada di Aceh. GAM merupakan sebuah gerakan separatis yang bertujuan untuk memisahkan Nanggroe Aceh Darussalam dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan banyak korban jiwa. Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM sendiri dipimpin oleh Hasan di Tiro.
Pada 4 Desember 1976 inisiator Gerakan Aceh Merdeka Hasan di Tiro dan beberapa pengikutnya mengeluarkan pernyataan perlawanan terhadap pemerintah RI yang dilangsungkan di perbukitan Halimon di kawasan Kabupaten Pidie. Diawal masa berdirinya GAM nama resmi yang digunakan adalah AM, Aceh Merdeka. Tetapi oleh pemerinah RI sempat disebut GPK- AM. Perlawanan represif bersenjata gerakan tersebut mendapat sambutan keras dari pemerintah pusat RI yang akhirnya menggelar sebuah operasi militer di Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang dikenal dengan DOM (Daerah Operasi Militer) pada paruh akhir 80-an sampai dengan penghujung 90-an, operasi tersebut telah membuat para aktivis AM terpaksa melanjutkan perjuangannya dari daerah pengasingan. Saat Orde Baru berakhir dan reformasi dilangsungkan di Indonesia, seiring dengan itu pula Gerakan Aceh Merdeka kembali eksis dan menggunakan nama GAM sebagai identitas organisasinya.
Konflik antara pemerintah RI dengan GAM terus berlangsung hingga pemerintah menerapkan status Darurat Militer di Aceh pada tahun 2003. Konflik tersebut sedikit banyak telah menekan aktivitas bersenjata yang dilakukan oleh GAM, banyak diantara aktivis GAM yang melarikan diri ke luar daerah Aceh dan luar negeri.
Pada 27 Februari 2005, pihak GAM dan pemerintah RI memulai tahap perundingan di Finlandia. Pada 17 Juli 2005, tim perunding Indonesia berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Penandatanganan nota kesepakatan damai dilangsungkan pada Agustus 2005. Proses perdamaian selanjutnya dipantau oleh sebuah tim yang beranggotakan lima negara ASEAN dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Meski, perdamaian tersebut, sampai sekarang masih menyisakan persoalan yang belum menemukan jalan keluar.
             Itulah sejarah singkat mengenai kehidupan kakek Sedyadi Atmo Sasmito, seorang yang telah berdedikasi untuk bangsa Indonesia, seorang yang selama hidupnya berkontribusi untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan Indonesia yang bisa kita rasakan sekarang. Semoga dengan ditulisnya biografi diatas dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua sebagai generasi muda. Dan semoga saja generasi masa kini dapat mencintai dan berkontribusi dalam memajukan dan mensejahterakan kehidupan bangsa kita.

                                      

No comments:

Post a Comment