Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Bagoes Raditya XI IPS 1


Kakek Djoko, Orang Penting di Perusahaan Penggerak Ekonomi Indonesia

Nama saya adalah Bagoes Raditya. Saya biasa dipanggil Adit. Umur saya 16 tahun. Untul memenuhi tugas sejarah SMA Labchool Kebayoran, saya akan mewawancarai kakek dari ibu saya. Sebenarnya, saya ada kakek dari ayah saya. Tetapi, karena masalah efektifitas waktu dan jarak dari rumah saya, saya akan mewawancarai kakek dari ibu saya yang bernama Djoko Subekti. Perannya adalah dia adalah orang penting dari sebuah perusahaan penting negara (BUMN) yaitu Pertamina dan anak perusahaan dari Pertamina yaitu Trans Pacific Petroleum Indotama / TPPI.  Dia juga sering berpartisipasi dalam olahraga golf. Dia juga sering memenangkan lomba itu dan mendapatkan hadiah tetapi bukan trofi dan medali, jadi tidak ada bukti mengenai perannya menjadi seorang atlet golf. Sekarang ia menetap di daerah jakarta selatan, lebak bulus di kompleks Bumi Karang Indah. Kita mulai dari biografinya.
                        
BIOGRAFI

Kakek saya, Djoko Subekti lahir di Kota Solo, Jawa Tengah.  Kakek saya lahir pada tahun 1944. Orang tuanya bernama Sutomo Partowiryono, atau biasa dipanggil Parto, dan juga Supani. Mereka memiliki dua anak, yaitu anak pertama yang bernama Sutarno Partodiwarno atau biasa dipanggil Eyang Tarno, dan kakek saya sendiri yaitu Djoko. Eyang Tarno memiliki 1 anak, dan 2 cucu setelah pernikahannya dengan wanita bernama Siti Hartati atau yang biasa dipanggil Eyang Tatik. Namun, Eyang Tarno baru saja meninggal beberapa tahun yang lalu. Padahal, saya sering main kerumahnya di Laweyn, Solo, juga rumahnya yang di daerah Jakarta. Kakek saya, Eyang Djoko memiliki 3 anak dan 8 cucu. Anak pertama adalah ibu saya, yang bernama Eny Widyastuti Pramutiasari. Ibu saya memiliki 2 anak, yaitu saya, Bagoes Raditya dan adik saya, Nadia Revania Bima. Anak keduanya adalah om saya yaitu Djoko Setiadji Adityawan, yang biasa dipanggil om Adji. Om Adji  memiliki 3 anak yaitu Savia Salsabila yang biasa dipanggil Via. Saat ini dia sedang libur setelah ujian nasional sekolah dasar 2013. Anak kedua adalah Lanabila Salma Anjania yang biasa dipanggil Salma. Saat ini Salma sudah kelas 4 SD. Anak yang terakhir adalah yang paling kecil alias paling bungsu adalah Sabian Danendranata Adityawan yang biasa disapa Sabian. Sabian sekarang sudah kelas 2 SD. Sabian adalah anak yang sangat rusuh, suka mengajak berantem, dan berisik. Namun, dia tetap anak yang baik dan peduli. Anak dari Eyang Djoko yang ketiga adalah Djoko Rezatya Adinugroho yang biasa dipanggil om Reza. Om reza memiliki 3 anak. Anak pertama adalah Naufal Rafa Adinugroho yang biasa dipanggil Naufal. Naufal sudah kelas 1 SD. Naufal adalah sahabat dekatnya Sabian. Anak kedua dari om Reza adalah Namia Amira Kalila yang sering dipanggil Namia. Namia adalah seorang anak perempuan kecil yang suka menyanyi, dan menari. Dia sekarang sudah mengayam pendidikan sampai taman kanak – kanak atau TK A. Anak ketiga adalah Nayla. Dia seorang bayi perempuan yang baru bisa jalan, dan baru lahir bulan Februari tanggal 14, bertepatan dengan hari valentine dan ulang tahun kakaknya yang paling tua yaitu Naufal.
Kembali ke cerita biografi kakek saya, kembali ke tahun 1944, ketika kakek saya lahir. 5 tahun kemudian, pada tahun 1949 kakek saya pindah ke Jakarta. Pada saat pindah ke Jakarta, kakek saya berumur 5 tahun. Dia menetap di Cikini. Kakek Djoko mengayam seluruh pendidikannya, dari taman kanak – kanak,  sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas di Jakarta, yaitu Cikini. Kakek saya lulus sekolah menengah atas pada tahun 1962. Setelah kakek saya mengayam pendidikan taman kanak – kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah akhir di Cikini, Jakarta, kakek Djoko melanjutkan pendidikannya di kuliah UGM, atau Universitas Gadjah Mada di Djokjakarta. Eyang Djoko melanjutkan untuk mendapatkan gelar S1 atau sarjana di Universitas Gadjah Mada Djokjakarta tersebut. Eyang Djoko mengambil jurusan teknik sipil. Teknik Sipil itu adalah disiplin ilmu keteknikan yang berkaitan dengan perencanaan, konstruksi, dan perawatan struktur tertentu, dan juga merenovasi tidak hanya suatu bangunan dan infrastruktur, tetapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia. Selain cakupan bidang di atas, ahli Teknik Sipil juga bisa berkaitan dengan bidang lain seperti yang berkaitan dengan informatika, memungkinkan untuk memodelisasi sebuah bentuk dengan bantuan program CAD, pemodelan kerusakan akibat gempa, banjir, dan bencana lainnya. Peran ahli Teknik Sipil juga masih berlaku walaupun fase pembangunan suatu gedung sudah selesai, seperti terletak pada pemeliharaan fasilitas gedung tersebut. Ilmu yang banyak dipelajari di jurusan Teknik Sipil berkaitan dengan ilmu fisika terapan, yang paling penting adalah ilmu mekanika. Selain belajar tentang ilmu-ilmu teknis buat kebutuhan merancang, membangun dan memelihara struktur bangunan, Eyang Djoko  juga sudah mempelajari berbagai aspek manajemen konstruksi bangunan seperti mengelola pelaksanaan konstruksi dengan baik (mengatur jadwal kerja, mengatur pekerja, bahan dan peralatan), sesuai dengan prinsip-prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengunaan berbagai sumber daya, juga tetap menjaga dan memenuhi ketentuan lingkungan. Ada beberapa bidang kelompok keahlian/keilmuan yang dapat dipilih oleh mahasiswa Teknik Sipil yaitu adalah: Struktural, Geoteknik, Manajemen Konstruksi, Hidro dan Lingkungan, Transportasi, dan Informatika Teknik Sipil. Jenis-jenis pekerjaan yang merupakan peluang pasar kerja lulusan Teknik Sipil antara lain adalah bidang pembangunan infrastruktur. Orang lulusan Teknik Sipil bisa berkerja sebagai konsultan atau sebagai kontraktor yang bertanggung jawab melaksanakan pembangunan. Yang kedua itu di  bidang pemerintahan. Peluang lainnya adalah bekerja sebagai pegawai dalam bidang pengaturan dan kebijakan di instansi pemerintahan, seperti di Departemen dan Dinas PU, PMU-Bina Marga, Departemen ESDM, Dinas Tata Kota & Pertamanan di Tiap Propinsi, Bapenas, Bapeda dan lain – lain. Selanjutnya itu adalah bekerja di bidang industri energi, pertambangan dan pengolahan. Lulusan Teknik Sipil bisa bekerja sebagai staf atau manager pemasaran, Manager dan CEO (Chief Executive Officer), Quality Auditor dan Quality Assurance Manager, untuk perusahaan properti dan pabrik bahan konstruksi di berbagai perusahaan di lingkungan industri migas, pertambangan, dan pengolahan seperti Pertamina, Schlumberger, PLN, Freeport, INCO, Pupuk Kaltim dll. Lalu, di bidang pendidikan. Seorang lulusan Teknik Sipil dapat menjadi pengajar atau peneliti di perguruan tinggi atau lembaga pendidikan atau di pusat-pusat penelitian. Ysng terakhir itu di bidang lainnya. Lulusan Teknik Sipil juga mempunyai kemampuan yang cukup bersaing untuk bekerja di berbagai bidang non-keteknikan, contohnya adalah perbankan dan asuransi, notaris, atau berkarier di bidang-bidang lainnya. Itulah bidang – bidang dari jurusan yang diambil oleh Eyang Djoko.
Eyang Djoko lulus kuliah di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1968. Lalu, Eyang Djoko melanjutkan dengan kerja swasta untuk mengawasi proyek – proyek kecil. Eyang Djoko menikah pada tanggal 24 Februari dengan nenek saya, yaitu Eyang Endang. Ini sedikit aneh karena tanggal pernikahan mereka sama dengan tanggal saya lahir, yaitu 24 Februari. Kami hanya berbeda tahun.





PERANAN DAN KONTRIBUSI

                Saya ingin mewawancarai kakek saya yaitu Eyang Djoko karena dia sempat bekerja di salah satu perusahaan milik negara atau BUMN yang lumayan terkenal, dan bisa dibilang sangat besar, dan memiliki cabang perusahaan dimana – mana. Perusahaan ini juga menggerakkan ekonomi Indonesia dengan cara memproduksi minyak bumi untuk diekspor dan diolah lagi. Sekilas tentang Pertamina, Pertamina berperan sebagai lokomotif perekonomian bangsa Pertamina merupakan perusahaan milik negara yang bergerak di bidang energi meliputi minyak, gas serta energi baru dan terbarukan.Pertamina menjalankan kegiatan bisnisnya berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik sehingga dapat berdaya saing yang tinggi di dalam era globalisasi.
Pada 1950-an, ketika penyelenggaraan negara mulai berjalan normal seusai perang mempertahankan kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia mulai menginventarisasi sumber-sumber pendapatan negara, di antaranya dari minyak dan gas. Namun saat itu, pengelolaan ladang-ladang minyak peninggalan Belanda terlihat tidak terkendali dan penuh dengan sengketa. Pada tahun 1960, PT PERMINA direstrukturisasi menjadi PN PERMINA sebagai tindak lanjut dari kebijakan Pemerintah, bahwa pihak yang berhak melakukan eksplorasi minyak dan gas di Indonesia adalah negara. Melalui satu Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan Presiden pada 20 Agustus 1968, PN PERMINA yang bergerak di bidang produksi digabung dengan PN PERTAMIN yang bergerak di bidang pemasaranPertamina memiliki kedudukan yang sama dengan perusahaan minyak lainnya. Penyelenggaraan kegiatan bisnis PSO tersebut akan diserahkan kepada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat, dan transparan dengan penetapan harga sesuai yang berlaku di pasar.
Pada 17 September 2003 Pertamina berubah bentuk menjadi PT Pertamina (Persero) . Pada 20 Juli 2006, PT Pertamina mencanangkan program transformasi perusahaan dengan 2 tema besar yakni fundamental dan bisnis. Untuk lebih memantapkan program transformasi itu, pada 10 Desember 2007 PT Pertamina mengubah visi perusahaan yaitu, “Menjadi Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia”. Menyikapi perkembangan global yang berlaku, Pertamina mengupayakan perluasan bidang usaha dari minyak dan gas menuju ke arah pengembangan energi baru dan terbarukan, berlandaskan hal tersebut di tahun 2011 Pertamina menetapkan visi baru perusahaannya yaitu, “Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia”. Sekarang kita menuju cerita kakek saya selama kerja di Pertamina. Itu merupakan sekilas tentang sejarah Pertamina. Pada tahun 1970, Eyang Djoko melamar kerja di perusahaan minyak tersebut, dan diterima. Eyang Djoko masuk ke Pertamina dengan jabatan pengawas pemeliharaan kompleks Pertamina di daerah Sungai Gerong, Palembang. Maka dari itu, Eyang Djoko pindah dari Jakarta ke Palembang untuk sementara. Lalu, Eyang Djoko menjabat sebagai kepala seksi. Lalu, pada tahun 1980 Eyang Djoko menjabat sebagai kepala bagian pemeliharaan sipil. Tugas Eyang Djoko pada saat itu adalah mengawasi konstruksi pembangunan dan pembenahan kilang minyak di Palembang. Jadi, kalau ada pipa – pipa dan barang yang rusak, Eyang Djoko harus segera memerintahkan untuk membenahkan pipa – pipa dan barang perlengkapan tersebut. Selanjutnya, Eyang Djoko pindah ke Cilacap. Di Cilacap, Eyang Djoko menjabat sebagai kepala teknik sipil proyek perluasan kilang minyak pada sekitar tahun 1980. Lalu, Eyang Djoko menjabat sebagai kepala teknik proyek TPT. Kemudian, menjadi kepala dinas teknik direktorat pengolahan di Jakarta. Kemiudian, dia kembali bertugas di cilacap dengan menjabat sebagai pimpinan kilang minyak di cilacap. Kemudian, Eyang Djoko kembali bertugas di Jakarta dan menjabat sebagai kepala divisi proyek direktorat pengolahan di Jakarta pada tahun 1998. Itu satu tahun setelah saya lahir. Kemudian, Eyang Djoko mendapat tugas untuk menjabat di sebuah perusahaan patungan atau anak perusahaan pertamina. Eyang Djoko menjabat sebagai seorang senior advisor di perusahaan tersebut. Perusahaan patungan atau anak perusahaan dari pertamina tersebut bernama PT. Trans Pacific Petroleum Indotama atau biasa disingkat dan dikenal sebagai TPPI. Eyang Djoko bekerja di PT Trans Pacific Petroleum Indotama selama 5 tahun, dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007. Kemudian, Eyang Djoko memutuskan untuk pensiun pada tahun 2013. 
Kira – kira begitulah perjalanan Eyang Djoko dari kecil, masuk ke jenjang pendidikan, kuliah, kerja sampai pensiun. Mungkin hanya ini yang bisa saya laporkan sebagai tugas sejarah ketiga ini. Terima kasih untuk sudah membaca. 

No comments:

Post a Comment