Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Bilqis Quinta Fitriandari XI IPA 1

Biografi

            Jakarta, 31 Mei 2013
           
            Pada hari Jumat, 31 Mei pada sore hari saya mewawancarai seorang narasumber untuk tugas sejarah membuat biografi tentang peran seseorang terhadap perjuangan Indonesia. Tadinya, saya ingin mewawancarai kakek saya langsung. Tetapi, kondisi kakek saya tidak memungkinkan untuk diwawancara karena kakek saya sekarang berada di Purwokerto dan saya berada di Jakarta. Lalu, pada saat saya ingin menelepon kakek saya, saya disarankan jangan dikarenakan kondisi pendengaran kakek saya yang kurang baik. Mamah saya memberi pilihan kepada saya untuk mewawancarai ayah saya atau temannya mamah saya yang mengetahui rinci tentang peristiwa yang akan dijelaskan dibawah. Tetapi, orang yang ditawarkan kepada saya tersebut tidak dapat menemui saya dikarenakan kita tidak menemukan waktu yang pas untuk memulai sesi Tanya jawab. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mewawancarai ayah saya yang merupakan anak dari kakek saya yang merupakan saksi yang mengalami peristiwa-peristiwa perjuangan setelah Indonesia merdeka. Walaupun ayah saya pada masa itu masih sangat kecil, tetapi ia mengerti dan mengetahui rangkaian cerita peristiwa perjuangan yang dialami oleh kakek saya.                          
            Dikarenakan oleh kondisi yang tidak memungkinkan untuk wawancara secara langsung karena saya sedang berada dirumah teman dan belum dijemput, maka saya memutuskan untuk mewawancarai ayah saya melewati telepon untuk mengejar deadline pengumpulan tugas sejarah ini. Telepon akhirnya diangkat oleh ayah saya setelah berusaha mencoba menghubungi beberapa kali, dan ia mulai menceritakan tentang peristiwa G30SPKI dan DI/TII yang terjadi pada masa itu. Pertama-tama, ayah saya menceritakan tentang peristiwa 30 September (G30SPKI) yang pada saat itu ia masih berumur kurang lebih 4 tahun dan pada saat peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) beliau masih belum lahir. Lalu, saya meminta diceritakan tentang peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) walaupun ayah saya tidak begitu mengetahui tentang peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), tetapi ia bisa memberitahu sedikit informasi tentang peristiwa dari Darul Indonesia/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Lalu saya mendengarkan ayah saya dengan seksama karena ternyata mendengarkan cerita rangkaian peristiwa-peristiwa jaman dahulu yang diceritakan kembali oleh ayah saya seru untuk didengarkan. Rangkaian cerita tersebut seperti membentuk sebuah cerita dan tidak membosankan.                                         
            Narasumber yang saya wawancaara adalah ayah saya. Ayah saya bernama Djantun Prijanto. Ayah saya lahir di Purwokerto, 24 Juni 1961. Ayah saya merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara. Kakek saya bernama H. Saimo.
            Menurut informasi yang diberikan oleh ayah saya, G30SPKI terjadi pada tahun 1965. G30SPKI atau gerakan 30 September adalah peristiwa yang terjadi dari tanggal 30 September sampai dengan 1 Oktober dimana 7 jendral dibunuh pada saat itu yang dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Diduga, peristiwa ini terjadi karena adanya perebutan kekuasaan di TNI angkatan bersenjata republik Indonesia. Peristiwa ini terjadi karena pada zaman presiden Soekarno menjabat, partai politik yang ada terlalu banyak sementara dari angkatan darat menuduh presiden Soekarno berpihak pada Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurut pandangan ayah saya, presiden Soekarno tidak begitu pada kenyataannya. Partai komunis itu dikhawatirkan ttidak menganut asas pancasila. Maka, diadakanlah pembunuhan terhadap jendral-jendral yang mempengaruhi kebijakan pada saat itu. Jendral yang dibunuh pada saat itu ada 7 orang, dan mereka dibunuh di Lubang Buaya. Nama-nama ketujuh jendral itu adalah :
1.      Ahmad Yani, Jend. Anumerta
2.      2. Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta
3.      3. M.T. Haryono, Letjen. Anumerta
4.      4. Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta
5.      5. Siswono Parman, Letjen. Anumerta
6.      6. Suprapto, Letjen. Anumerta
7.      7. Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen. Anumerta
Kakek saya, H. Saimo adalah seorang perwira polisi. Pada saat kejadian saat itu, kakek saya sedang bertugas di Makassar tepatnya di resimen 9. Beliau bertugas di brimob (brigadir mobil). Beliau adalah prajurit brimob (brigadir mobil) dari kepolisian yang bertugas mengamankan keamanan di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
Pada saat G30SPKI, kakek saya mendapatkan perintah untuk mengamankan lokasi karena pada saat itu situasi hubungan antara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau yang biasa disingkat ABRI, khususnya hubungan antara angkatan darat dan udara sedang tidak bagus. Hal ini disebabkan karena tuduhan dari angkatan darat yang menganggap angkatan udara adalah bagian yang melatih anggota dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada saat itu dipimpin oleh presiden Soekarno. Memang pada saat itu kenyataannya presiden Soekarno lebih banyak hubungannya dengan angkatan udara yang dipimpin oleh kepala staf angkatan udaranya bernama marsekal Oemar Dani. Sementara, TNI angkatan darat dipimpin oleh Jendral Nasution pada saat itu. Menurut ayah saya, alasan pihak TNI angkatan darat menuduh angkatan udara ingin mengambil alih kekuasaan adalah karena pihak TNI angkatan udara melihat hubungan Partai Komunis Indonesia (PKI) banyak anggotanya dibina oleh TNI angkatan udara di Halim Perdana Kusuma dan Lubang Buaya. Dan begitu percayanya presiden Soekarno terhadap kebijakan yang diserahkan oleh marsekal Oemar Dani, sampai pada saat terjadinya malam 30 September dimana dari pasukan pengawal presiden yang dipimpin oleh Letkol Untung, yang memimpin operasi Cakra Birawa yang membunuh 7 jendral dan satu ajudan yang bernama Pierre Tendean.
Menurut ayah saya, mereka membunuh ke 7 jendral tadi dikarenakan karena 7 jendral tersebut yang memegang sabuk kekuasaan Negara republic Indonesia pada masa itu. Sehingga, apabila mereka bias membunuh ke 7 jendral yang telah disebutkan diatas, maka kekuasaan yang terjadi pada saat itu diprediksi akan langgeng dan tidak terganggu oleh kebijakan dari TNI angkatan darat. Setelah terjadinya pembunuhan ke 7 jendral tersebut dengan sadis di Lubang Buaya, maka ditunjuklah oleh presiden Soekarno, untuk mengamankan Negara dan mencari tahu siapa dalang dibalik Gerakan 30 September (G30SPKI) tersebut yang pada akhitnya diketahui bahwa dalang dari pembunuhan yang terjadi dialamatkan kepada TNI Angkatan Udara. Menurut pendapat ayah saya, pada kenyataannya yang mengetahui dan mengadakan aksi pembunuhan tersebut adalah dari jendral Soeharto. Walaupun itu masih pendapat, sampai sekarang peristiwa tersebut belum bias dipastikan dan belum terungkap dengan jelas siapa, apa, dan bagaimana motif dari Gerakan 30 September (G30SPKI) tersebut.
Hubungan peristiwa ini dengan kakek saya adalah, pada saat malam terjadinya gerakan tersebut, seluruh wilayah Indonesia diadakan konseling agar masing-masing angkatan tidak terpengaruh terhadap dampak Gerakan 30 September (G30SPKI) tersebut sampai kurang lebih sekitar 3 bulan barulah terungkap bahwa pemerintahan pada saat itu ada kaitan dan hubungannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Setelah tertangkapnya para pembunuh jendral-jendral tersebut, maka terjadilah pengalihan kekuasaan, yang dimana pada saat tersebut ketua mprs jendral nasution memberikan mandat kepada jendral soeharto untuk memulihkan keamanan Negara repubik Indonesia, sekaligus menunjuk jendral soeharto sebagai presiden republic Indonesia menggantikan soekarno. Dia diangkat karena saat itu dia bisa membasmi dan menuntaskan Gerakan 30 September (G30SPKI). Setelah peristiwa itu, presiden soekarno mengalami sakit dan diasingkan untuk tidak mengikuti politik baptis di Negara ini. Mulailah berkuasa soeharto sebagai presiden selama 32 tahun.
Lalu, itulah akhir ayah saya bercerita tentang informasi yang ia ketahui tentang peristiwa Gerakan 30 September (G30SPKI) pada saat itu. Lalu, cerita ayah saya tidak berhenti sampai disitu. Setelah itu, saya menanyakan hal-hal yang terjadi lagi kemudian ayah saya menjelaskan tentang peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Pada saat mau menceritakan, jaringan telepon pada saat itu tiba-tiba terputus, kemudian akhirnya ayah saya menelpon kembali dan melanjutkan cerita yang terpotong tadi.
Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) adalah sebuah gerakan yang dipimpin oleh SM Kartosuwiryo. Gerakan ini terjadi pada sekitar tahun 1948. Gerakan ini adalah sebuah gerakan penumpasan gerakan islam radikal. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ini adalah gerakan pengacau keamanan di daerah Sulawesi. Hubungan peristiwa ini dengan kakek saya, menurut ayah saya adalah kakek saya pada waktu itu mengamati kegiatan tersebut lalu menjadi menyebar ke berbagai daerah karena ini termasuk gerakan islam radikal. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia sependapat ayah saya kata beliau mereka ingin membentuk Negara ini menjadi Negara islam. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ingin mengubah paham pancasila menjadi Negara islam dengan menghancurkan kelompok2 lain yang bukan islam. Gerakan ini lalu menganggu rakyat.  Pada akhirnya, gerakan ini sempat membuat NII (Negara Islam Indonesia) di Jawa Barat. Perjuangan NII akhirnya berhenti pasca tertangkapnya Kartosuwiryo, 14 Juni 1962. Para tentara sebagian bertaubat, ada yang tetap bergerilya secara sporadis di hutan-hutan atau lari keluar negeri.
Ayah sebagai narasumber
Dikarenakan oleh umur ayah saya yang pada saat itu masih sangat muda, maka cerita ayah saya juga terbatas. Ia hanya mengetahui beberapa hal tentang sejarah. Lalu, tidak lama setelah ayah saya bercerita sekilas tentang Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, saya menutup telepon. Saya menulis sebentar dan sudah dijemput kembali oleh ayah saya dan kami bertemu kembali di mobil.

Saya mendapat pelajaran dari cerita ayah saya bahwa politik itu keras. Setelah sampai rumah, saya dengan segera membuat laporan biografi untuk di post di blog ini sebagai tugas sejarah. Selesailah wawancara dan penulisan peristiwa Gerakan 30 September (G30SPKI) dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Terima kasih telah membaca artikel biografi yang telah saya buat. Semoga biografi ini dapat bermanfaat pada masa depan.

No comments:

Post a Comment