Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Camilia Adianti XI IPS 1



Engki Tatang Djaman Suryasantana, dari Saksi Kekejaman DI-TII dampai Direktur Pabrik Gula


Untuk memenuhi tugas 2 pelajaran sejarah ini, saya berkesempatan melakukan wawancara dengan Nenek saya dari pihak Mama yang biasa saya panggil dengan sebutan Enin mengenai Kakek saya yang biasa saya panggil dengan sebutan Engki dan juga buyut saya. Detail- detail lain dalam wawancara ini dilengkapi oleh kakak dari Mama saya yang biasa saya panggil dengan sebutan Wak Nde dan beberapa keterangan dari Mama saya sendiri. Kebetulan Enin dan Wak Nde sedang berada di rumah saya sehingga waktu dalam pelaksanaan wawancara ini menjadi lebih fleksibel. Saya tidak mewawancarai Kakek saya langsung karena beliau sudah berpulang 8 tahun yang lalu.

Pukul 05.30 suatu pagi di Bulan Mei saya memulai wawancara di ruang tamu kediaman keluarga saya di daerah CIbubur. Karena sudah tahu akan diwawancara, Enin dan Wak Nde sudah menyiapkan kertas yang berisi tulisan tentang jenjang karir Engki dan juga silsilah keluarga Suryasantana. Telah disiapkan pula kertas kosong dan pulpen untuk menambahkan keterangan- keterangan yang belum dituliskan. 
Uraian silsilah keluarga Suryasantana
Uraian jenjang karir Engki di Pabrik Gula


Karena kedekatan kami bertiga, kegiatan wawancara ini tidak berlangsung seperti wawancara pada umumnya. Lebih seperti bertukar cerita. Diiringi dengan suara air dan semilir angin, cerita dari Enin dan Wak Nde dimulai dari silsilah keluarga Suryasantana. Dilanjutkan dengan menceritakan jenjang karir Engki di Pabrik Gula. Jika ada detail yang dirasa kurang, saya segera bertanya. Wak Nde dan Enin pun saling melengkapi apabila salah satu di antara beliau ada yang lupa tentang keterangan- keterangan kecil namun penting seperti keterangan tahun dan tempat.
Saya bersama Enin(kiri) dan Wak Nde(kanan)



Biografi

Tatang Djaman Suryasantana atau yang biasa dipanggil Engki oleh cucu-cucunya lahir di Situbondo, 27 Juli 1933. Lahir sebagai anak pertama dari seorang Kepala Desa Sukaraja bernama Djingga Suryasantana(Papih Nggo) dan seorang Ibu Rumah Tangga bernama Tuti Siti Fatimah(Mamih). Masa kecil Engki yang terbilang keras dan kekurangan membuat Engki menjadi sosok yang tegas, disiplin namun juga penyayang pada masa dewasanya. 

Dikatakan sebelumnya masa kecil Engki terbilang keras dan kekurangan. Ya, Engki kecil harus menghadapi perceraian kedua orangtuanya saat masih kecil. Saat masa sekolah dasar dulu, Engki tidak mempunyai buku tulis untuk sekolah, sehingga Engki menggunakan papan tulis kecil atau sabak. Sekolah Engki dulu jauh sekali dari rumahnya. Pulang pergi dengan berjalan kaki menyusuri rel kereta api. Selain sekolah, kegiatan Engki di masa kecil adalah ngangon kambing. Engki memiliki 5 ekor kambing yang diurusinya setiap hari. Saat Engki bersekolah, kelima kambing tersebut ditinggal di kandang. Suatu hari, saat Engki kembali dari sekolah dan pergi ke kandang untuk melihat kambing- kambingnya, ternyata kambing- kambing tersebut telah mati karena dimortir. Kegiatan lain Engki pada malam hari adalah ikut Papih Nggo ke sawah untuk mengontrol air yang digunakan untuk mengairi sawah.

Selain itu, Engki harus kehilangan sosok ayah saat masa SMP, tepatnya tahun 1949. Ya, ayah dari Engki yang akrab disapa Papih Nggo tewas ditembak gerombolan Darul Islam-Tentara Inti Indonesia(DI-TII), karena beliau adalah seorang Pro-Republik.

Menjadi seorang yatim, membuat Engki termotivasi melanjutkan sekolah melalui jalur beasiswa. Lulus Sekolah Menengah Pertama Rakyat(SMPR), Engki mencari sekolah sendiri yang menyediakan fasilitas jalur masuk melalui beasiswa. Sampailah Engki di Sekolah Pertanian Menengah Atas(SPMA) atau Middelbare Landbouw School (MLS)di daerah Cibalagung, Bogor, yang sejak April 2011 dikenal sebagai Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP). Pada saat itu, SPMA Bogor dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah berkebangsaan Belanda yang suka bermain sepak bola, dan salah satu tes masuknya adalah bermain sepak bola. Dengan kemampuan bermain bola yang bagus, Engki dapat diterima di SPMA Bogor melalui beasiswa.

Setelah 3 tahun mengenyam pendidikan di SPMA Bogor, Engki pergi merantau ke Jawa Timur. Memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Engki memulai karirnya di Pabrik Gula Semboro, Jawa Timur. Saat itu Engki bekerja hanya sebagai sinder kebun. Sinder kebun adalah "kuli" yang dibayar oleh perusahaan perkebunan untuk mengelola kebun dengan luas tertentu. Istilah Sinder konon berasal dari bahasa Belanda. Engki bekerja sebagai sinder kebun dari tahun 1958 sampai tahun 1967. Pada tahun 1958 tepatnya tanggal 29 Desember, Engki menikahi Enin. Selama bekerja sebagai sinder, Engki dan Enin dikaruniai 4 orang anak, Wak Teteh dan Wak Nde(kembar) yang lahir pada tahun 1960, Wak Gugun yang lahir pada tahun 1962 dan Mama saya yang lahir pada tahun 1967.

Tahun 1973, Engki dipindahkerjakan ke Pabrik Gula Djombang Baru dan menjadi Asisten Kepala Tanaman sampai tahun 1978. Pada tahun 1976, Engki dan Enin kembali dikaruniai anak, yang biasa saya penggil Om Donny. Selanjutnya Engki pindah ke Pabrik Gula Tjoekir dan menjabat sebagai Kepala Tanaman sampai tahun 1980. Pada tahun 1980 sampai dengan tahun 1982, Engki menjabat sebagai Administratur di Pabrik Gula Tulangan di daerah Sidoarjo. 

Selama 24 tahun meniti karir di pabrik gula, Alhamdulillah pada tahun 1982, Engki menjabat sebagai Direktur Produksi di Pabrik Gula Cirebon(PTP XIV) yang sekarang dikenal sebagain PTPN Nusantara 2. Saya merasa sangat bangga dengan apa yang telah diraih oleh Engki. Meski hanya lulusan SPMA dan sarana serta prasarana yang minim dalam mengenyam pendidikan, Engki dapat menjadi Direktur Pabrik Gula dan memulai karirnya dari 0. Saya secara pribadi sangat mengagumi kerja keras dan semangat Engki dalam hal ini. 

Setelah 7 tahun menjabat sebagai direktur, Engki memutuskan untuk pensiun dini dan pindah ke Lampung. Di Lampung, Engki membuka pabrik kertas yang bernama PT. Papindo Mantap dan juga pabrik serta perkebunan kelapa sawit di Palembang.
Engki di masa tua


Tahun 1998, Engki memutuskan untuk pindah ke Ciamis, tepatnya Desa Sukaraja, yang dulu pernah Engki tinggali semasa kecil, dan yang Engki tinggali hingga akhir hayatnya. Masa tuanya diisi dengan berbagai macam hal yang tidak jauh- jauh dari pertanian. Engki punya banyak sekali balong(kolam) yang berisi berbagai macam ikan air tawar. Dari mulai ikan gurame, ikan mujair, ikan patin, sampai ikan mas. Engki juga punya peternakan ayam dan sapi serta kambing. Sawah yang dimiliki Engki juga luas sekali. Semuanya masih ada sampai sekarang walaupun sudah tidak sebesar dan sebanyak dulu. Saya jadi ingat, kalau cucu-cucu Engki berkumpul, paling suka siajak main ke sawah. Kalau mau makan ikan, juga tinggal ambil saja dari balong dan memasak dengan bumbu racikan sendiri. 

Pada tanggal 29 April 2005, tepatnya di usia Engki yang ke-72 tahun, Engki menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Jasa Kartini, Tasikmalaya, setelah terkena serangan jantung dan dirawat selama beberapa hari. Saya dan keluarga besar sangat kehilangan sosok yang menjadi panutan kami sekeluarga.

Berikut kutipan testimoni dari anak- anak Engki yang biasa memanggil beliau dengan sebutan Papah. Kutipan testimoni ini dapat menyimpulkan sikap Engki yang tegas namun penyayang, yang membawa kembali memori- memori masa lalu dan membuat saya meneteskan air mata saat menulis ulang kutipan testimoni ini.

Engkau tidak banyak bicara
Member contoh adalah kebiasaan
Perhatian, kasih sayang dan teladanmu
Selalu dalam kenangan
Kerja keras, kejujuran dan keikhlasanmu
Menjadi panutan sikap kami
Tempat kami berlari merujuk
Mencari jawab dan kekuatan juga ketentraman
Pah, terima kasih
Untuk semua yang tidak akan pernah terbalaskan
Testimoni dari Enin di buku yasin


Testimoni dari anak-anak Engki di buku yasin


Peranan
Sebagain anak dari Djingga Suryasantana(Papih Nggo) yang meninggal akibat ditembak oleh gerombolan DI-TII pada tahun 1949, Engki memiliki peranan sebagai saksi mata kejamnya DI-TII pada masa itu.

Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamaan Ciawiligar, Kawedanan Cisanyong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Diproklamirkan saat Negara Pasundan buatan Belanda mengangkat Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema menjadi presiden.

Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamirkan kemerdekaannya dan ada pada masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan Agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa "Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam", lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa "Negara berdasarkan Islam" dan "Hukum yang tertinggi adalah Al- Quran dan Hadits". Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syariat Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir", sesuai dalam Qur'aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50. 

Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan, Aceh, dan Kalimantan. Setelah Kartoseowirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia. 

Peristiwa meninggalnya Papih Nggo berkaitan dengan Peristiwa Pemberontakan DI-TII di daerah Jawa Barat. Pada tanggal 7 Agustus 1949 di suatu desa di Kabupaten Tasikmalaya ( Jawa Barat ). Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Gerakannya di namakan Darul Islam (DI) sedang tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Gerakan ini dibentuk pada saat Jawa Barat di tinggal oleh Pasukan Siliwangi yang berhijrah ke Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam Rangka melaksanakan ketentuan dalam Perundingan Renville.

Ketika pasukan Siliwangi berhijrah, gerombolan DI/TII ini dapat leluasa melakukan gerakannya dengan membakar Rumah – Rumah Rakyat, Membongkar Rel Kereta Api, menyiksa dan merampok harta benda penduduk. Akan tetapi setelah pasukan Siliwangi mengadakan Long March kembali ke Jawa Barat, gerombolan DI/TII ini harus berhadapan dengan pasukan Siliwangi.

Usaha Untuk menumpas pemberontakan DI/TII ini memerlukan waktu yang lama disebabkan oleh beberapa faktor, yakni :
-   -Medannya berupa daerah pegunungan – pegunungan sehingga sangat mendukung pasukan DI/TII untuk bergerilya,
-     -Pasukan Kartosuwirjo dapat bergerak dengan leluasa di Kalangan Rakyat,
-    -Pasukan DI/TII mendapat bantuan dari beberapa orang Belanda, antara lain pemilik – pemilik perkebunan dan para pendukung negara Pasundan,
-    -Suasana Politik yang tidak stabil dan sikap beberapa kalangan partai politik telah mempersulit usaha – usaha pemulihan keamanan.

Selanjutnya dalam menghadapi aksi DI/TII pemerintah mengerahkan pasukan TNI untuk menumpas gerombolanini. Pada tahun 1960 pasukan Siliwangi bersama rakyat melakukan operasi “ Pagar Betis “ dan operasi “ Bratayudha “ Pada tanggal 4 Juni 1962 Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo beserta para pengawalnya dapat ditangkap oleh pasukan Siliwangi dalam operasi “ Bratayudha “ di Gunung Geber, daerah Majalaya, Jawa Barat. Kemudian Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo oleh Mahkamah Angkatan Darat dijatuhi hukuman mati sehingga pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dapa di padamkan.

 Peranan Engki yang lain adalah peran Engki sebagai pekerja di pabrik gula di beberapa daerah di Jawa Timur dan Lampung. Pada masa itu, hasil produksi gula merupakan hasil produksi yang termasuk penting untuk diekspor. Hasil produksi gula yang diekspor nantinya akan ditukar dengan hasil produksi dari negara lain yang mengimpor gula dari Indonesia. Pada waktu itu Indonesia khususnya Pulau Jawa adalah daerah pengekspor gula utama dunia disamping Kuba. Setelah industry gula diambil alih sepenuhnya oleh Pemerintah Indonesia, industri gula masih bertahan hidup dan merupakan industri yang dapat memberikan penghidupan yang terhormat bagi banyak pihak, karena industri gula banyak mendapatkan proteksi dan subsidi dari pemerintah. 

No comments:

Post a Comment